Timbunan yang Dipersalahkan

Ada sebuah fenomena di media sosial yang sejujurnya mengusik saya, beberapa pembaca, dan—terutama—penimbun buku. Saya tidak tahu mulai kapan, tetapi entah kenapa tiba-tiba banyak akun media sosial penerbit dan toko buku menyindir-nyindir para penimbun buku. Saya ulangi, akun penerbit dan toko buku. Saya tekankan lagi ya, penerbit BUKU dan toko BUKU, menyindir para penimbun buku, alias PEMBELI setia buku.

Sebenarnya sudah banyak yang mengomentari langsung ketidaksenangannya di akun media sosial yang bersangkutan; terkadang diikuti permintaan maaf, terkadang diabaikan begitu saja, bahkan tak jarang pengikut yang lain ikut merundung yang memprotes. Jadi saya rasa penting untuk menulis ini, sebagai wujud kegelisahan dan protes akan fenomena yang menambah bahan rundungan yang sudah kerap kali diterima oleh pembaca dan pembeli buku.

Sudah bukan informasi baru bahwa tingkat literasi di Indonesia rendah, bahwa buku bukanlah dianggap sebagai kebutuhan, dan buku dicetak tiga ribu eksemplar saja sering tidak habis terjual, bahkan buku-buku yang best seller saja bisa kalah penjualannya dengan buku bajakan. Bukan rahasia juga bahwa penerbit harus putar otak supaya bisa terus beroperasi dan menerbitkan buku-buku bagus, sampai seringkali perlu menanggalkan idealismenya.

Para pembaca biasanya tahu fakta ini, lalu memilih ‘beli dulu, baca nanti-nanti’ dengan berbagai alasannya. Mulai dari yang memang suka membeli buku, yang tidak tahu apakah besok-besok buku ini akan ada lagi di pasar (karena penjualan rendah seringkali tidak dicetak ulang, dan sisa gudang dimusnahkan), sampai yang secara sadar ingin mendukung penulis dan penerbit agar dapat terus menghasilkan buku-buku bagus. Para pembaca ini juga yang biasanya ikut bersuara lantang melawan pembajakan, yang saling bertukar informasi toko mana saja yang sedang diskon, ada sale di mana, penerbit apa yang sedang cuci gudang, juga membagikan info itu ke orang-orang yang belum tahu bahwa buku asli tidak selalu mahal.

Dengan sebegitu banyaknya buku-buku diterbitkan di dunia, tanpa diimbangi waktu baca yang bertambah pula, maka menumpuklah buku yang belum dibaca itu. Oleh karenanya, lahirlah para pembaca yang juga penimbun buku. Para penimbun yang saya kenal jumlahnya mungkin tidak sebanyak orang yang prapesan buku salah seorang penulis ternama, yang seribu buku habis dalam sekian menit, tetapi mereka adalah orang-orang yang konsisten membeli buku, yang mungkin seumur hidupnya pernah membeli lebih banyak buku daripada jumlah sekali cetak sebuah buku. Bagaimanapun juga kita harus ingat bahwa ini Indonesia. Berapa banyak sih orang yang tidak suka membaca akan membeli buku? Maka dari itu, pernyataan yang menyindir penimbun dengan alasan ingin mengkampanyekan baca buku itu saya rasa tidak relevan sama sekali.

Di masa pandemi ini, penjualan buku yang tadinya memang ga bagus-bagus amat jadi terjun bebas. Karyawan dirampingkan, jumlah buku terbit dikurangi, bahkan mungkin beberapa penerbit yang terancam gulung tikar. Di lingkaran orang-orang dalam penerbit beberapa sampai curhat tentang ini, lalu berpesan supaya yang biasa membeli buku tetap membeli buku, demi kelangsungan hidup industri buku. Saya pikir fenomena menyindir penimbun tidak akan muncul lagi, ternyata salah.

Sebetulnya sudah jadi internal joke, setiap ada diskon besar atau prapesan buku yang menarik, kami–para penimbun–saling menanyakan kabar dari timbunan masing-masing sebelum akhirnya kalap berjamaah juga. Cuma kalau yang bercanda dari penerbit atau toko buku, jadinya kok tidak lucu lagi. Para penimbun buku juga terdampak pandemi (siapa sih yang tidak), tetapi dengan adanya penimbun yang tetap membeli buku, walaupun jelas-jelas tidak kehabisan bacaan, itu tolong dihargai. Kalau ada yang bilang terlalu baper atau apa, ya, memang sejak awal membeli buku karena melihat keluh-kesah para pekerja buku itu sudah baper juga. Kalau ada yang bilang bercandaan terlalu dianggap serius, akan saya jawab, “Kalau sekali dua kali bisa dibilang bercanda, tapi kalau berkali-kali dan diulang terus, itu artinya ya memang serius.”

Ada banyak cara kok untuk jadi asyik dan lucu tanpa harus mengeluarkan sindiran yang menyakitkan. Toh penerbit dan toko buku itu tujuan utamanya adalah menjual buku kan. Jadi berfokuslah agar orang-orang membeli buku kalian, bukan membuat orang merasa bersalah karena sudah membeli tapi belum sempat membacanya. Teknik pemasaran yang mendasar adalah memahami cara berpikir target pasar kalian, bukan sekadar berinteraksi dengan pengikut (followers) semata, apalagi kalau followers-nya ditanya sedang baca buku apa, jawabannya buku nikah atau buku tabungan.

 

View this post on Instagram

 

Invented by @dion_yulianto Collected by @destinugrainy Jhunjhungan qita semua.

A post shared by bzee (@bzee125) on

//www.instagram.com/embed.js

6 responses to “Timbunan yang Dipersalahkan

  1. Hi, salam kenal. Aku malah baru tau klo ada yang menyindir penimbun buku dan itu dari kalangan penerbit – toko buku. Sedih juga dengernya karena saya termasuk penimbun buku. Kadang ga bermaksud menimbun, tapi waktu membacanya lebih sempit. Dulu, masih bisa baca di commuter pas mau berangkat kerja. Sebelum pandemi, lebih sulit karena commuter dari tempat saya ke Jakarta padat sekali. Jangankan baca, berdiri enak aja alhamdulillah. Pandemi ini membuat jatah beli buku pun sedikit berkurang, tapi tetap berusaha beli walau masih kekurangan waktu membaca. Yes, WFH malah ga karuan jam kerjanya dan kadang malah merasa lebih sibuk dari biasa.

    Semoga siapapun yang menyindir, menyadari bahwa kita menghadapi pandemi yang sama, walau efeknya berbeda untuk tiap orang but believe me, semua orang dapet ‘jatah’ susah kok di pandemin ini.

    • Hallo, salam kenal. Saya juga kurang tahu itu admin media sosialnya apa kurang briefing atau gimana. Iya, apalagi di masa pandemi ini, jadi terkesan kurang peka dengan keadaan ya. Terima kasih sudah mampir.

  2. Setuju …
    Heran deh sama admin admin ini. Ya sayabtau tujuan mereka pasti baik. Niatnya juga positif yakni agar buku itu dibaca bukan hanya ditimbun. Tapi, bisa kali bikin promosinya yang agak smart gitu, yang nggak nyindir dan judesin pembaca. Yg aneh lagi, yg disindir adalah pembeli produk mereka. Ada urusan apa sih itu akun akun itu kalo buku yg dibeli lalu tidak dibaca? Wong kita beli pake duit kita ya terserah. Misal tidak terbaca kan kelak bisa kami hibahkan atau jual lagi. Markting harusnya seneng produk mereka laku. Lagian, matahari atau ramayana nggak pernah tuh nyindir “Itu bajunya cuma dikoleksi aja, nggak dipake?”

    • Iyaa, nanti kalau penimbun stop beli buku apa ga bingung mereka. Secara timbunan kita mungkin sudah cukup buat bertahun2, hahaha…

  3. Saya kayaknya pernah melihat sindiran ini. Tetapi saat itu tidak tertarik menanggapi.
    Kalau dipikir-pikir, promosi yang dilakukan penerbit atau toko buku dengan menyindir penimbun buku, sangat tidak elok. Sebab mereka yang bekerja di kedua departemen itu, bergantung juga kepada pembeli buku. Harusnya sih mereka membuat tantangan menyelesaikan timbunan agar penimbun buku membeli buku baru lagi. Bukan justru dengan menyindirnya.
    Apa yang mereka pikirkan ya pada saat melempar joke itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s