Gentayangan – Intan Paramaditha

35702080Judul : Gentayangan: pilih sendiri petualangan sepatu merahmu
Penulis : Intan Paramaditha (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Oktober 2017
Format : Paperback, 492 halaman

Cerita mengutukmu saat kau tahu tak ada apa pun yang bisa kau ubah setelah mendengarnya. (hal. 271)

Kau terikat perjanjian dengan Iblis Kekasih. Dia memberimu sepatu merah yang akan membawamu bertualang tanpa henti. Kau, seorang guru bahasa Inggris yang tak pernah pergi ke negara berbahasa Inggris. Kau yang merasa bosan setengah mati dengan hidup yang kaujalani lebih dari seperempat abad. Kau yang merasa belum mencapai apa pun dalam hidupmu. Kini, sepatu merah membebaskanmu sekaligus mengutukmu. Sepatu Iblis yang terkutuk, tapi kau selalu punya pilihan.

Pilihan adalah salah satu kekuatan buku ini. Jalan yang kau pilih akan menentukan bagaimana hidupmu selanjutnya, bagaimana akhir dari perjalananmu (jika ada akhirnya), dan apakah kau akan meraih kebahagiaan—atau apa pun yang kau inginkan—sebagai konsekuensi dari pilihan ini. Hal ini membuat buku ini terasa dekat dengan kehidupan. Dalam hidup, kita selalu berhadapan dengan pilihan dan segala konsekuensinya. Bedanya, dalam kehidupan tak ada jalan memutar.

Pilihan. Saat sepatu merahmu hilang sebelah, apa yang akan kaulakukan, kembali untuk mencarinya, atau meneruskan perjalananmu? Sepatu yang begitu berharga karena membawamu jalan-jalan, atau justru karena dia sepatu Iblis, kau yakin dia akan kembali sendiri. Saat kau bertemu seseorang yang membuatmu nyaman, apakah kau akan dengan rela hati meninggalkan hidup penuh petualangan yang sedang kaunikmati? Apakah kau rela berpisah dengan sepatu merahmu saat melihat ada orang lain yang memerlukan kebebasan, sebagaimana yang kaudapatkan beberapa saat sebelumnya? Apakah kau memilih jalan yang sudah pasti di depan matamu, atau kau akan merawat fantasi dan harapan semu akan sesuatu yang lain?

Penulis fiksi ternyata benar-benar iseng, kalau bukan keji. Mereka bekerja keras menciptakan labirin, mencari orang-orang patuh untuk disesatkan di dalamnya, menikmati penderitaan korban sambil minum kopi dan makan donat. (hal. 319)

Sebuah buku yang mengandung belasan atau puluhan kemungkinan ini, memberikan kita kesempatan menjalani hidup dengan berbagai peluang dan jalan kembali. Di sini, waktu bisa diputar. Jika kita menyesali pilihan yang kita ambil sebelumnya, kita bisa kembali dan mengambil jalan lain, lalu bertemu dengan akhir yang lebih baik. Jika akhir yang kita dapatkan sudah baik, tapi membosankan, kita bisa berandai-andai, bagaimana jika kita memilih jalan yang (mungkin) kurang baik, tapi lebih seru. Atau kembali untuk sekadar memuaskan rasa penasaran tentang “Bagaimana jika aku tadi memilih jalan yang lain?” Sebuah pertanyaan yang mustahil terjawab dalam kehidupan nyata.

Meski begitu, sebagaimana hidup, ada kalanya jalan yang kita lalui tak menyisakan pilihan. Kita dipaksa untuk maju terus, meski mendamba pilihan yang lain. Atau saat kita merasa sudah memilih jalan yang lebih baik, ternyata akhirnya sama saja, tetap di jalan yang sama dengan pilihan sebelumnya. Keputusan yang berbeda bisa saja membawa kita pada akhir yang sama. Kita bisa menyebutnya takdir, atau kau boleh juga mengatakan itu kutukan sepatu merah.

Maafkan kesewenang-wenangan cerita ini, tapi kau tahu bahwa terkadang hidup mencabut semua pilihan. Memilih adalah sebuah kemewahan. (hal. 286)

Buku ini juga berbicara mengenai budaya dan geografi dengan cukup fasih. Mulai dari Indonesia, terutama dari sudut pandang kau (sang karakter utama), yang digambarkan sebagai pemeluk agama mayoritas, tapi tak menjalankan nilai agama sepenuhnya, Amerika Serikat di mata para imigran, serta Belanda dan Jerman dengan sejarah-sejarahnya. Tak hanya itu, aroma fiksi ilmiah, dongeng, legenda, dan misteri akan muncul dalam beberapa pilihan yang kita ambil. Pengalaman penulis mengunjungi dan tinggal di berbagai negara menghasilkan deskripsi yang sangat detail, seolah kita benar-benar berada di tempat itu, merasakan sendiri perjalanan dengan semua indra terbuka. Kritik sosial mau tak mau akan timbul di sana-sini. Dengan kejujuran yang terkadang mengejutkan, penulis tak ragu mengangkat isu sensitif yang terjadi saat ini, maupun yang sudah berlalu, seperti tragedi 1998 dan 1965.

Salah satu hal yang menggelitik adalah bagaimana penulis membuat tafsirannya sendiri atas dongeng dan legenda yang sudah terkenal. Seperti Dorothy dalam The Wizard of Oz yang tak sepolos bayangan kita saat membaca/menonton cerita anak-anak tersebut, juga motif tak-terlalu-durhaka dari sikap Malin Kundang sebelum dikutuk menjadi batu. Perubahan ini membuatnya semakin dekat dengan sebagian besar dari kita, karena tak ada manusia biasa yang benar-benar suci, dan tak ada yang murni keji.

Kau lihat? Betapa sulitnya bicara tentang akar, tanah, dan ikrar setia bila nenek moyangmu seorang pelaut.
Ambillah sauh dan pilih sendiri pengkhianatanmu.
(hal. 28)

Membaca buku ini tentu tak akan menghasilkan pengalaman yang lengkap jika belum menelusuri semua pilihannya. Sehingga ada baiknya saat membaca, kita buat peta sederhana yang mudah diikuti sebagai pemandu jalan agar tidak tersesat saat ingin kembali. Saat membaca buku ini, awalnya saya memilih pilihan pertama dari setiap pilihan yang tersedia hingga tamat. Lalu saya kembali satu langkah, untuk memilih jalan berikutnya, begitu seterusnya. Karena kebetulan pilihan pertama memiliki cabang yang terbanyak, dan pada titik tertentu kita diajak menelusuri hal yang itu-itu saja, muncul rasa bosan. Pada titik jenuh itu, saya meninggalkan pilihan-pilihan yang (kelihatannya) tinggal sedikit, dan memutari jalan yang benar-benar berbeda. Sebenarnya ada untungnya juga mengambil jalan yang urut, karena kita tidak lupa dengan detail kejadian sebelumnya, terutama pada kisah yang panjang dan banyak jalan bercabangnya. Namun, ada kalanya juga jalan memutar yang kita rasa sudah jauh ternyata membawa kita ke peristiwa yang sama. Kalaupun menginginkan perjalanan spontan yang tak direncanakan, buku ini juga bisa dinikmati per satu jalur saja hingga menemukan kata tamat. Lalu lupakan semuanya, dan kembali ke awal lagi, menikmati perjalanan yang jauh berbeda, atau begitu mirip. Intinya, pilih sendiri petualanganmu!

Selain dinikmati sebagai beragam petualangan, secara umum, ada beberapa ide besar yang faktanya terserak di antara petualangan yang banyak itu. Awalnya detail tersebut bisa tampak sebagai pemanis cerita saja, tetapi, saat sudah menemukan tiga, lima, atau sepuluh petunjuk ke hal yang sama, rasanya tak sulit menarik satu benang merah yang menampilkan sebuah kisah sendiri. Terutama tentang asal-usul sepatu merah dan pemilik sebelumnya.

Kau menimang-nimang sepatu merah di pangkuanmu. Ia terlihat lelah namun haus perjalanan, sama sepertimu. Kau selalu mengira petualangan memaksamu menoleh ke belakang, tapi barangkali ia juga sebuah lingkaran—lingkaran setan, tepatnya—terus-menerus, tak putus; kau akan melewati jalan yang sama dan jatuh di lubang yang sama, seperti déjà vu konstan, tapi mungkin, sekali waktu, kau akan beruntung. (hal. 475)

Meski Iblis Kekasih mengatakan tak ada jalan pulang setelah sepatu merah ini, nyatanya buku ini menyuguhkan beberapa definisi untuk pulang. Saya rasa, dengan atau tanpa sepatu merah pun, perjalanan tak akan membawa kita ke ujung yang sama. Segala peristiwa dan kejadian akan mengubah kita, mengubah cara pandang kita akan sesuatu, mengubah cara pandang orang lain tentang kita, begitu pula semua orang di sekitar kita maupun yang kita tinggalkan akan berubah. Pulang tak akan pernah sama. Kau hanya perlu memilih, harga yang menurutmu sepadan.

Kini kau paham mengapa buat mereka yang pergi sekian lama, atau terlalu lama, pulang butuh keberanian. (hal. 428)

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.

Advertisements

2 responses to “Gentayangan – Intan Paramaditha

  1. Zee…!!! repiumu keren sekaleeeee….!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s