Career of Evil – Robert Galbraith

career-of-evilTitle : Career of Evil
Author : Robert Galbraith (2015)
Publisher : Sphere (imprint of Little, Brown Book Group)
Edition : Paperback edition, 2016
Format : Paperback, 584 pages

…the writings done in blood. –Blue Ӧyster Cult, ‘O.D.’d on Life Itself’ (p.82)

Suatu Senin pagi, Robin Ellacott menjalani rutinitasnya menuju kantor detektif Cormoran Strike. Di depan kantor, seorang kurir sudah menunggu dengan bungkusan yang diharapkan berisi pesanannya. Namun, setelah dibuka, ternyata paket itu berisi potongan tungkai kanan seorang wanita muda beserta pesan yang berisi lirik lagu Blue Ӧyster Cult. Seorang pembunuh gila sedang mengincarnya hanya karena dia asisten Cormoran.

Dari pengamatan awal atas motif dan metode pelaku, Cormoran mencatat empat orang yang sangat dendam kepadanya yang mungkin melakukannya; Terence “Digger” Malleys yang pernah punya riwayat kejahatan mutilasi, Donald Laing yang punya riwayat kekerasan terhadap wanita, Noel Brockback yang punya kecenderungan pada perempuan muda, dan Jeff Whittaker yang pernah menikahi dan membunuh Leda Strike—ibu kandung Cormoran. Keempat orang itu, yang punya catatan kejahatan seksual, kekerasan maupun obat-obatan terlarang, punya alasan yang sangat kuat untuk membenci Cormoran. Hampir bisa dipastikan keempatnya rela melakukan apa saja asal bisa membuatnya menderita, seperti penderitaan yang mereka dapatkan karena campur tangan detektif itu. Oleh karena penjahat ini sudah mengancam orang lain, yaitu Robin, Cormoran merasakan dorongan untuk segera menyelesaikannya dengan efektif. Hubungannya dengan polisi beberapa waktu belakangan sedang kurang baik karena kasus Lula Landry dan Owen Quine, maka dari itu dia menghubungi Eric Wardle yang tidak bermasalah dengannya untuk menangani kasus ini secara resmi. Menyingkirkan Robin dari kasus sudah bukan sebuah pilihan karena asistennya berkeras untuk tidak ‘lari’ dari apa yang sudah seharusnya menjadi pekerjaannya juga. Lagipula, bukankah ini yang selama ini diinginkannya, bekerja di kantor detektif, apapun risikonya. Keduanya harus berkolaborasi untuk menyelesaikannya dengan cepat, meski harus menghadapi bahaya.

Penulis pernah mengatakan bahwa dari ketiga buku Cormoran Strike, dia paling menikmati proses menulis buku ini. Salah satunya karena dia mengeksplorasi lirik lagu Blue Ӧyster Cult di hampir setiap babnya. Alih-alih memberi judul atau angka pada pergantian bab, dia menuliskan sebaris dua baris lirik, atau judul lagu band itu, yang sekiranya mewakili isi bab tersebut. Menurut saya itu sebuah tantangan yang menarik, sekaligus membuat saya penasaran pada band tersebut karena ternyata banyak lirik yang ‘menantang’ serta judul-judul ‘menggelitik’ di sana. Alasan lain adalah penulis mengeksplorasi Britania Raya dengan sangat terperinci. Dalam penyelidikannya, Cormoran harus melakukan perjalanan ke beberapa tempat di belahan utara negaranya. Di sini, penulis tidak sekadar meminjam tempat, dia menggambarkan dengan rinci geografi wilayah tersebut, gaya bangunannya, masyarakatnya, sejarahnya, hingga ke bahasa atau dialek daerah itu.

Is it any wonder that my mind’s on fire? –Blue Ӧyster Cult, ‘Flaming Telepaths’ (p.35)

Sebagaimana dua buku sebelumnya, saya sangat menikmati interaksi personal antara Cormoran dan Robin, juga bagaimana kehidupan mereka dikupas satu per satu. Termasuk hubungan mengharukan antara Cormoran dengan Shanker, pria yang dulu diselamatkan Leda dan hingga kini kerap membantu penyelidikan Cormoran melalui jalur ‘tidak resmi’. Penyelidikan terhadap penjahat di masa lalunya mau tak mau membuka kembali masa lalu Cormoran yang belum diperlihatkan di buku sebelumnya. Apalagi penjahatnya kali ini menggunakan tungkai kanan sebagai ancaman, tungkai yang hilang dari Cormoran. Masalah tungkai ini nantinya mempertemukan mereka dengan orang dengan kelainan ingin memutilasi diri sendiri, gangguan yang sangat sensitif bagi orang yang terpaksa harus diamputasi.

Kali ini, jarak antara Robin dengan bosnya semakin mengecil akibat ancaman yang selain membuatnya harus selalu dalam pengawasan, juga mengalami ketegangan hubungan dengan Matthew—tunangannya, seiring makin dekatnya hari pernikahan mereka. Saya tak menyangka di balik sosok Robin yang efisien itu terdapat masa lalu yang kelam, yang membuat saya semakin kagum padanya. Teror yang diterima Robin mau tak mau menguji keteguhan hatinya, apakah dia mampu mempertahankan kepercayaan diri yang dibangunnya dengan susah payah pasca trauma masa lalu.

It had happened all over again. A man had come at her out of the darkness and had ripped her not only her sense of safety, but her status. (p.504)

Secara umum, buku ini menggambarkan dengan sangat apik bagaimana pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat berjalan beriringan. Bagaimana pada umumnya orang mengatasi gesekan antara kedua aspek tersebut; saat masalah pribadi membuat kita tidak fokus terhadap pekerjaan, atau justru pekerjaan membuat kita lupa pada masalah pribadi hingga menggunakannya sebagai pelarian—disadari atau tidak.

Berbicara tentang karakter, saya rasa tak perlu diragukan lagi dari karakter-karakter yang telah saya sebutkan semuanya memiliki kekuatan dan ciri unik yang menjadikan mereka tergambar utuh dalam benak pembaca. Bahkan hingga karakter-karakter minor, tidak menjadikan mereka digambarkan secara samar. Ada seorang karakter yang muncul hanya sebentar tetapi dialognya sangat terasa menjengkelkan, begitu nyata hingga saat membaca kalimat-kalimatnya, saya bisa merasakan emosi yang sama dengan yang dirasakan oleh Cormoran sekaligus kekhawatiran Robin bahwa orang tersebut akan menimbulkan masalah. Sehubungan dengan kasus, karakter para tersangka yang diselidiki juga menjadi salah satu petunjuk kuat yang membuat saya bisa menebak orangnya, meski saya masih ragu karena satu sandungan yang disimpan oleh penulis sebagai jebakan.

Singkatnya, saya suka sekali dengan segala sisi dalam buku yang kaya dengan berbagai aspek penceritaan ini. Penulis berhasil membangun rasa penasaran, ketegangan, humor, simpati, hingga ketidaksabaran dalam sebuah buku. 5/5 bintang untuk kehidupan yang keras sekaligus indah.

Baca juga kontemplasi saya tentang feminisme dalam serial ini di sini.

You could find beauty nearly anywhere if you stopped to look for it, but the battle to get through the days made it easy to forget that this totally cost-free luxury existed. (p.198)

2 responses to “Career of Evil – Robert Galbraith

  1. Kereeennn… fix bgt nih harus segera baca xD makin tertarik karena bakalan banyak Strike/Robin momentsnya ya mungkin xD hehehe terima kasih utk reviewnya kak^^

    • Yes, aku ga tll suka romance, jd ga bisa bandingin dgn romance ‘pada umumnya’, tapi hubungan Cormoran-Robin di sini aku sukaa, cukup realistis lah. Makasih udah mampir, selamat bertegang & seru ria bacanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s