Tantangan Spesial Joglosemar : First Winners

Hari ini sudah tiba. Selain peringatan 4 tahun saya membuat blog buku ini, hari ini juga saya akan mengumumkan 3 pemenang pertama Tantangan Spesial Joglosemar. Saya benar-benar tidak menyangka—meski tidak mengejutkan—bahwa dalam waktu seminggu sejak tantangan dibuka, saya sudah mendapatkan setoran review. Salut untuk kalian semua, dan saya merasa terharu bahwa sebagian dari kalian ‘percaya’ dengan buku yang saya pilihkan hingga ‘rela’ membacanya meski di luar zona nyaman kalian. Beberapa buku hadiah sudah saya pesankan, dan mungkin akan tiba sebelum kalian mengharapkannya. Terima kasih pada Alvina (Mari Ngomongin Buku), Asri (Peek a Book), dan Steven (Blog Buku Haremi) yang sudah bermurah hati menjadi sponsor.

photogrid_1452448361638.jpg

Review pertama yang saya terima adalah dari mbak Desty, pada 12 Desember 2015. Yes, mbak Desty adalah salah satu member BBI yang kecepatan membacanya jangan dipertanyakan. Selain ahli membaca cepat, mbak Desty juga seringkali membuat review segera setelah selesai membaca bukunya, tidak seperti saya yang review pun ditimbun, sampai kadang-kadang beberapa bulan kemudian baru terbit, atau malah tidak terbit sama sekali saking sudah lupa, hahaha. Karena saya tahu kemampuan mbak Desty yang mengagumkan ini, maka saya memilihkan buku klasik yang agak tebal untuk beliau. Dan inilah kesan-kesannya setelah membaca buku yang pernah urung dibacanya: Review Tess of the D’Urbervilles di Desty Baca Buku.

Syukurlah, dari reviewnya, tampaknya mbak Desty cukup menikmati ceritanya. Dan katanya beliau mau-mau saja membaca ulang jika ada temannya, dan/atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Lebih jauh, saya sempat ngobrol sedikit dengan mbak Desty setelah membaca reviewnya, pertanyaan yang masih tersisa setelahnya.

  1. Ceritakan sedikit tentang bacaan mbak Desty yang biasanya, dan apa yang menjadikan Tess of the D’Urbervilles ini beda?
    Bacaan saya biasanya kan bukan klasik (klasik bukan genre favorit saya). Ada beberapa buku klasik yang saya baca sebelumnya (rata-rata sudah diterjemahkan) dan itu lebih mudah dipahami. Novel Tess of the D’Urbervilles ini kan pake bahasa Inggris klasik, ex: ‘ee, ye, o’, etc, itupun grammarnya nggak seperti Inggris sekarang. Ini yang menambah nilai tantangannya.
  1. Apakah ada perubahan cara pandang terhadap buku klasik setelah menyelesaikan Tess ini?
    Buku klasik (asli bukan terjemahan) itu sulit. Saya tadinya berpikir bisa dibaca sendirian seperti buku-buku lainnya. Ternyata harus ada teman bacanya untuk diskusi. Stressnya saya pas baca Tess of the D’Urbervilles ga ada teman diskusi. Dewi sih sudah pernah baca tapi dia juga lupa isinya. Padahal dalam novel ini banyak kalimat kiasan. Saya meraba-raba maksudnya apa.
    Mengenai cara pandang terhadap buku klasik tidak banyak berubah. Meski setelah dibaca menarik juga. Pantes aja di luar negeri satu buku bisa dibahas satu semester ya…
  1. Kenapa mbak desty mau membaca ulang kalau ada terjemahannya? Bagian apa yang membuat penasaran?
    Kenapa mau baca terjemahan? Kalo sudah diterjemahkan setidaknya sudah ada tafsiran dari translator maupun editor. Bagaimanapun juga pasti mempengaruhi pembaca.
    Yang bikin penasaran justru bagian-bagian awal, bagian antara Alec dan Tess. Saya sempat stuck beberapa hari di bagian itu karena agak membosankan bagi saya. (Stuck beberapa hari? Jadi total baca sisanya berapa hari? Wuih!) Tapi begitu masuk bagian Angel dan Tess sudah lumayan. Mungkin karena romancenya lebih kental di bagian itu. Oh, sama bagian setelah Tess dan Angel berpisah, terus Tess ketemu lagi dengan temannya, Marian dkk, yang mereka kerja di peternakan berbeda.

Terima kasih mbak Desty, sudah meluangkan seminggu berharganya untuk menyelesaikan satu buku yang awalnya tidak terlalu diminati. Dan selamat! Mbak Desty adalah pemenang pertama Tantangan Spesial Joglosemar *tebar confetti*

photogrid_1452448066070.jpg

Review kedua datang dari Opat pada 13 Desember 2015. Opat ini sebenarnya sudah saya ketahui keberadaannya sejak dua tahun yang lalu sejak dia mengikuti salah satu read along yang saya adakan, tetapi saya tidak mengenalnya secara pribadi. Baru beberapa bulan ini sejak dia masuk ke grup WA Joglosemar, saya mulai mengenalnya pelan-pelan. Dia bukan orang yang mudah ‘dibaca’. Awalnya dia mengaku-aku sebagai casual reader, tetapi ternyata setelah ditantang, dia jadi ‘tidak casual’ sama sekali. Coba saja tengok review The Casual Vacancy di Casual Book Reader.

Yah, buku ini memang bakal dibacanya, meski entah kapan. Saya hanya sedikit memaksa memicunya untuk membacanya segera. Seperti saya bilang sebelumnya, Opat ini agak sulit ‘dibaca’, jadi saat saya mewawancarainya, tiba-tiba jawabannya membuat pertanyaan saya jadi kurang relevan. Kemudian saya mengganti pertanyaan, kemudian pertanyaan awal saya jadi relevan lagi. Pusing? Sama. Ini obrolan dengannya yang sudah saya terjemahkan ke bahasa ‘manusia’. *dijorokin ke TARDIS*

  1. Bagaimana pandanganmu mengenai buku ‘bantal’, dan bagaimana sejauh ini menyikapinya? (Dikoleksi saja buat dipajang, akan dibaca suatu saat, atau apa). Dan sebelum tantangan ini, apa rencanamu dengan buku The Casual Vacancy ini?
    Sebelum berbaur di BBI, aksesku meminjam buku sulit. Cuma ada empat orang di sekitarku yang bisa kupinjami. Dan aku tahu rasanya ga punya uang. Jadi sebenarnya aku cukup selektif pilih buku. Buku yang kubeli selalu kurencanakan untuk dibaca (dan ya, termasuk Balai Pustaka Collection itu pun pasti akan kubaca). The Casual Vacancy dibeli tahun ini karena diskon, dan aku belum ada rencana membacanya dalam waktu dekat. Sebenarnya agak gimana sih sama The Casual Vacancy ini. Bukan karena J.K. Rowling nulis Harry Potter. Tapi kadang aku bosen aja orang-orang mengelu-elukan J.K. Rowling. Eh ga tau ada hubungannya sih hahahaha
    Jadi bukan karena bantalnya ya?
    Kalau kupikirkan lagi, sebenernya aku baru ngeh The Casual Vacancy itu bantal pas kubuka plastiknya kmrn :)))
    Aku capek rasanya denger orang suka sama J.K. Rowling. I know she’s good, tapi yah mungkin sama dengan capeknya mereka denger aku mengelu-elukan Murakami. Harry Potter is damn good, tapi aku gak relate. Aku tahu The Casual Vacancy gak berhubungan sama Harry Potter, tapi tetep aja aku bosen sama nama J.K. Rowling😄. Tapi itu obral jadi aku beli😄.
  1. Bagaimana pengalamanmu dengan buku bantal, berapa lama rata-rata menyelesaikannya, berapa lama waktu baca tercepat sebelum The Casual Vacancy ini?
    Aku ga banyak baca buku bantal. Ga tahu kenapa. Kayaknya buku-bukuku jarang ada yang bantal. Ini lagi-lagi karena stok ketersediaan buku yang bisa kubaca. Buku bantal terakhir yang kubaca si Benedict Mysterious something. Itu cepet banget bacanya. Dua apa tiga hari gitu ya. Tapi pencapaian terbesarku selama ini Harry Potter terakhir, dibaca dalam dua hari, dan itu berbahasa Inggris. Considering masa-masa itu aku nyaris gak baca buku selama beberapa tahun, itu adalah kecepatan yang luar biasa.
    Ada satu buku bantal yang ada di rak hiatus. Satu tahun yang lalu kayaknya bacanya, Coin Locker Babies. Capek bacanya masalah gak kelar-kelar. Bahasanya juga bikin capek, dan kayaknya kurang motivasi buat nyeleseinnya hahahaha. Jadi yah hiatus dulu deh ya cyin.
  2. Setelah ini, apakah ada rasa ‘ringan’ untuk memulai baca buku bantal lagi? (1Q84?) Atau sama saja?
    Saat ini sih macam “ah elah buku tebel mah bisaa”. Misal aku disuruh lanjutin Coin Locker Babies pun bukan tebelnya yg bikin masalah, tapi tema ceritanya yang suram, padahal aku habis baca suram. Tapi kalau spesifik 1Q84 aku blm sanggup deh, moodnya belum ada, aku berencana baca Murakami sih sebenernya habis ini, tapi bukan yang itu. (Ah, paling juga kalau ditantang salah satu dari dua buku itu dengan reward bakal selesai juga :p)
    Membaca buku bantal sama seperti semua kebiasaan lainnya, awalnya butuh paksaan, paling gak buatku. Sehabis baca buku bantal, ada rasa puas dan itu bisa menjaga ritme membaca. Semacam “ah yang kemarin bantal aja gue bisa, yang ini juga dong”. Permasalahan baca The Casual Vacancy adalah, aku ga tahu itu buku apa, dan suasana hatiku juga lagi gak pengen berspekulasi sama buku yang aku ga tahu. Soalnya aku sedih kalo ada buku lama now reading Persaingan untuk mendapatkan sesuatu yang menaikkan adrenalinku, aku suka persaingan, karena itu aku ambil challengemu😄.

Terima kasih Opat, karena sudah menyingkirkan segala rasa malas dan keraguan, bertahan dengan karakter-karakter brengsek untuk menyelesaikan buku ini. Dan hadiah untukmu jadi dua, yang pertama kepuasan menyelesaikan buku bagus *ehm*, yang kedua, sebagai pemenang kedua, tunggu paketnya ya.

photogrid_1452448139362.jpg

Review ketiga dari mbak Cindy diterbitkan 15 Desember 2015, walaupun ada beberapa insiden karena beliaunya tidak memperhatikan aturan yang saya buat😄, untungnya, yang setelahnya juga mengalami satu insiden yang sama. Jujur, memilihkan bacaan untuk mbak Cindy ini sangat sulit sekali. Beliau ini mulai dari klasik sampai kontemporer, romance sampai horror, fantasy atau thriller, dilahap semuanya. Selain itu, kecepatan bacanya juga 11-12 dengan mbak Desty. Setelah mencari inspirasi di rak goodreads-nya, akhirnya saya pilihkan buku yang sejak lama menjadi ‘ganjel lemari’nya. *pukpuk tante Elliot*

Setelah membaca progress baca beliau dan review Middlemarch di Let’s Read Between the Pages, saya baru tahu kalau status buku ini dulunya DNF (did not finish), dan bukannya timbunan. Tetapi saya sudah menekankan bahwa selama periode tantangan ini, tetap harus baca from cover to cover. Dan untuk pembacaan ke-satusetengah ini, untunglah mbak Cindy menemukan ritmenya dan berakhir menyukai buku ini. Saya pun jadi semakin penasaran untuk segera membacanya, karena pembanding buku—menurut mbak Cindy—ini adalah salah satu buku terfavorit saya. Buku ini sudah masuk dalam reading list saya sih. Inilah sedikit obrolan untuk lebih melengkapi reviewnya yang sangat lengkap dan detail.

  1. Apa kendala-kendala menyelesaikan Middlemarch untuk pertama kalinya?
    Kendala utama, bantalnya ituuuu…. pasti!! Baru ngeliat dan memegang bukunya saja aku sudah terintimidasi… *lha dulu kenapa dibeli?* #korbanobralkok :))
    Tapi selain itu, menurutku, buku ini juga punya karakter-karakter yang tidak begitu mudah disukai. Tokoh utamanya—Dorothea Brooke—sendiri saat pertama kali diperkenalkan pada pembaca punya sifat puritan yang keterlaluan, sampai-sampai kupikir ini orang menjengkelkan dan sok benar sendiri sekali. Sedangkan tokoh utama prianya tidak ada yang bisa dibilang menyenangkan. Lydgate terlalu lemah sedangkan Will Ladislaw baru menonjol naaanti setelah pertengahan cerita, itu pun dengan banyak kekurangan dalam sifat dan kelakuannya. Mungkin ini memang kemauan sang pengarang untuk menunjukkan kondisi masyarakat saat itu dengan secara sangat real, tidak ada orang yang sangat baik atau selalu benar tindak-tanduknya, tidak ada seorang “hero” yang bisa dimuliakan setiap waktu.
    Untuk cara penceritaannya, novel ini khas novel klasik, yang harus dibaca dengan sabaaaar, dengan kalimat-kalimat panjang dan cara penyampaian yang berputar cantik sebelum sampai ke tujuan (plus bahasa Inggris klasik-nya). Mau bilang “I love you” saja mesti menunggu mendeskripsikan hujan deras di jendela, geledek nyambar-nyambar, malam gelap tanpa cahaya, dst, dst, sampai kemudian satu bab penuh berlalu. (Yup, seluruh Chapter 83 benar-baner bisa disingkat jadi 3 kata itu lo!!). Saat mood pribadi lagi bagus sih, membaca kalimat-kalimat panjang bersayap seperti ini malah asyik, tapi jika tidak, aku suka jengkel dan berpikir ‘ini sebenarnya mau bilang apa to?’  Belum lagi banyaknya kisah gosip-gosip kota yang bersinggungan dengan berbagai karakter minor. Memang jika dicermati, semuanya bagus sekali untuk menggambarkan cermin keseluruhan keadaan sosial budaya ekonomi masyarakat kota kecil Middlemarch, tapi ya itu… harus sabar membacanya.
    Oh iya, dalam novel ini juga banyak filler tentang “pendidikan sejarah dan politik” saat itu, terutama antara kelas aristokrat dan kelas pekerja, dan latar belakang terjadinya Reform Bill (semacam Undang-undang pertanahan yang banyak melucuti hak-hak para Land Lord). Yang ini bagiku juga kendala, karena ada di antara rasa takjub membaca bahan-bahan seperti ini di dalam sebuah novel romans atau berpikir, “yah sudahlah, pelajaran sejarah gratis”.🙂
  1. Di luar tantangan, kira-kira bagian mana/chapter berapa yang paling bikin penasaran, yang kalau sudah sampai bagian itu, pasti bakal baca sampai selesai?
    Bagiku itu ada di Chapter 49, saat Mr. Casaubon meninggal dan menulis surat wasiat yang sangat, sangat memalukan bagi Dorothea dan Will Ladislaw. Sampai di sini, pembaca (aku) paling tidak sudah lebih mengerti sifat Dorothea, yang meskipun keras, tapi sama sekali tidak munafik. Dorothea yang selalu berusaha menjadi istri yang sempurna bagi Mr. Casaubon, tetapi di akhir hayat suaminya, malah “dituduh” selingkuh. Mulai dari sini jalan ceritanya jadi jauh lebih cepat temponya, Dorothea berperan sebagai janda muda kaya, yang ambisius untuk membaktikan dirinya pada kebaikan-kebaikan di masyarakat, dengan cepat ikut mempengaruhi tokoh-tokoh lainnya. Sehingga makin banyak rahasia-rahasia pribadi yang terkuak dan keputusan-keputusan penting yang diambil oleh karakter-karakter novel ini dengan lebih berani.
  1. Kasih tips dong, bagaimana menjaga ‘kesabaran’ membaca klasik, sampai-sampai mbak Cindy bisa selesai dalam kurang dari dua minggu😀
    Baca klasik atau baca novel biasa sama aja kan… kalau sama-sama 700an halaman ya 700an halaman wae :p (hahaha, hear! Sama aja)
    Mungkin karena klasik itu karakterisasi tokoh dan cara berpikirnya yang tidak kekinian (bahasamu mbak XD) serta cara penyampaian ceritanya yang berputar-putar jadi terasa syusah dinikmati. Tapi ya karena memang begitu, justru hal itu yang dinikmati pelan-pelan, dibaca dan diresapi. *haisyaaah* jadi hal-hal yang dianggap membosankan juga bisa dibilang ‘parts of the classic charm’.
    Yang penting sih selama membaca ini ada (1)niat dan (2)mood baca yang lagi bagus, juga (3)jauh-jauh dari distraksi hape dan tipi deh. ***lagi niat mo baca, tapi kalo deket-deket hape mah maunya ngintip WA Joglo mulu, lalu ketawa ketiwi, trus sampe lupa tadi judul novel yang lagi dibaca apa***
    Kalo aku, aku suka juga membaca dini hari. Malamnya tidur sekitar jam 8, lalu sekitar jam 2-3an bangun. Badan seger, pikiran longgar, suasana sepi, apalagi pas hujan, adem, itu enak banget dibuat baca, sekali duduk 100an halaman bahkan lebih lewat nggak terasa (tahu-tahu laper n ngidam indomie rebus rasa kari) hahaha…..

Terima kasih mbak Cindy atas tipsnya. Karena saya pembaca klasik, saya mengamini bagian classic charm yang disebut di atas. Walaupun terakhir kali saya baca klasik 700an halaman itu makan waktu empat bulan (pun yang kontemporer saya tetap butuh lebih dari sebulan). Dan selamat telah menaklukkan si ‘ganjel lemari’, silakan ditunggu hadiahnya.

photogrid_1452448811055.jpg

Menarik kan menyimak pengalaman mereka. Karena saya menjanjikan ada 5 pemenang, maka post ini seharusnya masih bersambung. Selanjutnya akan saya post tanggal 15 lusa ya, tunggu saja.

Sementara itu, kalian semua bisa ikut giveaway yang saya adakan di Page Facebook saya.

Have a great day!

9 responses to “Tantangan Spesial Joglosemar : First Winners

  1. Wah keren banget deh mbak desty sama mbak cyn #lupakanopat

  2. Beli buku krn diskon, aku bgt hahahy

  3. waaaa… busettttt keren amat baca cepetnya.. mana buku bantal lagiii.. hastagahhhh… salut sama mba desty, mba opat dan mba cindy..

  4. Terima kasih Mbabz… senang bisa ikut tantangan ini.
    Dan saya setuju dengan Mbacyn…baca buku klasik itu harus sabaaaar

  5. Pingback: Tantangan Spesial Joglosemar : Second Winners | Bacaan B.Zee

  6. Pingback: Tantangan Spesial Joglosemar : Honourable Mentions | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s