Old World, New Narrative (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 2/4)

Melanjutkan post sebelumnya (link to Part 1) mengenai kunjungan saya ke ASEAN Literary Festival (ALF) 2016, jika sebelumnya saya menuliskan tentang diskusi mengenai membaca secara umum, maka kali ini akan membahas penulisan literature atau karya sastra dalam panel bertajuk ‘Old World, New Narrative’ yang menghadirkan Budi Darma (BD) dan Triyanto Triwikromo (TT), serta dipandu oleh Pringadi Abdi Surya dan Guntur Alam, bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki.

img_20160529_222210.jpg

Kedua narasumber berbicara tentang kecenderungan sastra masa kini dibandingkan dengan masa lalu. Menurut TT, mengikuti perkembangan teknologi saat ini yang serba cepat, maka bentuk sastra pun menjadi lebih bergegas, instan, menekankan pada dunia virtual, berfokus pada bentuk, tapi tanpa kedalaman. Sebenarnya, teknologi seharusnya bisa menjadi salah satu sarana, dengan memanfaatkan dunia virtual tersebut, memadukan teks, bunyi dan warna, kemudian menggunakannya untuk pendalaman subjek dan masalah.

BD menambahkan bahwa para penulis masa lalu menulis berdasarkan penghayatan, artinya pengalaman hidup dan pemikiran mendalam menjadi dasar untuk menghasilkan karya yang memiliki kedalaman. Saat ini, banyak penulis menulis berdasarkan penelitian, kemudian mengolah imajinasi dan realitas menjadi suatu karya yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, ketiadaan penghayatan akan menghasilkan karya yang kurang secara substansi, meskipun gaya bahasanya indah. BD juga mengutip ucapan Subagio Sastrowardoyo tentang cerpen pada tahun 1950an dengan cerpen-cerpen setelah terbitnya majalah Horizon. Pada tahun itu, anak-anak muda asuhan H.B. Jassin menulis cerpen mengenai pengalaman pribadi. Menulis bagi mereka adalah bakat alami, sehingga mereka hanya perlu mengolah hal sehari-hari menjadi kisah yang apik. Namun, kelemahan dari metode itu adalah saat semua pengalaman habis ditulis, sulit melanjutkan menulis, karena tidak ada eksplorasi. Setelah itulah muncul yang dinamakan golongan intelektualisme, yaitu menulis dengan melalui proses eksplorasi dan penghayatan.

Cukup banyak isu yang diangkat oleh moderator untuk dikaji mendalam oleh para penulis senior tersebut. Di antaranya adalah kecenderungan beberapa penulis masa kini yang menerbitkan beberapa buku dalam setahun. Apakah waktu menulis yang singkat akan mempengaruhi penghayatan dan kedalaman tulisan? BD mengatakan bahwa ‘kejar tayang’ dalam menulis tidak semuanya buruk. Sebagai contoh, Lan Fang yang sangat produktif karena menyadari bahwa usianya tidak akan lama lagi, dan tetap menghasilkan karya-karya yang baik. Kualitas dan kuantitas tidak selalu memiliki hubungan. TT mengatakan bahwa meski seorang penulis mengeluarkan beberapa buku dalam setahun, prosesnya mungkin sudah bertahun-tahun sebelumnya. Seperti tahun ini dia akan menerbitkan empat novel, sesungguhnya proses menulisnya sudah belasan hingga puluhan tahun yang lalu. Dicontohkan pula Remy Silado yang memiliki beberapa mesin ketik untuk menuliskan karya yang berbeda dalam waktu bersamaan, sehingga hasilnya bisa jadi hampir bersamaan. Jadi, waktu penerbitan tidak menunjukkan kualitas, pendalaman dan riset akan terlihat melalui karya, “Karya tidak bisa berbohong,” ujarnya.

Sedikit bocoran, TT sedang menulis novel berjudul Kafka-Kafka yang akan bercerita tentang Franz Kafka yang berubah menjadi sapi, dan bertemu dengan Gregor Samsa, tokoh rekaannya dalam The Metamorphosis.
img_20160506_130546.jpg

ki-ka : Pringadi Abdi Surya, Triyanto Triwikromo, Budi Darma, Guntur Alam

Berbicara mengenai pembaca, ada anggapan bahwa sastra Indonesia cenderung terlalu berat, sehingga pembaca Indonesia kebanyakan lebih suka dengan karya-karya pop. TT mengatakan bahwa ada tiga kategori pembaca: 1. Pembaca takabur, yaitu pembaca yang berpusat pada dirinya sendiri, dia hanya membaca sesuai kapasitasnya dan tidak mau membuka diri untuk bentuk yang lain, 2. Pembaca tabah, yaitu pembaca yang dengan sabar membaca berulang-ulang demi mendapatkan pemahaman atas suatu karya, dan ditambahkannya dengan nada bercanda, 3. Pembaca pembunuh, yaitu yang memberi asumsi atas suatu karya sesuai dirinya sendiri, tanpa memberi kesempatan bagi karya tersebut untuk menunjukkan dirinya. Dia berpesan agar jangan membatasi para penulis, untuk membiarkan penulis ‘berakrobat dengan kata hingga mencapai titik hening’. Pada titik hening inilah dia akan menemukan kesempurnaan. Sejatinya, penulis juga ingin bisa berbahasa sederhana tapi tetap substansial. Penulis pun boleh mengikuti tuntutan pembaca, tapi dia memberi penekanan agar ‘masukilah dunia populer, tapi jangan melacur di dalam budaya tersebut’.

BD menekankan bahwa minoritas tidak identik dengan ketidakberdayaan. Menurutnya, karya-karya sastra yang dikatakan ‘berat’ dan sedikit pembacanya justru masih bertahan dan terus dibaca dari masa ke masa, sedangkan novel pop hanya hidup pada masa tertentu, selebihnya hilang. Memang diakuinya bahwa dengan semakin cepatnya komunikasi dan informasi, bahasa ikut berubah semakin cepat, sehingga bahasa-bahasa lama akan sulit dipahami generasi berikutnya. Di sinilah mungkin diperlukan adanya kompromi, salah satunya adalah dengan menyederhanakan karya sastra lama untuk dibaca generasi muda (semacam abridged untuk karya klasik dunia mungkin). TT menambahkan bahwa lawan terbesar kita saat ini adalah kecepatan dan kecerdasan, dengan sosial media, kita menjadi terlalu cepat mengomentari suatu kejadian/masalah. Hal ini bisa dilawan dengan melalui teks yang cepat, melalui karya yang terbuka, sehingga memungkinkan orang lain untuk masuk dan melanjutkan karya tersebut, sehingga lebih bisa mengikuti tuntutan zaman. Namun, teks cepat tetap harus memiliki substansi, karena tulisan yang cepat tanpa substansi akan tenggelam dalam zaman, karena kita tidak menulis untuk apa-apa.

Kemudian, bagaimana cara kita menemukan tema yang bagus dan substansial tersebut? Menurut BD, masalah di dunia ini sangat banyak, penulis yang tidak cakap menangkapnya akan seperti ‘anak ayam mati di lumbung padi’, karena pilihan yang sangat banyak hingga sulit memilih. Penulis hanya perlu menemukan satu masalah yang dapat digali lebih dalam. ‘Masalah’ dapat juga diartikan sebagai musuh untuk dilawan. Jika karya sastra di masa lampau berpusat pada Belanda atau priyayi (hasil rekayasa Belanda) sebagai musuh utama, maka musuh utama di masa kini adalah diri sendiri.

TT mengatakan bahwa karya sastra yang ideal adalah yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Sastra yang ideal harus menjadi cermin zaman, suara zaman, sekaligus menemukan bentuk zaman tersebut. Sastra adalah ketegangan dua dunia, mendobrak, membaharu. Namun, agar mengetahui benar kita telah melakukan pembaharuan dan menemukan orisinalitas, sangat penting untuk mengenali karya sastra masa lalu, untuk menjadi diri kita saat ini. “Sejarah jangan dianggap sebagai lorong masa lalu yang melelahkan, tapi anggap sebagai lorong masa depan”.

Saya sangat mengagumi cara BD berbicara dan menjawab pertanyaan. Diberikannya analogi, anekdot, atau kutipan dari orang lain, untuk kemudian menutupnya dengan singkat tapi langsung tepat sasaran. Sesekali saat moderator mengarahkan pertanyaan dengan sentimen tertentu, BD berhasil menjawab dengan bijaksana tanpa memperuncing sentimen tersebut. Begitupun TT yang walau kebijaksanaannya tak sefasih BD, tetapi tetap menunjukkan sikap netral dan bijak dalam mengarahkan sentimennya. Salah satu yang disentilnya adalah masalah pasar, penerbit, dan honor. Baginya, tak masalah apakah bukunya diterbitkan penerbit besar (yang honornya kecil tapi distribusinya merata) ataupun penerbit kecil (yang honornya lebih besar tapi penjualannya terbatas). Karya menjadi besar atau kecil tergantung kebutuhan pembaca. Sebagaimana karya pop mungkin dibutuhkan oleh orang tertentu, hingga terlepas dari kekurangannya, sah-sah saja orang mau menulis novel populer.

“Penempatan besar atau kecilnya karya sastra ditentukan oleh pembaca.” –Triyanto Triwikromo

Pun sebuah karya yang baik idealnya ditemukan oleh orang lain yang punya otoritas untuk menentukan kelayakannya, misal editor. Penulis yang baik tidak memuji dirinya sendiri, TT memberi istilah sastra selfie atau narsistik. Tugas penulis adalah menemukan substansi agar tidak kehilangan kemanusiaan.

Sebelumnya, BD menyinggung bahwa agar tidak kehilangan arah, kita harus melihat karya-karya di atasnya (“ibu bapak”). Sebagai contoh, Austria seabad lalu sangat menyukai kisah tentang laut karena negara tersebut tidak memiliki laut, tetapi kini berubah karena teknologi dan informasi makin maju. Rudyard Kipling terkenal pada masanya karena memberi gambaran tentang eksotisme India yang masih ‘asing’ untuk Eropa masa itu, tetapi kini karya Kipling lebih dinikmati karena ide imperialismenya. John Steinbeck menulis tentang Amerika pada masa resesi, hingga pada beberapa tahun lalu karyanya dicari kembali akibat kemunduran ekonomi yang dialami kembali di Amerika. “Ibu bapak” inilah yang tidak ditemukan pada karya populer, dia berdiri sendiri, hingga tidak punya arah.

Imajinasi penulis tidak selalu berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Itulah pentingnya membaca dan menghayati kehidupan. Bagi penulis muda, sangat dianjurkan untuk membaca sastra canon, yaitu sastra yang melahirkan berbagai karya lain sesudahnya. Sebagaimana yang disinggung TT di awal mengenai menemukan orisinalitas.

“Karya yang penting dibaca oleh penulis adalah yang memberi inspirasi.” –Budi Darma

Jika boleh saya ringkas, untuk membuat sebuah karya yang substansial dan tak lekang oleh masa, langkah-langkahnya adalah: membaca karya-karya canon—mencari ‘asal mula’ kita di masa lampau, menghayati subjek dan masalah, menemukan orisinalitas dengan terus menulis, dan hayatilah segala proses tersebut. Panel yang sangat menarik dan bermanfaat bagi para (calon) penulis untuk merenungkan kembali karyanya, dan bagi pembaca untuk menemukan ‘diri’ melalui sastra.

img_20160506_173213.jpg

5 responses to “Old World, New Narrative (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 2/4)

  1. Padat dan super detail! Penasaran 2 bagian selanjutnya hehe

  2. Ayo Zee, lanjut terus laporannya *nungguin*

  3. Ketagihan laporan ALF nih… ayo Bzee part 3 dan 4 nya ditunggu🙂

  4. Pingback: Sapardi X Jokpin (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 4/4) | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s