A Nation that Doesn’t Read (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 1/4)

Awal Mei ini, saya menyempatkan diri terbang ke Jakarta untuk menjalani sebuah ‘literary vacation’. Saya sebut saja begitu, karena memang rangkaian acara yang saya jalani, bahkan orang-orang yang saya temui, berhubungan dengan buku seluruhnya. Salah satu acara yang saya hadiri adalah ASEAN Literary Festival (ALF), yang sejak jauh-jauh hari sudah saya jadwalkan untuk mengikuti tiga acara pada tanggal 6 Mei 2016. Pada akhirnya ada satu acara ekstra yang saya hadiri pada tanggal 7 Mei. Awalnya saya berniat menulisnya berurutan sesuai waktu, tetapi kemudian saya berubah pikiran karena ada prioritas-prioritas tertentu dalam setiap acara.

nation doesn't read

Diskusi ‘A Nation That Doesn’t Read’ yang bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki ini mengangkat sebuah penelitian yang ramai belum lama berselang, oleh Central Connecticut State University (CCSU) bahwa Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara yang termasuk dalam World’s Most Literate Nations (WMLN) (source). Oleh karena pembahasan ini lebih bersifat umum, dan tentu saja—mengingat peringkat kita—sangat penting untuk dikaji dan disimak oleh seluruh warga negara Indonesia, saya membuat laporannya pertama kali (walaupun jadinya terlambat sekali). Panel diskusi ini terdiri atas Päivi Hiltunen-Toivio—duta besar Finlandia untuk Indonesia, seorang dosen dari Bandung asal Korea Selatan—Youngduk Shin, John McGlynn—pendiri Lontar Foundation, serta Endy Bayuni—chief editor The Jakarta Post, yang dipandu oleh Mary Farrow sebagai moderator.

Sebagai peringkat pertama WMLN, dubes Finlandia diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang sekiranya membuat Finlandia bisa menduduki peringkat tersebut. Ms. Päivi menyebutkan bahwa “Finland is a country of reading.”, negaranya memiliki jumlah perpustakaan hampir setengah dari jumlah penduduk, koran dan komputer merupakan hal yang umum berada di rumah-rumah Finlandia, serta masyarakat di sana sangat mendukung kegiatan membaca, meskipun dalam hal menulis mereka masih kurang. Sistem pendidikan mereka—yang juga merupakan yang terbaik di dunia—menjamin adanya kesempatan yang sama untuk semua warga negara, sekolah gratis, tidak ada sekolah elit/swasta, kualitas sekolah sama sehingga anak-anak memasuki sekolah yang dekat dengan rumah mereka. Anak-anak masuk sekolah pada usia 8 tahun, tetapi sebelumnya anak-anak sudah mengerti bagaimana cara membaca dari rumah. Membaca di sini bukan sebatas membaca huruf, kata, kalimat, tetapi membaca dalam arti yang lebih luas, yaitu memahami konteks melalui buku. Literature atau kesusastraan merupakan bagian penting dalam pendidikan, membaca dan mendengarkan dongeng adalah salah satu permulaannya. Kualitas para guru bisa diandalkan karena bahkan guru TK pun adalah lulusan universitas. Di samping itu, mereka menjamin adanya dukungan fasilitas untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Meski begitu, Finlandia akhir-akhir ini mendapatkan tantangan karena minat baca anak-anak mudanya mulai menurun.

Sumber dari Korea mengatakan bahwa di Korea, populasi pembaca meningkat pada tahun 1970-1980an dikarenakan pada tahun tersebut kualitas novel Korea meningkat. Pada saat itu, novel membahas isu-isu sosial. Masalah-masalah sosial kala itu dianggap cukup penting, sehingga kehadirannya dalam sebuah novel mampu menarik pembaca. Namun pada era tahun 1990an, tema-tema dalam novel berubah, kualitasnya menurun, yang berakibat pula pada menurunnya populasi pembaca di Korea. Dosen ini menyimpulkan bahwa jumlah populasi pembaca berbanding lurus dengan kualitas novel.

Mr.John yang asli Amerika tetapi menghabiskan 40 tahun di Indonesia melihat masalah ini dalam kacamata yang cukup jernih menurut saya, dikarenakan ada pembanding yang juga dipahaminya. Dia mengatakan bahwa masalah literasi di Indonesia bermula dari orang tua yang tidak membaca untuk anaknya. Promoting literacy is promoting literature. Literature tidak diajarkan di sekolah, padahal memahami karya sastra itu bukan bakat, dia harus diajarkan. Perkembangan ekonomi yang mendorong keluarga memiliki pembantu rumah tangga menyebabkan anak diasuh oleh pembantu yang bahkan tidak bisa membaca. Di sisi lain, banyak pembaca lebih memilih membaca karya dari luar ketimbang karyanya sendiri. Menurutnya, orang Indonesia kurang percaya diri, padahal bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat kaya. Kita kurang menggali kesusastraan milik kita sehingga kita kehilangan identitas, sebab “You know who you are by knowing who you were”.

Pak Endy menambahkan bahwa karya-karya sastra Indonesia masih sulit menembus pasar global sebelum Frankfurt Book Fair 2015 yang mengundang Indonesia menjadi tamu kehormatan. Menurutnya, penelitian CCSU ini semacam menyadarkan kita, karena pada umumnya angka literasi diukur berdasar kemampuan baca tulis, dan menurut UNESCO angka literasi Indonesia mencapai 94%. Akan tetapi CCSU memasukkan kriteria akses perpustakaan, komputer, koran, dan sistem pendidikan sehingga Indonesia masuk dalam peringkat bawah. Dia juga sedikit menyinggung tentang data di artikel ini. Dia mengatakan bahwa setiap generasi pemerintah tahu bahwa Indonesia memiliki masalah dalam pendidikannya, tetapi tidak bisa mengatasinya. Menurutnya, beberapa masalah tersebut antara lain: terbatasnya akses terhadap buku bacaan, industri buku yang lebih berdasarkan profit, kurangnya perhatian dan penghargaan terhadap para penulis, kurangnya kemampuan berpikir kritis sehingga kita rentan terhadap manipulasi pendapat, kemiskinan, kurangnya rasa bersaing terhadap masyarakat dunia, serta kurangnya kemampuan menyaring informasi yang terdapat di internet.

left-right : Mary Farrow, Päivi Hiltunen-Toivio, Youngduk Shin, Korean translator, John McGlynn, Endy Bayuni

Saya mencatat banyak hal selama acara karena menurut saya semua yang disampaikan panel memang sangat penting, dan saya mengaminkan sebagian besar perkataan mereka. Salah satu poin mengenai peran keluarga dalam literasi yang saya garis bawahi adalah bahasa ibu. Hampir semua narasumber sepakat bahwa anak harus menguasai bahasa ibu sebelum mempelajari bahasa lain. Bukan berarti anak tidak boleh belajar bahasa asing, tetapi bahasa ibu, juga bahasa lokal, sangat penting peranannya dalam literature. Bahasa bukan sekadar kata-kata, dia adalah identitas yang menunjukkan jati diri seseorang. Bahkan menurut John McGlynn, dengan adanya berbagai bahasa daerah di Indonesia, dapat menjadi sumber tak terbatas untuk karya sastra kita. Pun demikian, kita hanya perlu mempelajari satu bahasa nasional untuk mengkomunikasikannya. Dia juga menyinggung orang tua masa kini yang mengajarkan anak mereka bahasa Inggris padahal itu bukan bahasa ibu para orang tua tersebut, akibatnya, anak-anak terbiasa berbicara dengan ‘broken English’. Endy Bayuni menambahkan pentingnya belajar, menghargai, dan menggunakan suatu bahasa dengan baik dan benar. Panel juga sempat menyinggung soal karya terjemahan dan peranannya dalam literasi dan kemampuan berbahasa.

Kembali ke permasalahan yang disinggung sebelumnya soal penghargaan terhadap para penulis, McGlynn menyoroti bahwa di Indonesia, nama jalan hampir semua nama pahlawan, tidak ada nama sastrawan di sana. Yang mengejutkan saya dari ide itu adalah bahwa ternyata di Finlandia, mereka punya nama-nama jalan berdasar para sastrawan mereka! Kemudian membahas tentang perpustakaan, dengan kemajuan teknologi saat ini, perpustakaan tak harus berwujud fisik—termasuk penyebaran buku—dapat secara digital untuk menekan biaya. Perpustakaan keliling juga masih relevan, dan yang mengejutkan saya sekali lagi, Finlandia yang jumlah perpustakaan umumnya sudah sangat banyak masih memiliki perpustakaan keliling.

Sesi tanya-jawab berlangsung cukup meriah juga dengan ide-ide dan pengalaman mengagumkan yang mereka bagi. Salah satu yang menarik (yang juga saya sadari belakangan ini) ada seorang arsitek (kalau tidak salah) yang menceritakan perjalanannya membaca fiksi. Awalnya, dia—sebagaimana orang Indonesia pada umumnya—meninggalkan buku fiksi setelah dewasa dan menjadi ‘serius’ dengan membaca buku pengetahuan/nonfiksi yang sesuai dengan bidang masing-masing, atau hal-hal praktis semacam ‘how to’ atau buku motivasi. Tanpa disadari, kita menjadi pragmatis dan hanya memahami ‘bahasa’ kita masing-masing. Si penanya ini pun menceritakan saat dia kembali ke fiksi, dia menemukan bahwa karya fiksi menumbuhkan empati kita, karena kita ‘masuk’ ke dalam kehidupan orang lain, ke dalam bidang-bidang yang tidak kita kuasai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kurangnya empati bangsa kita salah satunya adalah karena kita tidak membaca.

Pekerjaan rumah kita masih banyak sekali, tetapi bukan berarti kita tidak bisa maju. Panel diskusi ini memberi sebuah harapan bahwa masih banyak orang yang peduli, dan ternyata banyak orang yang bergerak demi kemajuan bangsa Indonesia melalui literasi, walaupun yang terlihat di luar sana adalah sebaliknya.

(Baca juga LPM Essy di sini)

 

15 responses to “A Nation that Doesn’t Read (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 1/4)

  1. Memang mencatat itu lebih baik ya daripada mengandalkan ingatan, buktinya tulisan ini jadi lebih detail, makasih sudah mencatat BZ. Aku cukup tersadarkan ketika pembahasan sampe ke orang tua yang mengajarkan “broken english” ke anak-anak mereka disaat anak-anak itu bahkan blm bisa berbahasa ibu dengan baik. Memang orang tua cenderung menjadikan “bisa bahasa inggris” sebagai ukuran seorang anak pinter atau tidak, bener2 pandangan yang keliru tapi sudah menjamur ya skrang. Dan yaaaay aku jadi tau nama si fairy godmother itu, Mary Farrow ya.

    • Soalnya aku sadar ingatanku payah, dan kurang terstruktur, hehe.. iya, dan ‘nilai bahasa Indonesia lebih jelek dari bahasa Inggris’ jadi semacam membanggakan (walau poinnya bukan itu). Aku jg nyontek nama dosen Korea itu dari blogmu, haha..

  2. Kece. Thanks mbak udah mau share ^^
    Moga di tahun-tahun berikutnya dunia literasi di Indonesia makin kece termasuk sistem pendidikan juga makin asik untuk dijalani. #Yeaahh..”asik untuk dijalani”

  3. Baca ini kok jadi sedih gimanaaaa gitu…. bagus banget tulisannya, bzee. Sangat detail dan informatif🙂

  4. Aku… Aku… Aku ndelosor baca ini 😭😭😭 mo komen banyak, tapi ga tau musti mulai dari mana… Intinya, aku cuma mo ngomong, “pantesan bangsa kita bodo banget”. Tapi mungkin itu terlalu kasar ya.

  5. Aku setuju dengan bagian karena kurang membaca maka kita kurang berempati. Bahkan walau aku menganggap diriku suka membaca, aku masih merasa empatiku kurang. Aku juga akui kalau aku lebih banyak baca karya pengarang luar ketimbang negeri sendiri. Tapi ya, karena genre faveku itu dominan fantasy, sementara tahu sendiri yang dominan di Indonesia apa ya, hahaha

    • Ada bagian yg bilang juga kalo semua buku itu baik, tapi ada saatnya kita perlu memperluas bacaan. Dan, ya, karena ini ‘literary festival’, maka sebagian besar mereka bergelut di sastra. Dengan kata lain, sastra itu yg bisa menunjukkan ‘identitas’ bangsa. Tapi kuakui memang sastra Indonesia masih kurang variasi juga ketimbang sastra dunia, padahal (menurut mereka lagi) potensi Indonesia sangat besar.

  6. Pingback: Old World, New Narrative (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 2/4) | Bacaan B.Zee

  7. Sori baru sempat baca sekarang, great article Zee! memang gak sia2 deh kamu terbang ke Jakarta buat acara ini hehehe. Semoga post ini juga dibaca oleh mereka yang berwenang di bidang pendidikan Indonesia

  8. Pingback: Sapardi X Jokpin (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 4/4) | Bacaan B.Zee

  9. Terimakasih ya untuk infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s