Oeroeg – Hella S. Haasse

oeroegTitle : Oeroeg
Author : Hella S. Haasse (1948)
Translator : Indira Ismail
Editor : Dini Pandia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2009
Format : Paperback, 144 pages

Oeroeg kawanku. Bila kukenang lagi masa kecil dan tahun-tahun remajaku, sosok Oeroeg langsung muncul dalam benakku bagai salah satu gambar ajaib yang biasa kami beli, tiga lembar seharga sepuluh sen: lembar-lembar kekuningan mengilap berlapis kertas yang harus digosok keras dengan pensil agar gambar tersembunyinya muncul. (p.5)

Saya jarang membaca fiksi sejarah Indonesia, apalagi yang ditulis dari sisi orang Belanda, jadi saya tidak berekspektasi apa-apa kala membaca buku ini. Sang narator (‘aku’) adalah teman sebaya Oeroeg di perkebunan Kebon Jati, Jawa Barat, pada masa pendudukan Belanda. Mereka lahir di lingkungan dan masa yang sama, ayah ‘aku’ adalah administateur, sedangkan ayah Oeroeg adalah mandornya. Keduanya selalu bersama-sama sejak kecil, karena di lingkungan itu tidak banyak penduduknya. Hingga masa sekolah, mereka masih bersama-sama, seolah tak ada batas sosial di antara keduanya.

Oeroeg memang diistimewakan karena keluarga ‘aku’ punya utang budi kepadanya. Akan tetapi, kedekatan mereka tetap menjadi masalah pada akhirnya. Sebagai seorang Belanda, tak semestinya ‘aku’ bermain di lumpur bersama seorang Pribumi, sebagai seorang Eropa, tak semestinya ‘aku’ lebih memilih bermain dengan seorang Pribumi ketimbang bergaul dengan sesama Eropa di sekolahnya. Namun, ‘aku’ sangat beruntung karena ayahnya mempekerjakan Gerard yang bijak menasihatinya perihal ini.

“Macan kumbang berbeda dari monyet,” kata Gerard setelah beberapa saat, “tapi apakah yang satu lebih rendah daripada yang lain? Bagimu ini pertanyaan bodoh, dan kau benar. Pertanyaan ini tetap sama bodohnya bila menyangkut manusia. Perbedaan itu biasa. Setiap orang berbeda. Aku juga berbeda darimu. Tetapi lebih tinggi atau lebih rendah karena warna kulit wajahmu atau karena siapa ayahmu—itu omong kosong. Oeroeg kawanmu, kan? Kalau memang ia kawanmu—bagaimana bisa ia lebih rendah dibanding kau atau yang lain?” (p.64)

Bagaimanapun juga, dalam kondisi Hindia saat itu, ada hal yang lebih penting untuk diperjuangkan ketimbang sentimen masa kecil. Beranjak dewasa, pergolakan politik dan sosial mau tak mau mempengaruhi hubungan persahabatan keduanya. Oeroeg mulai menjadi sulit dipahami oleh ‘aku’, sedangkan ‘aku’ sendiri mungkin tak menyadari bahwa pilihan hidupnya juga memperlebar jarak mereka.

Selain menceritakan hubungan sahabat berbeda bangsa ini, latar tempat serta sejarah yang digambarkan begitu nyata dan kuat. Narasinya indah dalam susunan kalimat yang sepertinya penuh perhitungan. Setiap episode yang ditampilkan memiliki makna tersendiri dalam kehidupan ‘aku’ selanjutnya; segala permainan, legenda, trauma, dan memori panca indera. Wajar karena kisah ini diceritakan sebagai kilas balik kehidupan ‘aku’. Kisah Oeroeg dan kawannya ini sangat berkesan meski pendek, atau, dia berkesan justru karena singkat, tapi padat.

Bila betul setiap orang memiliki alam jiwa, suasana tertentu, lingkungan yang membangkitkan getaran-getaran responsif di sudut tersembunyi jiwanya, alamku dahulu—dan kini—adalah lereng gunung Priangan: bau pahit tanaman teh, gemercik air jernih yang mengalir melalui bongkahan-bongkahan batu, bayang-bayang biru awan di dataran rendah. (p.122)

Buku ini memesona saya dari awal hingga akhir. Saya percaya akan kekuatan sebuah akhir cerita, akhir yang bagus akan menancapkan kekuatan buku itu ke dalam benak pembaca lebih lama. Karena akhir cerita inilah saya menyematkan 5/5 bintang untuk buku ini. Kenyataan memang seringkali pahit. Kenyataan bahwa ‘aku’ adalah seorang Eropa, dan Oeroeg kawan ’ku’ adalah seorang Pribumi.

Sebagaimana yang pernah kukatakan, Oeroeg pasif. Ia menerima jalan kehidupannya kini, seperti halnya ia dahulu menerima tinggal di Kebon Jati dan bergaul denganku. (p.98)

Tak perlu kukatakan lagi bahwa aku tidak memahami Oeroeg. Aku mengenalnya sama seperti mengenal Telaga Hideung—permukaan berkilau kawah gunung berapi. Tapi aku tidak pernah bisa menduga kedalamannya. (p.130-131)

2 responses to “Oeroeg – Hella S. Haasse

  1. Salah satu novel favoritku, aku sampai berkaca-kaca waktu baca😄.
    Aku sih kurang puas dengan akhir ceritanya, walaupun begitu keseluruhan ceritanya menutupi kekecewaanku dan akhirnya kukasih bintang 5 juga.
    Dulu beli diobralan cuma 5ribu, jangan meremehkan barang obralan hahaha.

    • Sama, dulu di obralan aja ga langsung beli, baru obral kesekian terbeli. Itu pun berakhir numpuk di lemari bertahun2. Hahaa…buku bagus memang ga ada kadaluarsanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s