My Brief History – Stephen Hawking

Title : My Brief History (Sejarah Singkat Saya)
Author : Stephen Hawking (2013)
Translator : Zia Anshor
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Edisi Pertama, 2014
Format : Paperback, viii + 152 pages

Ketika menghadapi kemungkinan mati muda, kita jadi sadar bahwa kehidupan itu layak dijalani dan ada banyak hal yang kita ingin lakukan. (p.45)

Stephen Hawking, salah seorang ilmuwan ternama abad ini, menuliskan kisahnya sendiri mulai dari masa kanak-kanak hingga saat buku ini ditulis. Autobiografi ini menyorot sisi pribadi sang penulis dengan cukup dominan, termasuk sejarah yang melatarbelakangi kehidupannya, dan sudut pandangnya atas banyak hal. Ditulis berdasarkan urutan waktu, meski singkat, perjalanan pribadi, keluarga, dan karirnya tertulis dengan cukup lengkap.

Secara personal, saya memang mengagumi Hawking dari keteguhan tekadnya menjalani hidup dan berkarya dalam kondisi fisik yang semakin melemah karena ALS yang dideritanya. Di tengah keterbatasannya, dia berkeras menggunakan satu-satunya organ tubuhnya yang tidak lumpuh, otak. Membaca kisah ini, kita diajak mendekat pada kondisi yang begitu dekat dengan kematian tetapi begitu jauh dari keputusasaan.

Buku ini tidak hanya menceritakan sisi pribadi, tetapi juga sarat dengan pemikiran Hawking, dalam artian ilmu dan teori yang dipelajarinya. Mulai dari teori steady-state yang dianut saat itu, hingga big bang dan black hole yang ditelitinya. Alih-alih menjabarkan teori tersebut dengan mendetail, Hawking lebih berfokus pada bagaimana dirinya memandang teori tersebut, bagaimana prosesnya memecahkan hal tersebut, sampai pengaruhnya terhadap dirinya serta dunia. Meski demikian, kita masih dapat menangkap inti dari teori tersebut dengan penjelasan singkat tersebut. Gagasan awal kelahiran A Brief History of Time, yang tanpa direncanakan Hawking masih bisa menulis beberapa buku setelahnya, kira-kira berawal dari ini.

Jika saya mesti menghabiskan waktu dan usaha untuk menulis satu buku, maka saya ingin buku itu dibaca sebanyak mungkin orang. (p.111)

Saya yakin hampir semua orang tertarik dengan cara kerja alam semesta, tapi kebanyakan orang tak bisa mengikuti persamaan-persamaan matematika. (p.115)

Ada banyak buku lain berjudul “brief history” ini dan itu sesudahnya, termasuk A Brief History of Thyme. Peniruan adalah bentuk pujian yang paling jujur. (p.118)

Buku ini dilengkapi dengan foto-foto hitam putih yang menunjukkan perkembangan Hawking, tempat-tempat yang pernah ditinggali atau disinggahinya, orang-orang di sekitarnya, dan lain sebagainya. Meski isinya cukup menarik, dari segi penulisan, menurut saya, Hawking terlalu rendah hati untuk menghasilkan memoar yang lebih gemilang. Tetap saja, intisari terpenting dalam buku ini tersampaikan, bahwa nilai kita dalam hidup bukan bergantung dari kondisi kita, tetapi dari bagaimana kita memandang hidup dan kehidupan yang kita miliki.

Saya telah menjalani hidup yang bernas dan memuaskan. Saya percaya bahwa orang-orang yang mengalami cacat fisik harus berkonsentrasi pada hal-hal yang bisa mereka lakukan tanpa terhalang cacat dan tidak menyesali apa yang tak bisa mereka lakukan. (p.145)

Kisah hidup Hawking pernah diangkat BBC dalam sebuah film pada tahun 2004, yang disutradarai oleh Philip Martin, ditulis oleh Peter Moffat, dan dibintangi oleh Benedict Cumberbatch sebagai Stephen Hawking, Lisa Dillon sebagai Jane Wilde, Peter Firth (Fred Hoyle, penganut steady-state), Tom Ward (Roger Penrose, rekan Hawking dalam beberapa teorinya). Alur filmnya kurang lebih sama dengan buku ini—meski bukunya terbit belakangan—termasuk peristiwa penting, perjalanan penyakit Hawking, hubungannya dengan Jane Hawking (née Wilde), serta proses studi, penelitian, dan pembuktian teori-teorinya. Di sisi lain, walau tidak ditunjukkan bertemu langsung dengan Hawking, ditampilkan juga penerima Hadiah Nobel tahun 1978, Arno Penzias (Michael Brandon) dan Robert Wilson (Tom Hodgkins) sehubungan penemuan mereka atas sisa radiasi dari ledakan besar. Meski demikian, kisah dalam film televisi berdurasi 90 menit ini tidak berlangsung sejauh buku ini, tetapi lebih terfokus pada sisi ilmiah dan emosi yang menyertainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s