Galbraith, Rowling, Cormoran Strike, dan Perempuan

Cormoran Strike adalah detektif swasta rekaan Robert Galbraith, yang sebenarnya adalah penulis rekaan dari J.K.Rowling, sang legenda. Tiga buku seri Cormoran Strike sudah diterbitkan atas nama Galbraith meski identitasnya sudah bocor jauh saat buku pertama masih dalam tahap promosi. Setelah membaca ketiga serinya pun saya tak hentinya menghubung-hubungkan semua itu, mengapa Rowling harus menggunakan pseudonym.

Kembali ke dua dekade lalu saat Harry Potter baru dilahirkan, Rowling sengaja menyingkat nama depannya supaya pembaca/editor tidak menyangka dirinya seorang perempuan. Tiga tahun lalu pun dia mengulang ini, dengan menggunakan nama yang jelas laki-laki, tidak ambigu sama sekali. Saya tidak perlu bicara panjang lebar tentang ini, kita bisa langsung menuju kesimpulan bahwa perempuan hari ini masih dianggap sebuah gender yang inferior bagi banyak orang.

Cormoran Strike bukan sosok detektif klasik yang misterius, yang hadir dengan reputasi dan penampilan seorang detektif ‘sejati’ (apapun maksudnya itu). Strike lahir dari bawah, bawah sekali, dari comberan para pecandu narkotik dan kriminal. Dia menghabiskan masa kecilnya di lingkungan yang seperti itu, tapi dia mengangkat dirinya sendiri, masuk ke dalam militer, hingga kecacatan fisik memaksanya untuk menjadi detektif swasta. Latar belakang serta gambaran fisiknya sendiri cukup membuat pembaca menghapus bayang-bayang akan karakter pria yang jamak ada di novel populer; yang selalu bisa membuat wanita mabuk kepayang. Meski Strike digambarkan sebagai sosok yang mudah memikat wanita, dia membangunnya dengan cara yang sangat berbeda.

Melihat latar belakangnya yang seperti itu, termasuk kalangan dia masih bergaul hingga saat ini, tentu bukunya bukan sebuah karya yang ‘anggun’. Seri Cormoran Strike adalah buku dengan uraian kekerasan khas kriminal, dengan taburan kata-kata kasar dan makian yang tak canggung karena sesuai pada tempatnya. Lingkungan Strike bekerja bukan lingkungan yang elit di mana seorang pria harus menjaga mulutnya di depan rekan ‘wanita baik-baik’nya. Strike terjun dalam dunia yang keras dan kotor.

Galbraith tidak melulu menyorot kameranya pada Strike, dia punya karakter perempuan tangguh bernama Robin Ellacott yang menjadi rekan kerja detektif kita. Dalam sejarah literatur abad-abad terakhir, karakter wanita tangguh kerap dimunculkan. Wanita-wanita ini menjadi semacam angin feminisme di tengah masyarakat yang masih kuat budaya patriarkinya. Namun Ellacott bukan Irene Adler yang ‘mengalahkan’ Sherlock Holmes dengan kecerdasannya, dan bisa tetap menjaga ‘keanggunan’nya sebagai seorang wanita. Bukan juga karakter ‘pendobrak’ seperti Jo March atau Scarlett O’Hara. Ellacott adalah perempuan masa kini yang menikmati kehidupan mapan, pernikahan, dan gaya, tetapi juga haus akan petualangan dan kebebasan yang ditawarkan kantor detektif yang tidak sengaja dimasukinya. Dia juga tidak ditampakkan tangguh begitu saja, ada proses yang membuat pembaca dapat melihat sisi-sisi kehidupannya. Di buku ketiga, kita diperlihatkan sisi lemah Ellacott yang sekaligus menunjukkan bahwa dia punya kekuatan yang luar biasa.

Selain Robin Ellacott, Galbraith menceritakan banyak perempuan, anak-anak, dan masyarakat yang dianggap bermasalah dari sudut pandang orang ketiga, yang (semestinya) tidak bias dengan pemikiran karakter utama pria. Bagaimana pemerkosaan, predator anak, victim blaming, merupakan masalah yang kerap muncul dan dilupakan, di buku-bukunya, Galbraith mengajak kita ‘mendengar’ suara mereka.

He was a six-foot-three ex-boxer. He would never know what it was like to feel yourself small, weak, and powerless. He would never understand what rape did to your feelings about your own body: to find yourself reduced to a thing, an object, a piece of fuckable meat. (Career of Evil, p.505)

Leda, Lula, dan Rochelle bukanlah wanita-wanita seperti Lucy atau Bibi Joan; mereka tidak melakukan tindakan pencegahan yang perlu dilakukan terhadap kekerasan maupun kesempatan; mereka tidak melabuhkan diri pada kehidupan yang diisi cicilan rumah dan kerja sukarela, suami yang aman dan anak-anak yang berwajah bersih. Karenanya, kematian mereka tidak dikategorikan sebagai “tragedi”, tidak seperti bila hal yang sama terjadi pada para ibu rumah tangga yang lurus dan terhormat itu. (The Cuckoo’s Calling, p.433)

Di sinilah poinnya, Galbraith menuliskannya dalam kerangka laki-laki, yang punya kacamata untuk melihat langsung dari sudut perempuan. Seandainya identitasnya masih tertutup, seri Cormoran Strike ditulis oleh laki-laki, dan dia punya ‘suara’ laki-laki yang cukup kuat di bukunya. Dengan kata kotor, seks, prostitusi, kekerasan, yang dituliskan secara telanjang, sekali waktu pembaca diajak melihat cara berpikir laki-laki. Lalu di situ, saat Galbraith berhasil membuat para pria merasa bahwa ini ‘wilayah’nya, dia memasukkan sudut pandang perempuan.

Galbraith memberi porsi yang relevan untuk menyampaikan penghormatan kepada perempuan-perempuan terpinggirkan ini. Dia tidak memberikan pembelaan atas pilihan hidup mereka yang bisa jadi salah, dan dia tidak perlu menghakimi karena pembaca dapat menilai sendiri. Atau, pembaca akan berhenti menghakimi karena kita tahu sisi-sisi yang selama ini kita abaikan, yang tak semua buruk, yang punya nilai lebih, terlepas dari masa lalu yang disandangnya. Ada satu dialog yang cukup dalam soal ini, berikut kutipannya, dengan bagian yang saya sensor karena akan menjadi spoiler jika saya buka.

‘Your mother,’ he said, in a deep xxx accent, ‘was a fucking whore.’
Strike laughed.’Maybe so,’ he said, bleeding and smoking in the darkness as the sirens grew louder, ‘but she loves me, xxx. I heard yours didn’t give a shit about you, little xxx’s bastard that you were.’
(Career of Evil, p.563)

Yang saya tahu dari akun twitternya, Rowling adalah seorang aktivis. Dia tidak hanya berbagi tentang dirinya yang seorang penulis, tetapi juga peduli dengan masalah politik, sosial, dan ekonomi negerinya, bahkan berkampanye tentang apa yang diyakininya benar. Jangan tanya tekanan apa yang diperolehnya dari kubu yang berseberangan. Mulai dari konfrontasi wajar hingga celaan yang tidak rasional, bahkan bully yang (coba tebak) membawa-bawa gender dan status sosial. Jadi begitulah, dia tahu betapa riskannya menjadi perempuan, hingga di abad ke-21 sekalipun.

Saya jadi berandai-andai, bagaimana kalau identitas Galbraith tidak bocor. Bagaimana jika semua hal yang dituliskannya yang menyiratkan keberpihakannya pada perempuan dianggap ditulis oleh seorang laki-laki, akankah orang memandangnya dengan berbeda?

3 responses to “Galbraith, Rowling, Cormoran Strike, dan Perempuan

  1. Hmmm… Ini kalo menurutku ya, Zee, mau ketauan ga ketauan kalo yg nulis ternyata cewek, menurutku seri Cormoran Strike ini tetap terasa cewek. Aku ga bisa bilang kalo narasinya dituturkan dari “sudut pandang cowok”. Ah yah, mungkin itu tololnya aku aja, hahaha.

    Tapi gara2 Budhe Rowling ini aku jadi ingat kalo ga salah ada kutipan Charlotte Bronte di mana dia bilang kira-kira begini: jangan melihatku sebagai perempuan atau laki-laki, lihat saja aku sebagai seorang penulis.

    Kayaknya sebelum bisa mengubah cara pandang orang lain tentang gender, memang penting mengukuhkan cara pandang orang lain tentang diri kita.

    • Masalah penilaian bisa relatif ya, misalnya nih ga ketahuan penulisnya cewek, km kan tetep melihat buku itu sebagai buku rasa cewek yg ditulis cowok, hehe..
      Ini memang masalah klasik sih, masalah genre dan gender, dan ga hanya penulis, pembaca jg dihadapkan pd stigma yg sama saat baca buku genre tertentu. Dan iya, aku setuju kalimat terakhirmu, makanya makan waktu berabad2.

  2. Pingback: Career of Evil – Robert Galbraith | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s