Selamat 6 Tahun, Bebi

77471-bbi2bhut2b6-01

Selamat ulang tahun yang keenam, Bebi, alias Blogger Buku Indonesia a.k.a. BBI, komunitas blogger buku tercinta! Mungkin hari ini saya tidak akan bermanis-manis membicarakan hal indah bersamamu, semuanya sudah berulang kali saya sampaikan, baik pada ulang tahun yang sebelum-sebelumnya, maupun pada berbagai kesempatan saya menulis dan berbicara tentangmu.

Hari ini, saya memutuskan untuk mengeluarkan segala hal pahit yang selama ini tak pernah tersampaikan pada siapapun. Pada kesempatan yang baik ini, saat semua pembicaraan berpusat padamu, saat semua yang sayang padamu bernostalgia, saat lebih banyak kemungkinan post ini akan terbaca.

Mulai dari mana ya, hari ini rasanya begitu asing, saya tidak mengenal sebagian besar orang-orang di komunitas ini, anggota baru begitu banyak, anggota lama menghilang. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, memang dasar saya saja yang kurang bergaul. Saya hanya ingat bahwa biasanya ada hal yang mempersatukan kita tetapi kini menghilang. Ada momen yang menjadikan member baru bisa cepat akrab dengan member lama, entah itu interaksi di blog, di sosial media, atau di event offline. Hari ini masih seperti itu, kok, tapi ada yang kurang untuk BBI.

Ada hal yang pernah saya sampaikan di forum pengurus, tetapi tampaknya saya berbeda pendapat mengenai hal ini. Mengenai rasa memiliki. Dulu, saat saya masuk BBI di Januari 2012, BBI sudah cukup besar, sudah punya aktivitas, sudah keren lah pokoknya, jadi bisa dibilang saya tidak ikut membangunnya dari awal sekali. Namun, saya, dan beberapa anggota yang kurang lebih ‘seangkatan’ dengan saya punya rasa memiliki yang besar, punya keterikatan yang kuat dengan BBI. Semakin bertambahnya anggota, tentunya perlu ada kepengurusan, yang saya rasa baik untuk menegaskan batasan-batasan suatu komunitas. Kalau dilepaskan begitu saja, napas dan visi misi yang dulu dibangun saat awal bisa saja melenceng. Namun, saya merasa pengurus terlalu kuat memegangi BBI. Semua masalah ‘dipaksakan’ untuk selesai di level pengurus, member yang lain hanya tahu beres. Dan ini mengusik saya, karena bagi saya, masalah-masalah serta hambatan itulah sebenarnya salah satu hal yang menyebabkan rasa sayang kita bertambah, karena kita berjuang bersama. Kalau member, apalagi member baru, hanya tahu masalah selesai, atau ada pendelegasian tanpa mengerti urgensi dan kepentingannya bagi BBI, rasanya pasti berbeda. Mungkin, mungkin, inilah salah satu yang menyebabkan regenerasi tidak berjalan baik. Saya tahu banyak anggota lama, bahkan pengurus sudah bergelut dengan urusannya masing-masing, termasuk saya sendiri. Kehidupan ini dinamis, dan kebanyakan kita akan memasuki masa perubahan dari kehidupan kita; kuliah, bekerja, menikah, memiliki anak, pindah tugas, sedikit sekali dari kita yang sudah ‘mapan’ dalam arti tinggal melanjutkan hidup sampai pensiun tanpa ada gelombang di sana-sini. Namun, sekali lagi, pendapat saya berbeda, dan saya menuliskan ini hanya menyampaikan unek-unek saya, bukan untuk melegitimasi atau memaksakan itu.

Dua tahun terakhir ini saya bersiap untuk memasuki sebuah masa transisi yang ternyata tidak jadi saya lalui. Prosesnya cukup panjang hingga saat ini saya berdiri lagi di titik ini. Saat itu, saya terpaksa mengurangi kegiatan yang saya sukai; membaca dan blogging, serta semua kerepotan divus yang sangat saya nikmati. Saya bahkan memutuskan untuk keluar dari grup pengurus, walaupun masih belum sanggup keluar dari grup divus, padahal saya sudah memberi peringatan jauh-jauh hari saat itu bahwa akan keluar dari divus. Karena sibuk dengan urusan sendiri, saya jadi tidak bisa memberi kontribusi lebih kepada pengurus, makanya lebih baik saya keluar daripada mengetahui ada masalah tetapi tidak bisa membantu, atau lebih parahnya, memberi usulan dan saran, tetapi tidak ada yang sanggup mengeksekusinya.

Mulai tahun ini saya sudah bertekad untuk kembali. Sempat beberapa minggu lalu ada wacana event komunitas di Yogyakarta, dan saya sudah siap untuk menjadi perwakilan BBI mengurus segala kerepotannya (walaupun agak ragu juga). Namun, karena satu dan lain hal kegiatannya dibatalkan, lalu saya berpikir, mungkin memang sebaiknya seperti itu. Bukan karena tidak ada yang mengurus, tapi untuk apa? Mengenalkan BBI? Menjaring member? BBI tidak butuh itu, menurut saya, yang diperlukan BBI hari ini adalah bagaimana merekatkan kembali para member yang sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kita tidak perlu event ke luar, kita perlu lebih banyak event di dalam. Bagaimana caranya? Saya tidak tahu, sungguh tidak tahu, karena itulah saya di sini menyampaikan unek-unek saya, dan bukannya pergi ke forum pengurus dan mengusulkan ini dan itu.

Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya. Saya sadar, banyak pendapat saya tidak populer, utamanya di kalangan pengurus. Namun, apapun yang terjadi, saya tetap sayang BBI, sayang kawan-kawan, member lama ataupun baru, yang sudah kenal ataupun yang belum kenal, karena kita disatukan oleh maskot yang lucu nan menggemaskan ini. Siapa yang tidak gemas coba?

BBI

Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com
Advertisements

18 responses to “Selamat 6 Tahun, Bebi

  1. Halo Zee…

    Lama juga kita ga tuker kabar ya. Paling pas ada Sherlock Holmes aja, hahaha. Dan itu juga Sherlock Season 4 udah selesai *sigh*.

    Aku setuju. Memang butuh banyak event di dalam BBI. Aku juga berpikiran hal yang sama. Makanya aku berusaha ngehidupin lagi grup FB. Sejujurnya.. I’m lost too. Aku juga sama Zee..udah nyaris putus asa gimana biar BBI ramai lagi. Biar saling kenal lagi. Jika Zee bilang di postingan bersedia untuk kembali membantu BBI..then mind to help me? Mind to help others? :’)

    Terimakasih Zee untuk postingannya.

    • *peluk ren*
      Aku selalu siap bantu, Insya Allah, tapi sepertinya lebih cocok kalo bantu kerjaan deh, kalo perencanaan aku payah

  2. Ya ampun, Zee… Ternyata dilemamu lebih rumit ya… *peluk*

    Nah itu dia yang aku soroti juga di postinganku sendiri, soal atmosfer keakraban antar anggota. Yah terlepas dari orang-orang udah pada ninggalin Twitter ato ga lho ya. Kita emang butuh sesuatu banget nih buat ngakrabin anggota lagi, apalagi anggota lama dan baru. Tapi susah juga ya, aku sendiri ga kepikiran gimana caranya. #dikeplak

    Karena aku ini serba terbatas orangnya, kalo mau ada event apa yang bisa ngakrabin anggota insyaallah aku manut aja lah.

  3. Kayaknya masalah seperti ini pasti selalu ada di setiap komunitas dunia maya. Komunitas yg bukan di dunia maya (yg bisa tiap hari ketemu) juga ada pasang surutnya. Ada renggang dekatnya.

    Sebenarnya kita punya banyak wadah untuk mengakrabkan diri. Grup fb ada, forum BBI juga ada. Tapi diskusi tidak cukup menarik minat/perhatian member. Bikin event di situ. Yang paling banyak mengundang perhatian ya kalau ada gratisan. Bikin GA, bikin acara bagi-bagi atau tukar buku. Bikin event kayak Secret Santa lagi.

    Tapi salut deh Bzee bisa menulis “kegelisahan” yg kita sebenarnya rasakan bersama. Saya juga pernah mundur dari pengurus karena alasan kesibukan. Tapi tidak menjadi pengurus pun kita bisa berbuat sesuatu kan buat BBI?

    Semangat ya… BBI bisa terus ada karena “suara-suara” seperti ini,

  4. Ahhh… aku yang newbie member ini jadi ikut merasa berkaca-kaca saat baca postingan Kak Zee ini. Apapun yang pernah dan sedang dialami BBI, semoga bisa semakin mempererat para anggotanya dan bisa membangun BBI jadi komunitas positif yang lebih baik lagi ya…

    • Maaf ya, jadi ikutan galau, hehe… Amin.. Btw, makasih ya udah beberapa kali share review buat CLRP, mohon maaf host nya jarang blogwalking.

  5. Pingback: Sebuah Pengakuan Tentang BBI dan Ucapan Selamat Ulang Tahun | Bukunya Mput

  6. terima kasih mbak Bzee sebagai salah satu jajaran pengurus BBI. maaf ya saya termasuk golongan member-yang-terima-beres. menurut saya istilah ‘selesai di level pengurus’ memang salah satu ciri khas sebuah komunitas berbasis daring yang memiliki pengurus sih. soalnya kalau misalkan 300 member diajak rembug semua tentang satu kegiatan, satu tahun penuh juga belum tentu ada kata sepakat, itupun dengan catatan semua urun pendapat, bukan manut-manut saja. dan akhirnya semua akhirnya kembali ke konsep mangkus dan sangkil. semangat ya Mbak Bzee. kalau ada perlu bantuan, bisa colek-colek kok 🙂

  7. Event macam secret santa itu sebenarnya membantu untuk menjembatani member lama dan baru sih.
    Seenggaknya, aku jadi kenal member2 baru dengan cara itu. Baca riddle yang bikin penasaran, lalu blogwalking dan akhirnya mengenal lebih dekat member-member baru.

    Tapi entah apa yang salah. SS dua tahun terakhir terasa datar. Apa yang salah ya? Dan event apa lagi yang bisa menyatukan bbi ya? I’m lost too

    • Waktu terakhir ikut thn 2014 aku merasa sudah ga sempat blogwalking sih, kak, apalagi harus nyari2 clue seperti dulu.

  8. Ah..aku hanya mendengar cerita-cerita keakraban kalian BBI Joglosemar tanpa pernah ikut acara-acara makan-makannya atau tuker kadonya.
    Akupun berkaca pada diriku, sudah buat apa untuk komunitas. Masih belum apa-apa dengan teman-teman di divisi.
    bagaimanapun, BBI kebanggaanku.

    semoga kita dapat berjumpa lagi, entah di bandung entah di Solo, entah dimana saja, mbak zee 🙂

    • Kan pernah waktu di tempat Oky 😀
      Makasih juga, bang Epi, sudah membawa dan membimbing BBI selama ini, tetap semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s