Norwegian Wood – Haruki Murakami

nwTitle : Norwegian Wood (Noruwei no mori)
Author : Haruki Murakami (1987)
Translator : Jay Rubin (2000)
Publisher : Vintage International
Edition : Open market edition, 2nd printing, January 2011
Format : Mass market paperback, 389 pages

Death exists, not as the opposite but as a part of life. (p.33)

Toru Watanabe bukan orang yang mudah bergaul. Di masa remajanya, dia hanya punya dua sahabat, Kizuki dan pacarnya, Naoko. Kizuki digambarkan sebagai seorang yang supel dan ‘keren’, yang bisa membuat Toru mudah masuk dalam pergaulan. Namun, kematian misterius Kizuki mengubah banyak hal, membuat Toru semakin menarik diri dari pergaulan, dan memulai hubungan anehnya dengan Naoko.

Perasaan saling memiliki karena kehilangan Kizuki mempererat ikatan mereka. Akan tetapi, Naoko sendiri menyimpan masalah dalam dirinya yang membuatnya menghilang dari hidup Toru, untuk kemudian muncul kembali dalam wujud masalah baru.

I am a flawed human being—a far more flawed human being than you realize. (p.115)

Pikiran tentang Naoko memenuhi kehidupan masa ‘pendewasaan’ Toru, tepatnya usia 18-20 tahun. Di masa ‘pendewasaan’ itu, Toru mengisahkan kisahnya dalam buku ini, yang—jika dipikir-pikir—sangat penuh warna dan emosi. Toru masihlah seorang yang sulit bergaul, tetapi dari pergaulannya yang terbatas itu, dia bertemu dengan banyak orang unik. Interaksi Toru dengan beberapa orang ini adalah salah satu pembangun kuat buku ini.

Kepala asrama selalu mengibarkan bendera di pagi hari dan menurunkannya saat senja tanpa absen. Teman sekamarnya, Storm Trooper, memastikan kamar yang selalu bersih dan nyaman, dengan kebiasaan aneh yang kadang mengganggu, tetapi lebih sering menghibur terutama saat Toru menceritakannya pada Naoko atau wanita lain. Keduanya seakan menyediakan bahan pembicaraan yang tak membosankan untuk Toru yang canggung dan cuek.

Hubungan Toru dengan Nagasawa juga menarik. Nagasawa tinggal seasrama dengannya, tetapi beda jurusan. Awal perkenalan mereka dari The Great Gatsby, karya besar F. Scott Fitzgerald. “Well, any friend of Gatsby is a friend of mine.” (p.41). Nagasawa bisa dikatakan cukup unik. Dia termasuk dalam kalangan orang ‘keren’, dia memandang tinggi dirinya dibandingkan orang lain, dia arogan, dia menjunjung tinggi ilmu dan literasi, tetapi dia juga seorang yang tak bisa memegang komitmen jika berhubungan dengan wanita. Bahkan bisa dikatakan dia brengsek, pemain wanita, dan tanpa merasa bersalah menyeret Toru dalam prinsipnya ini.

“That’s not hard work. It’s just manual labor,” Nagasawa said with finality. “The ‘hard work’ I’m talking about is more self-directed and purposeful.” (p.269)

Pacar Nagasawa, Hatsumi, walaupun tidak banyak diceritakan interaksinya dengan Toru, meninggalkan kesan yang cukup dalam bagi Toru di masa depan. Cinta Hatsumi pada Nagasawa bisa dikatakan naif, tetapi itulah cinta, dan kenaifannya akan terulang pada wanita lain dalam hidup Toru. Saya cukup penasaran sebenarnya dengan nasib Hatsumi, ada sebuah bagian pendek yang cukup membuat saya terpukul karena petunjuk singkat tentang Hatsumi.

What Hatsumi had stirred in me was a part of my very self that had long lain dormant. (p.280)

Kemudian ada Reiko Ishida, kawan Naoko di ‘tempat penyembuhan’, yang memiliki penampilan cukup menarik meski di usia paruh baya, ternyata memiliki masa lalu yang tak kalah mengenaskan. Saya rasa, dari semua karakter di buku ini, Reiko lah yang merepresentasikan kedewasaan yang sesungguhnya. Walaupun dia belum sepenuhnya pulih dari trauma masa lalu, perkembangannya yang diceritakan relatif singkat cukup menunjukkan transisi yang besar.

“Every once in a while she’ll get worked up and cry like that. But that’s O.K. She’s letting her felings out. The scary thing is not being able to do that. Then your feelings build up and harden and die inside. That’s when you’re in big trouble.” (p.153)

Terakhir tapi cukup penting adalah Midori Kobayashi, anak pemilik toko buku yang ceria, serba ingin tahu, dan terlalu terbuka, tetapi sesungguhnya memiliki latar belakang keluarga yang cukup pelik. Kehadirannya semacam menampar Toru, menunjukkan kepada Toru tentang dirinya, betapa menyebalkan dirinya bagi orang lain, dan betapa pentingnya kehadiran seseorang seperti Midori dalam hidupnya.

Interaksi Toru dengan orang-orang inilah yang membangun buku ini. Masing-masing dengan masalahnya sendiri, dengan kesedihan yang dibawanya, dan Murakami dengan sangat luwes membawa saya dalam emosi kesedihan yang dalam di setiap babnya. Bahkan interaksi yang singkat, seperti antara Toru dengan ayah Midori di rumah sakit, juga menimbulkan emosi tersendiri. Penulis tidak menampilkan konflik yang memicu emosi menggelegak, dia menampilkan hidup, orang-orang yang bisa jadi ada di sekitar kita, orang-orang yang penuh luka, yang dengan baik-buruk mereka masih membuat kita ingin mengulurkan tangan kepada mereka.

Deskripsi suasana dan tempat juga tidak kalah indahnya. Salah satu yang bagian yang menunjukkan ketelitian penulis adalah, seringkali setiap bertemu orang, Toru sebagai narator kisah akan menggambarkan penampilan orang yang ditemuinya, entah itu pakaian, raut wajah, atau dandanan. Namun suatu ketika, saat dia dalam kondisi ‘kosong’ karena suatu masalah, narasi dalam bagian itu nyaris tidak ada, hanya percakapan singkat dan beberapa adegan besar tanpa detail.

Salah satu bagian yang menarik saya dari sebuah buku adalah deskripsi tentang alam. Dan meski lebih banyak berlatar di kota besar dengan gaya hidup yang gemerlapan, minuman keras dan pergaulan bebasnya, buku ini juga menyuguhkan gambaran alam yang tenang di pedesaan dan ‘tempat penyembuhan’ Naoko dalam proporsi yang cukup. Termasuk ‘sunyi’nya bersama literatur dan memori bersama musik. Bicara tentang pergaulan bebas, saya pribadi tidak masalah dengan gambaran detail tentang seks dalam buku ini, karena deskripsi tersebut termasuk bagian dari pendalaman konflik, dan dibandingkan keseluruhan ceritanya, dia juga tidak terlalu mendominasi. Dia hanya mendominasi pikiran Toru (oops!).

A heavy pall hung over the forest, as if the animals of the night were holding their breath, waiting for me to pass. (p.151)

Singkatnya, buku ini adalah potret kerapuhan jiwa manusia. Manusia-manusia rapuh dengan perjuangan mereka untuk mempertahankan jiwa mereka tetap utuh. Manusia di antara kehidupan dan kematian. Manusia yang berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya dan kerapuhannya sendiri.

Death in that place was not a decisive element that brought life to an end. There, death was but one of many elements comprising life.
….
….
By living our lives, we nurture death. …. …no truth can cure the sorrow we feel from losing a loved one.
(p.360)

Saya hampir memberikan 5 bintang untuk buku ini, tetapi urung karena akhir yang bagi saya terlalu ‘berlebihan’, dan ujung yang biasa-biasa saja. Jadi, 4/5 bintang untuk perjalanan panjang mencari esensi kematian.

6 responses to “Norwegian Wood – Haruki Murakami

  1. Ini lagi demam Norwegian Wood ya? Habis Opat, dirimu yg ngerepiu. Tapi Zee, repiumu daleeeemmm banget! Aku sampe iri *sembah sujud*

  2. buku ini depressing banget ya! pendapatku tentang murakami masih agak torn. kayaknya butuh baca buku dia yang lain sebelum bisa mutusin sebenernya aku suka atau nggak sama gayanya hahaha

    • Iya banget. Aku suka buku ini, tapi masih biasa aja soal Murakami. Suka gayanya di sini, tapi ga mengharapkan apa2 di bukunya yg lain.

  3. Pingback: Scene on Three (114) | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s