Scene on Three (119) : An Evolution

SceneOnThree

“And anyway,” continued Miss Flora, “all this making a fuss about things because someone wore or used them seems to me all nonsense. They’re not wearing or using them now. That pen that George Eliot wrote The Mill on the Floss with—that sort of things—well, it’s only a pen after all. If you’re really keen on George Eliot, why not get The Mill on the Floss in a cheap edition and read it.” (The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie; p.30)

Saya termasuk orang yang mudah terpengaruh oleh ‘bungkus’, termasuk Scene on Three ini sejak awal sudah saya buatkan ‘bungkus’ yang penuh makna secara personal. Maka dari itu, kalimat Flora Ackroyd di atas cukup menyindir juga. Apalagi terkadang situasi tidak mengizinkan kita untuk mempertahankan ‘bungkus’ itu selamanya. Mungkin saja pena yang dipergunakan George Eliot itu rusak, lalu malah jadi tidak berfungsi sama sekali. Siapa tahu di bab lima Eliot mempergunakan pena yang lain karena penanya yang itu terselip. Pun jika penanya diganti, kemungkinan The Mill on the Floss menjadi karya yang berbeda itu sangat kecil sekali. Satu-satunya yang dilakukan oleh pena itu adalah menghubungkan pemikiran Eliot dengan dunia, mungkin dia dipilih karena nyaman dipergunakan, atau hanya kebetulan saja pena itu yang terpilih.

Jadi karena saya, sekali lagi, masih sayang dengan Scene on Three karena alasan saya membuatnya sejak awal, tetapi kondisi saya pun ternyata sudah sulit untuk post rutin, bahkan sebulan sekali, dengan terpaksa saya mengorbankan ‘bungkus’ yang sudah saya buat. Jika kalian–para pembaca dan pengunjung blog ini, para pengikut SoT baik yang baru atau lama, yang rutin maupun yang temporer–ingin membuat SoT seperti biasa, silakan memasukkan link kalian di kolom komentar SoT manapun yang kalian temukan. Karena mulai hari ini, saya hanya akan berbagi tanpa ketentuan apa-apa, termasuk waktu. Dua hal yang tetap saya pertahankan adalah scene dan three, dua kata yang ada di judulnya. Artinya, saya akan memposting scene yang menarik untuk saya tepat pada tanggal berunsur angka tiga, tetapi tidak terbatas harus setiap tanggal berapa atau setiap berapa lama.

Saya tahu, perubahan SoT sejak lebih dari setahun lalu, dimana saya mulai tidak rutin blogwalking hingga tidak rutin posting membuat meme ini dengan sendirinya jadi mati. Namun, saya menolak untuk menguburnya, saya akan meletakkannya di kotak kaca, menjadikannya masih terlihat, tanpa memaksanya bekerja terlalu keras.

4 responses to “Scene on Three (119) : An Evolution

  1. Aku juga menolak untuk menguburkannya Bzee, *loh*

    Aku masih pengin main SoT. Punya banyak stok nih habis baca trilogi Inkworld. Moga Bzee ga kapok liat aku nongol lagi di SoT yak, wkwkwk. Maaf baru nongol lagi. Kemarin-kemarin lagi riweuh beresin kerjaan yang numpuk abis ditinggal prajab kurang lebih 5 minggu-an ;(

    • Justru aku merasa bersalah karena ga selalu sempat blogwalking… akhir2 ini agak susah ‘merawat’ blog, baca aja tersendat2😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s