My Note from BBW

Belum lama berselang, para pencinta buku Indonesia dihebohkan dengan hadirnya Big Bad Wolf (BBW), book sale ‘gila-gilaan’ yang pertama kali di Indonesia. Biasanya event ini berlangsung di Malaysia, yang menjadi salah satu sasaran wisata para pembaca buku jika sedang berkunjung ke sana. Dikatakan ‘gila’ karena buku impor didiskon hingga 80% (di negara asalnya bahkan sampai 90%).

Bagi saya tentu ini adalah suatu hal yang menggairahkan. Walaupun diselenggarakan jauh di Jakarta (Tangerang tepatnya, sudah beda kota beda provinsi), dan tentunya jika ke sana saya akan mengeluarkan biaya lagi, ini adalah sebuah kesempatan. Sudah jauh-jauh hari saya berniat datang, dengan pertimbangan: 1. Ini adalah momen langka, dan ke Jakarta jauh lebih murah dari ke Malaysia, 2. Buku incaran saya adalah buku yang tidak populer di kalangan teman-teman buku saya, jadi akan cukup merepotkan jika saya hanya menitip, 3. Saya ingin merasakan dan mengalami sendiri, kapan lagi ada sale buku-buku yang (asumsi saya) bermutu dan beraneka variasi dan murah dan pastinya membuat dompet dan rak buku saya menangis, tetapi membahagiakan saya.

Sebenarnya saya berniat untuk datang di hari pertama, karena kebetulan akhir bulan, sehingga lebih enak untuk mengambil libur di dua bulan. Namun sebelum saya pesan tiket, ada sebuah poster muncul di timeline saya tentang adanya acara keren di ASEAN Literary Festival (ALF) pada awal Mei. Berprinsip sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, saya pun memundurkan kedatangan saya ke BBW pada 5 Mei 2016. Tadinya saya ingin menuliskan tentang ALF terlebih dahulu karena banyak poin penting di sana, tetapi perlu banyak persiapan ternyata, semoga dalam waktu dekat ya.

Rupa-rupanya, tak disangka BBW menjadi sebuah event yang sangat populer hingga pengunjungnya tumpah ruah dan antreannya mengular. Saya pun memantapkan niat untuk datang tengah malam saja dan pulang pagi, supaya sepi. Tetapi lagi-lagi, manusia-manusia di Jabodetabek ini juga mengantisipasi hal yang serupa. Jam 11 malam saya tiba di sana, hall yang sangat luas itu masih tumpah ruah manusia. Kemudian seperti umumnya orang Indonesia, banyak orang berarti kesemrawutan. Buku-buku yang berdasar laporan teman yang datang hari pertama tersusun rapi, sudah berantakan sekali. Dengan buku sebanyak itu, rasanya mustahil menelusuri satu per satu jika kondisinya tidak rapi. Jadi sejujurnya saya agak kecewa juga saat itu.

Namun saya tidak menyerah pada situasi, waktu saya di Jakarta cukup mepet, jadi saya harus memanfaatkannya semaksimal mungkin. Saya pun berkeliling dengan cukup bingung pada mulanya, berdebar-debar melihat trolley yang semakin berat, mulai bersemangat saat menemukan beberapa buku yang saya cari, dan nyaris histeris melihat buku yang relatif langka di Indonesia bisa saya temukan di sana. Seperti minum air laut, semakin saya menemukan buku incaran, semakin haus saya mencari incaran saya yang lain. Meski pada akhirnya harus berbesar hati melepas beberapa buku yang sekiranya bisa saya dapatkan kelak, serta yang sekiranya masih akan tertimbun beberapa tahun.

img_20160508_181732.jpg

Hasil sortiran terakhir menyisakan sepuluh buku yang akan menjadi penghuni baru rak saya. Bonus satu buku yang tidak terfoto, tadinya titipan tapi pada akhirnya malah berjodoh dengan saya sendiri. Oya, pada pukul 3 pagi, hall sudah mulai sepi, dan pada pukul 4 saya membayar di kasir sudah tidak mengantre sama sekali.

Sebenarnya cukup kecewa dengan beberapa buku yang sudah ‘menghilang’ stoknya. Tapi saya pikir-pikir lagi, dengan begitu banyaknya buku di dunia ini, saya rasa ruangan sebesar apa pun tidak akan muat menampungnya sekaligus. Karenanya wajar, buku-buku yang muncul di hari pertama tidak akan ada lagi di hari-hari berikutnya, pun buku-buku yang menggantikannya di rak yang sudah kosong mungkin belum ada pada hari sebelumnya. Jadi tidak ada salahnya menitip meski sudah berniat akan datang ke sana, terutama buku-buku dalam kategori wajib-beli-dan-akan-menyesal-jika-kehabisan. Jika lokasinya mudah dijangkau, tidak ada salahnya juga datang beberapa kali pada hari yang berbeda.

Beberapa catatan saya untuk BBW di kemudian hari:

  • Mungkin perlu ditegaskan lagi mengenai mengembalikan buku di tempatnya, jangan merusak buku, jangan buang sampah, dsb, karena…ini Indonesia *sigh*. Seharusnya saya tidak perlu bicara ini ya, karena sebenarnya sudah ada tulisan itu di setiap rak (walau kecil), kalau memang pembaca, seharusnya mereka BACA. Saya bahkan sempat berpikir membuat semacam ‘perjanjian’ di pintu masuk, hahaha.
  • Saya tidak bisa berkomentar mengenai penataan buku karena saat saya datang sudah berantakan. Mungkin seharusnya relatif mudah menemukan buku yang kita sudah tahu, karena pengkategoriannya cukup sederhana. Namun, saran saya tetap pertajam lagi pembagian genrenya, karena saya sempat mencari buku science tapi ternyata tidak ada raknya, padahal untuk buku nonfiksi pembagian relatif lebih tajam. Oliver Sacks yang jelas-jelas tertulis science/medicine di bukunya malah dikategorikan sebagai biography/memoir, untung intuisi saya tajam jadi saya berhasil menemukannya.
  • Sewaktu saya datang, sudah ada perluasan hall untuk buku yang dipajang, tetapi sayang hampir semua ruang tambahan itu diisi buku cooking. Menurut saya itu kurang membantu, seharusnya justru diragamkan lagi jenisnya, bukan hanya jumlahnya. Dengan begitu pengunjung juga lebih tersebar.
  • Masih soal penyebaran buku dan pengunjung, mungkin suatu saat BBW bisa diadakan di beberapa tempat sekaligus dengan genre yang berbeda-beda. Bisa beda gedung/lokasi dalam satu kota/provinsi, misalnya di gedung A khusus buku fiksi, gedung B khusus buku nonfiksi. Jadi kemungkinan pilihan buku bisa lebih beragam untuk satu kategori yang sama.
  • Saya percaya buku-buku yang dibawa ke BBW sudah didaftar dan terkomputerisasi, jadi sebenarnya pengunjung pun bisa diberi akses untuk, paling tidak, mengetahui buku-buku apa saja yang ada dan sisa stoknya, seperti di toko buku pada umumnya. Ini meminimalisasi pengunjung seperti saya yang penasaran apakah buku yang saya cari benar-benar sudah habis atau masih ada tapi sudah berpindah posisi.
  • Sebelumnya pernah ada yang mengeluhkan kasir yang kelebihan memasukkan buku, ternyata saya mengalami hal yang berbeda. Harga yang tercantum di buku tidak sama dengan harga yang muncul di nota (kesalahan sistem/barcoding?). Ada satu yang sempat diteliti dan diralat, tetapi ternyata ada yang terlewat yang baru saya tahu setelah membayar. Katanya memang terkadang seperti itu, dan uang saya tidak bisa dikembalikan (saya membayar dengan kartu debit). Cukup mengecewakan.
  • Last but not least, saya ingin memuji adanya jasa penitipan buku yang cukup membantu mengurangi beban buku yang dibawa berputar-putar (sekaligus membuat kalap tidak terasa). Juga petugas yang ramah dan baik hati, yang meski tidak bisa banyak membantu, dan beberapa terlihat lelah, cukup sabar melayani pengunjung. Seharusnya dengan adanya data terkomputerisasi seperti saya bilang di atas, mereka bisa lebih banyak membantu. Satu pengalaman yang cukup menyenangkan saya adalah ketika saya menghampiri petugas yang sedang membongkar kardus-kardus untuk mengisi rak yang sudah kosong, saya bertanya apakah ada buku dengan nama penulis tertentu. Saya dibantu menyisir rak pada abjad penulis yang dimaksud dan tidak ada, kemudian dia membuka 4-5 kardus yang hendak dia bongkar demi mengintip isinya. Walaupun tidak ketemu juga, saya jadi tenang karena setidaknya saya tidak penasaran dengan isi kardus-kardus itu🙂

Saya berharap, animo BBW ini menunjukkan bahwa sebenarnya minat baca kita tidak rendah, bahwa orang Indonesia banyak yang haus akan bacaan yang bermutu. Ini juga mengindikasikan bahwa pembaca membutuhkan buku murah berkualitas. Jangan menjadikan buku sebagai barang mewah, karena buku adalah kebutuhan dasar, demi Indonesia yang lebih maju dan lebih baik.

photogrid_1463488585582.jpg

8 responses to “My Note from BBW

  1. Tampaknya untuk BBW yang kedua, saya harus datang sendiri. Karena kalau nitip temen itu tidak bisa mencari hingga ke tumpukan terbawah alias bongkar-bongkar-bongkar (?) , selain merepotkan juga tidak enak sama temen, heheh.

    Dan semoga bagian terakhir tulisan ini dibatja oleh mereka-mereka yang berkuasa. Mengeliminasi buku dari daftar barang mewah, sehingga bebas pajak.

  2. Wuiiiihhh… Doktor Zhivago ituuu… saya naksir banget….😀

  3. Thanks tulisannya Zee, ikut mengaminkan “seharusnya justru diragamkan lagi jenisnya, bukan hanya jumlahnya.”

  4. Iyaa banyak yang bisa dibenahi dari BBW kemaren itu, tp memang ngatur segitu banyak buku plus nonstop pengunjung dihari2 terakhir itu pasti kewalahan juga sih. Tp emang pelayanannya kece sih…semoga bakal terus ada ya.

    O iya,,BZ tulis tentang ALF juga dong, aku udah nulis yg ALF, kamu juga nulis dong apalagi yang kayak Jokpin vs SDD gitu, aku pengen tau isinya😀

    • Iya, essy, bakal kutulis kok, minimal harus jadi 4 part sesuai acara yg kudatangi. Cuma ini belum sempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s