Melihat Kembali Tantangan 2017

Dua tiga tahun ke belakang, blog ini semakin lama semakin jarang terjamah. Saya sudah menyadari itu sejak lama, dan sudah saya tuangkan dalam resolusi di tahun 2017 lalu. Di akhir tahun ini, saya ingin merefleksikan apa yang terjadi di tahun 2017 ini, dan apa saja target yang sudah tercapai dan apa yang belum.

Untuk target baca, seperti dua tahun sebelumnya, saya tidak memasang target tinggi. Di goodreads saya hanya merencanakan membaca 50 buku saja, tentunya dengan harapan akan bisa lebih dari itu. Ternyata saya bisa mencapai 60 buku, yang walaupun banyak di antaranya buku tipis, juga ada banyak masa saya sulit membaca buku sama sekali, ada waktu saya bisa ‘kesurupan’ membaca hingga 2-3 buku tebal standar berturut-turut. Pun saya juga membaca beberapa timbunan lama yang tampaknya sudah sangat menanti untuk dibaca sejak dulu. Jadi bisa dikatakan saya sudah mencapai target baca saya sendiri. Data bacaan bisa dilihat di laman Goodreads ini.

Sayangnya untuk target review buku, saya masih jauh. Awal bulan lalu saya sempat mengumpulkan buku yang sudah dibaca tapi belum direview di blog. Kebiasaan saya sejak memiliki blog adalah memisahkan buku yang sudah dibaca dan belum dibaca, serta sudah direview (atau tidak direview) dan belum direview. Buku-buku yang belum direview ini belum akan mendapat tempat di rak buku, sehingga memang sangat mengganggu kerapian. Saat saya kumpulkan mencapai satu kardus besar itu, rasanya memang saya berutang banyak. Meski sudah mencoba mengejar dengan Mini Reviews, ternyata masih sulit juga, karena satu dan lain hal. Tampaknya untuk resolusi ini harus dilanjutkan kembali di 2018, karena saya belum menyerah untuk tetap menjadi seorang blogger buku 🙂

Bicara soal review, ada beberapa blog yang saya ikuti belum diubah pengaturan notifikasi via emailnya. Biasanya cukup rangkuman seminggu sekali, tetapi blog kak Astrid dan Dyta ini setiap post email akan langsung masuk. Tidak tahu ini suatu keuntungan atau bukan, kebetulan keduanya masih aktif ngeblog, dan setiap email dari blog mereka masuk, saya sedikit iri dan tergerak untuk ngeblog lagi. Kebetulan juga keduanya adalah blogger favorit saya. Tapi, ya, niat baru bisa dilakukan sebatas niat. Bahkan sesederhana mengubah pengaturan notifikasi saja belum terlaksana. Sebenarnya ada lagi beberapa blog serupa kasusnya, tetapi karena postnya sedang agak jarang, jadi tidak terlalu tampak mengintimidasi.

Menilik resolusi saya di post ini, ada lima poin penjabaran yang saya tuliskan di situ, dan dengan bahagia bisa saya katakan saya sudah menjalankan kelimanya semampunya. Poin pertama, sudah ada beberapa review yang saya tuliskan dari buku yang dibaca tahun sebelumnya. Poin kedua, walau tidak bisa dikatakan saya merawat blog ini dengan baik, ada beberapa ide sudah terwujud dengan baik, terutama di bawah post kategori My Thoughts. Yang akan berkaitan dengan poin keempat juga, di tahun ini saya dua kali berkesempatan menulis di media online, Jurnal Ruang. Tulisan pertama adalah ide yang sudah terbersit sejak bertahun-tahun lalu, yaitu mengenai hubungan antara fiksi klasik (bidang yang saya suka) dengan medis (bidang yang saya geluti), bisa dibaca di sini. Tulisan kedua masih tentang fiksi klasik, kali ini berhubungan dengan membaca dalam bahasa Inggris bisa dibaca di sini. Sebuah pengalaman baru yang memberi beberapa keuntungan, di antaranya tulisan saya diedit menjadi lebih rapi, dan ide saya bisa dibaca khayalak yang lebih luas.

Masih di poin keempat, saya juga melakukan beberapa aktivitas luring. Di antaranya (semacam) workshop menulis resensi buku untuk anak-anak, yang sudah dirangkum partner pengisi saya, Ratih, di sini. Sebelumnya di bulan Januari, tepatnya tanggal 22 saya sempat berbicara mengenai sastra klasik di radio lokal kota saya. Lalu proyek terbesar saya, yaitu keinginan memiliki toko buku indie sekaligus ruang baca umum sudah mulai saya rintis di pertengahan tahun ini. Ruang yang saya beri nama Teras Buku ini merupakan perpanjangan dari Bookish Patronus, toko buku online yang sudah saya rintis sebelumnya. Saya ingin tidak ada dikotomi antara toko buku dengan taman baca, antara pembaca atau kolektor ataupun penimbun. Tidak ada yang lebih unggul atau lebih hina, karena selama kita berdaya untuk buku, kita semua sama di hadapan buku. Memang untuk pelaksanaannya belum seidealis bayangan saya, dan saya pun belum tahu apakah masih bisa berlanjut sesuai dengan niatan awal, tetapi setidaknya melalui tindakan nyata, saya jadi tahu hambatan dan tantangan yang sesungguhnya.

Untuk poin ketiga dan kelima, sudah saya lakukan, terutama pada periode di mana saya membaca dengan cepat, saya menemukan beberapa buku dan penulis yang memuaskan dan membahagiakan. Detailnya akan saya jabarkan di post berikutnya yang berisi kaleidoskop baca saya selama 2017 ini.

Semoga tahun 2018 membawa pengalaman baru yang lebih baik, dan mendatangkan hal-hal baik yang lainnya.

Advertisements

5 responses to “Melihat Kembali Tantangan 2017

  1. Ada namaku disebut Mbak Zee :3. Semangat mba zee, keren bisa buat artikel – artikel tentang membaca.

  2. Pingback: 2018 Reading and Blogging Plan | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s