Memilih Karya Neil Gaiman

source

Sebagai seseorang yang mengaku sebagai penggemar karya-karya Neil Gaiman, rasanya kurang sah bila saya tidak memberikan rekomendasi kepada lebih banyak orang mengenai karya beliau. Sebenarnya, tanpa saya promosikan pun, penulis yang satu ini sudah menunjukkan giginya di mana-mana. Penggemarnya di luar sana juga sudah cukup banyak, sehingga pastilah mereka yang belum pernah membaca karya penulis ini sedikit banyak merasa penasaran dengan tulisannya. Kali ini, saya akan memberi sedikit tips bagaimana memulai membaca karya Gaiman, karya mana yang sekiranya cocok untuk dibaca pertama kali.

Untuk para penggemar fantasi yang tidak pilih-pilih, alias semua karya fantasi dilahap, rasanya tidak akan kesulitan menemukan karya yang disukai dari Gaiman. Buku-buku Gaiman sebagian besar bergenre dark fantasy, jadi bagi yang punya masalah dengan karakter yang bercela, atau tepatnya penuh cela dan kesialan, antagonis yang sadis nan menyeramkan, atau akhir cerita yang tidak jelas bahagia atau tidak, mungkin perlu peringatan sejak awal agar tidak berekspektasi di luar itu. Kecuali, beberapa buku anak-anaknya. Ya, Neil Gaiman selain menulis buku untuk dewasa, juga menulis buku untuk anak-anak. Mari kita bahas satu per satu.

Secara umum, buku dewasa Gaiman memiliki persamaan pada ciri karakter utamanya. Biasanya, karakter di novel-novelnya adalah pria yang bercela. Entah dia gagal dalam pekerjaan, dalam percintaan, tidak populer secara sosial, bahkan bisa menyebalkan. Pokoknya bukan ciri protagonis yang bisa mengundang simpati dengan mudah.

Good Omens (1990)

Hasil kolaborasi dengan Terry Pratchett ini menghadirkan nuansa yang akan berbeda dari karya Gaiman setelahnya. Bisa dibilang ini pertama kalinya penulis ini mengalami masa tenar, berkat kerjasamanya dengan penulis yang sudah senior. Dengan melibatkan ramalan akhir zaman, malaikat, iblis, keduanya menghasilkan kisah yang penuh humor. Buku ini cocok untuk yang jiwanya sedang membutuhkan hiburan.

Neverwhere (1996)

Buku ini memanjakan kita dengan setting kota London, tepatnya London Bawah. Apa itu London Bawah? Bisa dibilang versi ajaib dari London dimana kita bisa menilai seberapa gila imajinasi Gaiman melalui deskripsi dan karakter-karakternya. Tema besarnya cukup sederhana, bukunya tidak terlalu tebal, mungkin sebuah awalan yang ‘aman’.

Stardust (1999)

Kalau Neverwhere mengambil setting yang dekat dengan dunia yang ada di kenyataan, Stardust lebih kepada dunia antah-berantah, Negeri Peri. Dengan pola dongeng yang khas hitam-putih, tetapi suatu saat bisa jadi yang hitam menjadi putih, dan sebaliknya. Buku ini rasanya cocok bagi penikmat dongeng, dengan modifikasi yang lebih dewasa.

American Gods (2001)

Buku yang paling tebal, dan mungkin paling mengintimidasi. Namun, buku ini sangat cocok bagi yang menginginkan pengalaman lengkap dan utuh membaca Gaiman. Buku ini mengandung semua unsur yang bisa membuat kita mengagumi penulis yang satu ini. Jadi, jika masih ada waktu dan kesempatan untuk membaca buku tebal, tak ada salahnya berkenalan dengan Gaiman melalui buku ini.

Anansi Boys (2005)

Buku ini masih berada di dunia yang sama dengan American Gods, bisa dibilang sekuelnya, tetapi dengan karakter ‘sempalan’ yang tidak banyak dibahas di buku sebelumnya. Karakternya relatif lebih tidak menyenangkan, perkembangannya pun tidak drastis, dengan konflik keluarga yang lebih terasa.

Interworld (2007)

Dalam buku ini, Gaiman berkolaborasi dengan Michael Reaves. Buku ini agak berbeda karena genrenya lebih kepada fiksi sains, bahkan sangat kental. Bagi penyuka sains, khususnya yang berhubungan dengan komputer, alam semesta, dan berbagai kemungkinannya, Interworld ini sangat memanjakan otak.

Ocean at the End of the Lane (2013)

Bisa dibilang buku ini adalah karya paling personal, baik bagi penulisnya, maupun bagi saya saat membacanya. Bagi penulisnya, ini memang kurang lebih semacam memori masa kecil—yang tentunya dibumbui dengan berbagai macam hal fantastis. Bagi saya, entahlah, saya merasa seperti berada di dalam mimpi saat membacanya, begitu dekat, begitu familiar, jadi meski tak tahu apa yang bakal terjadi, bahkan tak terduga, tetap merasa semacam ada de javu dari alam bawah sadar saya. Saya tak punya penjelasan yang logis selain bahwa saya ada di bawah sihir Gaiman saat membacanya. Intinya buku ini memang mengenang masa kecil sang karakter yang bagaikan mimpi, hal yang sempat dia lupakan dari pengalaman magis di masa kecilnya perlahan kembali.

Untuk yang merasa tidak siap dengan keabsurdan imajinasi liar Neil Gaiman, mungkin bisa mencoba buku anak-anaknya. Novelnya yang untuk anak memiliki semua unsur fantastis yang menjadi ciri khasnya, tetapi minus karakter menyebalkan, minus kesadisan, minus kejadian tidak menyenangkan, dan seringkali karakternya sangat mudah disukai, meskipun tak menghilangkan unsur gelap dan (sedikit) menyeramkan dalam ceritanya. Satu lagi, jika semua karakter utama dalam karya dewasanya adalah pria, dalam karya anaknya, dia punya protagonis perempuan.
Coraline (2002)

Anak perempuan dengan nama tak lazim ini sempat mengalami petualangan tak lazim di flat barunya. Ada unsur gelap, antagonis yang menyeramkan, tetapi dalam kadar sangat ringan jika dibanding buku dewasanya. Berpusat pada hubungan orang tua dan anak tunggalnya, dengan dibumbui tetangga yang aneh.

The Graveyard Book (2008)

Novel pemenang penghargaan Newbery ini bisa dikatakan sebagai bildungsroman atau coming-of-age, dengan sentuhan dark fantasy atau horor. Sebagaimana judulnya, kisah ini berada di sekitar pemakaman, tepatnya, seorang anak manusia yang dibesarkan di kuburan oleh penghuninya yang (sudah) bukan manusia (lagi). Memang diakuinya sendiri bahwa Gaiman terinspirasi oleh The Jungle Book karya Rudyard Kipling, jadi selain pola pengasuhan anak yang mirip, format kisah ini juga mirip, yaitu terdiri dari bab-bab cerita pendek yang mengisahkan setiap fase pertumbuhan dan perkembangan karakternya dari anak hingga dewasa.

Odd and the Frost Giants (2008)

Buku ini lebih bersahabat untuk anak yang lebih kecil. Bagian tidak menyenangkannya relatif sedikit dan samar, dengan bahasa yang cukup bersahabat untuk anak. Sehingga bagi orang dewasa mungkin ini pengenalan yang lebih lembut. Dengan setting dan karakter yang nantinya akan lebih familiar begitu kejutannya dibuka.

Fortunately, the Milk (2013)

Sasaran usia dan nuansanya sama dengan Odd and the Frost Giants, tidak gelap, tetapi lebih banyak menampilkan adegan dan karakter yang fantastis. Lebih banyak gambar, lebih banyak humor, dan lebih menyenangkan.

Selain itu, beberapa buku anaknya yang lain; The Day I Swapped My Dad for Two Goldfish, The Wolves in the Walls, The Dangerous Alphabet, Blueberry Girl, Crazy Hair, Instructions, Chu’s Day (yang ini berseri), dan Hansel and Gretel bisa dijadikan awalan, dan tetap akan memberikan ciri khas Gaiman, minus keabsurdan dan kegelapan yang semakin pekat pada karya-karyanya untuk usia yang lebih dewasa.

Bagi penyuka komik, mungkin bisa mencoba seri Sandman, saya sendiri belum sempat membaca, tetapi di luar sana komik itu menjadi favorit banyak orang. Sedangkan bagi yang ingin menyelami ide dan pikiran Neil Gaiman, ada kumpulan esainya yang sudah dibukukan, The View from the Cheap Seats. Dan yang sedang hangat adalah Norse Mythology, yang berada di antara fiksi dan nonfikso, yang jelas akan menarik bagi penggemar mitologi Norwegia pada khususnya, dan fantasi pada umumnya. Cerpen Gaiman pun cukup banyak, bagi yang ingin mencecapnya, baik dewasa ataupun anak, antologi bersama penulis lain atau kumpulan cerpennya sendiri, dan beberapa di antaranya bahkan diterbitkan ulang dalam bentuk komik atau buku berilustrasi.

Begitulah kurang lebih gambaran sekilas mengenai karya Gaiman versi saya. Saya tidak bisa memberikan urutan prioritas, karena, pertama akan bias (semuanya bagus tentu saja!), dan yang kedua setiap pembaca memiliki prioritas genrenya masing-masing. Yang pasti, tak berhenti di fantasi, Neil Gaiman memiliki rasa universal pada setiap karyanya, yang memberi sentuhan lapisan dan corak kehidupan nyata yang beragam. Dan, siapa sih, yang pernah memberi karakternya nama ‘Nobody’, ‘Odd’, atau ‘Shadow’, tanpa terkesan aneh?

77471-bbi2bhut2b6-01Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com
Advertisements

6 responses to “Memilih Karya Neil Gaiman

  1. duh odd and the frost giant aku blm punya buku fisiknya nih. yah belum baca juga sih huhu

  2. Aku kalau Gaiman cuma baca Good Omens. Bagiku emang menghibur, cuma kurang nendang klimaksnya. Udah niat juga mau baca American Gods, apalagi mau cetul (sama mau buat nonton tv seriesnya :P). Nungguin juga Norse Myth diterbitkan disini 😀

  3. Yg Anansi Boys itu ternyata sekuel sempalannya American Gods ya mbak? Pantes aku baca kok nada-nadanya agak mirip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s