Menyoal Stigma tentang Komik

Pada post saya terdahulu mengenai sejarah, saya sempat menyinggung sebuah manga yang membuat saya tertarik untuk mempelajari materi sejarahnya. Saya ingat saya terobsesi dengan astronomi sejak kecil. Saya juga ingat saya tergila-gila pada anime Sailor Moon. Jika saya tarik kembali masa itu, kemungkinan besar ketertarikan saya akan astronomi dikarenakan saya suka Sailor Moon, jadi saya penasaran untuk mempelajari ilmu perbintangan.

Kecenderungan orang tua di Indonesia, sejak dulu bahkan hingga sekarang, menganggap bahwa membaca komik hanya buang-buang waktu, menghambat belajar, membuat malas, dan berbagai stigma negatif yang lain. Komik dijadikan kambing hitam, dicap hina, dan dipandang sebelah mata. Padahal, saya adalah salah satu bukti hidup bahwa komik berhasil menggelitik rasa ingin tahu saya dan membuat saya mencari tahu lebih dari buku-buku yang lain. Memang, ada anak yang berhenti di komik, lalu tidak membaca lagi, tidak bergairah belajar, tetapi saya rasa itu kisah yang berbeda. Banyak teman saya di komunitas baca bermula dari komik.

Jika kita menilik dari sisi yang lebih luas, pada intinya komik adalah salah satu bentuk penyampaian informasi.

Comics is a medium used to express ideas by images, often combined with text or other visual information. (source)

Earliest known comic book (source)

Komik sebenarnya sudah dikenal sejak sejarah manusia ada, lihat saja abjad bangsa Mesir kuno yang menggunakan gambar-gambar. Komik sendiri hanyalah bentuk, tidak ada batasan genre dan usia dalam kontennya. Anggapan bahwa komik adalah untuk anak-anak adalah salah besar, karena banyak komik atau manga yang ditujukan untuk dewasa. Kesalahan persepsi ini mungkin salah satu yang menimbulkan antipati orang tua terhadap komik, karena mereka melihat adanya konten yang tidak layak untuk anak.

Mengenai genre pun sesungguhnya beragam, baik fiksi maupun nonfiksi–termasuk sejarah, biografi, dan lain sebagainya. Komik tidak identik dengan budaya populer ataupun konten yang dangkal. Salah satu manga favorit saya, Topeng Kaca (Garasu no Kamen), memiliki konflik yang kompleks, karakterisasi yang utuh, dan dibuat berdasarkan riset yang dalam. Di dalam komik tersebut, kita disuguhkan seluk-beluk dunia akting dan panggung, pertunjukan adaptasi teater/film dari karya sastra dunia, hingga hubungan-hubungan antar manusia yang nyata.

Trajan’s Column; an early precursor to print comics (source)

Memang sebenarnya stigma negatif komik tidak hanya terjadi di Indonesia, karena itulah pada pertengahan abad ke-20 muncul istilah graphic novel (gravel/novel grafis). Pada dasarnya gravel dan komik hampir serupa, istilah gravel muncul untuk alasan marketing, hingga kini istilah tersebut digunakan untuk komik yang berdiri sendiri (stand alone), dengan plot yang lebih kompleks (source). Di Jepang, Yoshihiro Tatsumi memperkenalkan istilah gekiga yang membedakannya dari manga. Gekiga diharapkan menjangkau pembaca yang lebih dewasa dan mewadahi karya yang lebih ‘literer’ (source).

Dalam literature, kita mengenal picture book untuk anak-anak, bahkan illustrated fiction yang tidak selalu untuk anak-anak. Sastra klasik dewasa seperti karya Charles Dickens, George Elliot atau Sir Arthur Conan Doyle termasuk yang diperkaya dengan ilustrasi.

A picture book combines visual and verbal narratives in a book format, most often aimed at young children. (source)

Illustrated fiction is a hybrid narrative medium in which images and text work together to tell a story. It can take various forms, including fiction written for adults or children, magazine fiction, comic strips, and picture books. (source)

Ilustrasi atau gambar berfungsi menegaskan narasi, menyampaikan sesuatu yang tak bisa dinarasikan, melengkapi narasi, atau bahkan menggantikan narasi sama sekali. Sebagaimana lukisan dipamerkan dalam galeri, maka buku juga bisa menjadi galeri yang bergerak.

Jadi sebenarnya tidak tepat menilai sebuah buku dari jumlah ilustrasi di dalamnya, atau bentuk ilustrasinya, atau di rak mana dia menempati toko buku. Menurut saya, komik juga sama seperti novel; ada yang picisan, ada yang mahakarya, sama juga seperti buku nonfiksi yang berupa teks; ada yang menginspirasi atau informatif, ada juga yang berisi omong kosong atau racauan delusional penulisnya. Semuanya kembali pada selera dan preferensi masing-masing dalam melihat konten, bukan hanya sampul.

4 responses to “Menyoal Stigma tentang Komik

  1. wah iya jadi inget dulu sama pembimbing teaterku juga dibilang baca komik itu buang2 waktu, gak penting, dan isinya sampah. rasanya pengin ngamuk sambil ngelempar komiknya Akemi Yoshimura yang bikin aku tergila2 karena ceritanya bagus banget :’)))

    • Sedikit banyak, minat baca anak2 memang sudah ‘dibunuh’ sejak awal oleh stigma. Bersyukur kita yg ga ‘terbunuh’🙂

  2. Eh iya nih, dulu aku suka banget Samurai X a.k.a Rurouni Kenshin, dan aku malah jadi penasaran sama sejarah Jepang zaman itu, sampe bela-belain nyari buku referensinya segala. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s