Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono [Novel]

Judul : Hujan Bulan Juni (Novel)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2015)
Editor : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Juni 2015
Format : Paperback, vi + 135 halaman

Sarwono adalah salah satu dosen muda di Prodi Antropologi FISIP-UI yang giat ‘mencari nafkah’ dengan menulis laporan penelitian tentang berbagai wilayah di Indonesia. Laporan hasil tulisannya memang disukai, mungkin karena pada dasarnya dia suka menulis, meski yang lebih sering ditulisnya adalah puisi. Sejak SMA dia dekat dengan adik kawannya, Pingkan Pelenkahu yang campuran Minahasa-Jawa, yang kini mengajar di Prodi Jepang, sama-sama FISIP-UI. Namun, seperti ada batas yang menahan hubungan keduanya ke arah yang lebih jauh, meski keduanya sama-sama memberi sinyal positif.

–semuanya cengeng kalau diukur berdasarkan ketidakpahaman akan hakikat puisi, (hal.93)

Bersama di fakultas, menghabiskan waktu beberapa minggu tugas di Sulawesi, hingga terpaksa terpisah sementara saat Pingkan belajar di Kyoto mencatat jejak hubungan keduanya. Ada keluarga yang harus disatukan, dan ada prinsip yang perlu diluluhkan. Pingkan selalu mengatakan bahwa Sarwono cengeng dan zadul, tetapi diam-diam mengharapkannya menjadi Matindas-nya. Sedangkan Sarwono yang tidak dapat melihat ‘keJawaan’ Pingkan pun jiwa Pingkan tak juga Minahasa masih merasa bahwa dirinya adalah wong sabrang yang harus menceritakan kisahnya sendiri.

“Dongeng adalah jawaban bagi pertanyaan yang diajukan suatu kaum tentang banyak hal yang menyangkut keberadaannya,” (hal.52)

Inti dari cerita Sarwono dan Pingkan ini sebenarnya sederhana saja, kekuatan novella ini bagi saya justru ada di narasinya. Di sini, penulis seolah hendak ‘pamer’ tentang bentuk-bentuk narasi, serta menunjukkan kepiawaiannya menjalin bentuk-bentuk yang berbeda itu ke dalam sebuah novel yang pendek. Saat membaca, saya dapat terhanyut dalam narasi yang indah, atau lugas, atau dalam dialog, atau dalam arus pikiran, tanpa peduli pada akhirnya saya akan dibawa ke mana dalam urusan percintaan kedua karakter tersebut. Saya merasa dibawa ke dalam sebuah perjalanan di mana saya cukup menikmati potongan-potongan pemandangan yang indah, tanpa perlu dijelaskan mengenai sejarah pembentukannya, juga tak penting untuk mereka-reka apa peran si pemandangan dalam dunia yang luas ini. Pemandangan-pemandangan itu cukup untuk membentuk sepotong kisah.

Selain itu, seperti beberapa karyanya yang lain, penulis juga memasukkan adaptasi cerita rakyat ke dalam kisahnya. Kisah Pingkan dan Matindas adalah cerita rakyat Minahasa yang diwujudkan secara modern dalam diri Pingkan Pelenkahu dan Sarwono. Cerita rakyat ini secara apik berhasil menyatu dalam kisah, tidak terkesan dibuat-buat, pun dia menyusup dalam karakter seolah legenda tersebut hidup kembali—atau karakter kita yang mundur ke masa lalu, mewujud kisah yang telah berlalu.

Ditatapnya mata Sarwono, dalam-dalam, semakin dalam, dan semakin dalam lagi. Langit itu bersih tanpa awan hanya ada dua ekor burung jantan dan betina menyeberang cakrawala lalu muncul dari arah sebaliknya dengan sangat rapi bersama-sama mengepakkan-ngepakkan sayap-sayap mereka lalu melesat ke atas hanya beberapa detik terus menukik kembali menceburkan diri di laut yang menyimpan warna langit. (hal.86)

Tidak hanya cerita rakyat Minahasa, beberapa legenda daerah yang bersinggungan dengan karakter juga dileburkan dalam narasi, meski tak dominan, termasuk budaya dan legenda Jepang yang menjadi tempat singgah Pingkan saat belajar. Penulis memasukkan unsur-unsur kekinian yang menegaskan zaman kisah ini terjadi, baik secara teknologi, situasi ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya.

… ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga. Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam. Ketika memikirkan ibu-bapaknya, Sarwono malah jadi khawatir kalau-kalau mereka nanti tidak berpikir seragam menerima laporannya tentang …. (hal.88)

Singkatnya, buku ini adalah ‘pertunjukan’ sastra yang sangat kaya. 4.5/5 bintang untuk cinta yang ragu-ragu.

Bahwa kasih sayang beriman pada senyap. (hal.45)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s