Nongkrong Gaul Sambil Membaca

Sabtu malam lalu, tepatnya tanggal 20 Mei 2017, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional dan pertama kalinya pemerintah memberlakukan pengiriman paket buku gratis melalui PT Pos Indonesia, Najwa Shihab selaku Duta Baca Indonesia meluncurkan sebuah program yang dinamakannya Pojok Baca. Pertama kalinya Pojok Baca ini dibuka di kota Solo, tepatnya di Markobar, gerai martabak (atau terang bulan) yang ternama di seantero negeri karena inovasinya, dan pemiliknya kebetulan merupakan putra sulung Presiden Indonesia saat ini. Saat datang sekitar pukul tujuh kurang, saya agak beruntung karena mendapatkan tempat strategis (atau sebenarnya tempat itu sudah ditandai tapi saya tidak tahu, haha). Meski undangan pukul tujuh, baru sekitar setengah jam setelahnya, tamu yang ditunggu-tunggu datang.

Sebelumnya saya masih agak samar dengan program ini. Saya datang karena tergerak dengan konsep yang sepertinya menarik. Setelah mendengar penjelasan dari mbak Tamu dan mas Tuan Rumah, barulah jelas bahwa mbak Nana sebagai Duta Baca memiliki ide untuk membangun sebuah ruang membaca di tempat-tempat strategis, guna menebarkan kesukaan membaca. Program ini dimulai dari Markobar dengan proses yang cukup mudah, melalui satu percakapan WhatsApp saja, mas Gibran sudah menerima tawaran untuk merelakan sebagian ruang gerainya diduduki oleh buku-buku. Selanjutnya, Pojok Baca ini akan terus ditambah, baik di cabang Markobar lain, ataupun di tempat-tempat umum, di antara yang sudah direncanakan adalah di stasiun, bandara, bahkan kantor polisi.

Di tempat ini disediakan kotak donasi bagi siapapun pengunjung yang ingin menyumbangkan bukunya, sehingga nantinya buku-buku bisa disebarkan di Pojok-Pojok Baca di seluruh negeri. Mbak Nana menegaskan juga bahwa program ini adalah swadaya, dari kita untuk kita, jadi bukan merupakan ide atau program pemerintah. Untuk saat ini, buku-buku yang sudah ada merupakan sumbangan dari penerbit Literati dan IKAPI, tetapi nantinya Duta Baca Indonesia ini menginginkan adanya sumbangan dari masyarakat dan program kerjasama dengan IKAPI yang berupa diskon khusus, agar terjadi pertumbuhan penerbitan Indonesia yang sehat.

Pojok Baca di Markobar Solo

Selain membahas mengenai Pojok Baca, mbak Nana dan mas Gibran juga membicarakan banyak hal seputar membaca, mulai dari pengalaman membaca buku saat kecil, bagaimana kecintaan terhadap buku dimulai, sampai dengan kondisi perbukuan Indonesia saat ini. Pada acara ini, diundang pula beberapa perwakilan dari Taman Baca Masyarakat di berbagai daerah, baik dari Solo sendiri, Yogyakarta, sampai di Kalimantan dan Sulawesi, yang menceritakan suka duka mereka mengelola taman baca serta pengamatan mengenai minat baca di Indonesia.

Salah satu penekanan dalam diskusi ini adalah minat baca di Indonesia sesungguhnya tidak sekecil yang ada di data UNESCO, setidaknya begitulah menurut mereka yang melihat sendiri bagaimana masyarakat (terutama anak-anak) begitu bersemangat saat diberi akses buku. Saya pribadi sudah lama percaya bahwa pada dasarnya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap buku, yang sebagian besar terkikis saat dewasa jika lingkungan mereka tidak mendukung. Mungkin hal ini bisa menjadi pembicaraan cukup panjang atau bahan penelitian baru, tetapi itu masalah lain.

Pengunjung dalam acara itu cukup ramai hingga tumpah ke luar gerai. Menjelang akhir acara, pengunjung diberi kesempatan bertanya, dan beruntung saya sempat bertanya. Walaupun kalimat saya cukup belepotan, intinya sih saya agak sedikit narsis mengenalkan BBI, dan mengusulkan mbak Nana supaya punya setidaknya 30 menit seminggu acara televisi yang isinya semacam review buku. Ide ini sebenarnya sudah lama terbersit (bahkan sempat saya emailkan ke Mata Najwa dan MetroTV, entah terbaca atau tidak), karena berdasar pengalaman sebagai blogger buku, kadang rasa tertarik seseorang untuk membaca itu timbul karena konten dalam buku itu sendiri, jadi bagian dari kampanye yang tidak seabstrak ‘ayo baca buku’ saja.

Mba Nana yang asli cukup berbeda dari saat membawakan acaranya sendiri, bersama mas Gibran yang sangat irit bicara.

Kembali ke Pojok Buku, sebenarnya ide ini memang tidak benar-benar baru di Indonesia, tetapi sebagian memang tidak berjalan dengan baik. Di Solo saja, setidaknya pernah ada dua atau tiga tempat serupa yang saat ini sudah tutup, karena pada mulanya mereka memang menjual suasana tempat nongkrong sekaligus tempat baca, sedangkan anak muda nongkrong umumnya ya ngobrol-ngobrol atau seru-seruan bersama. Saat acara ini, barulah saya terbersit bahwa mungkin memang cara seperti ini lebih efektif. Pertama, tempat yang dipilih adalah tempat yang sudah mapan, yang sudah memiliki pengunjung tetap, yang sudah menjadi tempat nongrong gaul. Kedua, dengan sedikit pengaruh dari Duta Baca dan mungkin beberapa orang yang sudah memiliki penggemar, setidaknya anak muda akan bisa mulai percaya diri bahwa membaca tidak kontradiktif dengan gaul.

Sejak tahun lalu, di Yogyakarta, teman mbak Ina (Nurina yang juga anggota BBI) membuka Kafe Noice yang dibuka dengan konsep kafe buku. Mbak Ina, saya, dan beberapa teman mencoba meletakkan beberapa buku kami di sana, dan kata mbak Ina, responnya cukup baik sehingga saya sempat menambah beberapa buku lagi di sana. Saya sendiri tidak tahu respon baik yang dimaksud yang seperti apa, tetapi setidaknya ada harapan positif untuk Pojok Buku. Tentunya tantangan pasti ada dan harus siap dihadapi. Seperti saat teman-teman Goodreads Semarang membuat semacam rumah buku yang diletakkan di taman untuk dibaca sambil bersantai di bawah pohon, tetapi tidak lama sampai buku-buku beserta rumahnya dicuri. Semoga dengan adanya faktor-faktor baik pendukung Pojok Baca yang saya sebutkan di atas tadi, mentalitas bangsa kita juga ikut menjadi lebih baik.

Salam literasi!

Advertisements

5 responses to “Nongkrong Gaul Sambil Membaca

  1. Wah, kamu dateng ya, Zee. Eh, aku setuju tuh sama idemu, aku juga pengeeen banget ada acara ulasan buku di TV, biar kayak acaranya Oprah Winfrey dulu itu lho. Kan keren. Juga supaya membaca buku bisa lebih populer lewat jalur tayangan TV. Orang2 kan sukanya nonton TV tuh. Ya, nggak? 😝

  2. Wah, keren banget Mbak share ide tentang review buku di TV. Semoga kelak terealisasi ya, dan ada saluran TV yang tertarik untuk program ini 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s