The Magician’s Nephew – C. S. Lewis

narnia1Title : The Magician’s Nephew (The Chronicles of Narnia #1)
Author : C. S. Lewis (1955)
Publisher : HarperTrophy
Format : Paperback, xiv + 221 pages

Petualangan Polly dan Digory kecil di loteng yang kosong berlanjut menjadi petualangan di dunia lain. Paman Digory, Andrew Ketterley, yang entah gila atau benar-benar penyihir, menyembunyikan sesuatu yang tak sengaja ditemukan oleh kedua anak itu. Polly dan Digory pun dijadikan ‘kelinci percobaan’ dengan dipaksa mengenakan cincin sihir yang konon bisa membawa pemakainya ke Dunia Lain, dengan cincin yang berwarna kuning, dan membawanya kembali, dengan cincin yang hijau. Cincin-cincin yang dibuat dari peninggalan seorang penyihir tua. Akan tetapi, Paman Andrew salah, bukan begitu cara kerja cincin-cincin tersebut.

Uncle Andrew, you see, was working with things he did not really understand; most magicians are. (p.43)

Cincin kuning membawa Polly dan Digory ke the Wood between the Worlds, sebuah hutan yang sangat damai dengan beberapa kolam tersebar di dalamnya. Kolam-kolam tersebut merupakan ‘pintu’ menuju dunia-dunia tertentu, yang hanya bisa dimasuki dengan mengenakan cincin hijau. Petualangan di loteng pun berubah menjadi petualangan di dunia lain.

Dunia yang pertama mereka jelajahi adalah sebuah reruntuhan yang nyaris tanpa kehidupan. Bangunan-bangunan tinggi dan tua, kokoh tapi mati, hingga keingintahuan Digory membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya dibangkitkan. Ratu Jadis, yang ‘membunuh’ kota tersebut pun bangkit kembali, membawa masalah baru, bukan hanya di dunianya sendiri, tetapi melintas menuju ke mana cincin itu membawa mereka. Melibatkan Paman Andrew, dan kemudian ke sebuah dunia yang baru lahir, Narnia.

Di sini, dunia yang dipilih kedua anak tersebut secara acak—karena kolam di the Wood between the Worlds seragam—mereka menyaksikan kelahiran Narnia. Mulai dari kegelapan dan kesunyian mutlak, nyanyian pertama, hingga matahari terbit pertama kali. Melibatkan lampu jalan bersejarah yang nantinya akan muncul di buku berikutnya, perkenalan dengan Aslan; sang singa ‘pencipta’ Narnia, hewan-hewan yang bisa berbicara, dan keajaiban-keajaiban lain di dalamnya.

Secara kronologi cerita, buku ini merupakan yang pertama dari The Chronicles of Narnia, tetapi berdasarkan urutan publikasinya, buku ini terbit nomor enam dari tujuh seri. Karakter-karakternya sendiri sudah berbeda generasi dari buku Narnia yang lain, sehingga buku ini bisa dikatakan merupakan kilas balik sejarah Narnia, dan sejarah dari apa yang akan kita temukan di buku-buku Narnia berikutnya.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang relatif sederhana karena memang ditujukan untuk anak-anak. Petualangan yang tersaji juga relatif singkat, meski bagi saya tak mengurangi ketegangan dan pesonanya. Penulis memiliki imajinasi yang luar biasa, tetapi mampu menyajikannya dengan sederhana dan menarik. Buku ini penuh dengan simbolisme dan filosofi, terutama berkaitan dengan Christianity. Saya tidak berkompeten untuk membahas hal-hal yang khusus, tetapi banyak hal universal yang bagi saya menarik. Seperti yang dikatakan Aslan mengenai hewan yang bisa berbicara, lelucon, dan kebijaksanaan.

“Laugh and fear not, creatures. Now that you are no longer dumb and witless, you need not always be grave. For jokes as well as justice come in with speech.” (p.141)

Selain kisah petualangan dan ambisi, ada sekilas kisah ibu dan anak di sini. Yaitu hubungan Digory dengan ibunya yang sakit keras. Bagaimana Digory mengusahakan kesembuhan ibunya melalui ‘sihir’ yang kini digenggamnya, tanpa menjadikan dirinya ‘jahat’. Apa yang membedakan antara misi Paman Andrew dengan Digory, baik mengenai tujuan maupun cara meraihnya. Karena niat yang baik pun bisa menjadi tidak baik jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak benar. Usaha menuju kesembuhan ini akan berhubungan dengan sebuah pohon, yang nantinya akan berkaitan dengan lemari ‘ajaib’ di seri berikutnya.

The Chronicles of Narnia adalah seri yang penuh nostalgia untuk saya pribadi, terlepas dari bagaimanapun buku tersebut dalam penilaian saya hari ini.

For what you see and hear depends a good deal on where you are standing; it also depends on what sort of person you are. (p.148)

Review #31 of Classics Club Project

Review #36 of Children’s Literature Reading Project

Review #40 for Lucky No.15 Reading Challenge category Dream Destination

3 responses to “The Magician’s Nephew – C. S. Lewis

  1. Pingback: InterWorld – Neil Gaiman & Michael Reaves | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Scene on Three (112) | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s