Empat Aku – Yudhi Herwibowo

46001914. sy475 Judul : Empat Aku: Sekumpulan Kisah
Penulis : Yudhi Herwibowo (2019)
Penerbit : Marjin Kiri
Edisi : Cetakan pertama, Mei 2019
Format : Paperback, vi+165 halaman

Waktu memang telah dipenuhi zat-zat untuk melupakan. Yang baik akan tergerus. Yang buruk akan menggerus. (Empat Aku, hal.31)

Sebuah kumpulan cerita pendek, 14 dari 15 kisah di buku ini pernah dipublikasikan di berbagai media, terutama sekitar tahun 2010-2017. Kebanyakan kisahnya bernuansa realisme magis yang cukup kuat, tetapi hampir kesemuanya adalah cermin dari kehidupan keseharian kita. Secara tema, cerita-cerita dalam buku ini rasanya tak jauh dari kumcer yang pernah kubaca sebelumnya, Mata Air Air Mata Kumari. Namun, sepertinya penulis tak kehabisan ide-ide yang lebih segar.

Dibuka dengan cerpen Kampung Rampok, yang, sebagaimana judulnya, menceritakan sebuah kampung yang dipenuhi dengan orang-orang dengan latar belakang ‘gelap’, sehingga kampung tersebut ditakuti orang-orang luar. Hingga suatu ketika, ada ketakutan lain yang lebih besar muncul. Kisah kedua, Jendela, merupakan salah satu yang paling berkesan. Tentang seorang pelukis di Belanda, yang kurang lebih bernasib sama dengan Vincent Van Gogh—dan mungkin saja penulis terinspirasi darinya. Empat Aku, cerpen yang menjadi judul kumcer ini ditempatkan dalam urutan ketiga. Setelah dimuat di media massa dan sebelum diterbitkan dalam buku ini, kisah ini pernah diceritakan ulang dalam bentuk drama dan diterbitkan dalam kumpulan Laki-Laki Bersayap Patah.

Kisah mengesankan yang lain adalah Malam Mengenang Sang Penyair. Cerita ini merupakan salah satu yang tidak memiliki unsur magis di dalamnya, kisah biasa tentang seluk-beluk kehidupan dan bisnis kepenyairan. Namun, dari kisah yang biasa ini penulis mampu menggambarkan dinamika hubungan dan perasaan manusia yang mungkin pada suatu saat pernah kita alami juga. Tema-tema yang diusung dalam buku ini kebanyakan berhubungan dengan kaum marjinal, dengan konflik yang dekat, sekaligus kerap diabaikan. Michelle, ma belle mengangkat tema kekerasan pada perempuan, Kota yang Ditinggalkan mengisahkan perubahan sosial masyarakat di generasi yang berbeda. Selain masalah sosial, beberapa kisah juga mengangkat isu lingkungan, di antaranya Kisah Kera-kera Besar yang Pergi Menuju Langit dan Jalan Air.

Sayangnya meski buku ini tak terlalu tebal, masih ada beberapa kesalahan ketik yang agak mengganggu. Saya juga menyadari penulis kerap menggunakan kata ‘tetapi’ atau ‘namun’ di tempat yang sebenarnya bisa saja dihapus. Secara keseluruhan, buku ini bisa dinikmati sesuap demi sesuap, atau jika sudah cukup tenggelam di dalamnya, tak menutup kemungkinan dihabiskan dalam sekali duduk. Kita akan dibawa ke berbagai dunia imajiner, sambil sesekali melirik ke dunia kita, mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa ajaib maupun yang tak ajaib, lalu memikirkan kembali apa yang telah terjadi.

Tapi sudah menjadi naluri, berita kematian selalu memurukkan kita kepada perasaan sedih. Seakan itu tanda untuk menghapus segala kebencian. (Malam Mengenang Sang Penyair, hal.135)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s