Sapardi X Jokpin (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 4/4)

Tibalah kita di ‘laporan’ terakhir kehadiran saya di ASEAN Literary Festival (ALF) 2016 yang cukup terlambat ini. Acara terakhir yang akan saya tuliskan bisa dibilang salah satu ‘gong’ dari ALF secara keseluruhan. Bagaimana tidak, perbincangan yang berbayar lima puluh ribu rupiah di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pada 6 Mei malam ini disesaki penonton hingga ke tribun atas bahkan hingga ada dua deret kursi ekstra di depan. Tampaknya kehadiran dua penyair kondang, Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo, ditambah pemandu yang tak kalah kondang, Najwa Shihab, menjadi pemicunya. Tak salah acara ini diberi tajuk ‘A Rare Conversation: Sapardi X Jokpin’. Menurut istilah teman saya, fandom galore.

img-20160405-wa0015.jpg

Acara dibuka oleh duo Ari-Reda yang membawakan musikalisasi puisi pak Sapardi (yang sudah dibuat album) dan Jokpin (yang baru pertama ditampilkan untuk acara ini). Kemunculan Najwa memberi nuansa tersendiri dalam ALF yang dipenuhi oleh para sastrawan. Hingga saat kedua penyair dipanggil, dia memberi pertanyaan trivial kepada keduanya: apa yang orang-orang tidak ketahui tentang keduanya. Pak Sapardi mengatakan bahwa sesungguhnya dirinya punya hobi keluyuran di mall, ‘kakek mall’ istilahnya, karena istilah ‘anak mall’ terkesan terlalu muda untuknya. Hal ini sebenarnya adalah  bentuk olahraga yang bisa dilakukannya, berkeliling mall yang sejuk di dekat rumahnya, alih-alih di jalanan yang mungkin kurang bersahabat untuk usianya. Sedangkan pak Jokpin mengatakan bahwa dirinya adalah penyuka kopi, sebagaimana tercantum dalam namanya, Joko Pinurbo, yang menemani malam-malam kreatifnya.

Selanjutnya, masuk ke dalam obrolan yang lebih serius, tetapi tetap berlangsung cair, Jokpin menyatakan bahwa YB Mangunwijaya mengajarkan supaya anak-anak diajari pemikiran yang menyimpang. Pemikiran inilah yang akan menjadi kunci proses kreatif. Dia juga mengakui bahwa buku puisi yang pertama dibacanya dan menginspirasinya untuk menjadi penyair adalah buku Sapardi yang berjudul DukaMu Abadi. Beliau mengagumi gaya dan kedalaman puisi Sapardi, semacam mencintai dengan sederhana yang sesungguhnya justru paling tidak sederhana. Sapardi pun bercerita mengenai perjuangan penerbitan buku pertamanya tersebut pada 1969. Jauh sebelumnya, beliau memiliki janji bersama sahabatnya yang seorang pelukis, bahwa siapapun yang sukses terlebih dahulu, akan membantu sahabatnya. Kawannya inilah yang membantu penerbitan DukaMu Abadi hingga bisa dibawakan di Teater Ismail Marzuki pada masa itu, di hadapan penyair dan sastrawan senior, yang diistilahkannya sebagai ‘harimau-harimau di TIM’.

img_20160506_193458.jpg

ki-ka : Najwa Shihab, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono

Jokpin bercerita tentang perjalanan kepenyairannya yang tumbuh setelah berhadapan dengan karya-karya besar. Dia merasa tidak mungkin bisa menyaingi karya-karya besar tersebut, sehingga untuk menghadapinya dia harus ‘belok kiri’, mengambil tema-tema yang tidak biasa seperti celana, kamar mandi, dan sarung. Dari hal-hal yang tampak sepele inilah dia menghasilkan karya yang berbeda. Jokpin juga sempat membocorkan buku yang sedang digarapnya, yang akan bermain-main dengan keunikan bahasa Indonesia. Dia membacakan salah satunya, pada intinya menggunakan kata ramah-marah, Tuhan-hantu, dan lain sebagainya, lalu di antaranya ada bait yang paling mengundang tawa seluruh hadirin, baris yang menjadi semacam titik ‘sialan’ kalau kata saya (dalam artian positif):

Pemurung tidak pernah merasa gembira
Pemulung tidak pelnah melasa gembila

Sapardi pun menanggapi positif puisi Jokpin ini. Menurutnya, puisi tersebut sangat sesuai dengan teori bahwa puisi adalah bunyi. Puisi sesungguhnya harus dinyanyikan.

Mengenai proses kreatif, Sapardi menyatakan jangan pernah menulis saat emosi. Berkebalikan dengan anggapan orang bahwa karya yang ditulis dengan emosi cenderung lebih emosional, menurutnya karya yang ditulis saat emosi akan terkesan cengeng. Kita harus membuat jarak terlebih dahulu dengan sesuatu yang akan kita tulis, diistilahkannya sebagai jarak estetika, supaya karya kita lebih objektif dan tidak cengeng. Dia berkelakar bahwa lebih baik berdemo saja saat emosi sedang meluap-luap. Ditanya mengenai makna puisinya, dia menyatakan bahwa puisi-puisinya kebanyakan hanya gambar, interpretasi diserahkan kepada pembaca. Dia berujar bahwa puisi itu hidup dari interpretasi yang bermacam-macam. Ditambahkannya bagi para penulis/penyair muda, bahwa inspirasi sesungguhnya tidak perlu dicari, yang terpenting adalah adanya niat menulis, sedangkan bahan cukup berlimpah dari pengalaman sehari-hari.

Proses kreatif Jokpin lebih banyak didapatkan lewat tengah malam hingga pukul tiga pagi, meski secara umum dia dapat menulis kapan saja. Biasanya sajak-sajaknya yang berhasil justru ditulis dengan cepat. Dia juga merasa lebih produktif pada bulan-bulan berakhiran –ber (September, Oktober, November, Desember).

Saya sering harus menafsirkan puisi saya sendiri. –Joko Pinurbo

Dibandingkannya dengan DukaMu Abadi yang sangat liris dan sesuai dengan situasi pasca tragedi 1965. Dia merasakan trauma dan kengerian yang berjarak dengan tragedi tersebut, sehingga efek yang ditimbulkan bukan rasa takut, tetapi mencekam.

Mendengar ini, Sapardi pun berkata bahwa penafsiran pembaca seringkali jauh daripada yang diketahui penyair tentang puisinya. Dikatakannya bahwa DukaMu Abadi ditulis saat dia berusia 27-28 tahun yang menurut suatu teori merupakan usia seseorang menyadari bahwa dirinya akan mati. Puisi tersebut lahir setelah Sapardi berjarak dengan ketakutan akan kematian.

Jangan percaya mulut Sapardi. –Sapardi Djoko Damono

Sebagai orang yang selalu bersentuhan dengan politik, Najwa pun tak luput menanyakan mengenai tema politik dalam puisi. Jokpin sendiri tertarik dengan tema itu, tetapi dia merasa aneh jika menuliskan tema itu, mengingat tema-tema puisinya selama ini. Meski demikian, sesungguhnya banyak candaan politik dalam puisi-puisinya. Sapardi sendiri merasa tema politik terlalu menarik untuk hanya dituliskan dalam puisi, sehingga dia lebih tertarik menuliskan novel untuk itu. Di antaranya karya yang sudah lahir adalah Trilogi Soekram. Bocoran lagi bahwa tahun ini akan ada dua novel bertema politik dari Sapardi.

img_20160506_173332.jpg

Iklim saat ini, menurut Jokpin, sangat mendukung kelahiran penyair muda. Mentalitas dan etos kerja mereka akan menentukan berapa lama penyair akan bertahan. Puisi dikatakan bagus tergantung dari caranya menunjukkan penghayatan. Sapardi berujar bahwa yang terpenting dalam sastra adalah cara menyampaikannya. Anak muda sekarang memiliki akses yang mudah untuk belajar, terutama melalui media digital. Dulu dirinya hanya belajar dari Rendra karena menurutnya karya Rendra lebih mudah dipahami di antara puisi-puisi tahun 1950an yang cenderung gelap. Orang bisa menulis karena membaca, karena membaca dia akan terpengaruh, sehingga Sapardi menekankan bahwa dalam sastra kita harus terpengaruh dan mencuri (ilmu) dari orang lain. Jangan pinjam, lanjutnya, karena proses itu tidak boleh diketahui orang sehingga tidak menjadi plagiasi.

Sapardi mengatakan bahwa dirinya tahu teknologi kelas tinggi, sehingga menerbitkan buku sendiri tanpa asisten bukan menjadi masalah baginya. Malahan, sebelum diterbitkan penerbit besar, dia bisa menikmati seluruh keuntungan penjualan untuk dirinya sendiri.

Jokpin bercerita tentang pencapaiannya pada awal tahun 2000an saat dia menulis tentang telepon genggam yang semacam meramalkan era digital hari ini. Juga cita-citanya untuk menulis buku puisi dari twitter yang sudah tercapai.

Mengenai buku favorit, Jokpin lagi-lagi menyebutkan DukaMu Abadi sebagai buku yang paling menginspirasi. Dia bahkan sempat menunjukkan buku miliknya dalam edisi yang sudah jarang sekali ditemukan. Sedangkan buku favorit Sapardi adalah Balada Orang-Orang Tercinta (W.S. Rendra) dan Murder in Cathedral (T.S. Elliot). Menurutnya Elliot sebagai modernis Eropa menuliskan puisi-puisi yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya, sehingga membuatnya semakin penasaran.

Di ujung perbincangan, Sapardi berpesan bahwa penulis harus menguasai kata-kata. Penulis juga bertugas menciptakan bahasa baru, mengembangkan bahasa klise menjadi segar, sehingga dapat menjadi bahasa hidup/sehari-hari, bukan hanya bahasa buku. Sebelumnya, Jokpin juga sempat menyinggung kita yang semakin lama semakin sensitif terhadap label. Kita bukannya menguasai kata-kata tetapi malah dipermainkan oleh kata-kata. Misalnya kata kiri yang selalu dianggap negatif, padahal kata tersebut tidak punya salah apa-apa. Ini menunjukkan bagaimana orang dikuasai oleh konotasi kata-kata.

img_20160506_192319.jpg

Duo Ari-Reda

Meski diwarnai dengan canda, obrolan ini nyatanya memang sangat berisi. Pengalaman memang tidak bisa berbohong. Setelah sambutan akhir yang sangat meriah hingga mengguncang teater kecil, acara ini kembali ditutup dengan penampilan yang keren dari Ari-Reda.

Demikian laporan terakhir saya tentang ALF yang saya hadiri Mei yang lalu, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Tengok juga bagian sebelumnya di Part 1, Part 2, dan Part 3. Terima kasih.

One response to “Sapardi X Jokpin (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 4/4)

  1. APA???!!! SDD bakal ngeluarin DUA novel politik tahun ini???!!!

    *duit mana duit*

    *belum ada proyek lagi, ga ada duit*

    *nangis di pojokan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s