Lelaki Harimau – Eka Kurniawan

lelaki harimauJudul : Lelaki Harimau
Penulis : Eka Kurniawan (2004)
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Agustus 2014
Format : Paperback, 194 halaman

Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. (p.1)

Kalimat pertama dari buku ini langsung membawa kita pada rasa penasaran tentang siapa Margio, siapa Anwar Sadat, mengapa dia membunuhnya, apa hubungannya pula dengan Kyai Jahro, serta tempat apa yang digambarkan sekaya itu. Setelah perkenalan singkat mengenai tokoh minor dan pemeriksaan terhadap Margio yang mengaku bahwa dirinya dirasuki harimau, kita diajak kembali ke latar belakang masa lalu para karakter. Mulai dari pertemuan Margio dengan sang harimau putih, latar belakang keluarga Margio, sampai pada latar belakang Anwar Sadat, termasuk setting tempat dan budaya yang begitu detail digambarkan.

Komar bin Syueb, ayah Margio, dikatakan sebagai sumber ‘kegilaan’ anak itu. Komar yang tak pernah berlaku adil terhadap istri dan anak-anaknya, yang tidak berfungsi sebagai kepala dan pelindung keluarga sebagaimana mestinya, dan malah menjadi sumber ketakutan dan ketidakamanan di dalam rumah. Kebencian Margio pada ayahnya sudah dalam tahap siap untuk membunuh.

Sedangkan Anwar Sadat yang tinggal tak jauh dari kediaman Komar bin Syueb, sejak muda sudah menjadi ‘penakluk wanita’, bahkan kini di usianya yang tak muda dan perutnya sudah membuncit. Dia memiliki tiga anak perempuan, dua yang pertama memiliki masalah dengan rumah tangganya, mungkin ‘keturunan’ dari ayahnya yang juga tidak beres, sedangkan si bungsu terkenal sebagai gadis baik, yang menunjukkan ketertarikan pada Margio.

Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Eka Kurniawan. Saya suka sekali dengan diksi penulis, kalimatnya serasa penuh perhitungan, tetapi tetap alami. Penulis dapat menciptakan rima dalam kalimatnya tanpa terkesan dibuat-buat atau bertele-tele, dengan tetap menghasilkan kalimat-kalimat yang tidak biasa. Kalau boleh saya katakan, buku ini adalah perayaan bagi Bahasa Indonesia. Bahwa kata-kata biasa pun bisa menjadi luar biasa, bergantung pada bagaimana kita mengolahnya. Penulis juga tak canggung menggunakan kata-kata vulgar dan mengangkat topik seksualitas dengan terbuka.

Sayonara, katanya, dan ia pergi menggelosor melewati kisi jendela digandeng malaikat maut, memandangi hari-harinya berakhir, kasurnya yang asin, kamarnya yang pengap, dan dunianya yang garing. (hal.65)

Semua karakter dalam buku ini abu-abu, bahkan saya sendiri sulit bersimpati pada satu pun di antara mereka. Bahkan pada Nuraeni, ibu Margio yang sangat dicintainya, yang mengalami penyiksaan oleh suaminya sendiri, yang kehilangan bayi merahnya. Dalam pandangan saya, Nuraeni yang pasif dan apatis justru membuka lubangnya sendiri. Sikapnya tidak mengubah keadaan, malah justru memperburuknya, padahal jika mau, dia dapat memperjuangkan sesuatu.

Narasi dalam buku ini begitu rapi, menampakkan satu per satu latar belakang yang menjadi pemecahan misteri itu tanpa terkesan terburu-buru. Bahkan, saking perlahannya, menjelang halaman-halaman terakhir, saya masih tidak dapat menebak apa motif Margio yang sebenarnya, tidak ada alasan logis yang dapat disimpulkan. Hingga pada beberapa kalimat terakhir, satu mata rantai dibuka, dan ‘boom’, semuanya terjawab dan semuanya masuk akal, meninggalkan saya dalam kondisi terpana, terpukau, dan puas.

4/5 bintang untuk kalimat-kalimat yang tak tersia-sia.

2 responses to “Lelaki Harimau – Eka Kurniawan

  1. wuiiihh… pengen sekali baca novel ini. novel-novel eka kurniawan sepertinya bagus-bagus🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s