My Stroke of Insight – Jill Bolte Taylor

msoiTitle : My Stroke of Insight
Author : Jill Bolte Taylor, Ph.D (2008)
Translator : Natalia Suhandrini
Publisher : Elex Media Komputindo
Edisi : Cetakan pertama, 2009
Format : Paperback, xii + 190 pages

Serangan otak terhadap pengertian yang mendalam (stroke of insight) ini telah memberi saya hadiah tak ternilai tentang pengetahuan bahwa kedamaian yang terdalam hanyalah sejauh pikiran/perasaan. Mengalami kedamaian ini tidak berarti bahwa hidup Anda selalu gembira. Ini berarti bahwa Anda mampu melekat pada keadaan otak yang gembira di tengah kekacauan normal dari kehidupan yang melelahkan. (p.166)

Buku ini punya nilai tersendiri bagi saya pribadi. Banyak ide-ide penulis yang menarik bagi saya, beberapa ilmiah, beberapa belum terbukti. Terlepas dari latar belakang penulis sebagai ahli neuroanatomi, saya menikmati bukunya sebagai pengalaman pribadi seseorang yang kebetulan memahami tentang struktur dan fungsi otak manusia. Jadi, meski saya setuju, atau mempertimbangkan, beberapa ide penulis mengenai hal-hal yang belum terbukti secara ilmiah, saya tetap pada tanggung jawab saya untuk tidak memberi pembenaran bagi ide-ide tersebut.

Saya mereview buku ini karena saya memerlukannya untuk dokumentasi. Buku ini tidak akan saya simpan karena, pertama saya tidak menyukai terjemahannya, yang kedua karena saya merasa buku ini akan lebih berguna jika lebih banyak orang membacanya. Oleh karena itu, review ini akan panjang dan dipenuhi banyak kutipan.

Saya pernah mendengar dokter berkata, “Jika kemampuan Anda tidak kembali dalam enam bulan setelah serangan stroke, maka Anda tidak akan mendapatkannya kembali!” Percayalah, ini tidak benar. Saya memperhatikan peningkatan signifikan dari kemampuan otak saya untuk belajar dan berfungsi selama delapan tahun penuh setelah serangan stroke, titik di mana saya memutuskan bahwa pikiran dan tubuh saya benar-benar sembuh. Ilmuwan sangat tahu bahwa otak memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah keterhubungannya berdasarkan stimulasi yang datang. “Plastisitas” otak inilah yang mendasari kemampuannya untuk memulihkan fungsi yang hilang. (p.114-115)

Di usianya yang baru menginjak 37 tahun, Jill harus mengalami serangan stroke yang melumpuhkan sisi otak bagian kirinya. Dia kehilangan kemampuan kognitifnya, kemampuan berbahasa, kemampuan matematis, dan sebagian memorinya. Menariknya, saat serangan tersebut, dia menyadari ada bagian dirinya yang hilang perlahan-lahan. Dia menggambarkan dirinya seperti ‘benda cair’ yang menyatu dengan alam semesta, merasakan kedamaian yang janggal, dia masih sadar, tetapi dia kehilangan kemampuan untuk mengomunikasikan pikirannya, pun dia tidak mengerti—atau tepatnya tidak bisa mencerna—apa yang orang lain coba katakan padanya. Beruntung dalam kesadarannya yang tersisa, dia masih mampu memperoleh bantuan tepat pada waktunya.

Perdarahan yang dialami di otak bagian kirinya membuat otak bagian kanannya lebih peka. Saat orang-orang tidak sabar untuk membuatnya mengerti, sesungguhnya Jill merasakannya dari tingginya suara, ekspresi, dan lain sebagainya. Menurutnya, suara yang dikeraskan tak membuatnya lebih cepat mengerti, dia tidak tuli, dia hanya harus berusaha lebih keras dan butuh waktu untuk menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Pengetahuan ini saya rasa sangat penting untuk kita yang mungkin suatu saat akan berhubungan dengan orang-orang dengan serangan stroke, bukan hanya orang medis dan paramedis, tetapi juga keluarga, kerabat dan teman-temannya.

Kemampuan saya untuk mengaitkan sesuatu dengan lainnya diartikan keliru oleh seberapa cepat saya dapat mengingat suatu informasi, dan bukannya oleh bagaimana otak saya mengatur strategi untuk menemukan kembali informasi yang sudah ada. (p.77)

Belajar membaca memerlukan waktu yang lama dan banyak bujukan. Pertama, saya harus mengerti bahwa setiap coretan memiliki nama, dan bahwa setiap coretan berasosiasi dengan suara. Kemudian, kombinasi dari coretan, huruf-huruf yang saling cocok untuk mewakili kombinasi suara tertentu (sh, th, sq, dan lain-lain). Ketika semua kombinasi suara bersama itu digabungkan, mereka menciptakan satu suara (kata) yang memiliki arti! Luar biasa! Pernahkan Anda memikirkan tentang berapa banyak tugas-tugas kecil yang dilakukan otak Anda secepat ini agar Anda dapat membaca buku ini! (p.103)

Menurut penulis, belajar menggunakan otak kirinya kembali sangat memakan energi. Pun berhadapan dengan manusia, yang dia kategorikan ke dalam dua kelompok, orang yang memberinya energi, dan orang yang menyedot energinya. Mereka yang sabar, yang telaten dalam membuatnya merasa nyaman, mau mengulang-ulang perkataan tanpa kehilangan kesabaran agar Jill dapat mencerna, memberinya energi untuk terus belajar. Sedangkan mereka yang tidak sabaran, yang menganggapnya ‘bodoh’ atau ‘tuli’, yang hanya memikirkan kebutuhannya sendiri untuk mendapatkan informasi yang dia perlukan dari Jill adalah kelompok yang menyedot energinya.

Ketika sampai pada penyembuhan fisik sel, saya tidak dapat lagi menekankan pada pentingnya banyak tidur. Saya benar-benar yakin bahwa otak adalah otoritas tertinggi dalam apa yang diperlukannya untuk menyembuhkan diri sendiri. Seperti pernah saya singgung, bagi otak, tidur adalah “waktu menyusun berkas”. (p.115)

Buku ini menjelaskan cukup banyak teori mendetail tentang segregasi otak kiri dan otak kanan. Seperti saya sebutkan di pendahuluan, saya belum menemukan referensi ilmiah mengenai teori ini. Penjelasan penulis di buku ini pun lebih kepada pendapat pribadi berdasarkan pengalaman, dan bukan berdasarkan penelitian yang berbasis bukti. Meski demikian, saya rasa penjelasan tersebut ada benarnya, terlepas dari apakah benar ini bersumber dari perbedaan fungsi belahan otak, dan bukannya dari bagian tubuh yang lain. Penulis sempat menyinggung tentang hati (heart), atau dalam bahasa anatomisnya, jantung, yang dihubungkannya dengan otak kanan, sementara dari referensi lain yang saya baca lebih menghubungkannya dengan organ jantung itu sendiri.

Kenyataannya, hampir setiap orang yang berbicara dengan jujur memperhatikan bahwa mereka memiliki bagian-bagian yang saling bertentangan dalam kepribadiannya. Banyak dari kita berbicara tentang apa yang kepala kita (belahan kiri) perintahkan sementara hati kita (belahan kanan) meminta kita untuk melakukan yang berlawanan. Beberapa dari kita membedakan antara apa yang kita pikirkan (belahan kiri) dan apa yang kita rasakan (belahan kanan). Beberapa lainnya mengomunikasikan tentang kesadaran otak (belahan kiri) versus kesadaran intuisi tubuh (belahan kanan). …. Apa pun bahasa yang Anda gunakan untuk menjelaskan kedua bagian tersebut, berdasarkan pengalaman saya, saya yakin secara anatomi berakar dari dua belahan yang sangat berbeda di dalam kepala Anda. (p.139)

Buku ini juga menjelaskan mengenai dinamika energi dan intuisi, di mana penulis percaya bahwa setiap benda/tempat memiliki energi. Energi itu dapat dirasakan oleh tubuh kita, melalui kecerdasan otak kanan, menimbulkan intuisi yang kadang tak terjelaskan; perasaan tidak nyaman, takut, sedih, dan sebagainya. Saya termasuk orang yang percaya dengan kekuatan intuisi, karena dalam kesadaran saya, seringkali saya membuktikan bahwa ‘hati kecil’ saya, atau ‘firasat’ saya, benar. Seperti saat bertemu dengan seseorang, pernah saya merasa tidak nyaman dan ingin menghindar. Namun karena saya tidak punya alasan untuk itu, saya ‘terpaksa’ berinteraksi dengannya. Hingga di kemudian hari, terbukti bahwa orang tersebut memiliki potensi untuk merugikan saya, dan barulah saya memiliki alasan untuk menghindarinya (yang kadang terlambat).

Apapun itu, saya rasa buku ini menyampaikan suatu hal penting mengenai pentingnya keseimbangan hati dan pikiran, keseimbangan otak dan perasaan, jasmani dan rohani, jiwa dan raga. Bahwa meski kita tidak mengalami serangan seperti Jill, kita masih bisa mencapai kedamaian hakiki yang dialaminya melalui kesadaran kita. Bahwa dia menyampaikan seluruh pencapaiannya melalui buku ini, agar pembaca dapat menyadari potensi dirinya yang selama ini tertutup oleh keriuhan duniawi yang menuntut kita menggunakan ‘otak kiri’ lebih dominan ketimbang ‘otak kanan’.

Dalam waktu 90 detik setelah terpicu, komponen kimia dari kemarahan telah habis dihamburkan oleh darah saya dan respons otomatis saya pun selesai. Jika, bagaimanapun, saya tetap marah setelah 90 detik terlewati, maka itu adalah karena saya memilih untuk membiarkan sirkuit itu untuk terus bekerja. (p.151)

Bagi saya, sungguh mudah untuk menjadi baik terhadap orang lain ketika saya ingat bahwa tidak satu pun dari kita datang ke dunia ini dengan membawa panduan tentang bagaimana melakukan semuanya dengan baik. (p.153)

Mengalami rasa sakit bukanlah suatu pilihan, tetapi menderita adalah keputusan kognitif.
….
Cara termudah yang saya peroleh untuk merendahkan diri pada keagungan yang penuh damai adalah melalui tindakan berterima kasih. Ketika saya berterima kasih, hidup sungguh luar biasa!
(p.182)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s