Mengapa Saya Masih Akan Menjadi BBI: Perenungan di Ultah Ke-7

Hari ini bertepatan dengan ulang tahun BBI (Blogger Buku Indonesia) yang ketujuh tahun. Meski bisa dibilang komunitas ini sedang mati suri, jauh di lubuk hati para anggotanya, kami semua merindukan dan masih mendambakan kelanggengan hidupnya. Pada ucapan di tahun-tahun sebelumnya, saya sudah banyak berbicara tentang BBI sendiri, dan saya rasa tak perlu diulang-ulang lagi. Kali ini saya akan menulis tentang diri saya sendiri, kenapa saya masih mengikrarkan diri sebagai blogger buku, meski bisa dilihat blog ini sendiri sudah bersarang laba-laba.

Sejak beberapa tahun lalu, banyak hal saya lepaskan satu per satu, entah itu dengan terpaksa maupun dengan tujuan pasti. Frekuensi saya mengelola blog pun menurun drastis. Saya tahu ada beberapa hal yang salah, meski belum ada energi ekstra untuk memperbaikinya. Namun, melepaskan blog ini bukan jalan yang akan saya pilih saat ini. Blog buku dan BBI adalah awal dari perjalanan hidup baru saya di 2012, di sini saya menemukan passion, jalan, dan keluarga baru.

Saya tidak pernah lelah berbicara mengenai buku. Meski saat itu saya sudah hampir dua minggu tidak membaca buku, saya tidak bisa melepaskan diri dari hasrat untuk melahap dan membicarakannya. Saya masih mendatangi acara buku, masih memenuhi rak buku dengan buku yang entah kapan bisa terbaca, masih dengan semangat menyebarkan kecintaan untuk ini.

Di BBI, saya menemukan teman untuk merawat semangat ini. Ada anak-anak muda yang masih bersemangat, yang mengingatkan dengan saya saat awal-awal di sini. Ada blogger senior, yang frekuensi blogging dan membacanya sudah jauh menurun, tapi masih menyempatkan membaca dan membicarakan buku dengan apik, meski hanya sesekali. Ada juga blogger senior yang tak surut frekuensi dan kualitas blogging dan membacanya. Mereka semua yang memberi motivasi secara tidak langsung, bahwa ada hari saya akan kembali pada waktunya. Dengan alasan yang sama, saya tidak mengumbar kemalasan dan keterpurukan saya, hanya demi menemukan orang lain ikut termotivasi untuk tetap terpuruk. Biarkan mereka yang bersemangat yang memotivasi kita, bukan sebaliknya.

Saat berbicara di luar blog, di luar komunitas, saya butuh sebuah identitas. Narablog buku adalah identitas yang perlu saya rawat untuk saat ini, demi bisa terus menulis dan berbicara di luar sana. Bukan hanya karena saya belum memiliki identitas lain, tapi juga karena kebanggaan, bahwa dengan membaca dan menuliskannya di blog, saya memiliki kualifikasi untuk secara percaya diri membicarakannya sesuai pengalaman saya.

Saya selalu bangga menjadi pembaca. Saya juga suka menulis, dan alhamdulillah, beberapa tulisan saya satu per satu terbit melalui beberapa media. Namun, saya belum bisa mengidentifikasikan diri sebagai penulis. Saya tahu beberapa orang yang menganggap pembaca itu masih satu level di bawah penulis, bahwa jika kita sudah membaca banyak buku, harus dilengkapi dengan menjadi penulis. Meski begitu, saya tetap merasa pembaca memiliki kelas yang berbeda dari penulis, tidak lebih rendah, tapi berbeda. Pembaca dan blogger ada di kelas para kritikus, yang tidak perlu menulis buku, tapi berhak menilai dan menuliskan apresiasi terhadap sebuah buku. Bahkan apresiasi dan kritikan itu suatu saat bisa saja dibukukan, tapi intinya, tidak semua orang harus jadi penulis dalam artian sempit. Kita bisa menulis apa saja tanpa harus jadi penulis.

Buku-buku yang tersusun di rak buku saya juga kerap menjadi motivasi saya. Perasaan ingin menyusuri halaman-halaman itu, mengabadikan rasa yang muncul saat dalam proses itu. Ada masa dalam hidup, saya menyusun prioritas dan tujuan hidup, tak sekali pun saya berpikir mampu melepaskan hasrat saya untuk mencicip buku-buku klasik, sastra Indonesia, judul-judul, dan penulis-penulis yang sudah saya koleksi. Saya yakin, ikigai saya akan melibatkan mereka.

Terakhir, saya tetap memiliki harapan. Untuk BBI, semoga seseorang yang pernah berniat menghidupkanmu kembali masih memiliki semangat untuk itu dan berhasil mewujudkannya. Saya tetap di sini, menanti hidupmu kembali, meski hanya memberi dukungan dari jauh.

Advertisements

2 responses to “Mengapa Saya Masih Akan Menjadi BBI: Perenungan di Ultah Ke-7

  1. Tulisannya bikin terharu mba :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s