Menilai Buku dari Sampulnya

‘Don’t judge a book by its cover’ sepertinya cukup dimaknai secara idiomatis saja, karena makna literalnya terkadang tidak sesuai dengan pengalaman kita sehari-hari sebagai seorang pembaca. Sampul buku sebagian besar adalah ranah dari penerbit, sangat sedikit penulis mengambil peran dalam pembuatan maupun pemilihannya, kecuali jika penulis adalah ilustrator, atau untuk buku-buku berilustrasi. Saya yakin, hampir semua pembaca pernah tertipu oleh sampul, baik itu positif (sampul jelek isi bagus) maupun negatif (sampul bagus isi jelek, atau sampul tidak mencerminkan isinya). Dan pengalaman itu bisa mengubah cara kita menilai buku dari sampulnya.

Saya sendiri beberapa tahun belakangan mengalami pergeseran cara memilih buku untuk dibeli (atau dibaca jika pinjam). Setelah masuk ke komunitas perbukuan, referensi terhadap buku-buku meningkat sangat drastis. Terlebih setelah era Goodreads, dari yang membeli buku hanya berdasar temuan di toko buku beralih menjadi perburuan buku berdasar resensi positif para pembaca lainnya. Dengan perubahan ini, daftar baca meningkat drastis, peningkatan yang tidak sebanding dengan kecepatan baca. Daftar baca saya pun dipenuhi oleh penulis-penulis tertentu, sederet buku canon, pemenang penghargaan tertentu, dan karena saya suka buku klasik, daftar buku saya semakin panjang karena tidak terbatas oleh waktu terbitnya buku. Hal ini membuat saya menutup sebelah mata untuk penulis yang namanya belum pernah saya dengar. Bukan skeptis, tetapi rasanya waktu sudah sangat berharga untuk mencoba-coba penulis baru, jadi meskipun buku tersebut mungkin bagus, mungkin suatu saat saja saya baca kalau saya sudah dengar banyak hal positif tentangnya.

Namun, terkadang pemikiran semacam itu tidak selalu berlaku sesuai yang diharapkan. Saat berekreasi menelusuri rak buku, baik itu di toko buku reguler ataupun obralan, terkadang ada buku yang begitu menarik kita. Saya termasuk orang yang percaya dengan intuisi, saya percaya dengan penilaian awal saya, terutama jika penilaian tersebut cukup ekstrem. Seperti saat beberapa tahun lalu saya mengunjungi toko buku langganan, dan menemukan sebuah buku dengan judul unik, Pria yang Salah Mengira Istrinya Sebagai Topi. Hanya dari rasa ingin tahu saja, saya membaca sinopsis di belakangnya, menarik karena berisi kasus unik, tetapi saya masih belum yakin akan manfaatnya bagi saya. Awalnya saya tertarik karena penulisnya seorang dokter sungguhan, sehingga kemungkinan buku ini bukan pseudoscience seperti yang sedang marak dekade ini. Apalagi buku ini pertama kali diterbitkan lebih dari 20 tahun sebelumnya, hingga jika masih ‘hidup’ artinya bukan sekadar tren sesaat, tetapi apakah masih relevan? Saya belum mengenal reputasi sang penulis, apakah beliau benar-benar menggunakan ilmu medisnya atau menggunakan ilmu yang lain. Saya juga tidak melihat ada teman-teman saya yang pernah meresensi/membaca buku ini. Terlebih, bukunya diterjemahkan oleh penerbit yang tidak begitu terkenal, yang saya tidak tahu kredibilitasnya. Dalam kondisi normal, saya akan meletakkan buku itu, membayar buku lain yang sudah ada di daftar belanja, pulang, dan bila masih penasaran berselancar lebih jauh tentang Oliver Sacks. Namun, di samping diskon 25% untuk buku baru yang sayang jika dilewatkan, buku ini semacam satu di antara sejuta, yang saya rasa jika saya lepaskan hari itu tak akan saya dapatkan kembali. Saya membayar buku itu (yang harganya relatif mahal di masa itu), dan membacanya segera. Hasilnya? Saya suka sekali! Tidak menyangka buku dengan sampul tidak menarik dari pembelian berdasar intuisi—mirip seperti masa-masa sebelum Goodreads—bisa membuat saya langsung jatuh hati pada seorang penulis, sehingga saya haus mencari karya-karyanya yang lain. Sebuah pengalaman yang sepertinya menyenangkan untuk diulang.

Di antara tumpukan buku belum terbaca di rumah, di sela daftar belanja yang membengkak setiap bulan, karena daftar terbit yang semakin menggila; jangankan buku yang tidak masuk daftar belanja, buku yang sudah masuk daftar belanja pun harus dipilah-pilah mana yang bisa dibeli langsung, mana yang harus ditunda pembeliannya. Jadi, pengalaman mendapatkan buku yang tak terduga hampir seperti angan-angan semu, kenangan masa lalu. Akan tetapi, jika sebuah buku ditakdirkan untuk kita beli (dan baca), tidak ada yang bisa menghalangi buku itu jatuh ke kasir dan kantong belanja kita. Big Bad Wolf Books 2016 di Surabaya menjadi saksi betapa sekeras-kerasnya kita menahan diri untuk kalap, selalu ada jalan untuk ‘buku tak dikenal’ itu masuk. Salah satunya adalah A Cruel Bird Came to the Nest and Looked In bersampul cantik ini. Untuk buku bersampul keras, buku ini termasuk murah, dan sekali lagi, desain sampulnya membuat saya berhenti sesaat untuk sekadar mengelusnya. Seperti kebiasaan saya, mengelus sebentar, baca sinopsisnya, mengucapkan sedikit pujian, lalu berpamitan karena dia bukan termasuk prioritas belanja. Namun, sampul putih biru dengan aksen emas ini sulit untuk saya lepaskan. Baru beberapa langkah meninggalkannya, saya merasa terpanggil untuk kembali dan menyentuhnya kembali, menimbang-nimbang agak lama, untuk kemudian masuk ke dalam daftar ‘tidak ada salahnya dicoba, kalau tidak suka tinggal dijual lagi’ yang harusnya dikosongkan karena ada peringatan ‘memangnya bisa langsung dibaca?’. Tapi toh, dia mendarat di kasir juga.

Kali ini peringatan itu memang benar, selang beberapa bulan setelahnya barulah saya memulai membaca buku ini. Seperti kesan saya di awal, sinopsis buku ini tidak jelas berkisah tentang apa, latar waktu maupun tempatnya juga tidak jelas, saya hanya sedikit terhibur karena penulisnya pernah meraih penghargaan, tetapi bahkan beberapa halaman pertama saya tetap tidak yakin dengan genrenya. Saya bisa menertawakan diri sendiri jika ternyata ini buku romance, atau bisa mengawang-awang jika ini buku fantasi, atau sedikit lebih serius jika ini fiksi sejarah atau sastra kontemporer. Pada akhirnya saya dibawa penulis ke labirin kisah yang tidak jelas tetapi memabukkan. Seperti candu, kisah ini menjadi semacam pelarian sesaat dari buku-buku yang ‘jelas’, penyegaran dari buku-buku yang sudah bisa saya prediksi. Dan pada akhirnya, seusai membaca buku ini, saya merindukan sensasinya. Saya sukses berkenalan sendiri dengan Magnus Mills, dan siap memasukkan buku-bukunya ke dalam daftar belanja yang memang selalu bertambah.

Jadi, sampul buku itu memang sangat penting sebagai bahan penilaian awal, terlebih jika nama penulis, judul buku, ataupun posisinya di rak tidak membuat kita tergerak untuk mengambil buku itu dan membaca sinopsisnya. Mungkin karena pertimbangan itu juga penerbit rela mengeluarkan modal besar untuk desainer sampul buku yang bagus, berlomba-lomba membuat sampul buku yang cantik meski isinya biasa saja, atau membeli hak cipta sampul buku terjemahan untuk pembaca fanatik yang ‘mensakralkan’ sampul buku. Jika buku yang tak dikenal pun bisa melayang ke keranjang belanja akibat sampulnya, bayangkan dengan buku yang sudah dikenal bahkan buku favorit. Penerbit sering menerbitkan ulang buku dengan sampul baru yang cantik, menerbitkan buku klasik yang sudah public domain dengan beragam sampul yang menawan, itu adalah strategi pemasaran yang sangat baik. Tinggal bagaimana kita sebagai pembaca, menyerah pada kecantikan itu, atau bertahan dengan pedoman ‘yang penting isinya (atau harganya)’.

Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com

 

Advertisements

20 responses to “Menilai Buku dari Sampulnya

  1. Kalimat penutupnya tuh ahahaha

  2. Sebagus-bagusnya cover. Lebih penting isinya. 😀

  3. Klo saya nggak beli mbak 😀

  4. Pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya teserah Anda. *ambil, sis, ambil….

  5. Terkadang aku masih sering khilaf ngelihat cover cantik :”

  6. Aku tim beli buku karena sampulnya (alias gampang tergoda) 😂😂

  7. Saya juga masih sering khilaf kalau lihat cover cantik. Tapi kalau sudah pernah baca, tetap ga beli sih..
    Satu lagi selain cover yang sering menarik minat itu judul bukunya. Kalau judulnya unik bikin penasaran juga

    • Iya, kalo sudah baca, apalagi sudah punya, pasti mikir dua kali, atau jalan lain yg cover lama dijual, hehe.

  8. Jadi ini tuh sebenernya ngomongin sampul buku, ato bahwa buku = jodoh alias ga akan ke mana? #eaaa #dikeplak

    Kalo aku mungkin lebih ngutamain isinya ya, ato lebih utama mentingin harganya, hahaha (kayak ente bisa beli aja, Tih).

  9. aku termasuk yg tergoda sama sampul.. wkwkwk

  10. Baca komen2nya, kayaknya kok cuma aku yang ngga tergoda kover buku ya? Aku beli kalo emang pengen buku itu, karena pengarangnya , karena isinya, tau karena diskooonnn mwahahahahaha….

  11. hahaha, kadang nggak bisa dipungkiri kalo sampulnya cakep, bawaannya pengen langsung dibawa ke kasir ya kak, terus waktu liat harganya, eh,,,,, saya langsung pusing… hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s