Ketika Ibuku Tak Berkata Cinta – Amalia

38503740Judul : Ketika Ibuku Tak Berkata Cinta
Penulis : Amalia
Penerbit  Stiletto Indie Book
Edisi : Cetakan I, Desember 2017
Format : Paperback, 102 halaman

Ibu tak berkata cinta,
Ketika tulangnya hampir patah saat melahirkan,
Tak banyak bersuara berdoa kepada Maha Kuasa,

Dengan penuh cinta merenung kesedihan,
Kedua tangannya berusaha menggapai nada.

(Ketika Ibu Tak Berkata Cinta, hal.44)

Puisi adalah salah satu sarana untuk menyampaikan kisah. Terlepas dari berbagai bentuk puisi modern yang ada saat ini, bagi saya puisi harus mengandung keindahan. Entah itu keindahan bentuk ataupun keindahan isi. Memang puisi tak harus melulu diisi kata dan kalimat berbunga-bunga, pun puisi tak harus bermajas metafora yang rumit dan sulit dipahami.

Pada kumpulan puisi ini, saya menemukan keindahan pada isi, pada makna. Pilihan kata yang digunakan penulis sebagian besar merupakan kata biasa, bukan diksi yang tinggi ataupun asing. Namun, kata-kata yang biasa tersebut disusun menjadi kalimat yang tidak biasa. Kalimat yang susunannya bukan seperti kalimat yang wajar kita ujarkan sehari-hari. Awalnya agak terasa kaku dan sulit dihayati, tetapi semakin lama, tampak penulis semakin luwes mengolah kata-kata, meski masih ada ruang yang luas untuk perbaikan. Puisi-puisi ini ditulis pada rentang tahun 2016-2017, sehingga kita bisa melihat perubahan dari karya penulis, yang semakin lama lebih terasa mengalir.

Terlepas dari itu, puisi-puisi dalam buku ini tampaknya dimaksudkan untuk menyentuh kita secara pribadi. Dan memang seperti itulah puisi, seringkali kita diharapkan menafsirkan puisi tersebut sesuai dengan pemahaman dan pengalaman kita. Jika penulis lihai dalam memainkan kata, pembaca akan terlarut dalam penafsirannya sendiri, yang tentu saja akan lebih berkesan, ketimbang jika dipaksa menelan maksud penulis yang sesungguhnya. Pemilihan temanya sangat dekat dengan keseharian kita, dan ditulis dengan nuansa kesedihan dan melankolis. Meski dikatakan bertema ibu dalam arti yang luas, saya lebih setuju jika dikatakan bahwa tema puisi ini adalah cinta, dalam artinya yang luas. Karena tak hanya ibu, nenek, Ibu Pertiwi, ataupun Tuhan, puisi-puisi dalam buku ini juga mengangkat tentang kehidupan, pekerjaan, semangat, kegagalan, dan penerimaan diri, hal yang menurut saya jauh dari konsep ibu secara luas.

Sebuah buku yang bisa menjadi alternatif bacaan bagi penikmat puisi. Belum istimewa, tetapi bukankah puisi itu dinikmati secara personal?

Dan, maafkanlah. Maafkan aku tidak terima lagi
Meratapi jalan hidupku kembali, tanpa pertanyaan!
Saat kedua kaki melangkah menuju cahaya,
Entah apa yang menunggu aku di sana,
Salam hangat kepada masa depan!
(Masa Lalu, hal.79-80)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s