And Then There Were None – Agatha Christie

attwnTitle : And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap)
Author : Agatha Christie (1939)
Translator : Mareta
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kesepuluh, Januari 2014
Format : Paperback, 296 pages

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.

Hakim Justice Wargrave mendapat undangan dari seorang kawan lama ke Pulau Negro, di seberang Pantai Devon. Kabarnya, pulau itu telah dibeli miliuner, atau bintang film, atau bangsawan, atau mungkin Angkatan Laut. Vera Claythorne yang kehilangan pekerjaannya sebagai pengasuh anak mendapat tawaran yang murah hati di Pulau Negro. Di tempat lain, Kapten Philip Lombard mendapat tawaran di tempat yang sama, untuk sesuatu yang mungkin berbahaya. Begitu pula Emily Brent, Jenderal Macarthur, Dokter Armstrong, Tony Marston, dan Mr. Blore mendapatkan undangan yang sama dengan tujuan masing-masing.

Kedelapan orang yang tak saling mengenal tersebut menyeberang ke Pulau Negro, dan menemukan mereka dijamu dengan mewah oleh sepasang pelayan. Meski begitu, tuan rumah mereka, U. N. Owen, tidak kunjung muncul, hingga setelah makan malam terjadi kehebohan akibat rekaman misterius yang membeberkan ‘dosa-dosa’ kesepuluh orang yang ada di dalam rumah tersebut—delapan tamu dan dua pelayan. Tidak ada yang merasa melakukan dosa-dosa tersebut.

Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.

Kematian misterius pun menghampiri satu per satu. Anehnya, cara kematian mereka sesuai dengan sajak Sepuluh Anak Negro yang merupakan sajak kanak-kanak lama, yang entah disengaja atau kebetulan, tergantung di setiap kamar. Sulit melacak jejak sang pembunuh, kalau memang ada, tetapi terlalu banyak kebetulan jika hendak dibilang kecelakaan. Sementara itu, tak ada jalan keluar dari pulau misterius itu. Mampukah mereka menyelamatkan diri, sampai baris mana sajak itu akan memakan korban, dan siapa yang membuat jebakan itu untuk mereka, serta apa kepentingannya?

Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.

Buku ini adalah salah satu karya penulis yang paling terkenal. Meski tanpa detektif, unsur misteri dan suspense sangat kental di buku ini. Kita diajak ikut menebak-nebak siapa yang melakukan pembunuhan-pembunuhan tersebut, terlebih setiap tuduhan mengarah ke seseorang, tiba-tiba dia menjadi korban berikutnya. Kesepuluh karakter tersebut juga dieksplorasi dengan porsi yang cukup, terutama mengenai ‘dosa’ yang dituduhkan pada masing-masing mereka. Di sini kita melihat betapa keadilan dapat menjadi sesuatu yang subjektif, serta bagaimana manusia seringkali mencari pembenaran atas sikapnya, hingga pada titik di mana dia tidak lagi menganggap perbuatan itu salah.

Buku ini membuat saya mempertanyakan batas kemanusiaan kita. Apakah kita akan dengan senang hati mengorbankan orang lain demi keselamatan kita, seberapa murah hatinya kita untuk mengorbankan kepentingan kita demi seseorang yang kita rasa tak berhak untuk itu, seberapa jauh kita bisa berbuat untuk melindungi diri kita dari rasa bersalah. 4/5 bintang untuk ‘pengadilan’ yang misterius.

Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

and_then_there_were_none_title_card

Buku ini pertama kali diterbitkan dengan judul Ten Little Niggers (sempat juga dipakai dalam terjemahan lama Gramedia—Sepuluh Anak Negro). Namun, karena kata nigger dianggap sangat kasar di Amerika, maka dibuatlah judul alternatif. Selain And Then There Were None, ada juga versi yang mengganti Niggers dengan Indians atau Soldiers. Walaupun sudah banyak diadaptasi ke dalam film maupun serial, saya baru menonton satu adaptasi dari BBC One yang ditayangkan perdana akhir 2015 lalu. (Sebenarnya buku ini sudah saya baca ulang sejak September 2015, tapi baru saya buat reviewnya sekarang). Dalam versi ini, kata Nigger sepenuhnya diganti menjadi Soldier, baik dalam puisi maupun nama pulaunya. Selain itu, beberapa perbedaan detail yang lazim kita temui dalam adaptasi saya rasa tidak terlalu mengganggu kecuali satu hal, adanya romansa yang terjalin pada salah dua karakter tersebut. Menurut saya, unsur tersebut malah menutupi unsur suspense yang ada di dalam buku, yang menjadi daya tariknya menurut saya. Namun bagi yang suka dengan drama, mungkin ini justru menjadi sebuah kelebihan.

4 responses to “And Then There Were None – Agatha Christie

  1. *cepet-cepet baca bukunya dan nyari movie seriesnya*

  2. oh, aku baru nonton episode 1-nya. Jadi Aidan Turner ada romansa sama siapa?😀 Kebutuhan visual ya jadi ada romansanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s