Charlie and the Chocolate Factory – Roald Dahl

charlie-chocolateTitle : Charlie and the Chocolate Factory/Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib (Charlie Bucket #1)
Author : Roald Dahl (1964)
Illustrator : Quentin Blake (1995)
Translator : Ade Dina Sigarlaki
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan keempat, Januari 2010
Format : Paperback, 200 pages

Charlie Bucket tinggal di sebuah rumah kecil bersama kedua orang tuanya dan keempat kakek-neneknya. Rumah itu begitu kecilnya, dengan makanan yang begitu sedikitnya, dan kemiskinan yang begitu terasa. Tak jauh dari rumah itu, berdiri sebuah pabrik cokelat yang menakjubkan tetapi misterius. Pabrik itu sangat berjaya dengan segala produk dan inovasinya, hingga ketika para pekerja membocorkan rahasia pabrik, pemiliknya—Mr. Willy Wonka memutuskan untuk menutup pabrik itu. Namun, pabrik itu masih tetap mengeluarkan cokelat-cokelat, tanpa ada yang tahu bagaimana prosesnya.

“Mr. Willy Wonka adalah pembuat cokelat paling menakjubkan, paling fantastis, paling luar biasa yang pernah ada di dunia! Kupikir semua orang tahu!” (p.21)

Oleh karena itu, ketika Mr. Willy Wonka mengumumkan akan menyebarkan lima tiket emas ke dalam cokelatnya, dan mengundang anak-anak yang menemukan tiket itu untuk berkunjung ke pabriknya selama sehari, seluruh dunia mengalami kehebohan. Para orang kaya berbondong-bondong memborong cokelat Willy Wonka demi selembar tiket emas. Para penemu tiket emas satu per satu masuk ke berita nasional maupun internasional, karena mereka adalah orang beruntung yang akan menjadi saksi pabrik cokelat paling fantastis di seluruh dunia.

Kehebohan dan pengharapan tak luput menghampiri keluarga Bucket, tapi bagaimana mereka bisa memborong cokelat, sementara untuk membeli makanan yang layak saja mereka tak mampu. Namun, karena judul buku ini sudah menunjukkan bahwa Charlie akan masuk ke pabrik cokelat, saya katakan bahwa keberuntungan sering tak memandang probabilitas.

Dan sekarang, ini petunjuk untukmu: hari yang kupilih untuk kunjungan ini adalah hari pertama pada bulan Februari. Pada hari itu, dan hari itu saja, kau harus datang ke pintu gerbang pabrik pada pukul 10.00 tepat. (p.72)

Keistimewaan dan keluarbiasaan pabrik cokelat Willy Wonka bukanlah mitos. Kelima anak tersebut menjadi saksi bahwa apa saja bisa terjadi dengan tangan dingin Willy Wonka yang jenius dan eksentrik. Selain Charlie, keempat anak yang mendapatkan tiket emas tampaknya bukan anak-anak baik dan manis yang bisa tenang di antara mahakarya itu. Cokelat yang melimpah, Oompa-Loompa sang pekerja yang cekatan, serta berbagai inovasi cokelat yang menggiurkan menjadi ujian bagi anak-anak yang rakus, manja, dan abai terhadap aturan.

Seperti biasa, Roald Dahl berhasil meramu kisah anak-anak yang penuh keajaiban dengan pesan yang begitu tersuratnya bahwa jika kalian nakal, kalian akan mendapat balasannya. Karakter-karakter anak tersebut memang begitu jamak di masyarakat, terutama Dahl juga menyindir mengenai peran orang tua dalam membentuk karakter anak.

Dengan humor khas Dahl, permainan kata-kata, serta sajak-sajak lugas, buku ini cukup mengasyikkan. Sambil membayangkan pabrik cokelat raksasa beserta keseluruhan isinya, kita diajak untuk ikut terkesima bersama para pengunjung, dan bertualang penuh semangat yang menular dari Mr. Willy Wonka.

“Tapi kalau kami membuang televisi,
Apa yang bisa kami lakukan untuk menyenangkan
Anak-anak tercinta kami? Tolong beritahukan!”
Kami akan menjawab dengan bertanya padamu,
“Apa yang biasanya dilakukan anak-anak
tercinta itu?
Bagaimana mereka dulu biasanya disenangkan
Sebelum monster ini diciptakan?”
Sudah lupakah kalian? Apakah kalian tidak tahu?
Akan kami katakan keras-keras dan jelas tentu:
MEREKA… BIASANYA… MEMBACA!
Mereka dulu suka
MEMBACA dan MEMBACA,
DAN MEMBACA, dan MEMBACA, lalu selanjutnya
MEMBACA lebih banyak lagi. Ya Ampun! Astaga!
Separo hidup mereka digunakan untuk membaca buku!
(p.182)

4/5 bintang untuk petualangan penuh manis-pahit cokelat.

Advertisements

2 responses to “Charlie and the Chocolate Factory – Roald Dahl

  1. Pingback: Charlie and the Great Glass Elevator – Roald Dahl | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: The Classics Club Project : Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s