Am I a Spoiler?

Saat membaca buku, menonton film, atau menikmati cerita dalam bentuk apa pun, seringkali yang menarik adalah proses menanti-nanti, menebak-nebak kejadian berikutnya, serta ketegangan akan nasib sang karakter. Kesenangan itu bisa jadi hilang ketika ada yang membocorkan bagian seru tersebut. Apalagi jika ada yang membocorkan akhir ceritanya, bisa jadi kita malah kehilangan minat sama sekali. Bocoran tersebut sering kita sebut sebagai istilah ‘spoiler’.

Seringkali, spoiler muncul dari resensor baru yang belum mengerti, atau kritikus kawakan yang memang hendak menguliti sebuah karya. Namun, tak jarang saya temukan spoiler yang tidak dimaksudkan sebagai spoiler, tetapi pada akhirnya bisa menjadi spoiler bagi orang lain. Eh, maksudnya bagaimana? Sebelumnya, mari kita tengok definisi spoiler.

Definisi spoiler menurut Merriam-Webster:

spoiler

noun spoil·er \ˈspȯi-lər\
  • 3:  information about the plot of a motion picture or TV program that can spoil a viewer’s sense of surprise or suspense; also:  a person who discloses such information

(source)

Sedangkan menurut Wikipedia:

A spoiler is an element of a disseminated summary or description of any piece of fiction that reveals any plot elements which threaten to give away important details concerning the turn of events of a dramatic episode. Typically, the details of the conclusion of the plot, including the climax and ending, are especially regarded as spoiler material. It can also be used to refer to any piece of information regarding any part of a given media that a potential consumer would not want to know beforehand. Because enjoyment of fiction depends a great deal upon the suspense of revealing plot details through standard narrative progression, the prior revelation of how things will turn out can “spoil” the enjoyment that some consumers of the narrative would otherwise have experienced. Spoilers can be found in message boards, articles, reviews, commercials, and movie trailers. (source)

Saya memberi garis bawah pada ‘valuable’, ‘desirable’, ‘dramatic episode’, ‘details’, ‘ would not want to know beforehand’, ‘spoil the enjoyment’, karena semua itu tidak melulu merujuk kepada akhir/ending cerita. Spoiler memang tidak terbatas pada buku saja, tetapi karena ini blog buku, maka contoh yang akan saya berikan adalah dari buku. Dan memang agak sering sebelum membaca atau membeli sebuah buku, kita melihat resensi orang lain–terutama jika kita ragu-ragu–untuk sekadar menempatkan ekspektasi di tempat yang sewajarnya. Spoiler yang tidak membocorkan ending memang mungkin tidak akan terasa, tetapi jelas mempengaruhi proses kita membaca.

chapter_6_by_soniacarreras-d3h9pv2

Akan lebih mudah jika saya balik, sebagai contoh, saya membaca cerita Cinderella tanpa membaca resensi terlebih dahulu. Mungkin saat bagian Cinderella sedang berdansa dengan sang Pangeran dan jam tiba-tiba menunjukkan pukul dua belas malam, kita akan ikut tegang, apakah sang Pangeran akan melihat penampilan Cinderella yang sesungguhnya. Pun ketika sepatu kacanya tertinggal, kita masih bertanya-tanya, bagaimana kelanjutan nasib sepatu itu. Lain halnya jika saya sudah membaca resensi, hampir bisa dipastikan saya akan tahu bahwa Pangeran akan mencari Cinderella melalui sepatu kaca, walaupun tidak diberi tahu bahwa mereka akan hidup bahagia selamanya, ketegangan saat jam dua belas malam tadi sudah hilang. Dan menurut saya, itu termasuk spoiler. Jadi pada dasarnya, spoiler itu cukup relatif, karena tolok ukurnya juga tidak pasti, karena ‘enjoyment’ itu relatif.

Menghindari spoiler memang gampang-gampang susah, sekali lagi, karena kita tidak menikmati membaca sebuah buku dengan cara yang sama. Oleh karena itu, saya selalu menghindari membaca resensi yang sinopsisnya panjang, apalagi jika dia menceritakan konflik-konfliknya secara mendetail. Dalam membuat resensi pun, saya selalu berkaca pada perasaan saya saat membacanya, pada bagian mana yang saya rasa baik diceritakan, mana yang baik disembunyikan. Di sisi lain, memang ada beberapa hal yang menyebabkan kita tidak bisa menghindari mencantumkan spoiler, antara lain:

  • Konflik yang sangat kompleks, sehingga satu kejadian berhubungan dengan kejadian lain. Apalagi jika sebuah konflik kecil di awal bab–yang sebenarnya cukup seru–menjadi pengantar untuk konflik utama. Seandainya tidak diceritakan, resensi kita ‘berlubang’ dan sulit dipahami, tetapi jika diceritakan sebuah kejutan kecil bisa hilang. Padahal mungkin penulisnya sengaja memberi kejutan itu di awal-awal bab untuk membuat pembaca ‘tersihir’ untuk terus membaca bab selanjutnya.
  • Resensi di blog buku seringkali dimaksudkan untuk dokumentasi agar kelak kita bisa mengingat buku yang sudah kita baca, apalagi buku berseri yang mungkin saat waktunya membaca buku berikutnya, kita tidak perlu membaca ulang buku tersebut. Termasuk buku dengan banyak sekali detail penting; karakter, tempat, rangkaian kejadian, urutan tertentu, dsb.
  • Setiap orang memiliki tingkat ketertarikan, level ketegangan, dan pemaknaan terhadap kejadian yang berbeda. Bagi seseorang mungkin adegan percobaan sepatu cukup mendebarkan, tapi bagi orang lain mungkin biasa saja karena dia yakin pasti akan hasilnya. Begitupun bagi seseorang mungkin adanya ibu peri memberi harapan akan kebahagiaan yang akan dicapainya, tetapi bagi orang lain mungkin itu hanyalah satu episode yang tidak memberi jaminan apapun. Bagi seseorang sebuah adegan mungkin terlihat sebagai kunci, sedangkan orang lain bisa jadi tidak menyadarinya.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya membaca dan menulis resensi buku, ada beberapa tips dari saya untuk menghindari spoiler:

dontspoil

  • Tandai di bagian mana kita merasa terkejut, terpukau, atau tercerahkan saat membaca buku, tak peduli meski itu di bab pertama. Usahakan agar tidak menceritakan detail bagian itu.
  • Jika harus diceritakan, buat sesamar mungkin bagian kejutan tersebut. Buat kalimat atau frasa pendek sehingga orang tidak menyadari bahwa itu bagian penting. Bisa juga dengan menyamarkan timeline sehingga meski disebutkan bahwa akan ada kejadian itu, tidak ada yang menduga waktunya.
  • Buat kalimat pertanyaan sebagai pengalih. Terutama untuk bagian klimaks atau twist, pertanyaan akan membuat pembaca semakin penasaran sekaligus bisa mencantumkan pengingat yang tak kentara untuk kita.
  • Jika memang harus menuliskan spoiler untuk kepentingan sendiri atau untuk kepentingan analisis/diskusi, beri peringatan atau ‘spoiler alert‘.
  • Masukkan unsur-unsur yang ingin kita bahas/dokumentasikan dalam pembahasan alih-alih dijabarkan dalam sinopsis. Oleh karena dalam pembahasan kita bisa menuliskan poin-poin tertentu saja tanpa harus terikat dengan kesinambungannya terhadap kisah.

Sebagai contoh kita tidak ingin mengatakan bahwa ada peri yang membantu Cinderella, sinopsis kita berhenti di “Apakah Cinderella akan bisa mewujudkan impiannya untuk pergi ke pesta dansa? Bagaimana caranya? Dan apakah dia akan bisa menarik perhatian sang Pangeran?”. Kita bisa hanya menyebutkan “bantuan dan unsur keajaiban” dalam pembahasan, dan menekankan pada apa yang tersirat, seperti “ada saatnya kita memetik kebahagiaan setelah kesulitan-kesulitan yang kita alami” atau “kebahagiaan akan datang di saat yang tepat, meski tidak selalu mudah”. Kita memberi pengingat pada diri kita mengenai ‘pesta dansa’, ‘Pangeran’, ‘kebahagiaan’, ‘saat’, ‘tidak selalu mudah’, tanpa memberi bocoran pada pembaca resensi kita apa yang sebenarnya terjadi. Bisa juga kita memberi petunjuk dalam pembahasan karakter “Ada karakter yang menarik karena kemunculannya yang tak terduga, walaupun cukup klise, yang melambangkan harapan bahwa kesabaran akan berbuah manis. Jika digali lebih lanjut, karakter ini bisa dianggap simbolisasi dari ….”.

Selain itu, banyak membaca resensi yang baik bisa meningkatkan kualitas resensi kita dari yang ‘banyak menceritakan’, menjadi ‘banyak mengulas’. Membaca resensi orang lain juga melatih kepekaan kita terhadap apa yang menarik untuk orang lain. Hal ini lebih saya sarankan untuk buku yang sudah kita baca, jadi kita bisa membandingkan pendapat orang lain dengan pendapat kita sendiri, untuk kemudian menyusun strategi yang ‘aman’ untuk resensi kita agar tidak merusak kenikmatan membaca orang lain.

spoiler

 

10 responses to “Am I a Spoiler?

  1. Eh, terus ada gambare Pak Ben. Wkwkwkwk. Tapi kadang-kadang ada lho Zee orang yg baca resensi justru pengen tau ceritanya gimana, jadi dia bisa mengira-ngira pengen baca buku itu ato nggak. Orang beda-beda sih ya…

    • Maksudku walaupun menceritakan ceritanya, ttp ga membocorkan bagian serunya. Paling ga ngasi clue aja akan banyak bagian seru karena blablabla, tp gimana caranya yg baca tetep dpt kejutannya. Tapi ya memang beda2 sih.

  2. haaa kita memang sehati, hahaha… aku baru bikin juga postingan tentang spoiler karna tadi pagi baru kena spoiler gara2 baca status FB seseorang. status yang tampaknya innocent itu tiba2 menjatuhkan bom spoiler di belakangnya. kadang nggak ngerti juga apa tujuan orang2 yang hobi tebar spoiler😦 aku sendiri berusaha mereview buku seringkas mungkin di bagian plot, sekadar memberi gambaran aja tentang apa buku tersebut. karena kalau kebanyakan bahas plot, yang ada malah bikin sinopsis atau ringkasan ya hahaha

    • Hehe *toss
      Iya, pernah juga pas lagi skrol2 review di GR ada yg reviewnya 1 kalimat dan itu spoiler, duh, ga asyik banget padahal lagi baca bukunya. Tapi lebih parah kalo postingan ga ada hubungannya ya, kita kan ga mengantisipasi itu *pukpuk

  3. Kece. Belajar banyak nih di postingan ini soal spoiler yang bagi saya mash samar. Pernyataan : “Jadi pada dasarnya, spoiler itu cukup relatif, karena tolok ukurnya juga tidak pasti, karena ‘enjoyment’ itu relatif ” cukup membantu saya untuk menggeneralisasi apa itu spoiler dan konten spoiler itu yang seperti apa.

    Harus banyak membaca resensi berkualitas = PR besar saya nih.
    Thanks for the article. Bermanfaat banget❤
    #dalam proses belajar

  4. Bzee…postingannya keren sekali🙂

    Lumayan nih tipsnya, biar nggak selalu dituduh jadi penyebar spoiler mulu di grup chat WA, heheee….

    Tapi memang balik lagi sih, spoiler itu lumayan relatif, soalnya kadang saya tidak merasa menyebar spoiler, eh si orang lain malah ter-spoiler, begitu juga sebaliknya. Padahal ya sudah berusaha tidak mengungkap bagian2 yang “menurut saya” penting. Tapi tentu itu “cuma menurut saya”, soalnya “menurut orang lain” bisa beda-beda🙂

  5. Pingback: [Spoiler-Free] Mengapa Harus Nonton Fantastic Beasts | Bzee's Inner Space

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s