Buku Fiksi yang Bukan Novel

Saya suka membaca bukan hanya menilai isi dan ceritanya, seringkali saya juga menilai gaya penulisan dan efek yang ditimbulkannya. Seperti gaya William Faulkner yang memberi ritme tersendiri pada kalimat-kalimatnya, atau Italo Calvino yang mengajak kita memasuki kisah di dalam kisah. Begitu pula bentuknya, selain novel ada cerpen (atau kumpulan cerpen ketika sudah dibukukan), novela, play (drama), dan sebagainya. Banyak hal menarik saya dapatkan ketika membaca fiksi dengan bentuk yang berbeda-beda. Saya bukan ahli dalam bidang ini, jadi apa yang saya sampaikan setelah ini adalah murni dari pengalaman dan opini pribadi ya.

Berdasarkan panjang pendeknya karya fiksi dibagi menjadi cerita pendek, novela, dan novel. Sering ketika saya ingin mengenal seorang penulis, saya membaca cerpennya terlebih dahulu, entah itu dari sumber lepas maupun dari kumpulan cerpen yang memuat banyak penulis. Pun ketika ada pilihan antara novel dan novela, maka memilih novela rasanya lebih aman, terlebih dulu saat masih dikejar-kejar reading challenge. Namun, semakin banyak membaca, semakin saya memahami bahwa ketiganya tidak hanya berbeda dari jumlah kata atau jumlah halaman semata. Perbedaan jumlah kata tersebut memberi efek yang nyata pada karya yang dihasilkan; sebut saja tentang kedalaman karakter, konflik, alur, hingga akhir cerita. Cerpen cenderung memberikan kesan mendalam pada episode, sebuah kejadian atau potret, sehingga jarang kita terikat pada sang karakter. Hal yang berkebalikan terjadi pada novel, yang memberi ruang pada kita untuk mendalami karakter, mengalami banyak kejadian dan peristiwa, bahkan bergelut pada keseharian sang karakter selama bertahun-tahun. Lain halnya dengan novela, yang berada di antaranya, dia bisa menceritakan apa saja, dengan kedalaman seperti apa yang diinginkan oleh penulis (atau ditangkap oleh pembaca), tergantung kepiawaian sang penulis. Meski begitu, mungkin pada novela ada beberapa hal yang jatuhnya serba tanggung, tanpa mengurangi kesan yang ditimbulkannya. Ada beberapa kali kejadian, saya justru lebih jatuh hati pada novela seorang penulis ketimbang novelnya. Sebut saja The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway dibandingkan dengan A Farewell to Arms, dan Animal Farm dibanding 1984 milik George Orwell. Novela yang diramu dengan baik sering menimbulkan kesan yang lebih dalam karena rasanya ingin lebih, ingin tahu lebih banyak, ingin kenal lebih dalam, karena sebelumnya sudah ada perkenalan yang cukup membuat kita terikat. Oleh karena itu, saya sering meringis kalau ada syarat membuat resensi dari buku dengan jumlah halaman minimal sekian. Saya paham maksudnya, tetapi tetap saja, saya tidak bisa menahan diri 🙂

Selain bentuk prosa di atas, ada juga karya fiksi yang berbentuk naskah drama (play). Salah satu penulis play paling dikenal hingga hari ini adalah William Shakespeare. Penulis ini pula yang membuat saya memulai membaca karya play sungguhan, setelah sebelumnya pernah membaca versi abridged, terlebih banyak karyanya diangkat di dalam manga favorit saya, Garasu no Kamen. Pertama kali saya membaca karya Shakespeare yang asli adalah A Midsummer Night’s Dream, salah satu lakon Maya Kitajima yang paling berkesan. Awalnya, saya lebih banyak bergelut dengan bahasanya ketimbang dengan bentuknya. Namun, terima kasih pada kak Fanda dan kak Dessy yang pernah membuat tantangan membaca play, saya jadi berkesempatan membaca beberapa play Shakespeare hingga terbiasa, dan sekali waktu bisa mengintip di NoFearShakespeare jika butuh bocoran. Tidak hanya Shakespeare, saya juga berkenalan dengan Oscar Wilde, Luigi Pirandello, Henrik Ibsen, dan membuat saya lebih bisa mengapresiasi karya play yang lain. Walaupun saya belum berkesempatan membaca karya yang lebih tua seperti Greek plays, dari situ saya mulai bereksplorasi sekiranya ada penulis yang sudah saya kenal yang menulis play sebagai sampingan, seperti Sir Arthur Conan Doyle yang menulis ulang The Speckled Band. Saya juga mencoba karya play asli Indonesia, seperti Orkes Madun karya Arifin C. Noer. Dalam beberapa tumpukan buku belum terbaca saya juga ada beberapa naskah drama dari beberapa negara. Meski tidak pernah benar-benar menonton pertunjukan drama di panggung besar, mungkin sedikit banyak dari pengalaman membaca Garasu no Kamen membuat saya lebih mudah membayangkan scene-scene ketika membacanya. Asyiknya membaca play adalah kita bisa membayangkan sedang menonton pertunjukan, kalimat-kalimatnya sederhana khas percakapan sehari-hari, kalaupun dia bermuatan filosofis biasanya tidak terlalu rumit dan panjang. Tentunya setiap penulis memiliki gaya khas sendiri, tetapi secara umum, tema yang berat bisa terasa lebih ringan dengan bentuk ini.

Dengan berkembangnya dunia pertunjukan, sekarang play tidak sebatas pertunjukan panggung, ada yang dinamakan screenplay atau movie script. Sebenarnya saya masih asing dengan bentuk ini karena belum berkesempatan membacanya. Baru beberapa waktu yang lalu saya memulai membaca The Counselor karya Cormac McCarthy—yang belum selesai—dan kesan awal bentuk ini sedikit lebih rumit karena perpindahan adegan bisa sangat cepat, latar tempat dan waktu lebih rumit, karena pada film sudah melalui proses suntingan, berbeda dengan panggung pertunjukan yang semua pengaturannya dikerjakan pada saat pertunjukan. Mungkin akan jauh lebih mudah jika sudah menonton filmnya terlebih dahulu. Lagipula, distribusi film juga relatif tidak sesulit akses menuju gedung pertunjukan drama.

Di tahun yang sama saya berkenalan dengan puisi naratif berkat tantangan baca yang dibuat oleh Listra. Sama seperti play, pembacaan puisi naratif saat itu juga masuk ke dalam rangkaian membaca klasik, dan karena saya masih cukup asing, saya hanya sukses membaca The Raven karya Edgar Allan Poe. Puisi yang bercerita tampaknya tak menjadikannya lebih mudah dipahami dibandingkan puisi biasa, penggunaan lambang-lambang dan kosa kata puitis yang asing untuk saya saat itu cukup menjadi hambatan, dan saya juga belum sempat mencoba karya lain, termasuk Homer yang sudah lama saya incar. Ternyata, saya malah lebih dulu berkesempatan membaca bentuk puisi naratif yang lebih kontemporer, yaitu Out of the Dust karya Karen Hesse. Karena pengalaman membaca puisi naratif saya belum banyak, membaca karya yang lebih baru membuat pemahaman saya lebih baik. Namun, dua saja belum cukup, dan saat pada Big Bad Wolf 2016 Surabaya mempertemukan saya dengan Heartbeat karya Sharon Creech, saya langsung membelinya setelah membuka isi halamannya. Tadinya saya belum ingin membeli buku anak lagi, tetapi bentuk puisi naratif ini membuat saya langsung berubah pikiran, karena, kapan lagi bisa saya dapatkan. Kesimpulan sementara saya saat ini, puisi naratif juga mengalami perkembangan seiring zaman, dan karya kontemporer tentunya lebih mudah dipahami daripada karya klasik. Lalu, kekuatan dari puisi naratif adalah dia bisa menghadirkan ritme tersendiri melalui bait dan rimanya. Dan ritme itu bisa mempengaruhi emosi kita saat membacanya. Penggunaan kalimat yang relatif pendek juga semacam menantang penulis membuat kesan sedalam mungkin dengan kata-kata yang terbatas. Sejauh ini, mereka sudah berhasil. Dan dengan menulis ini, sekaligus mengingatkan diri saya sendiri untuk memasukkan puisi naratif klasik ke dalam daftar baca saya lagi.

Berkat masuk BBI dan berkenalan dengan berbagai pembacalah saya jadi mengenal berbagai karya fiksi yang bukan novel. Jadi, referensi bacaan serta pengalaman membaca saya lebih kaya. Dan nyatanya memang masing-masing bentuk memiliki kelebihan dan keunikannya masing-masing. Setidaknya, jika sedang bosan, saya bisa memilih untuk membaca karya apa lagi yang bukan novel. Ini belum termasuk buku anak bergambar (picture book), komik, kumpulan puisi yang rasanya lebih pas kalau dijelaskan di bawah tema tersendiri, terlebih jika kita melibatkan karya nonfiksi.

Belakangan, saya baru tahu ada satu puisi naratif kontemporer yang diterjemahkan di Indonesia. Sebuah langkah yang baik untuk memperkenalkan pembaca Indonesia pada bentuk fiksi ini. Dan berkat J.K. Rowling, sepertinya banyak orang yang tidak familiar dengan play mulai membaca The Cursed Child, apalagi rencananya juga akan diterjemahkan di Indonesia. Beberapa waktu lalu, saya juga melihat ada yang menerjemahkan Hamlet milik Shakespeare dalam bentuk play, alih-alih menyadurnya ke bentuk novel biasa. Semoga dengan adanya variasi semacam itu, pembaca kita jadi semakin kaya, dan bahkan menemukan pembaca baru. Bagaimana dengan kalian, apakah ada bentuk karya fiksi bukan novel lain yang pernah dibaca?

Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com

 

Referensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Literature
https://en.wikipedia.org/wiki/Fiction
https://en.wikipedia.org/wiki/Prose
https://en.wikipedia.org/wiki/Poetry

Advertisements

11 responses to “Buku Fiksi yang Bukan Novel

  1. Keren banget tulisannya Mbak, pake riset segala ini pasti. Jadi dapat banyak ilmu.

  2. Saya pernah dapat buku Hamlet versi play. Dan sampai sekarang belum dibaca. Itu yang terjemahan, penerbitnya apa ya?

  3. Kalo seingatku, pernah baca di mana gitu ya, waktu nulis cerpen kita harus paham dan pake prinsip “ekonomis”. Jadi, cerpen2 yg ditulis dgn prinsip ini harusnya emang hasilnya lebih nendang daripada novel walopun dia lebih pendek. Aku sendiri penggemar berat cerpen, karena ya itu, singkat tapi nendang.

    Seumur2 aku baru baca Shakespeare satu kali, yg Much Ado About Nothing. Terus aku juga pernah baca play Oedipus, terus juga dramanya Arthur Miller yg tentang Great Depression (ah, aku lupa judulnya 😩). Dan itu berkesan banget. Tapi, karya play yg paling berkesan buat aku tuh judulnya Blackout. Lupa karya siapa, hehehe. Intinya, untuk play aku jg lumayan nyangkut tapi lebih yg karya kontemporer sih.

    Kalo bentuk puisi narasi kayaknya diriku ini belum benar-benar pernah baca. Aku jg belum nemu fiksi bentuk yg lain.

  4. jadi balik ke masa lalu nih kalo ngomongin play.

  5. Jadi inget Dion sama Homernya. Jadi diterjemahin ngga ya itu buku. .____.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s