Tantangan Spesial Joglosemar : Second Winners

Sebagai kelanjutan post pemenang sebelumnya, sesuai janji saya, hari ini saya akan mengumumkan sisa pemenangnya.

photogrid_1452448139362.jpg

Langsung saja, review keempat adalah milik Wardah yang diterbitkan pada 17 Desember 2015. Sebenarnya saya agak kesulitan juga memilihkan buku untuk Wardah, karena rak bukunya di goodreads semacam kurang merepresentasikan bacaannya, begitu pula bacaan-bacaannya belakangan sepertinya terlalu banyak pesanan. Akhirnya saya mewawancarainya secara langsung dan memilihkan buku klasik yang tidak terlalu tebal, karena katanya, dia tidak pernah menamatkan buku klasik tebal. Setelah mencari-cari, sebetulnya kebetulan saja saya pilihkan R. L. Stevenson, tetapi bukan kebetulan saya memilihkan The Black Arrow. Alasannya karena buku itu ada di reading list Classics Club saya, juga karena saya menangkap ada War of Roses di sinopsisnya. Sejak menamatkan Richard III nya Shakespeare, saya sudah tertarik dengan War of Roses, tetapi terlalu malas untuk membaca sejarahnya. Karena itu saya berharap Wardah menyebutkan sedikit tentang itu di reviewnya.

Inilah kesan yang didapatkan Wardah yang dituliskannya dalam review The Black Arrow di Melukis Bianglala. Katanya sih dia menikmati proses membacanya walaupun banyak kata-kata yang ‘asing’ karena perbedaan gaya bahasa klasik. Saya ikut senang jika Wardah merasa terkesan, semoga masih tetap semangat menyelesaikan buku klasik yang masih DNF ya🙂. Ini sedikit ringkasan ‘korek-korek’ saya ke Wardah:

  1. Apakah ini pertama kalinya Wardah menyelesaikan membaca klasik dalam bahasa aslinya (Inggris)? Kalo ga, ceritakan dong pengalaman sebelumnya.
    Dr. Jeckyll and Mr. Hyde. Itu aku baca sekali duduk, bahasanya juga lebih gampang, ga ada bunga-bunganya, haha. Aku baca karena temenku ngerekom dan kebetulan temenku yang lain ternyata punya bukunya, ya udah deh aku pinjem. Aku pribadi suka sih sama cerita ini, dalem maknanya, serasa diingetin soal kehidupan (?). Pengen baca lagi jadinya. Tapi pas dulu baca itu aku masih cukup muda, ya ngga terlalu mikirin kayak kalo baca sekarang.
  1. Menurutmu, lebih enak baca dalam bahasa/gaya aslinya, terjemahan bahasa Indonesia, atau tetap dalam bahasa aslinya tapi gaya bahasanya dimodifikasi jadi lebih modern? Alasannya?
    Aku fleksibel sih orangnya. Ngga terlalu masalah pun diterjemahin, kayak baca terjemahannya masdi. Asal enak terjemahannya, ya bakal seru-seru aja. Tapi, tetep aja sih ada “feel” yang cuma bisa ditangkap kalo baca versi asli. Susah sih bahasanya emang, apalagi pas percakapan (buat kasus The Black Arrow), ada bunga-bunganya tiap ngomong😄, tapi seruuu. Sebaiknya sih ga perlu dimodif, biar tetep orisinil, tapi bisa aja dikasih catatan kaki buat kalimat/kata yg jarang diketahui pembaca, biar sekalian belajar *berasa buku pelajaran, haha*
    Atau mungkin emang kudu biasa baca biar ngerasa baik-baik aja ya. (Iyaaa, hahaha)
  1. Selama ini kan sering baca klasik berbahasa Inggris tapi ga selesai, kendalanya apa sih?
    Kendalanya……………. kalo mulai suka malah nonton (filmnya), jd udah selesai duluan, terus jadi males lanjut baca, hehe. (Yaah, ga seru dong kalo nonton duluan XD). Sama paling aku ga baca buku fisik sih kalo klasik, jadi sering lupa kalo lagi baca itu.

Terima kasih, Wardah, atas ‘perjuangan’nya menyelesaikan buku tantangan dalam waktu singkat. Kamu berhak menyandang pemenang keempat, semoga suka dengan hadiah yang akan datang.

photogrid_1452448361638.jpg

Review kelima sebenarnya datang dari mbak Dani pada 30 Desember 2015, tapi sayangnya beliau lupa tidak langsung konfirmasi, sehingga secara resmi, reviewnya saya terima yang keenam. Mbak Dani ini juga termasuk yang sulit memilihkan bukunya. Beliau memang super sibuk, dan seringkali waktu rehat dari kesibukan tersebut benar-benar dimaksimalkan untuk istirahat. Namun, kalau beliau sudah berniat, kecepatan bacanya bisa mencengangkan. Jadi, saya harus memilihkan buku bantal, dan karena di timbunannya ada buku favorit saya ini, jadilah.

Sebenarnya ini saya yang jadi bernostalgia saat membaca review American Gods di Melihat Kembali. Yah, intinya, hampir semua yang keren di buku ini sudah disebutkan oleh mbak Dani. Sejujurnya, saya sempat bingung mau berkomentar apa, karena seperti saya bilang, mbak Dani hanya tinggal menyempatkan waktu saja. Dan akhirnya saya cari bocoran rahasia waktu bacanya mbak Dani.

  1. Apa ekspektasi mbak Dani saat membeli buku ini, dan bagaimana kemudian realitasnya setelah selesai membaca?
    Jujur, aku penasaran dengan karya Neil Gaiman selain Coraline yang kupinjam baca dari adikku sekian tahun yang lalu. Apalagi judulnya Dewa-Dewa Amerika, memangnya di sana ada dewa ya? Perasaan mereka tidak pernah punya dewa seperti Yunani dan Romawi yang sangat populer sehingga sering menjadi sumber inspirasi fantasi para penulis dan pembuat film. So, awalnya aku pikir ini cerita tentang para penguasa/pimpinan di Amerika sana yang bertindak selaku ‘Dewa’. Namun aku salah karena ternyata ceritanya memang benar tentang para dewa yang ‘tinggal’ di Amerika, he3.
    Salut dengan ide perseteruan para dewa baru dan lama yang sangat ‘manusiawi’, dalam artian di manapun sesuatu yang baru pasti akan muncul menggantikan yang lama. Tinggal bagaimana yang lama tersebut bisa survive di kehidupan yang terus berubah *aku ngomong apa sih ini?*
    Ya intinya, aku puas baca American Gods, walaupun sejak awal aku sudah curiga tentang identitas Shadow yang sebenarnya *kebanyakan nonton film, ㅋㅋㅋ. Beberapa detail terkait koin yang berpengaruh terhadap jalan cerita, that’s brilliant and I like some surprises like this. Jadi semakin penasaran dengan isi kepala Mr. Gaiman yang sepertinya penuh ide liar yang berfantasi tanpa batas itu, ho3. (Yeay, tambah teman)
  1. Apakah dengan tantangan membuat mbak Dani ‘punya waktu’ untuk membabat buku bantalnya? XP
    Well, tantangan baca buku bantal a.k.a buban dengan limited time ini membuatku jadi tambah semangat untuk menghabiskan timbunan buban lainnya. Beda dengan Read Big RC-nya Vina *dadah2 ke Vina* yang waktunya setahun dan malah kadang membuatku lupa membuat review, tantangan ultah Bzee kali ini entah kenapa bisa memancingku keluar dari zona nyaman dan ‘dipaksa’ membuat review secepatnya (*Siapin tantangan berikutnya*). Walaupun sempat pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana membuat reviewnya tanpa mengobral spoiler, tapi akhirnya aku sukses menuliskannya, yeay!
    Memang butuh komitmen besar untuk ‘setia’ membaca buban karena tidak jarang rasa bosan melanda di tengah-tengah atau pas lagi seru-serunya baca harus masuk kerja dan beraktivitas sosial lainnya. Padahal sudah pewe di kasur untuk baca buban sepanjang hari, hiks2. So, ebook pun berjaya untuk menjaga intensitas progres baca saat buban tidak mungkin dibawa kemana-mana.
    Terima kasih, Bzee, kini aku belajar arti komitmen yang sebenarnya dalam membaca buban … *halah* Waah, super sekali *tepuk tangan*
  1. Jadi setelah ini, sudah tahu caranya bikin komitmen sendiri baca buban, atau mesti masih ditantang? :p
    Bwakakaka, sepertinya aku butuh ditantang makanya kemarin bikin resolusi isinya kebanyakan buban semua, karena sedang semangat pasca American Gods. Ini baca Game of Thrones yg akan segera dilanjut Clash of Kings…buban kabeh kuwi, Bzee😄

photogrid_1452449107639.jpg

Selanjutnya, ada mas Tezar yang menerbitkan reviewnya juga pada 30 Desember 2015. Mas Tezar ini tidak jauh beda dengan semua orang yang saya tantang atau bahkan semua orang di dunia ini kecuali saya (mulai menyadari, haha), adalah pembaca cepat. Mas Tezar juga pelahap semua genre, jadi buku apapun yang saya berikan, rasanya bukan tantangan. Hanya satu yang tampaknya belum pernah dibacanya, buku berbahasa asing. Jadilah saya menantang beliau membaca buku berbahasa Inggris yang cukup tebal, tetapi untuk pembaca muda.

Awalnya mas Tezar sempat skeptis dengan dirinya sendiri, tetapi akhirnya selesai juga sebelum tenggat waktu yang saya tentukan. Dalam review The Book Thief di Membaca Buku bisa dilihat bagaimana rasa penasaran mas Tezar (yang entah berapa lama dipendamnya) akhirnya terjawab. Sedikit kepo tanya-tanya saya dengan mas Tezar perihal membaca dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya:

  1. Apa ini pertama kalinya mas Tezar menyelesaikan buku berbahasa Inggris?
    Iya. Jadi ini benar-benar yang pertama. Dulu kalau baca buku berbahasa Inggris hanya buku-buku kuliah, dan itu pun tidak satu buku #keliatanbangetmalasnya #takutmaketebelannya dan alhasil materi pelajaran di sekolah pun sudah mulai berhilangan. (Yah, kalau ngomong textbook, bahasa Indonesia juga aku ga baca semua, haha)
  1. Apakah setelah tantangan ini, akan lebih ‘berani’ untuk membaca buku dalam versi bahasa aslinya (Inggris)?
    Ada sih beberapa buku berbahasa Inggris di rak. Beberapa malah buku klasik unabridged (seperti War and Peacenya Tolstoy). So, saya pingin untuk menuntaskannya, walau masih belum tahu kapan. Tapi semoga kesampaian.
  1. Mas Tezar kan punya beberapa buku berbahasa Inggris di raknya, berarti sebenarnya sudah ada niat untuk baca. Kendala terbesar untuk memulai apa? Dan kira-kira bagaimana cara paling efektif untuk mengatasinya?
    Sebenarnya karena memang bahasa Inggrisku yang jelek #tutupmuka
    Yang pasti karena pilihannya masih banyak yang dibaca, dipilih yang bahasa Indonesia dulu.
    (Cara mengatasinya) Mungkin ditantang seperti blogoversarynya kak Bzee yah. kalau nggak ditantang mungkin tidak terbaca😦
    Mastez ngerasain ga beda ‘rasa’ kalo baca asli sama terjemahan, semacam sesuatu yg ga bisa ditemukan kalau suatu buku sudah diterjemahkan?
    Sementara ini sih belum. tapi memang pingin nyoba suatu saat membandingkan buku bahasa asing dengan bahasa aslinya. Kelemahanku di vocab kayaknya. Oh ya, aku masih sering gagal menangkap kalimat ungkapan sih.

Terima kasih untuk mbak Dani dan mas Tezar yang sudah menantang dirinya dan berhasil, yeay! Semoga bisa terus berlanjut ya niat baiknya🙂

Jadi, mana yang saya pilih sebagai pemenang kelima, alias yang terakhir? Sayangnya saya tidak bisa memilih, karena tinggal mereka berdua yang selesai membaca dan mereview sesuai waktu yang saya tetapkan, apalagi waktunya hampir bersamaan, maka saya rasa cukup adil untuk menjadikan keduanya sebagai pemenang kelima. Ditunggu ya bingkisannya🙂

photogrid_1452448914095.jpg

Ternyata menyenangkan ya ‘memaksa’ orang untuk membaca kemudian mereka (katanya) puas. Sekali lagi, selamat untuk kalian semua, dan terima kasih juga untuk ketiga sponsor, Alvina (Mari Ngomongin Buku), Asri (Peek a Book), dan Steven (Blog Buku Haremi).

Belum selesai.

Saya kan menantang 13 orang. Bagaimana ya kabar 7 yang lain? Tunggu post saya lusa ya, 17 Januari 2016.

Sementara itu, masih berjalan kuis berhadiah di  di Page Facebook saya. Silakan mampir.

3 responses to “Tantangan Spesial Joglosemar : Second Winners

  1. Baru tahu kalau Mas Tez berhasil baca, wow
    Gegara suka nggak update sih haha

    Btw mba buat War of Rose-nya……..gitu doang sih
    Lebih fierce pas rombongan Black Arrow ketemu sama duh-siapa-villain-nya itu
    Yah makanya aku lempeng aja pas baca
    Atau bisa juga karena aku nggak terlalu paham sejarahnya sih *ngumpet*

  2. Pingback: Tantangan Spesial Joglosemar : Honourable Mentions | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s