Belanja Buku di Solo

kota-solo_20151108_174153

Solo adalah sebuah kota yang cukup kecil di Jawa Tengah, dilihat dari segi ukuran. Namun, perkembangan perekonomian dan wisata sepertinya tak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Saya tidak punya datanya sih, cuma melihat pesatnya pembangunan mal dan hotel, serta padat dan macetnya saat hari libur, terutama liburan panjang. Jadi, diiyakan saja lah.

Solo lebih terkenal pada wisata budaya dan kerajinannya; Keraton, Sentra Batik, Pasar Klewer, Pasar Triwindu, Ngarsopuro, atau event-event khusus seperti Festival Payung, Solo Batik Carnival, Festival Kuliner, dsb. Kalau untuk mencari buku, rasanya Solo bukan sebuah tujuan yang terlalu ‘menghasilkan’. Namun, jika suatu saat mampir ke Solo, atau sudah/akan tinggal di Solo, jangan khawatir akan kesulitan mencari buku, karena ada beberapa tempat menarik dengan berbagai karakteristiknya.

Buku Baru

Untuk buku baru yang standar, Gramedia memiliki dua cabang di Solo, satu di Jalan Slamet Riyadi di area Timuran, sedangkan yang kedua ada di dalam mal Solo Square. Kedua Gramedia ini memiliki koleksi cukup lengkap dan terbaru, dan di lokasi Slamet Riyadi sering ada area obralan, baik yang cukup besar di area pelataran, atau yang kecil-kecilan di dekat area parkir basement. Selain itu, Gramedia juga kerap memiliki area kecil di mal-mal yang disebut Gramedia Expo. Biasanya waktunya lebih panjang dari obralan biasa, tetapi tidak permanen, hanya beberapa bulan atau tahun, lalu pindah ke mal yang lain. Untuk kemunculannya biasanya diberitakan di sosial media Gramedia Solo Square.

Untuk buku baru berdiskon, ada Togamas. Tadinya dia berlokasi di Kota Barat, tetapi beberapa tahun lalu sudah bergeser sedikit ke daerah Gendhingan, Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Solo Grand Mall (SGM, tapi jangan tertipu nama ya). Togamas juga sudah membuka cabang di Solo Paragon Mall, dengan koleksi yang relatif tidak selengkap di Togamas pusatnya. Yang menarik dari toko buku ini selain diskon seumur hidup untuk semua buku, ada buku-buku dari penerbit nonmainstream. Bahkan buku-buku sastra seperti terbitan Balai Pustaka dan Dian Rakyat berumur relatif panjang di toko buku, hanya sayangnya definisi sastra di sini agak kabur, jadi buku-buku sastra dari penerbit mainstream termasuk ke dalam novel yang umurnya hanya sekian bulan jika penjualannya kurang baik. Konsep dari toko ini juga inginnya bukan hanya berjualan buku, tetapi menjadi wadah untuk berbagai kegiatan, jadi di tengah area buku anak disediakan juga meja-meja dan alas duduk untuk sekadar membaca-baca, atau kegiatan lain yang diadakan bekerjasama dengan pihak luar. Di antara rak buku dewasa juga tersedia beberapa bangku yang cukup nyaman untuk membaca atau sekadar beristirahat. Kabarnya memang manajer toko ini tak berkeberatan jika pelanggan membaca buku di tempat.

Ada sebuah toko yang paling lama bertahan, sepanjang pengetahuan saya, di antara berbagai toko buku yang sudah tutup sejak menjamurnya penjualan online dan (mungkin) buku bajakan, yaitu Toko Buku Sekawan. Toko ini hampir dua pertiga areanya menjual alat tulis dan peralatan kantor, tetapi sepertiga area bukunya cukup menarik. Walau koleksinya tidak lengkap, banyak buku lama bisa ditemukan di sini, sebagai contoh saya pernah menemukan terjemahan Coraline (Neil Gaiman) dan The Magician’s Elephant (Kate DiCamillo), pada tahun 2012, saat buku itu sudah lama menghilang dari toko buku yang lain. Selain buku fiksi dan nonfiksi umum, buku referensi di sini cukup lengkap. Untuk kalangan medis, penerbit andalan kami adalah EGC, dan toko ini menyediakan puluhan judul dari penerbit ini dalam berbagai bidang.

Untuk buku impor, saat ini sudah ada cabang Books & Beyond di Hartono Mall, yang sebenarnya secara administratif sudah bukan bagian dari kota Surakarta, tetapi masuk kabupaten Sukoharjo. Namun, area ini tak jauh dari Solo, malah dekat dengan perumahan elit hingga diberi nama Solo Baru.

Selain itu, ada juga toko buku yang mengkhususkan menjual buku-buku agama, baik itu agama Islam maupun Kristen (toko yang berbeda tentunya), tetapi tidak akan saya bahas di sini karena, selain cukup banyak, saya juga tidak hapal semuanya.

Buku Bekas

Selain mengais harta karun di toko yang menjual buku nonmainstream di atas, mengobok-obok toko buku bekas memiliki sensasi tersendiri. Buku yang bisa didapatkan sangat beragam dan tidak terduga. Tentunya dengan harga yang relatif sangat murah.

Kios-kios buku yang berjajar di area Belakang Sriwedari sudah sangat dikenal oleh hampir semua penduduk kota Solo. Sejak saya kecil, kios-kios ini menjadi sasaran mencari buku pelajaran dengan harga murah, ketimbang membeli buku baru yang hanya akan digunakan setahun. Namun, di antara buku pelajaran yang merajai hampir seluruh kios, jika jeli kita bisa menemukan buku-buku lain, meski jumlahnya tak banyak. Kadang jika butuh hiburan, saya akan menyusuri kios-kios di sana sambil memasang mata, jika ada buku selain buku pelajaran, saya akan meminta izin penjualnya untuk melihat-lihat dulu. Ada buku terjemahan, buku lokal, sampai buku berbahasa Inggris, dari yang sudah buluk, sampai yang masih bersegel. Hati-hati untuk buku bersegel, sebagian besar bukunya bajakan, tetapi ada juga beberapa buku sisa gudang penerbit yang dijual dengan harga murah tetapi tetap di atas harga buku bajakan. Jika meragukan keasliannya, saya biasanya melewatkan buku bersegel. Komik/manga juga cukup banyak, dengan berbagai kondisinya. Jika beruntung, banyak juga buku-buku bagus yang bisa ditemukan di sana.

Area buku bekas di Alun-Alun Utara hampir sama, bedanya di sini buku pelajaran sangat sedikit, kebanyakan novel, komik, majalah, buku anak-anak atau buku nonfiksi dari berbagai tema. Areanya relatif kecil, jumlah kiosnya tak lebih dari 15, jadi koleksinya memang relatif sedikit. Kebanyakan buku bekas, ada buku bersegel asli, tetapi kebanyakan buku bersegelnya bajakan juga. Di sini saya beberapa kali beruntung, mendapatkan buku impor bekas yang kondisinya masih bagus dengan harga di bawah dua puluh ribu rupiah. Tak jarang juga saya menemukan buku lokal yang sudah langka. Jika dibandingkan di belakang Sriwedari, di sini kita bisa mendapat buku lebih murah dengan usaha yang relatif lebih mudah. Oh ya, area ini jam bukanya juga relatif pendek, hanya sampai jam empat sore saja.

taman-buku-dan-majalah-alun-alun-keraton-surakarta_20150814_114409

Books yang menjual buku impor bekas saya lihat sudah ada di berbagai kota, jadi mungkin sudah tidak asing dengan lapak buku dengan harga seragam ini. Di Solo yang masih bertahan hingga saat ini hanya di area Carrefour di dalam Solo Paragon Mall. Jumlah raknya sudah menyusut sejak awal-awal dibukanya, pun harganya semakin naik. Untuk ukuran buku impor bekas yang tidak terlalu langka, harga-harganya sangat bisa tersaingi dengan toko buku online atau bahkan jika beruntung di lapak buku bekas yang lain. Namun, tak ada salahnya juga menyusuri rak-rak ini, siapa tahu ada buku dambaan yang harganya cukup sepadan. Beberapa koleksi serupa juga ada di Togamas Slamet Riyadi, walaupun hanya mengisi satu petak kecil rak.

Setiap Minggu pagi di GOR Manahan juga bisa ditemukan pasar dadakan, yang setidaknya ada satu lapak penjual buku. Saya sudah cukup lama tidak menengok tempat itu, tetapi sepertinya masih ada. Koleksinya jelas seadanya, bukanya pun pagi saja, sebelum matahari tinggi pasarnya sudah bubar. Akan tetapi, bagi para pemburu buku, keberuntungan itu tak mengenal waktu dan tempat, bukan?

Itulah sebagian tempat belanja buku yang ada di Solo saat ini. Meski tak sebanyak di kota besar, tetapi sepertinya seharian tak akan cukup untuk menyusuri satu per satu buku-buku yang ada di sana. Jadi tak ada salahnya berkunjung, siapa tahu buku incaran kalian terselip di sana.

NB: Maaf saya tidak menyertakan foto dan alamat lengkap masing-masing toko/lapak tersebut karena saya belum sempat mendata. Jika ada yang membutuhkan informasi, bisa cari di Google atau email langsung ke saya (ada di halaman About).

NB2: Karena ini judulnya belanja buku, saya hanya mencantumkan toko buku. Jika ingin wisata buku ke perpustakaan atau kafe buku, tersedia juga koleksi yang bervariasi. Mungkin akan saya buatkan post khusus jika kapan-kapan.
77471-bbi2bhut2b6-01Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com
Advertisements

8 responses to “Belanja Buku di Solo

  1. Neng Togamas sumuk e, Zee. Wkwkwk *kelingan kopdar jaman kapan*

    Uwooo Sekawan masih hidup ya? Wah, jadi inget jaman sekolah dulu kalo tahun ajaran baru pasti beli buku ma alat tulis di sana.

    Eh, aku belum pernah ke alun2 Lor, heuheuheu. Jadi penasaran 😦.

  2. Di Solo lumayan banyak lapak buku bekas, ya. Sampai ada Taman Buku & Majalah. Jadi pengen ke sana.

  3. Ke Solo selalu pendek waktunya.
    Mudah-mudahan bisa menelusuri pasar buku bekas di Solo,

    Alun-Alun Utara

    sepertinya menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s