Laut Bercerita – Leila S. Chudori (+sedikit tentang Gramedia Digital)

Hari ini, 20 tahun yang lalu, terjadi sebuah peristiwa bersejarah di Indonesia. Pemerintahan yang dipimpin oleh seorang presiden selama 32 tahun akhirnya tumbang. Orde Baru berakhir, digantikan dengan Era Reformasi. Hari ini, setelah 20 tahun, apa yang kita dapat? Apakah cita-cita para pejuang reformasi sudah tercapai? Apakah pengorbanan mereka setimpal? Saya pribadi menjawab ya, dan tidak. Ya, karena banyak hal baik sudah tercapai hari ini; kebebasan pers, pembangunan yang berkeadilan, perang terhadap korupsi, dan perbaikan birokrasi. Tidak, karena banyak hal kelam di masa lalu yang belum mencapai titik terang. Salah satunya adalah hal yang diangkat dalam buku ini; nasib para aktivis yang dihilangkan saat itu.

36393774Kisah ini dimulai dengan penenggelaman beberapa aktivis mahasiswa yang ditangkap saat itu di Kepulauan Seribu. Latar kisah ini berasal dari rumor yang beredar di waktu tersebut akan adanya tong-tong berat yang dibuang ke laut, yang diduga berisi manusia. Memang sampai saat ini belum bisa dibuktikan, tetapi karena buku ini adalah fiksi, maka sang penulis bebas menulis dari mana saja dan dari sudut pandang mana. Dalam novel ini, penulis memilih untuk mengangkat kisah Biru Laut, yang bercerita dari dasar laut, tempatnya bersemayam terakhir kalinya. Pemilihan sudut pandang ini seolah hendak menjawab tanda tanya mereka yang ditinggalkan, memberi penghiburan dan kepastian bahwa segalanya harus berlanjut: hidup dan perjuangan.

Di tahun 1991, Biru Laut yang merupakan mahasiswa baru di Sastra Inggris UGM ditarik menjadi bagian dari kelompok yang memperjuangkan demokrasi yang sebenarnya. Di masa pemerintahan yang otoriter dan represif, perjuangan itu tidak mudah. Deraan dan siksaan lahir batin menemani langkah mereka, sekaligus mengukuhkan idealisme yang terpatri dalam jiwa mereka. Hingga puncaknya di tahun 1998, penderitaan dan siksaan bukan hanya menjadi milik mereka, tetapi juga keluarga dan orang terkasih. Mereka yang terbiasa bersembunyi dan menghilang, kini tak diketahui jejaknya. Tak ada tanda-tanda hidup ataupun matinya, sehingga harapan belum bisa dipadamkan seutuhnya. Harapan yang terkadang bisa membunuh pelan-pelan.

Bagian kedua buku ini diceritakan dari sudut pandang Asmara Jati, adik perempuan Biru Laut yang awalnya tak memiliki idealisme yang sama mengenai perjuangan, tetapi dipaksa memahami karena hidup yang terjungkirbalikkan kenyataan. Asmara menjadi sebuah suara yang berusaha mengembalikan rasionalitas, dan menghidupkan mereka yang hilang tanpa tangis dan kepedihan.

Buku yang begitu hidup dengan berbagai gambaran peristiwa yang tampak nyata di depan kita, mulai dari hal sepele semacam tips memasak mi instan yang enak, hingga kejar-kejaran yang menegangkan di ladang jagung antara mahasiswa dan aparat. Buku ini menceritakan keseharian para mahasiswa tersebut, dengan segala semangat kemudaan dan naluri mereka sebagai pemuda, idealis tapi manusiawi. Tak hanya perjuangan, di sini ada kisah cinta, kisah keluarga, dan perjuangan akademis. Ada kejadian yang lucu, mengharukan, hingga menyesakkan. Hanya ada satu kekurangan buku ini menurut saya, ada beberapa narasi yang terulang, yang mungkin hendak menekankan sesuatu, tetapi sebenarnya tidak perlu.

Sebuah buku yang penting. Tak mudah untuk menyelesaikan buku ini, karena kita tahu bahwa di balik tokoh rekaan ini ada manusia yang benar-benar nyata. Narasi yang kuat dan suasana yang kelam. Ada sejarah yang mesti diketahui dan dipahami. Saya rasa masih banyak orang tak sadar akan isu ini, bahwa ada sejarah kelam yang masih menggelayut di nusantara, yang menunggu di tempat gelap, sementara pelakunya mulai kembali ke bawah lampu sorot.

“Pada titik yang luar biasa menyakitkan karena setrum itu terasa mencapai ujung saraf, aku sempat bertanya, apa yang sebenarnya kita kejar?”

Kinan mengambil tanganku dan menggenggamnya, “Kekuatan, Laut. Keinginan yang jauh lebih besar untuk tetap bergerak. Ini semua menaikkan militansi kita, bukan memadamkannya.”

(hal.182)

Judul : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori (2017)
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Format : ebook, 394 halaman

wp-1526917187277..jpgPada 27 Januari lalu, saya berkesempatan hadir pada diskusi novel ini yang juga dihadiri oleh penulisnya. Sebelum diskusi dimulai, ada pemutaran film pendek yang diadaptasi dari novel ini. Film yang diproduksi Cineria Films berkolaborasi dengan Dian Sastrowardoyo Foundation ini disutradarai oleh Pritagita Arianegara, dan dibintangi oleh Reza Rahadian (Biru Laut), Ayushita Nugraha (Asmara Jati), Dian Sastrowardoyo (Ratih Anjani—kekasih Laut), juga berderet nama besar lain. Film yang diputar terbatas ini cukup mewakili sinopsis bukunya. Bisa saya katakan bahwa film pendek itu merupakan trailer yang sangat apik dari bukunya.

Oleh karena mustahil mencakupkan seluruh novel dalam film pendek, yang disorot dalam film ini adalah keluarga. Bagaimana kehilangan orang terdekat tanpa tahu nasibnya bisa merusak sebuah keluarga. Memberi harapan yang kosong selama bertahun-tahun, berharap anak, kakak, atau kekasih mereka tiba-tiba kembali, muncul di depan pintu, dan segalanya kembali seperti semula. Membuat mereka hidup dalam angan, hingga lupa untuk hidup di hari ini. Seperti yang disampaikan oleh Asmara Jati di bagian kedua novelnya.

~~~

Buku ini merupakan novel pertama dari Gramedia Digital yang saya baca. Saya masih agak terganggu dengan formatnya. Berbeda dengan ebook dari platform lain yang lebih dulu ada, GD belum mendukung adanya fitur-fitur yang merupakan keunggulan dari ebook secara umum, di antaranya fitur highlight, font adjustment, kemudahan menyalin quotes, apalagi kamus yang built-in. Jadi ya, masih seperti membaca buku berformat pdf biasa, yang merupakan hasil pemindaian buku yang asli, jadi nomor halaman dari kutipan yang saya cantumkan di atas adalah nomor halaman dari buku cetaknya. Buku digital ini juga tampaknya belum memiliki ISBN tersendiri. Saya berharap akan ada perbaikan dari pihak Scoop sebagai pengembang, jadi ke depannya membaca ebook lokal akan sama nyamannya dengan membaca ebook impor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s