Dijual: Keajaiban (+GIVEAWAY)

dijual keajaibanTitle : Dijual: Keajaiban
Author : Gao Xingjian, Khairiyah Ibrahim as-Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, R.K.Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris
Translator : Tia Setiadi
Editor : Ainini
Publisher : DIVA Press
Edition : Cetakan Pertama, Desember 2015
Format : Paperback, 228 pages

Saya mesti mengatakan bahwa justru dalam periode ini manakala sastra menjadi muskil sama sekali saya mengerti mengapa sastra begitu berharga: ia membiarkan seorang manusia melindungi kesadarannya. (Xingjian, Perihal Sastra, p.205)

Contents:

  1. Di Sebuah Taman / In the Park (Gao Xingjian, 2007)
  2. Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai / The Assasination of Light at the River’s Flow (Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf, 1998)
  3. Qismati dan Nasibi / Qismati and Nasibi (Naguib Mahfouz, 2008)
  4. Memandang ke Luar Jendela / To Look Out the Window (Orhan Pamuk, 2007)
  5. Anjing Buta / The Blind Dog (R.K. Narayan, 1947)
  6. Di Selatan Dua Lelaki Tua India / In the South (Salman Rushdie, 2009)
  7. Dijual: Keajaiban / Miracles for Sale (Taufiq el-Hakim, 1998)
  8. Tujuh Jembatan / The Seven Bridges (Yukio Mishima, 1966)
  9. Nampan dari Surga / A Tray from Heaven (Yusuf Idris, 2008)
  10. Perihal Sastra / In Case of Literature (Pidato Nobel Gao Xingjian, 2000)

Buku ini terdiri atas sembilan cerita pendek dari penulis besar Asia, ditambah naskah pidato penerimaan Nobel Sastra Gao Xingjian. Sebagian besar kisah telah dibahas di sini, sana, dan situ, sehingga di sini saya akan lebih membahas mengenai kesan saya terhadap gaya penulisan para penulis tersebut. Keuntungan dari sebuah antologi adalah kita bisa mengenal gaya penulisan beberapa penulis dari sebuah buku saja, dalam hal ini khususnya cerita pendek, karena seringkali tulisan-tulisan yang lebih panjang memiliki kesan yang berbeda.

Di Sebuah Taman menunjukkan kepiawaian Xingjian dalam menyusun dialog menjadi sebuah cerita yang utuh. Gaya yang jarang sekali saya jumpai, tetapi mungkin menarik jika saya bisa membacanya bersamaan dengan kisah-kisah penulis yang lainnya sehingga akan lebih mudah untuk saya pahami. As-Saqqaf dalam cerpennya menyuguhkan narasi cantik yang dipenuhi dengan metafora dan simbol.

Namun, sesuatu yang misterius berbisik dalam diriku, degup jantung waktu yang akrab dan mengganggu, degup ketakutan, peringatan, harapan, kesedihan, kebahagiaan, tawa, kecemasan, dan kepuasan, semua datang seketika. Hari berhenti, jam menggelisahkan, menit mengingatkan…—tentang apa? (as-Saqqaf, Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai, p.32)

Judulnya saja sudah mengandung sesuatu, pembunuhan cahaya yang mungkin menghasilkan kegelapan; sebuah kritik sosial yang disampaikan dengan cukup lugas melalui diksi yang puitis. Tulisan Mahfouz, meski memiliki konflik yang tidak lazim, merupakan kisah ‘biasa’ yang menghadirkan cerita mengenai dua buah jiwa. Dari segi kisah, yang paling berkesan bagi saya adalah karya Pamuk dan Rushdie. Pamuk dengan kisah keluarga, tetapi mengandung keaktualan yang sangat universal, seolah menggambarkan dunia yang luas ini dengan perantaraan dua orang bocah dan permainan kartunya. Sedangkan Rushdie mengajak kita merenung mengenai kehidupan kita.

Akan tetapi cinta telah mulai mengganggunya, seperti yang lain-lainnya. Dia adalah keluarga nyamuk, demikian pikir Senior, kerumunan yang berdengung, dan cinta adalah gigitan mereka yang bikin gatal. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.124)

Di usia yang semakin tua, maka cara pandang kita terhadap hidup akan berubah. Begitu pula kedua lelaki tua yang disebut Senior dan Junior di sini, yang sebenarnya hanya berselisih usia 17 hari. Mereka berbagi nama yang sama, tetapi kehidupan mereka jauh berbeda. Akan tetapi perbedaan-perbedaan yang jauh tersebut tak dapat memisahkan mereka di hari tua yang semakin sepi. Pada akhirnya, konsep dan kenyataan mengenai kematian lah yang menghantui hari-hari tua, dan menghantui kita sebagai pembaca.

Kematian dan kehidupan hanyalah dua beranda yang berbatasan. Senior berdiri di salah satu sisi dari beranda itu sebagaimana yang biasa dia lakukan, dan di beranda lainnya, melanjutkan kebiasaan mereka selama bertahun-tahun, berdiri Junior, bayangannya, nama panggilannya, siap berdebat dengannya. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.142)

Dari segi narasi, setidaknya dalam edisi terjemahan yang saya baca ini, kisah yang paling mengalir dan enak dibaca adalah milik Narayan dan Mishima. Sedangkan el-Hakim dan Idris lebih kuat dalam membuat konflik yang membuat kita penasaran mengenai kelanjutannya, masing-masing memberi hal tak terduga dan sentuhan humor dalam kisahnya. Secara keseluruhan, saya lebih merasa ‘dekat’ dengan tulisan Rushdie dan Mishima, mungkin karena saya lebih familiar dengan sastra Asia Timur dan Selatan ketimbang Asia Barat yang jarang saya ‘kunjungi’.

Seorang penulis adalah orang biasa, mungkin dia lebih peka tapi seorang yang terlalu peka acap kali juga lebih rapuh. Penulis tak berbicara sebagai juru bicara masyarakat atau sebagai penjelmaan kebenaran. Suaranya mungkin lemah, tapi justru suara individual inilah yang lebih autentik.
Apa yang ingin saya kemukakan di sini adalah bahwa sastra hanya bisa menjadi suara individual dan selalu begitu. Sekali sastra dibuat sebagai himne sebuah bangsa, bendera ras, corong partai politik, atau suara kelas atau kelompok, ia berlaku hanya sekadar sebagai alat propaganda. Sastra semacam itu kehilangan apa yang melekat dalam sastra, berhenti sebagai sastra, dan menjadi pengganti bagi kekuasaan dan keuntungan.
(Xingjian, Perihal Sastra, p.202-203)

Sebagai penutup, saya suka sekali dengan pidato Xingjian mengenai sastra ini. Menurutnya, sastra (seharusnya) tidak berbicara untuk siapa-siapa, tidak perlu memiliki pesan apa-apa, karena ia adalah kebutuhan penulis untuk melampiaskan apa-apa yang ingin ditulisnya. Sastra sejati lahir dari hati terdalam, yang tidak menuntut apa-apa kecuali bahwa dia dituliskan untuk menjaga sang penulis tetap ‘waras’, tanpa peduli apakah dia akan dibaca atau tidak.

Estetika yang berpijak dari emosi-emosi manusia tak akan aus bahkan jikalau terjadi perubahan terus-menerus dalam sastra dan seni. Namun evaluasi-evaluasi literer yang berubah-ubah seperti mode bersandar pada mode terakhir: yakni apa pun yang baru itu bagus. Ini adalah mekanisme dalam pergerakan-pergerakan pasar umumnya dan pasar buku tak terbebas darinya, tapi bilamana penilaian estetis penulis mengikuti pergerakan-pergerakan pasar ini akan berarti bunuh diri sastra. Terutama dalam apa yang disebut masyarakat konsumer dewasa ini, saya kira seorang mesti bernaung dalam sastra sejati. (Xingjian, Perihal Sastra, p.209)

Pidatonya ini menjelaskan banyak hal mengenai sastra; menjelaskan mengapa sastra tidak selalu mudah dipahami, karena dia tak selalu perlu dipahami; menjawab tantangan bahwa sastra pasti memiliki nilai moral tertentu, yaitu dengan menjadi jujur, meski ia harus menabrak nilai moral tersebut; dan menegaskan bahwa sastra tidak akan menjadi sesuatu yang populer, karena dia adalah pekerjaan sepi.

“Kenyataannya, hubungan pengarang dan pembaca selalu merupakan hubungan komunikasi spiritual dan tak perlu mereka bersua atau berinteraksi secara sosial, itu adalah komunikasi yang semata melalui karya. Sastra masih menjadi bentuk yang sangat diperlukan dari aktivitas manusia yang di dalamnya baik pembaca maupun penulis terlibat atas kemauan mereka sendiri. Dengan demikian, sastra tak punya tugas terhadap massa.” (Xingjian, Perihal Sastra, p.210)

received_10208040676604997.jpeg

Buku yang sangat ‘kaya’ ini bisa kalian miliki, PLUS sebuah buku terbaru terbitan DIVA Press, simak syarat dan ketentuannya ya:

  1. Peserta memiliki alamat kirim di Indonesia
  2. Follow blog ini dan twitter @divapress01
  3. Bagikan info giveaway ini di media sosial
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar, dengan menyertakan nama, alamat email, dan link share di media sosial

Ceritakan pengalaman membaca yang membawa keajaiban bagi kalian. Tidak harus sastra, mungkin ada buku yang membuat hidup kalian berubah, atau mengubah cara pandang kalian, atau apapun definisi ‘keajaiban’ menurut kalian.

  1. Batas giveaway ini adalah 25-31 Januari 2016, dan akan dipilih satu orang pemenang

Semoga beruntung mendapatkan kumpulan sepuluh ‘keajaiban’ ini.

26 responses to “Dijual: Keajaiban (+GIVEAWAY)

  1. nyimak reviewnya. smoga sukses GA-nya🙂
    ikutan GA-nya ya.

    buku rich dad poor dad itu membuat saya berani melangkah di luar kebiasaan keluarga saya yang kebanyakan PNS.

  2. Pingback: [Blogtour & Giveaway] Dijual Keajaiban - Live and Learn

  3. Nama : Citra Ayuning Tyas
    E-mail : Glacier4tdesert@gmail.com
    Link : https://www.facebook.com/4DHyesunChoi/posts/662057623936316?notif_t=like

    Keajaiban pertama kali aku rasain waktu baca buku Paulo Coelho ‘Sang Alkemis’. Sebelum baca buku itu aku nggak begitu getol nyari tahu apa mimpi aku yang sebenernya, apa cita-citaku. Sampai aku baca buku itu, aku jadi pengen tahu sebenernya hal apa yang bener-bener pengen aku lakuin dan aku bertekad buat ngeraih mimpi itu sampai akhir. Quotes di buku itu bener-bener membawa keajaiban di hidupku. Dan aku seperti melihat dunia lewat kacamata yang baru, penuh warna dan harapan. Itu keajaiban dari membaca yang pertama kali aku rasain. 🙂

  4. Nama : Citra Ayuning Tyas
    E-mail : Glacier4tdesert@gmail.com
    Link : https://www.facebook.com/4DHyesunChoi/posts/662057623936316?notif_t=like

    Keajaiban pertama kali aku rasain waktu baca buku Paulo Coelho ‘Sang Alkemis’. Sebelum baca buku itu aku nggak begitu getol nyari tahu apa mimpi aku yang sebenernya, apa cita-citaku. Sampai aku baca buku itu, aku jadi pengen tahu sebenernya hal apa yang bener-bener pengen aku lakuin dan aku bertekad buat ngeraih mimpi itu sampai akhir. Quotes di buku itu bener-bener membawa keajaiban di hidupku. Dan aku seperti melihat dunia lewat kacamata yang baru, penuh warna dan harapan. Itu keajaiban dari membaca yang pertama kali aku rasain.🙂

  5. Nama: Nina I M
    E-mail: ninaisyem@gmail.com
    Link share: https://twitter.com/NaIsMa_/status/691552237147914240

    Saya suka membaca cerpen, karena selain memberi pengetahuan dan cara pandang baru, bagi saya tidak sedikit cerpen yang dapat “mengguncang” jiwa. Misalnya yang berjudul “Ilalang Kampus”. Berisi percakapan dua orang teman tentang pilihan bagi mahasiswa, mengikuti orang banyak dan terbawa angin seperti ilalang; atau mengambil jalan sendiri dengan kemungkinan tidak berteman. “Hymne Mahaguru”, yang juga mengambi latar dunia kampus, memberi pelajaran bahwa kejujuran lebih berharga daripada penghargaan apapun; sekaligus membuka mata bahwa kecurangan dapat terjadi dimana saja.
    Ada juga “Edelweis Melayat ke Ciputat” dan “Bunga Kebun Tanjong” yang membuat saya belajar bahwa cinta dalam rumah tangga bisa menjadi begitu dramatis dan tentu saja jauh lebih rumit daripada cinta remaja.
    Bagi saya, cerpen dapat menjadi begitu ajaib. Dalam kepadatannya, cerpen dapat memberi pelajaran sekaligus membuka mata tentang fenomena sosial yang mungkin sering terjadi namun tidak kita sadari.

  6. Nama: David Arifka
    Email: ariefkhadavid@gmail.com
    Link share: https://twitter.com/arifka_73/status/692103263546667008

    Aku merasakan suatu keajaiban ketika membaca Novel dan Komik ”naruto” ceritanya yang mengubah cara pandang hidupku. Dimana sang tokoh utama yang selalu dibenci orang, payah dalam melakukan apapun, konyol namun tetap semangat pantang menyerah demi meraih cita-citanya. Ingin menunjukan kepada seseorang bahwa dirinya mampu lebih hebat dari orang yang lainya. Dengan tekad dan kegigihanya akhirnya dia mampu menunjukan kepada semua orang bahwa dia bisa, banyak seseorang yang menaruh banyak harapan padanya… Ceritanya sangat menginspirasiku… Dan aku akan mengikutinya… Hampir aku sama dengan tokoh utamanya, payah dalam halapapun… Tapi aku tak akan menyerah seperti cerita tersebut…

  7. Nama : M. Sulhan Habibi
    Email : soulhahnmail [at] gmail.com
    twitter : @SulhanHabibi
    Link share : https://twitter.com/SulhanHabibi/status/692331392068247552

    Pengalaman membaca yang membuat hidup/cara pandangku berubah, yang bisa dikatakan sebuah keajaiban adalah justru ketika membaca buku yang membuatku jatuh cinta dengan membaca.
    Awal mula jatuh cinta terhadap membaca ini yang selanjutnya membuat hidupku tidak lagi sama.

    Ada 3 bacaan yang benar-benar membuatku mulai jatuh cinta dengan membaca, yaitu:
    1. Majalah Bobo.
    Majalah yang sangat populer ketika aku masih kecil (sekolah dasar). Majalah Bobo, sesuai slogannya yaitu teman bermain dan belajar, adalah majalah yang mebuatku jatuh cinta dengan membaca. Banyak informasi dan pengetahuan yang aku dapatkan dalam kapisatasku sebagai anak-anak. Aku begitu menyukai majalah ini, bahkan sampai langganan. Majalah ini pula-lah yang mengawali keinginanku untuk menulis cerpen.

    2. Komik Detective Conan.
    Detective Conan adalah bacaan komik pertama yang membuatku suka membaca komik. Sewaktu SD, aku tidak begitu menyukai membaca komik, namun ketika mulai membaca Detective Conan aku langsung jatuh cinta dan membaca komik lainnya. Terbukti sampai sekarang koleksi komikku berjumlah sekitar 800-an komik. Ah, mungkin sudah mencapai 1000 karena gak pernah aku hitung lagi.

    3. Novel Harry Potter.
    Novel Harpot adalah novel ‘tebal’ pertama yang membuatku menyukai novel-novel tebal lainnya. Ketika membaca Harpot sewaktu SMP membuatku begitu menggilainya. Majalah, buku, atau apapun yang berhubungan dengan Harry Potter aku ikuti, beli, dan juga pinjam teman. Aku meniru lafal sihirnya. Membuat tongkat sendiri. Mencari tahu kejaiban Harry Potter dan mulai melatih diri membaca novel berat lainnya. Ah, mengingat kegilaan dahulu sering membuatku tersenyum sendiri.

    Yang unik daripada semua itu sebenarnya adalah ketiga bacaan di atas bukan milikki sendiri. Semuanya adalah pinjaman dari seorang teman. Majalah Bobo, Detective Conan, dan Harry Potter itu pinjaman dari seorang teman masa kecilku – kami satu sekolah SD, SMP, dan SMA.
    Temanku itu perempuan dan sekarang menjadi istriku.
    Jadi, sebenarnya kecintaanku terhadap membaca sangat dipengaruhi dan ditumbuhkan oleh istriku sekarang ini (karena keluargaku tidak terlalu hobi membaca)

    Sampai sekarang, kami masih sering membaca bareng, mengoleksi buku bareng, mendiskusikan buku/komik yang menurut kami keren.

    Bagiku, ini semua adalah keajaiban…

  8. Rizal B. Firmansyah

    Nama: M. Rizal B. Firmansyah
    Email: firmantigerstar@gmail.com
    Link share:
    Twitter: https://twitter.com/firmanM249/status/692537229995053058
    Facebook: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=988027394576755&id=100001085122001&refid=17&_ft_=top_level_post_id.988027394576755%3Atl_objid.988027394576755%3Athid.100001085122001%3A306061129499414%3A2%3A0%3A1454313599%3A-2697167326242649610
    Google+: https://plus.google.com/112504728512813354773/posts/Rg1T2gYHCxf

    Keajaiban ini terjadi dalam keluargaku sendiri. Semua bermula dari hadiah buku dari DIVA PRESS bulan Maret tahun lalu. Dua buku bagus, “Sejarah Lengkap Indonesia” dan “Para Panglima Perang Islam”. Dari situlah aku termotivasi untuk mendapatkan buku-buku secara gratis. Sebab membaca itu ternyata menyenangkan. Aku harus memiliki banyak buku.

    Hingga pada akhirnya, lomba demi lomba, kuis demi kuis yang kuikuti menghasilkan banyak buku. Bagian ajaibnya, semua keluargaku jadi suka membaca. Orangtua yang sangat enggan menyentuh buku-buku, sekarang koleksi buku di rumah malah kurang. Semua sudah pernah dibaca. Sampai-sampai harus meminjam buku di perpustakaan kampus untuk bacaan mereka setiap hari.

  9. Arum Wahyuningtyas

    Nama : Arum Wahyuningtyas
    e-mail : nin9ty4z@gmail.com
    Twitter : @nin9ty4z
    Link Share :
    twitter : https://twitter.com/nin9ty4z/status/692562716544888832
    google+ : https://plus.google.com/u/0/+ArumWahyuningtyas5396/posts/ZET7x3Bsxtr

    Keajaiban yg saya peroleh dari buku bermula dari Cerita Rakyat Nusantara yg dibelikan oleh ayah waktu saya masih kelas 1 SD.

    Umumnya pesan moral yg tersirat dalam cerita rakyat Indonesia adalah : kejahatan tidak akan pernah bisa melawan kebaikan. Hal itupun memang saya alami dalam kehidupan. Orang-orang yg berbuat jahat pada saya dan keluarga saya, memang belum diberi balasan yg setimpal oleh Tuhan. Tetapi, orang tua saya mengajarkan untuk bersabar. Keajaiban yg kami dapatkan adalah hidup dengan aman, nyaman, damai, dan sejahtera tanpa ketidaktenangan sedikitpun.

    Sementara untuk buku-buku lain, yg saya sudah lupa judul dan pengarangnya, telah mengubah cara berpikir negatif saya menjadi positif, memberi banyak pengetahuan, dan mengubah hidup saya. Buku memang benar-benar memberikan keajaiban.

  10. Arum Wahyuningtyas

    Nama : Arum Wahyuningtyas
    e-mail : nin9ty4z@gmail.com
    twitter : @nin9ty4z
    Link share :
    twitter : https://twitter.com/nin9ty4z/status/692562716544888832
    google+ : https://plus.google.com/u/0/+ArumWahyuningtyas5396/posts/ZET7x3Bsxtr

    Keajaiban buku yg saya dapatkan bermula dari Cerita Rakyat Nisantara yg dibelikan oleh ayah saat saya masih kelas 1 SD.

    Umumnya, pesan moral yg tersirat dalam cerita rakyat Indonesia adalah : kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebaikan. Hal itu juga saya alami dalam kehidupan.

    Dalam kehidupan saya, ada beberapa orang yg berbuat jahat pada saya dan keluarga saya. Namun, orang tua saya mengajari bagaimana cara menghadapi mereka dengan cara bersabar dan berdoa. Seperti cara tokoh-tokoh protagonis yg ada dalam cerita. Kemudian setelah beberapa tahun, buah kesabaran itu mulai tampak. Dan kami merasakan bahagia. Walaupun orang-orang yg berbuat jahat tadi belum mendapat balasan yg setimpal dari Tuhan.

    Untuk buku-buku lain, yg saya sudah lupa judul dan nama pengarangnya, baik itu buku non-fiksi, novel, komik, cerpen, dsb, pesan-pesan moral yg terkandung di dalamnya sangat memberikan inspirasi untuk saya. Selain itu juga mengubah cara pandang saya yg terkesan negatif terhadap sesuatu, dan mengubah hidup saya. Buku memang benda yg sangat ajaib.

    Cukup sekian dan terima kasih.

  11. Nama: Didi Syaputra
    Email: syaputradiddy@gmail.com
    Link Share: https://mobile.twitter.com/DiddySyaputra/status/692825324115988480?p=v

    Sebenarnya telah banyak buku yang Saya baca. Akan tetapi jujur saja, belum sepenuhnya mampu menginspirasi apalagi mengubah cara pandang dan pola hidup Saya. Namun, satu buku yang begitu menarik dan mampu mengubah cara pandang Saya mengenai kehidupan yaitu Mata Kedua karya Ramaditya Adikara.

    Mas Rama merupakan seorang penulis yang diamanahkan keluarbiasaan (tuna netra). Beliau menuliskan secara detail kisah hidupnya di Mata Kedua. Mulai dari perjuangannya bersekolah di luar SLB, perjuangannya meyakinkan Guru dan teman-temannya bahwa ia mampu belajar dan bermain layaknya teman lainnya meski kondisi fisik yang dimiliki seringkali menyeretnya ke posisi tersulit, namun ia tak pernah mengalah dan menyalahkan keadaan, justru ia semakin tertantang untuk membuktikan bahwa ia mampu bersaing dengan mereka yang sempurna secara fisik.

    Kisah yang Mas Rama tuliskan membuat Saya merasa sangat kasihan. Bukan. Bukan pada Mas Rama. Melainkan pada diri Saya yang selama ini belum mampu memandang kehidupan secara benar, selalu men-judge kehidupan yang baik hanya layak diperoleh oleh orang-orang yang fisiknya sempurna. Padahal sejatinya, tekad dan usahalah yang menentukan arah mana yang hendak ditempuh di masa mendatang. Di Mata Kedua Saya menemukan titik terang kehidupan dan menaruh keyakinan besar bahwa penentuan masa depan bukan semata-mata pada kesempurnaan fisik belaka, melainkan lebih pada prinsip yang diyakini dan dijalankan pemiliknya.

  12. Nama: Afif Rohman
    Email: afifrohman212@gmail.com
    Link share: https://twitter.com/_Afif_Rohman/status/693049196941701120

    Pengalaman membaca yg membawa keajaiban atau mengubah cara pandang saya adalah ketika membaca 2 buku karya Sujiwo Tejo “Republik #Jancukers dan Dalang Galau Ngetwit”. Kumpulan esai Sujiwo Tejo ini pantas disimak siapa saja, mulai dari yg sekadar tak buta huruf sampai profesor.

    Misalnya, dalam buku “Dalang Galau Ngetwit” bab 11, Hal 49:

    TUHAN=KETIDAKTAHUANKU
    Konon definisi itu artinya memagari. Memagari itu membatasi. Jika kau buat definisi tentang Tuhan, kau sudah membatasi atau memagari pengertian Tuhan. Dan Tuhan selalu terbahak-bahak tiap manusia membuat definisi baru tentang Dia, karena seluruh pembatasan itu selalu luput untuk memagari-Nya.

    Saya yakin, siapa saja yg membaca tulisan di atas pasti akan mikir, atau malah langsung “mengerti”. Bahwa selama ini yg kita definisikan, yang kita artikan, atau bahkan yg kita debatkan itu sebernarnya “mungkin” bukan Tuhan. Itu “mungkin” hanyalah ……..

    Sudah-sudah!!! Kok malah saya yg jadi ikut-ikutan mendefinisikan Tuhan ya, hehehe

  13. Nama: Aya Murning
    Email: ayamurning@gmail.com
    Link share:

    Ada sebuah buku non-fiksi islami yang pernah aku baca waktu masih SMP atau awal SMA gitulah, judulnya “Jangan Nodai Cinta”. Cover-nya dominan warna pink, ada gambar 💜 (hati) yang ketumpahan tinta hitam. Aku menganggap buku itu jadi salah satu keajaiban di hidupku karena buku itu yang pertama kali membuka paradigma aku sekaligus membuat aku lebih sadar kalau pacaran itu memang nggak boleh dalam Islam, ada banyak ruginya, apalagi dosanya. Memang sih sebelumnya aku udah beberapa kali denger ceramah dari beberapa ustadz dan senior tentang larangan pacaran, tapi aku menganggapnya cuma angin lalu. Baru pas baca buku itu aku bisa khusyuk menyelami isinya dan menangkap maksudnya. Meski begitu, bahasa yang digunakan penulis malah pakai gaya bahasa anak muda, gaul, nggak seperti seperti sedang menggurui.

    Sejak itu aku mengubah pandanganku tentang jodoh dan jalan untuk menemukannya. Aku pun langsung memutuskan untuk nggak mau menjalani pacaran dengan siapa pun sampai sekarang. Aku nggak mau melewati masa-masa pencarian jodoh dengan hal-hal kayak pacaran itu. Ketika aku memutuskan untuk tetap single sampai waktunya tiba dan nggak membuka lowongan kepada siapa pun untuk memporak-porandakan hati ini *halah* aku justru menemukan diriku jauh lebih nyaman daripada yang dulu. Aku bisa lebih fokus melakukan segala sesuatu. Aku juga tidak harus merasakan sakit hati (lagi) atau berderai air mata bombay karena perihal cinta-cintaan seperti itu.🙂

  14. Saya lebih terkenal dengan penggilan: Umar Affiq. Tinggal di Ponpes. As-Shomadiyyah Jl. KH. Agus Salim 44 Tuban-Jawa Timur. pohonkataumara.blogspot.com adalah rumah keberapa saya yang dipenuhi buku-buku dan cerita. Saya siap berbincang via email di: Gold.Setyaki89@gmail.com. Dan berikut adalah link share GA ini:
    1. Twitter: https://mobile.twitter.com/Umar_Affiq/status/693173956585484290
    2.Facebook: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1128144150537101&id=100000245799196&ref=m_notif&notif_t=like&actorid=1566123900
    ***
    Membaca pertanyaan ceritakan pengalaman membaca yang membawa keajaiban, menurut saya hampir terdengar sama dengan ceritakan kisah bersama kekasihmu (atau mantan kekasihmu) yang mana yang paling berkesan(?). Ah, saya tak ingin membicarakan mereka di sini. Tapi, bagi saya, buku dan kekasih adalah dua hal yang sama sekaligus berbeda. keduanya kadang-kadang sama-sama susah sekaligus mudah dimengerti. Kekasih adalah buku yang selalu ingin saya baca kisah-kisahnya; begitu pun buku adalah kekasih yang harus selalu saya baca.
    Menurut saya, setiap buku adalah satu keajaiban sendiri. Sebuah buku yang ajaib sama halnya kekasih yang ajaib. Baik buku maupun kekasih yang ajaib, adalah sebuah buku yang selalu sukses menggagalkan saya mencintainya dan membacanya sekali saja. Saya harus membacanya berulang-ulang. Bukan demi memahami isi. Ada moment-moment tertentu yang sayang jika untuk dilewatkan begitu saja. Saya gagal membacanya satu kali, saya gagal mencintainya satu kali saja dan saya harus sekaligus berhasrat membaca berulang-ulang kali karena telah jatuh mencintainya berulang-ulang kali.
    Buku penuh keajaiban yang paling ajaib bagi saya justru sebuah kitab. Sebuah kitab tentang tata karma dan cara menuntut ilmu: kitab Ta’limul Muta’allim karangan Syekh Imam Zarnujiy. Saya mengaji kitab ini pada saat saya masih kelas 5 SD dan saya menyukai kitab itu hingga waktu tak saya ketahui. Imam Zarnujiy memaparkan banyak hal tentang ilmu. Secara ringkas, buku ini di bagi ke dalam beberapa fashl/pasal/bab; bab 1 tentang kesejatian ilmu, ilmu fiqih dan keutamaannya, bab 2 tentang niat dalam menuntut ilmu, bab 3 tentang memilih dan memilah (cabang) ilmu, guru dan teman dalam menuntut ilmu dan keistiqamahan, bab 4 menyoal tata cara mengagungkan ilmu dan ahli (pemilik) ilmu, bab 5 perihal kesungguhan, istiqamah dan rajin, serta keluhuran cita, bab 6 tentang permulaan, perkiraan dan urutan menuntut ilmu, bab 7 perihal tawakkal, bab 8 tentang waktu keberhasilan, bab 9 tentang welas asih dan nasihat yang baik, bab 10 berkaitan tentang mengambil faedah ilmu, bab 11 tentang menghindari keharaman pada saat menuntut ilmu, bab 12 perihal hal-hal yang menyebabkan mudah hafal dan lupa, bab 13 tentang perkara yang mengundang rizqi/rejeki, hal-hal yang menghalanginya dan perkara yang menambah kepanjangan umur juga hal yang memperpendek umur.
    Dalam setiap bab kitab ini teridiri dari syair, maqola (petuah), dan kisah-kisah tendahulu. Saya menyukai hampir seluruh bagian kitab ini. Namun, yang paling menyentuh adalah cara seorang Sayyidina Ali R.A., menghargai sebuah ilmu dan pengajarnya (ahlul ilmi), beliau mengatakan (jika diterjemahkan kurang lebih demikian): “Saya adalah hamba orang yang mengajari saya ilmu, walau hanya satu huruf saja.”
    Membaca kitab ini seperti membaca sebuah antologi besar berisikan syair, cerita-cerita pendek, dongeng, pantun dan pesan-pesan yang semuanya dipenuhi kebijakan.
    ***
    Saya juga menyukai Kukila (M.Aan Mansyur, GPU, 2012). Buku ini menceritakan kisah cinta yang lain dari yang lain dan gaya penceritaan yang beda. Ini menurut saya. Sosok kepenyairan Aan berpengaruh besar dalam wujud pemilihan diksi cerita.
    Juga Animal Farm (George Orwell, Bentang, 2015) dan Lelaki Tua dan Laut (Ernest Hemingway, Serambi, 2015). Keduanya naskah lama yang memang patut dirawat dan dibaca sepanjang masa. Animal Farm menyembunyikan kengerian tangan besi Stalin di Rusia dalam bentuk fabel di sebuah peternakan. Lelaki Tua dan Laut mengajarkan sebuah usaha keras tanpa pamrih dan terjaga dari putus asa. Lebih dari itu, dua buku ini memberi banyak hal, juga dalam teknik dan gaya bercerita, cara mengambil sudut pandang dan hal-hal lain yang susah saya ucap dan tuliskan.
    Yang saya sebutkan di atas hanyalah sedikit dari kisah penuh keajaiban yang saya dapatkan saat membaca buku yang saya cintai, yang sukses menggagalkan saya untuk sekali saja membacanya dan mempersulit saya untuk mengatakan hal-hal apa saja yang penuh keajaiban.
    Jam menunjukkan pukul 6:00 WIB, sudah tiba waktunya sarapan. Mari membaca dan menikmati oreo, menikmati sekaligus menciptakan keajaiban.

  15. vendo olvalanda

    Nama : Vendo Olvalanda
    Alamat : Komp.PJKA, Jl. Betawi No.30, Kel. Sawahan Timur, Kec. Padang Timur, Kota Padang (25121)
    Email : olvalanda@gmail.com
    fb : vendo olvalanda
    twitter : @olvalanda
    Dan berikut adalah link share GA ini:

    ***

    Gadis korek api, berjalan sendiri dengan mimpi yang tak pernah ia miliki. Sejak saya membaca buku dongeng Andersen ini, saya putuskan untuk menjadi seorang penulis. Pekerjaan yang seringkali dipandang sebelah mata banyak orang. Namun pada pinsipnya, tidak muluk-muluk – sejak saat itu saya punya mimpi. Mimpi agar tidak menjadi gadis korek api selanjutnya, dan tidak membiarkan ada anak yang menjadi gadis korek api lainnya. Benar – bahwasanya itu hanya dongeng semata. Namun, pesan moral yang teramat “mengena” dai Andersen ini mengubah hidup saya. Mengubah hidup orang-orang disekitar saya. Dengan menjadi penulis, terutama penulis dongeng, saya yakin banyak anak-anak yang akan punya mimpi baru yang lebih besar. Andersen menyuguhkan banyak keajaiban pada hidup saya.

  16. Nama : Vendo Olvalanda
    Alamat : Komp.PJKA, Jl. Betawi No.30, Kel. Sawahan Timur, Kec. Padang Timur, Kota Padang (25121)
    Email : olvalanda@gmail.com
    fb : vendo olvalanda
    twitter : @olvalanda
    Dan berikut adalah link share GA ini:

    Gadis korek api, berjalan sendiri dengan mimpi yang tak pernah ia miliki. Sejak saya membaca buku dongeng Andersen ini, saya putuskan untuk menjadi seorang penulis. Pekerjaan yang seringkali dipandang sebelah mata banyak orang. Namun pada pinsipnya, tidak muluk-muluk – sejak saat itu saya punya mimpi. Mimpi agar tidak menjadi gadis korek api selanjutnya, dan tidak membiarkan ada anak yang menjadi gadis korek api lainnya. Benar – bahwasanya itu hanya dongeng semata. Namun, pesan moral yang teramat “mengena” dai Andersen ini mengubah hidup saya. Mengubah hidup orang-orang disekitar saya. Dengan menjadi penulis, terutama penulis dongeng, saya yakin banyak anak-anak yang akan punya mimpi baru yang lebih besar. Andersen menyuguhkan banyak keajaiban pada hidup saya.

  17. Nama : Muhammad Getar
    Alamat : Lombok, NTB
    Alamat email : lalumuhammadgetar@gmail.com
    Link Share : https://twitter.com/Muhammad_Getar/status/693625442180313089

    Sebuah buku yang membuat saya berubah yaitu buku-buku Edi Mulyono. Yang sudah saya baca sedikit, sekitar dua buku non fiksi beliau yang sudah saya baca. Pertama NGANU dan Alangkah Brengseknya Aku.
    Tetapi, yang mampu membuat saya berubah sekaligus intropeksi diri adalah buku “Alangkah Brengseknya Aku.: Buku ini mampu menampar saya berkali-kali. Hidup akan terasa sulit dan susah apabila kita memandangnya dari sudut pandang yang begini.” Kita harus bisa menghadapi hidup ini yang nyatanya memang slow. Hal-hal sepele apa saja yang seringkali kita abaikan dan lupakan. Buku ini mengubah saya dari sudut pandang perbuatan tentunya. Sebeb, selain bacaan yang harusnya memberi pesan moral, buku in mampu menuntun saya dan mengubah kepribadian saya secara perlahan. Menyentil dan menampar. Serta memberi pelajaran. Adalah sebuah keajaiban tersendiri bagi saya.

  18. Sebuah buku yang membuat saya berubah yaitu buku-buku Edi Mulyono. Yang sudah saya baca sedikit, sekitar dua buku non fiksi beliau yang sudah saya baca. Pertama NGANU dan Alangkah Brengseknya Aku.
    Tetapi, yang mampu membuat saya berubah sekaligus intropeksi diri adalah buku “Alangkah Brengseknya Aku.: Buku ini mampu menampar saya berkali-kali. Hidup akan terasa sulit dan susah apabila kita memandangnya dari sudut pandang yang begini.” Kita harus bisa menghadapi hidup ini yang nyatanya memang slow. Hal-hal sepele apa saja yang seringkali kita abaikan dan lupakan. Buku ini mengubah saya dari sudut pandang perbuatan tentunya. Sebeb, selain bacaan yang harusnya memberi pesan moral, buku in mampu menuntun saya dan mengubah kepribadian saya secara perlahan. Menyentil dan menampar. Serta memberi pelajaran. Adalah sebuah keajaiban tersendiri bagi saya.

    Nama : Muhammad Getar
    Alamat : Lombok, NTB
    Alamat email : lalumuhammadgetar@gmail.com
    Link Share : https://twitter.com/Muhammad_Getar/status/693625442180313089

  19. Nama: Ratih Dwi
    Email: erdeaka9@gmail.com
    Twitter: @erdeaka
    Link Share: https://twitter.com/erdeaka/status/693640422892015616
    Jawaban:
    Pengalaman membaca yang membawa keajaiban bagiku adalah membaca buku fiksi sejarah yang berjudul Quo Vadis? karya Henryk Sienkiewicz. Buku ini bercerita tentang sejarah Kristianitas di zaman Romawi, di mana orang-orang Kristen masih ditindas oleh orang-orang Romawi. Yang berkesan dari buku ini, atau lebih tepatnya yang memberikan “keajaiban” tersendiri, adalah walaupun isi buku ini bukan tentang agamaku, tetapi makna yang terkandung di dalamnya dapat membuatku berpikir ulang tentang bagaimana hubungan kita dengan Tuhan dan bagaimana kita mendekatkan diri kepada Tuhan kita (masing-masing). Banyak sekali pesan-pesan yang aku dapatkan dari buku ini: tentang ketulusan beriman kepada Tuhan, mencintai karena Tuhan, memaafkan, saling mengasihi, dll yang rata-rata juga sama dengan dasar-dasar ajaran agamaku sendiri. Setelah membaca buku ini, aku jadi berpikir bahwa kita tidak perlu melulu harus membaca sesuatu yang secara subyektif sesuai/sama dengan “identitas” kita untuk dapat terinspirasi tentang bagaimana menjadi seseorang yang lebih baik sesuai dengan ajaran agama/identitas kita.

  20. Nama : Kautsar Ab
    Alamat E-mail : justkautsar@gmail.com
    Link Share :
    # facebook: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1254311877929078&id=100000508324341&pnref=story
    # twitter : https://twitter.com/kktsr/status/693669191979655168

    Menurut saya semua buku itu ajaib. Buku mampu menyampaikan pesan penulis kepada pembaca tanpa bicara dan bertatap muka. Melalui buku pula Firman Tuhan bernama Kitab sampai kepada umat melalui Rasul-Nya. Yah, buku adalah keajaiban.

    Perubahan saya rasakan setelah membeli dan membaca sebuah “keajaiban”, ke-a-jai-ban, sebuah buku novel pemenang ketiga Sayembara DKJ Tahun 2003. Ajaib sekali kami bertemu, seperti kisah yang disutradarai takdir. Kami dipertemukan di sebuah bazar buku yang diadakan oleh toko buku terbesar di kota kami. Dari ribuan buku yang ada, saya tanpa ragu memilih dia untuk dibeli. Kami seolah berjodoh pada pandangan pertama.
    Novel yang saya beli beberapa tahun setelah penerbitannya, novel yang saya beli mungkin jauh lebih murah dari pada harga aslinya, novel yang tak pernah menyesal saya membelinya.

    Ceritanya tentang kisah cinta yang dramatis dan sangat kompleks menurut saya. Galih mulai bisa melupakan seseorang yang sangat dicintainya, Krasnaya, seorang gadis pelukis yang ia kenali di Moskwa yang tewas terbunuh karena dicurigai sebagai mata-mata. Memang sedang ada konflik di Moskwa saat itu. Raras, ialah wanita yang perlahan menghapus bayang Krasnaya di hati Galih. Galih jatuh cinta, tapi Raras tidak. Bukannya tidak cinta, tapi Raras belum benar-benar mengerti cinta. Ia masih memilih Violet, sahabat yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena putus cinta. Jikalah cinta yang Raras rasakan, maka ia terlanjur cinta pada Violet, sahabat wanitanya yang telah tiada, bukan Galih, bukan.

    Novel ini mengangkat problem kehidupan pascamodern, tentang pencarian jati diri. Mungkin banyak novel lain yang menceritakan hal yang sama. Tapi novel yang satu ini ajaib. Ia membuat saya tergila-gila dengan caranya bercerita. Ia seenaknya membolak-balikkan emosi saya saat membacanya, dan ia juga menggonta-ganti pencerita-aku-dia-engkau seenaknya, menyesuaikan diri dengan tuntutan cerita. Novel ini sangat kaya. Novel ini benar-benar membuat saya JATUH CINTA pada sastra.

    Novel ini luar biasa. Menyihir saya menjadi sangat suka membaca, terutama membaca novel sastra. Novel ini juga pernah membuat saya berambisi mengikuti Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), meski semangat itu kini hanya tesalurkan melalui ‘bercerita’ di blog pribadi. Yah, novel ini pula menjadikan saya suka bercerita.

    Saya paling suka dibagian akhir novel ini, ketika Raras berkata, “Aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup”, dan “Aku masih larva, entah untuk berapa lama, sebelum evolusi memberiku bentuk yang pasti”. Luar biasa diksi-nya menurut saya.

    Sekali lagi, novel ini ajaib. Dan keajaiban itu bernama “Tabularasa” karya Ratih Kumala.

  21. Nama : Kautsar Ab
    Alamat E-mail : justkautsar@gmail.com
    Link Share:
    # facebook : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1254311877929078&id=100000508324341&pnref=story
    #twitter : https://twitter.com/kktsr/status/693669191979655168

    Menurut saya semua buku itu ajaib. Buku mampu menyampaikan pesan penulis kepada pembaca tanpa bicara dan bertatap muka. Melalui buku pula Firman Tuhan bernama Kitab sampai kepada umat melalui Rasul-Nya. Yah, buku adalah keajaiban.

    Perubahan saya rasakan setelah membeli dan membaca sebuah
    “keajaiban”, ke-a-jai-ban, sebuah buku novel pemenang ketiga Sayembara DKJ Tahun 2003. Ajaib sekali kami bertemu, seperti kisah yang disutradarai takdir. Kami dipertemukan di sebuah bazar buku yang diadakan oleh toko buku terbesar di kota kami. Dari ribuan buku yang ada, saya tanpa ragu memilih dia untuk dibeli. Kami seolah berjodoh pada pandangan pertama.
    Novel yang saya beli beberapa tahun setelah penerbitannya, novel yang saya beli mungkin jauh lebih murah dari pada harga aslinya, novel yang tak pernah menyesal saya membelinya.

    Ceritanya tentang kisah cinta yang dramatis dan sangat kompleks menurut saya. Galih mulai bisa melupakan seorang yang sangat dicintainya, Krasnaya, seorang gadis pelukis yang ia kenali di Moskwa yang tewas terbunuh karena dicurigai sebagai mata-mata. Memang sedang ada konflik di Moskwa saat itu. Raras, ialah wanita yang perlahan menghapus bayang Krasnaya di hati Galih. Galih jatuh cinta, tapi Raras tidak. Bukannya tidak cinta, tapi Raras belum benar-benar mengerti cinta. Ia masih memilih Violet, sahabat yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena putus cinta. Jikalah cinta yang Raras rasakan, maka ia terlanjur cinta pada Violet, sahabat wanitanya yang telah tiada, bukan Galih, bukan.

    Novel ini mengangkat problem kehidupan pascamodern, tentang pencarian jati diri. Mungkin banyak novel lain yang menceritakan hal yang sama. Tapi novel yang satu ini ajaib. Ia membuat saya tergila-gila dengan caranya bercerita. Ia seenaknya membolak-balikkan emosi saya saat membacanya, dan ia juga menggonta-ganti pencerita-aku-dia-engkau seenaknya, menyesuaikan diri dengan tuntutan cerita. Novel ini sangat kaya. Novel ini benar-benar membuat saya JATUH CINTA pada sastra.

    Novel ini luar biasa. Menyihir saya menjadi sangat suka membaca, terutama membaca novel sastra. Novel ini juga pernah membuat saya berambisi mengikuti Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), meski semangat itu kini hanya tesalurkan melalui ‘bercerita’ di blog pribadi. Yah, novel ini pula menjadikan saya suka bercerita.

    Saya paling suka dibagian akhir novel ini, ketika Raras berkata, “Aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup”, dan “Aku masih larva, entah untuk berapa lama, sebelum evolusi memberiku bentuk yang pasti”. Luar biasa diksi-nya menurut saya.

    Sekali lagi, novel ini ajaib. Dan keajaiban itu bernama “Tabularasa” karya Ratih Kumala.

  22. Menurut saya semua buku itu ajaib. Buku mampu menyampaikan pesan penulis kepada pembaca tanpa bicara dan bertatap muka. Melalui buku pula Firman Tuhan bernama Kitab sampai kepada umat melalui Rasul-Nya. Yah, buku adalah keajaiban.

    Perubahan saya rasakan setelah membeli dan membaca sebuah
    “keajaiban”, ke-a-jai-ban, sebuah buku novel pemenang ketiga Sayembara DKJ Tahun 2003. Ajaib sekali kami bertemu, seperti kisah yang disutradarai takdir. Kami dipertemukan di sebuah bazar buku yang diadakan oleh toko buku terbesar di kota kami. Dari ribuan buku yang ada, saya tanpa ragu memilih dia untuk dibeli. Kami seolah berjodoh pada pandangan pertama.
    Novel yang saya beli beberapa tahun setelah penerbitannya, novel yang saya beli mungkin jauh lebih murah dari pada harga aslinya, novel yang tak pernah menyesal saya membelinya.

    Ceritanya tentang kisah cinta yang dramatis dan sangat kompleks menurut saya. Galih mulai bisa melupakan seorang yang sangat dicintainya, Krasnaya, seorang gadis pelukis yang ia kenali di Moskwa yang tewas terbunuh karena dicurigai sebagai mata-mata. Memang sedang ada konflik di Moskwa saat itu. Raras, ialah wanita yang perlahan menghapus bayang Krasnaya di hati Galih. Galih jatuh cinta, tapi Raras tidak. Bukannya tidak cinta, tapi Raras belum benar-benar mengerti cinta. Ia masih memilih Violet, sahabat yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena putus cinta. Jikalah cinta yang Raras rasakan, maka ia terlanjur cinta pada Violet, sahabat wanitanya yang telah tiada, bukan Galih, bukan.

    Novel ini mengangkat problem kehidupan pascamodern, tentang pencarian jati diri. Mungkin banyak novel lain yang menceritakan hal yang sama. Tapi novel yang satu ini ajaib. Ia membuat saya tergila-gila dengan caranya bercerita. Ia seenaknya membolak-balikkan emosi saya saat membacanya, dan ia juga menggonta-ganti pencerita-aku-dia-engkau seenaknya, menyesuaikan diri dengan tuntutan cerita. Novel ini sangat kaya. Novel ini benar-benar membuat saya JATUH CINTA pada sastra.

    Novel ini luar biasa. Menyihir saya menjadi sangat suka membaca, terutama membaca novel sastra. Novel ini juga pernah membuat saya berambisi mengikuti Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), meski semangat itu kini hanya tesalurkan melalui ‘bercerita’ di blog pribadi. Yah, novel ini pula menjadikan saya suka bercerita.

    Saya paling suka dibagian akhir novel ini, ketika Raras berkata, “Aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup”, dan “Aku masih larva, entah untuk berapa lama, sebelum evolusi memberiku bentuk yang pasti”. Luar biasa diksi-nya menurut saya.

    Sekali lagi, novel ini ajaib. Dan keajaiban itu bernama “Tabularasa” karya Ratih Kumala.

    Nama : Kautsar Ab
    Alamat E-mail : justkautsar@gmail.com
    Link Share:
    # facebook : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1254311877929078&id=100000508324341&pnref=story
    #twitter : https://twitter.com/kktsr/status/693669191979655168

  23. Nama : Nova Indah Putri
    Email : n0v4ip[at]gmail[dot]com
    Link Share : https://twitter.com/n0v4ip/status/693772756165402624

    Saya pernah membaca buku yang membahas seputar perempuan dan gelar jomblo. Nah, waktu itu saya baru putus, dan seperti anak abege labil pada umumnya *eaa, labil* yang saat putus berusaha memperbaiki image dengan cara segera mendapatkan pengganti, buku itu benar-benar menohok saya. Pasalnya karena saat itu kondisinya saya sibuk mencari pengganti dan takut berlama-lama menyandang status jomblo. Tapi buku itu memberikan sesuatu yang benar-benar merubah pola pikir saya. Merubah pandangan saya mengenai jomblo itu sendiri. Saya benar-benar merasa tertampar saat membaca buku itu. Dan saya rasa apa yang dituliskan dalam buku itu benar adanya. Selain merasa tertampar saya juga merasa sangat malu dan terlihat ‘murah’. Akhirnya saya mengikuti kiat-kiat dalam buku tersebut terutama dalam hal move on terntunya. Dan saya merasa buku itu adalh sebuah keajaiban untuk saya, karena buku itu tiba-tiba muncul di depan saya saat saya butuhkan dan buku itu juga lah yang mencegah saya melakukan hal-hal bodoh…😀

    Terima kasih kak ^^

  24. nama : MUkhammad Maimun Ridlo
    alamat email : maimun_ridlo@yahoo.com
    link share : https://twitter.com/MukhammadMaimun/status/693801247753637888

    Al-Qur`an.
    Aku selalu merasa keajaiban ada di setiap ayatnya.
    Aku selaalu merasa kekuatan saat membacanya.
    Saat sedih, akan terasa senang membacanya.
    Saat galau, akan menjadi tenang membacanya.
    Selain itu, membacanya juga akan menambah pahala.
    Karena Al-Quran adalah obat.
    Al-Quran adalah sumber dari segala sumber

  25. Susi Sri Riyanti

    Nama ‘ Susi Sri Riyanti
    Email : susi.yuzuruhikaru@gmail.com
    Link share : https://mobile.twitter.com/yuzu_hika/status/693790879711109120?p=v

    Dulu waktu SMA aku pernah baca buku yang judulnya Islam is Beautiful #Gue Bangga Jadi Muslim #2. Buku ini punya magnet tersendiri. Ia menarikku untuk terus membacanya hingga akhir. Padahal isinya adalah materi-materi agama yang pernah dipelajari di sekolah. Yang kadang membuat kita bosan karena diulang-ulang, tapi semua jadi terasa lebih baru, lebih menarik dan menantang setelah dikemas dengan bahasa yang menarik. Aku merasakan keajaiban. Setiap membaca halaman demi halaman buku, aku menjadi lebih bersemangat menjalankan perintah agama. Aku merasa betapa kerennya amalan-amalan yang dulu ku anggap sepele. Ternyata dari hal sepele itu, jika kita melakukannya dengan pemahaman baru ia akan terlihat sebagai pekerjaan besar dan akan mengundang banyak pahala dan kebaikan untuk diri kita sendiri. Buku itu juga punya sihir. Aku langsung bersegera melakukan kebaikan-kebaikan yang diajarkannya tanpa merasa terpaksa. Seperti sholat tepat di awal waktu yang dulu susah sekali kulakukan. dan buku itu membuatku merasa bangga terlahir jadi orang islam. Sampai sekarang, setiap kali aku membaca buku itu, aku masih merasakan semangat yang sama seperti 10 tahun lalu.

  26. Setiap buku yg sya baca memberikan efek yg berbeda-beda. Ada 1 novel yg sllu sya ingat sampai skrg, padahal terakhir kali sya membaca novel ini skitar 10 thn yg lalu. Judulnya Always Laila: Hanya Cinta Yang Bisa. Sdh bnyak novel romance yg sya baca, tp ttp tdk bs membuat sya move on 100% dr novel ini. Jlan ceritanya klise, ttg kisah cinta sepasang kekasih yg kdang bahagia kdang sedih. Entah apa yg membuat sya begitu trikat dg novel ini. Mungkin karena cra penulis menyampaikan cerita secara sederhana, sehingga mengena ke hati saya. Atau mungkin saya kagum dg cinta yg dimiliki tokoh utama pria nya, yg mencintai kekasihnya dg cra sederhana namun indah. Bahkan sampai akhir hidupnya. Novel ini ending nya memilukan. Sya disadarkan bahwa jgn pernah meninggalkan org yg kta syangi dg alasan untk kebahagiaannya, bs jd kt lh alasan dibalik senyumannya.

    Nama : Nurmi Hidayasari
    Email : nurmi.hs@gmail.com
    Link share : https://mobile.twitter.com/NurmiHs/status/693783257872072705

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s