Bagaimana Saya Melihat Sejarah

Jika ada satu hal yang saya sesali adalah, saya tidak mengenal sejarah lebih awal. Di masa-masa sekolah, sejarah menjadi salah satu pelajaran paling membosankan. Kita ‘dipaksa’ menghapal tanggal dan peristiwa tanpa tahu esensi di balik peristiwa tersebut. Ibarat cerita, tidak ada plot dan alur, hanya tema dan subjudul. Baru pada saat saya aktif di komunitas pembaca dan mengenal fiksi sejarah (historical fiction/hisfic) saya merasa bahwa sejarah itu menyenangkan.

Ingatan saya kembali ke masa SMP, saat bab yang paling saya tunggu dan saya nikmati adalah bab Revolusi Perancis. Saat mempelajarinya, saya selalu mengingat manga Rose of Versailles atau yang dalam versi anime berjudul Lady Oscar, berkisah mengenai Revolusi Perancis. Saya ingat di buku pelajaran, bab itu terasa kurang mendetail dan membosankan, tetapi saya tetap suka mempelajarinya, karena saya membumbuinya dengan imajinasi saya sendiri. Bahkan saya mencari-cari nama Oscar di buku pelajaran, yang tentu saja tidak akan saya temukan. Seandainya wawasan hisfic saya lebih luas saat itu, mungkin sejarah akan jadi pelajaran yang saya tunggu-tunggu.

Beberapa tahun lalu, saat membaca Fall of Giants, saya merasa mudah menghapal kejadian-kejadian penting pada masa itu. Pembunuhan yang menjadi permulaan Perang Dunia menjadi lebih mudah dipahami, persekutuan dan kepentingan negara-negara tersebut lebih mudah dimengerti, dan runtutan kejadiannya juga lebih mudah dibayangkan. Saya jadi berpikir, seandainya buku itu saya baca belasan tahun lebih awal, mungkin nilai sejarah saya bisa lebih bagus.

Lihat juga tamu saya bicara tentang sejarah di sini.

Saya tidak tahu buku pelajaran sejarah untuk sekolah hari ini seperti apa, tetapi jika merujuk buku yang saya pakai bertahun-tahun lalu, tampaknya buku-buku sekolah kita perlu revolusi penulis. Semestinya tidak perlu takut untuk membuat kalimat-kalimat panjang dalam buku sejarah jika itu mempermudah pemahaman. Karena seperti saya singgung di atas, alur yang baik akan membuat sesuatu lebih mudah diingat, tanpa perlu dihapal.

Guru sejarah kelas 3 SMA saya waktu itu suka sekali bercerita. Beliau tidak hanya mengacu pada buku teks, tetapi bercerita lebih runtut mulai dari rangkaian peristiwa, latar belakang, hingga konsekuensinya. Beliau adalah satu-satunya guru yang berhasil menjadikan sejarah tidak membosankan, justru di tahun terakhir saya belajar sejarah. Tidak hanya berhenti di masa lalu, bahkan dampak yang terasa hari ini dijelaskan. Ini membuktikan bahwa tujuan sejarah bukan hanya sekadar nostalgia masa lalu, tetapi juga penting sebagai pelajaran hidup, karena sejarah berulang. Saya masih ingat beberapa teori ‘konspirasi’ dan quotes menarik yang keluar dari mulut beliau, dan banyak di antaranya benar-benar terjadi hari ini.

Jadi seandainya buku pelajaran sejarah dituntut untuk singkat, guru sejarah seharusnya punya wawasan lebih luas. Jika buku pendamping sejarah menjadi terlalu banyak, maka gurunya harus suka membaca sejarah sebagai bekal untuk ‘bercerita’ untuk murid-muridnya, juga sebagai bekal untuk memberi rekomendasi bacaan untuk para siswa–entah itu fiksi atau nonfiksi. Saya rasa anak sekolah tidak kekurangan waktu untuk membaca lebih banyak, justru mereka harus membaca lebih banyak.

Juni : Bookish Confession

Juni : Bookish Confession

Sebenarnya saya membuat draft post ini sudah beberapa hari, tetapi belum siap tayang sampai saya ingat bahwa sudah waktunya posting bareng BBI. Saya rasa post ini mengandung banyak confession. Namun, untuk lebih mengesahkannya, masih ada beberapa hal lagi yang ingin saya akui.

Pertama, saya memang jadi suka membaca hisfic, dan merasa tertarik untuk mempelajari sejarah tertentu setelah membaca buku tertentu. Namun saya masih kesulitan menemukan nonfiksi sejarah yang bisa saya nikmati. Saya bahkan sempat mengikuti history reading challenge, dan gagal karena alasan ini. Hal ini juga yang membuat saya sulit memilih buku apa yang bisa saya beli, selain buku-buku tipis, sejarah singkat yang ‘aman’.

Kedua, sebenarnya tidak khusus buku sejarah, saya sering kehilangan mood setelah membeli sebuah buku. Saya seorang yang sangat moody, bahkan rasa ingin tahu saya bisa kalah oleh mood. Jadi mungkin buku sejarah yang pada akhirnya saya pilih tidak saya selesaikan karena ini.

Ketiga, gabungan dari dua poin di atas, saya sangat pemilih soal tema yang akan menumbuhkan mood saya. Hal ini juga membuat saya sulit mendapat rekomendasi. Sayangnya, mood itu bisa saja tiba-tiba berubah, jadi saya rasa lebih aman menimbun beberapa tema sejarah yang bisa saya baca sewaktu-waktu. Mood saya tidak bisa menunggu waktu buku baru datang. Saya menimbun karena rasa ingin tahu saya mungkin berlebihan.

Meski demikian, alasan-alasan ini tidak menyurutkan keinginan saya untuk membaca lebih banyak. Sejarah adalah bagian mutlak dalam hidup kita, tidak melulu masalah politik, banyak tema sejarah yang masih menarik saya, misalnya sejarah medis, sejarah literasi, sejarah tokoh, dan lain sebagainya. Saya juga tidak menganggap nonfiksi selalu lebih unggul dalam hal fakta sejarah ketimbang hisfic, karena saya menilai juga latar belakang penulis dan mengkonfirmasi faktanya jika perlu. Last but not least, karena saya juga penyuka buku klasik, meski bukan tergolong hisfic, buku klasik selalu bisa membawa saya pada masa sejarah melalui sudut pandang pelakunya langsung.

5 responses to “Bagaimana Saya Melihat Sejarah

  1. Aku jg suka sejarah revolusi Prancis, tp waktu itu gara2 film the man in the iron mask-nya Mas Leo, wkwkwkwk

  2. Kalau saya lebih mengerucut sih, sukanya sama kisah sejarah dari negeri Jepang atau negeri Cina🙂

  3. Wehhh sejarah revolusi Perancis *beraaaatt
    Memang sejarah jadi menarik karena kita dipancing cerita hisfic atau karena habis nonton dokumenter. Demi rasa penasaran dan pemahaman yang lebih komprehensif, akhirnya jelajah sejarah pun dimulai. Sayangnya, buku nonfi sejarah justru tidak asik. Pintar-pintar pilih buku saja lah… He he
    #Salam newbie sejarah

  4. Pingback: Menyoal Stigma Komik | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Menyoal Stigma tentang Komik | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s