Category Archives: Additions

Belanja Buku di Solo

kota-solo_20151108_174153

Solo adalah sebuah kota yang cukup kecil di Jawa Tengah, dilihat dari segi ukuran. Namun, perkembangan perekonomian dan wisata sepertinya tak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Saya tidak punya datanya sih, cuma melihat pesatnya pembangunan mal dan hotel, serta padat dan macetnya saat hari libur, terutama liburan panjang. Jadi, diiyakan saja lah.

Solo lebih terkenal pada wisata budaya dan kerajinannya; Keraton, Sentra Batik, Pasar Klewer, Pasar Triwindu, Ngarsopuro, atau event-event khusus seperti Festival Payung, Solo Batik Carnival, Festival Kuliner, dsb. Kalau untuk mencari buku, rasanya Solo bukan sebuah tujuan yang terlalu ‘menghasilkan’. Namun, jika suatu saat mampir ke Solo, atau sudah/akan tinggal di Solo, jangan khawatir akan kesulitan mencari buku, karena ada beberapa tempat menarik dengan berbagai karakteristiknya.

Buku Baru

Untuk buku baru yang standar, Gramedia memiliki dua cabang di Solo, satu di Jalan Slamet Riyadi di area Timuran, sedangkan yang kedua ada di dalam mal Solo Square. Kedua Gramedia ini memiliki koleksi cukup lengkap dan terbaru, dan di lokasi Slamet Riyadi sering ada area obralan, baik yang cukup besar di area pelataran, atau yang kecil-kecilan di dekat area parkir basement. Selain itu, Gramedia juga kerap memiliki area kecil di mal-mal yang disebut Gramedia Expo. Biasanya waktunya lebih panjang dari obralan biasa, tetapi tidak permanen, hanya beberapa bulan atau tahun, lalu pindah ke mal yang lain. Untuk kemunculannya biasanya diberitakan di sosial media Gramedia Solo Square.

Untuk buku baru berdiskon, ada Togamas. Tadinya dia berlokasi di Kota Barat, tetapi beberapa tahun lalu sudah bergeser sedikit ke daerah Gendhingan, Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Solo Grand Mall (SGM, tapi jangan tertipu nama ya). Togamas juga sudah membuka cabang di Solo Paragon Mall, dengan koleksi yang relatif tidak selengkap di Togamas pusatnya. Yang menarik dari toko buku ini selain diskon seumur hidup untuk semua buku, ada buku-buku dari penerbit nonmainstream. Bahkan buku-buku sastra seperti terbitan Balai Pustaka dan Dian Rakyat berumur relatif panjang di toko buku, hanya sayangnya definisi sastra di sini agak kabur, jadi buku-buku sastra dari penerbit mainstream termasuk ke dalam novel yang umurnya hanya sekian bulan jika penjualannya kurang baik. Konsep dari toko ini juga inginnya bukan hanya berjualan buku, tetapi menjadi wadah untuk berbagai kegiatan, jadi di tengah area buku anak disediakan juga meja-meja dan alas duduk untuk sekadar membaca-baca, atau kegiatan lain yang diadakan bekerjasama dengan pihak luar. Di antara rak buku dewasa juga tersedia beberapa bangku yang cukup nyaman untuk membaca atau sekadar beristirahat. Kabarnya memang manajer toko ini tak berkeberatan jika pelanggan membaca buku di tempat.

Ada sebuah toko yang paling lama bertahan, sepanjang pengetahuan saya, di antara berbagai toko buku yang sudah tutup sejak menjamurnya penjualan online dan (mungkin) buku bajakan, yaitu Toko Buku Sekawan. Toko ini hampir dua pertiga areanya menjual alat tulis dan peralatan kantor, tetapi sepertiga area bukunya cukup menarik. Walau koleksinya tidak lengkap, banyak buku lama bisa ditemukan di sini, sebagai contoh saya pernah menemukan terjemahan Coraline (Neil Gaiman) dan The Magician’s Elephant (Kate DiCamillo), pada tahun 2012, saat buku itu sudah lama menghilang dari toko buku yang lain. Selain buku fiksi dan nonfiksi umum, buku referensi di sini cukup lengkap. Untuk kalangan medis, penerbit andalan kami adalah EGC, dan toko ini menyediakan puluhan judul dari penerbit ini dalam berbagai bidang.

Untuk buku impor, saat ini sudah ada cabang Books & Beyond di Hartono Mall, yang sebenarnya secara administratif sudah bukan bagian dari kota Surakarta, tetapi masuk kabupaten Sukoharjo. Namun, area ini tak jauh dari Solo, malah dekat dengan perumahan elit hingga diberi nama Solo Baru.

Selain itu, ada juga toko buku yang mengkhususkan menjual buku-buku agama, baik itu agama Islam maupun Kristen (toko yang berbeda tentunya), tetapi tidak akan saya bahas di sini karena, selain cukup banyak, saya juga tidak hapal semuanya.

Buku Bekas

Selain mengais harta karun di toko yang menjual buku nonmainstream di atas, mengobok-obok toko buku bekas memiliki sensasi tersendiri. Buku yang bisa didapatkan sangat beragam dan tidak terduga. Tentunya dengan harga yang relatif sangat murah.

Kios-kios buku yang berjajar di area Belakang Sriwedari sudah sangat dikenal oleh hampir semua penduduk kota Solo. Sejak saya kecil, kios-kios ini menjadi sasaran mencari buku pelajaran dengan harga murah, ketimbang membeli buku baru yang hanya akan digunakan setahun. Namun, di antara buku pelajaran yang merajai hampir seluruh kios, jika jeli kita bisa menemukan buku-buku lain, meski jumlahnya tak banyak. Kadang jika butuh hiburan, saya akan menyusuri kios-kios di sana sambil memasang mata, jika ada buku selain buku pelajaran, saya akan meminta izin penjualnya untuk melihat-lihat dulu. Ada buku terjemahan, buku lokal, sampai buku berbahasa Inggris, dari yang sudah buluk, sampai yang masih bersegel. Hati-hati untuk buku bersegel, sebagian besar bukunya bajakan, tetapi ada juga beberapa buku sisa gudang penerbit yang dijual dengan harga murah tetapi tetap di atas harga buku bajakan. Jika meragukan keasliannya, saya biasanya melewatkan buku bersegel. Komik/manga juga cukup banyak, dengan berbagai kondisinya. Jika beruntung, banyak juga buku-buku bagus yang bisa ditemukan di sana.

Area buku bekas di Alun-Alun Utara hampir sama, bedanya di sini buku pelajaran sangat sedikit, kebanyakan novel, komik, majalah, buku anak-anak atau buku nonfiksi dari berbagai tema. Areanya relatif kecil, jumlah kiosnya tak lebih dari 15, jadi koleksinya memang relatif sedikit. Kebanyakan buku bekas, ada buku bersegel asli, tetapi kebanyakan buku bersegelnya bajakan juga. Di sini saya beberapa kali beruntung, mendapatkan buku impor bekas yang kondisinya masih bagus dengan harga di bawah dua puluh ribu rupiah. Tak jarang juga saya menemukan buku lokal yang sudah langka. Jika dibandingkan di belakang Sriwedari, di sini kita bisa mendapat buku lebih murah dengan usaha yang relatif lebih mudah. Oh ya, area ini jam bukanya juga relatif pendek, hanya sampai jam empat sore saja.

taman-buku-dan-majalah-alun-alun-keraton-surakarta_20150814_114409

Books yang menjual buku impor bekas saya lihat sudah ada di berbagai kota, jadi mungkin sudah tidak asing dengan lapak buku dengan harga seragam ini. Di Solo yang masih bertahan hingga saat ini hanya di area Carrefour di dalam Solo Paragon Mall. Jumlah raknya sudah menyusut sejak awal-awal dibukanya, pun harganya semakin naik. Untuk ukuran buku impor bekas yang tidak terlalu langka, harga-harganya sangat bisa tersaingi dengan toko buku online atau bahkan jika beruntung di lapak buku bekas yang lain. Namun, tak ada salahnya juga menyusuri rak-rak ini, siapa tahu ada buku dambaan yang harganya cukup sepadan. Beberapa koleksi serupa juga ada di Togamas Slamet Riyadi, walaupun hanya mengisi satu petak kecil rak.

Setiap Minggu pagi di GOR Manahan juga bisa ditemukan pasar dadakan, yang setidaknya ada satu lapak penjual buku. Saya sudah cukup lama tidak menengok tempat itu, tetapi sepertinya masih ada. Koleksinya jelas seadanya, bukanya pun pagi saja, sebelum matahari tinggi pasarnya sudah bubar. Akan tetapi, bagi para pemburu buku, keberuntungan itu tak mengenal waktu dan tempat, bukan?

Itulah sebagian tempat belanja buku yang ada di Solo saat ini. Meski tak sebanyak di kota besar, tetapi sepertinya seharian tak akan cukup untuk menyusuri satu per satu buku-buku yang ada di sana. Jadi tak ada salahnya berkunjung, siapa tahu buku incaran kalian terselip di sana.

NB: Maaf saya tidak menyertakan foto dan alamat lengkap masing-masing toko/lapak tersebut karena saya belum sempat mendata. Jika ada yang membutuhkan informasi, bisa cari di Google atau email langsung ke saya (ada di halaman About).

NB2: Karena ini judulnya belanja buku, saya hanya mencantumkan toko buku. Jika ingin wisata buku ke perpustakaan atau kafe buku, tersedia juga koleksi yang bervariasi. Mungkin akan saya buatkan post khusus jika kapan-kapan.
77471-bbi2bhut2b6-01Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com

#Shakespeare400 : Some About The Bard

william_shakespeare_1609

Hari ini, 23 April 2016 menandai 400 tahun kematian seorang penulis drama, puisi, dan aktor ternama, William Shakespeare. Karena dunia merayakan Shakespeare Week secara besar-besaran, maka saya, sebagai pembaca Shakespeare, rasanya kurang afdol kalau tidak membuat sesuatu. Biasanya, saya akan membuat satu review saja, tapi berhubung saya belum sempat membaca salah satu karyanya lagi, maka saya akan membuat post tentang beberapa fakta mengenai beliau. Sebenarnya, saya belum banyak membaca tentang Bard, pun karyanya yang saya baca baru beberapa saja. Saat membaca plays-nya, saya kebanyakan tidak terlalu memperhatikan detail karena gaya bahasanya yang cukup sulit untuk masa ini. Namun, saya selalu diliputi oleh rasa penasaran tentang penulis yang satu ini, karena satu dan lain hal, dan saya sudah ‘kepo’ dengan karya-karyanya di post ini.

Empat hal tentang Shakespeare yang mungkin sudah banyak yang tahu:

  1. Shakespeare ‘menciptakan’ ribuan kata dan ungkapan bahasa Inggris

Banyak sekali kata dan ungkapan bahasa Inggris yang pertama kali terlacak dari karya Shakespeare. Dia seringkali membendakan kata kerja dan membuat kata kerja dari kata benda, juga menyusun banyak ungkapan yang populer hingga hari ini. Beberapa di antaranya mungkin terjemahan dari bahasa asing lain, atau mungkin digunakan dalam bahasa lisan, atau kata-kata yang biasa dipergunakan dengan cara yang berbeda.

Kata-kata seperti accused, addiction, gossip, bedroom adalah beberapa di antara kata yang diciptakannya (source), sedangkan ungkapan full circle, heart of gold, love is blind, bahkan lelucon klasik Knock knock! Who’s there? dipopulerkan pertama kali olehnya (source). Belum termasuk karya-karya modern maupun klasik yang sengaja menggunakan referensi dari Bard.

2. First Folio yang asli belum mengalami penyuntingan

Sesulit-sulitnya membaca karya Shakespeare hari ini, masih jauh lebih sulit membaca First Folio yang asli. Dalam cetakan yang lebih modern, karya Shakespeare disunting dan diinterpretasikan oleh beberapa editor, meski gaya bahasa dan pilihan katanya tetap dipertahankan. Penyuntingan diperlukan untuk kesalahan ketik (typo), huruf kapital yang tidak pada tempatnya, juga tanda baca yang tidak sesuai (mungkin karena awalnya dibuat untuk kebutuhan pentas). (source)

Satu fakta yang menarik, tapi tidak spesifik untuk Shakespeare, adalah fakta bahwa pada masa itu (Medieval/Elizabethan) huruf u dan v dianggap sama. Jadi saat dicetak pun, kedua huruf tersebut dapat saling menggantikan. Setting mesin cetak saat itu adalah melengkung untuk huruf kecil, dan lancip untuk huruf kapital. Jadi ‘have’ akan tercetak menjadi ‘haue’ dan ‘Upon’ tercetak menjadi ‘Vpon’. (source here and there)

3. Kalimat termasyhur yang kerap dikutip

Saya bukan peneliti ataupun orang yang sangat mendalami karya-karya Shakespeare, jadi saya tidak dalam posisi menganalisis kalimat-kalimat dalam karyanya. Namun ada satu hal yang seringkali menggelitik saya jika melihat orang mengutip kalimat ‘Apalah arti sebuah nama’, dan memprotes bahwa, tentu saja nama itu penting (beberapa kali saya temukan orang Indonesia yang memprotes, kalau orang Barat sepertinya tidak, karena beda budaya dan pendidikan [mereka belajar Shakespeare di sekolah]). Karena nama adalah doa, jadi kita harus membuat nama yang terbaik. Namun, Juliet sedang berbicara tentang hal yang berbeda. Ini kutipan aslinya:

‘Tis but thy name that is my enemy.
Thou art thyself, though not a Montague.
What’s Montague? It is nor hand, nor foot,
Nor arm, nor face, nor any other part
Belonging to a man. O, be some other name!

What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;
So Romeo would, were he not Romeo call’d,
Retain that dear perfection which he owes
Without that title. Romeo, doff thy name,
And for that name which is no part of thee
Take all myself.
(Romeo and Juliet, Act II Scene II)

Romeo menjadi terlarang bagi Juliet karena dia menyandang nama Montague, musuh keluarganya, jadi dia meminta Romeo untuk melepaskan namanya dan dengan nama yang baru pun, Romeo tetaplah sempurna bagi Juliet, layaknya mawar yang tetap harum meskipun disebut dengan nama lain. Jadi bukan masalah mempersoalkan arti kata sebuah nama, tetapi lebih kepada konsekuensi yang akan disandang oleh sebuah nama. Hal ini juga bisa dianggap menyentil beberapa orang yang begitu bangga dengan nama keluarganya, padahal jika dirinya tidak memiliki kualitas yang disandang oleh nama itu, maka tetaplah dia tidak berhak membanggakan dirinya.

Ada sebuah lagu lawas yang kemungkinan besar juga menggunakan kalimat Shakespeare, yaitu “All the world’s a stage” dari As You Like It. Ada yang ingat lirik “dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah, ….”?

4. Beberapa kontroversi

Banyak hal yang tidak tercatat mengenai kehidupan pribadi Bard, seperti tanggal kelahirannya dan detail tentang masa remajanya. Beberapa analisis mengatakan bahwa tanggal lahirnya sama dengan tanggal kematiannya, yaitu 23 April, jadi bisa dikatakan hari ini 452 tahun yang lalu adalah hari lahirnya (happy birthday!). Bahkan ejaan namanya yang asli masih dipertanyakan (kemungkinan bukan yang kita pakai sekarang), tanda tangan yang ditemukan ada beberapa versi. Dengan reputasinya, agak mengejutkan bahwa ternyata kebanyakan keluarga Shakespeare buta huruf (termasuk orang tua, istri dan anaknya). Anak-anaknya meninggal tanpa memiliki keturunan, hingga bisa dikatakan bahwa hari ini tidak ada lagi keturunan langsung Shakespeare. Karya-karyanya sendiri juga menuai kontroversi karena beberapa ahli menganggapnya tidak original.

320px-shakespearemonument_cropped

Shakespeare’s funerary monument in Stratford-upon-Avon

Itulah sedikit mengenai Shakespeare, yang meski sudah meninggal 400 tahun yang lalu, tetapi tetap hidup hingga hari ini berkat karya-karyanya. Bagi yang penasaran dengan tulisan asli Shakespeare tetapi terintimidasi dengan bahasanya, bisa membacanya secara online di No Fear Shakespeare. Saya juga sering menjadikannya referensi jika merasa perlu memastikan sesuatu. Di website itu, kalimat asli disusun paralel dengan kalimat modernnya, jadi nyaman sekali untuk belajar ataupun sekadar membaca untuk hiburan.

Ragam Terbitan Buku Klasik

Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Bandung, saya disambut oleh tiga orang BBI-ers di hari pertama. Aulia, Anastasia, dan Atria mengajak saya ke (salah satunya) Kineruku, yaitu tempat persewaan buku sekaligus menjual buku (juga ada kafenya) yang koleksinya sangat mengagumkan. Di sana, Atria membaca-baca buku 1001 Books You Must Read Before You Die, dan membuka sebuah percakapan mengenai buku klasik. Dari percakapan itu, tercetus kebingungannya mengenai buku klasik yang seringkali berbeda edisi dan ketebalan, padahal judul dan penulisnya sama. Dia pun mengusulkan saya untuk membuat sebuah artikel mengenai seluk-beluk buku klasik.

Buku klasik memang sudah banyak yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sebagian besar juga sudah familiar dengan film adaptasinya. Namun, ada perbedaan besar yang membuat buku klasik masih terbatas keterbacaannya, dibandingkan dengan pembaca lain di luar negeri. Di banyak negara, sekolah mengharuskan untuk membaca buku tertentu dalam kurikulum sastranya, yang tentunya sebagian besar klasik. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, pelajar di luar negeri pasti pernah membaca dan mengkaji karya-karya Shakespeare, Dickens, dan berderet penulis klasik lainnya. Berbeda dengan di Indonesia yang belum memiliki kurikulum kajian sastra, sehingga hanya anak-anak tertentu yang benar-benar suka membaca yang akan benar-benar mencicip karya Marah Roesli, Sutan Takdir Alisjahbana, dan lain sebagainya.

Keterbacaan karya klasik yang tinggi juga dikarenakan adaptasi karya-karya klasik tersebut dalam bentuk yang lebih sederhana. Jika diperhatikan, buku-buku klasik terbitan Penguin, Wordsworth, Vintage, dan lain-lain seringkali mencantumkan label ‘complete and unabridged’, yang artinya, buku tersebut diterbitkan secara utuh, sesuai dengan aslinya, sama dengan yang dituliskan oleh penulisnya. Dalam artikel yang saya tulis mengenai sastra klasik anak di sini sempat saya singgung sedikit mengenai versi sederhana dari buku klasik dewasa yang ditujukan untuk pembaca anak. Lebih detailnya, inilah sebagian contoh dari penyederhanaan tersebut:

abr-bb

Reader Digest

Paling mudah memang menemukan kata abridged, atau simplified, atau condensed, atau retold by, diikuti nama penulis lain yang menyederhanakannya. Kisahnya tetap milik si penulis asli, tetapi susunan kalimatnya sudah jauh berbeda, karena diceritakan ulang oleh penulis lain.

Penulisan ulang tersebut biasanya menyesuaikan sasaran pembacanya. Beberapa penerbit buku ajar biasanya memiliki penggolongan usia atau tingkatan ini. Jadi kisah klasik tidak sekadar dipersingkat saja, tetapi diperhitungkan, berapa kosa kata yang tercakup di dalamnya, seberapa kompleks kalimatnya, dan mungkin penghilangan konten-konten yang tidak cocok untuk anak usia sasaran.

4 1

2

Seri Easy Classics terbitan India, yang pernah dijual di toko buku Indonesia

Penerbit Indonesia sebenarnya pernah memiliki seri klasik semacam ini. Masih dalam bahasa Inggris, tetapi mungkin pembacanya terbatas sehingga sekarang sudah jarang ditemukan. Saya sendiri pertama kali belajar membaca dalam bahasa Inggris melalui seri-seri semacam ini, sekaligus menumbuhkan kecintaan saya pada buku klasik.

OurMutualFriend

Penerbit Dian Rakyat

3

Penerbit Gramedia

Buku klasik, dewasa maupun anak-anak, seringkali disertai ilustrasi. Biasanya hitam putih, karena memang pada masanya, mesin cetak masih sederhana. Meski berilustrasi, buku klasik yang asli tidak pernah disebut edisi ilustrasi, kemungkinan hanya mencantumkan ‘dengan ilustrasi oleh’ atau sejenisnya. Namun, edisi ilustrasi seperti di bawah ini menunjukkan bahwa ilustrasi sengaja dibuat untuk menarik pembaca yang lebih muda.

abr-ttm

Jika ada buku klasik berilustrasi–terutama jika ilustrasinya tidak sesuai dengan usia pembaca buku tersebut–kita patut curiga bahwa buku tersebut abridged. Namun, tidak semua buku berilustrasi itu abridged, bisa jadi memang aslinya berilustrasi, atau karena buku itu buku anak-anak, penambahan ilustrasi untuk menarik pembaca bisa dengan tidak mengorbankan isi di dalamnya. Seperti buku ini:

Illustrated and unabridged

Illustrated and unabridged

Jadi memang kita perlu sedikit membolak-balik buku tersebut untuk mencari keterangannya, terlebih jika tebal bukunya menjadi tak jauh berbeda dengan buku yang asli. Lain halnya jika kita sudah mengetahui bahwa buku aslinya di atas 300 halaman, kemudian mendapati edisi ilustrasi yang di bawah 200 halaman, kita hampir bisa mengambil kesimpulan yang benar.

Lalu, ada juga yang membuatnya menjadi komik atau manga, sehingga bukan hanya berilustrasi, tetapi kisah tersebut diceritakan melalui gambar. Dengan bentuk seperti ini, kemungkinan ada jenis pembaca baru yang akan menikmati karya klasik.

abr-nf

Yang menurut saya paling ekstrem adalah saduran yang dilakukan oleh Disney. Biasanya buku Disney mengikuti kartunnya, dan jalan ceritanya bisa jadi cukup berbeda dengan aslinya.

abr-hnd

Masalah mungkin muncul pada buku terjemahan bahasa Indonesia. Saya belum menemukan penerbit Indonesia yang memberi keterangan masalah abridged-unabridged ini, padahal bagi sebagian pembaca, itu penting. Tidak semua pembaca membaca untuk sekadar tahu ceritanya.

abr-ak

Anna Karenina terbitan Narasi ini tebalnya tak lebih dari 200 halaman. Bagi yang belum tahu, Anna Karenina yang asli tebalnya lebih dari 700 halaman, sehingga versi ini jelas sangat sederhana. Meski begitu, tampaknya versi ini tidak dibuat untuk menjadi children-friendly juga.

abr-lm

Tanpa tahu aslinya pun, buku klasik dewasa setebal kurang dari 200 halaman memang patut dicurigai sebagai versi sederhana, tetapi bagaimana dengan Les Miserables terbitan Bentang ini? Dengan tebal lebih dari 600 halaman, orang mungkin bisa salah mengira bahwa buku ini versi lengkapnya. Namun sayangnya tidak, Les Miserables yang asli tebalnya lebih dari 1000 halaman. Oleh karena tak selalu ada keterangan dalam bukunya, membaca buku klasik versi bahasa Indonesia memang agak tricky, perlu kejelian dan ketelitian untuk mengetahuinya.

Adanya terjemahan klasik dalam bentuk yang sederhana mungkin baik bagi pembaca Indonesia yang masih terintimidasi untuk membaca buku klasik yang tebal dan lambat. Saya melihat banyak penerbit mengeluarkan seri klasik, yang dari segi produksi jelas lebih murah karena tidak perlu membayar hak cipta lagi, tetapi saya rasa keterangan mengenai abridged-unabridged perlu dicantumkan. Dan jika itu abridged, maka si pencerita ulang-lah yang memegang hak ciptanya, sebagaimana penerjemah memegang hak atas terjemahannya (yang biasanya hak itu dibeli oleh penerbit).

Itulah sekilas cara mengenali buku klasik dari saya. Semoga bermanfaat.

How Literate are We?

Tanggal 8 September yang lalu, dunia memperingati International Literacy Day yang ke-49. Sebagai blogger buku, literasi atau keaksaraan adalah hal paling dasar yang harus dikampanyekan. Jangankan mengajak orang membaca buku tertentu, sebagian dari populasi kita ternyata tidak sedikit yang masih buta huruf. Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat data mengejutkan tentang tingkat literasi di salah satu negara maju–yang notabene jauh sekali jika dibandingkan dengan Indonesia. Ternyata, kita tidak sendirian, seluruh dunia masih memiliki masalah dengan baca-tulis ini.

Literacy Day

Infographic by Grammarly

Meski terlihat bahwa persentase populasi yang melek huruf sudah tinggi, angka 757 juta orang dewasa yang buta huruf itu termasuk masih tinggi juga. Ternyata, kebanyakan memang tidak bersekolah, atau putus sekolah. Di Indonesia, masalah sekolah ini bisa kita lihat dari masih banyaknya anak-anak yang turun ke jalan untuk meminta-minta, atau bekerja demi kebutuhan keluarga, pada jam-jam mereka seharusnya bersekolah. Pernikahan anak di bawah umur juga mengambil andil dalam masalah literasi ini. Generasi dewasa semacam ini akan cenderung menghasilkan generasi lanjutan yang tak jauh berbeda.

Angka-angka di atas tentunya bukan hanya sekadar data untuk dikomentari. Angka-angka tersebut membutuhkan tindak lanjut kita semua untuk mengatasinya. Pemerintah, pemegang kebijakan, pendidik, pekerja sosial, dan semua warga negara dapat mengambil peran dengan caranya masing-masing. Bagi para blogger buku, menanamkan kesukaan dan kecintaan membaca adalah salah satu caranya. Memberi akses bagi orang lain untuk membaca adalah cara lain, sebagaimana beberapa acara amal yang pernah dilakukan oleh BBI terkait dengan donasi buku ataupun dana ke perpustakaan atau taman baca yang membutuhkan. Semoga ke depannya, semakin banyak orang yang peduli, semakin banyak orang yang melek huruf, dan semakin banyak manfaat yang bisa kita bagikan untuk sesama, dari membaca.

Once you learn to read, you will be forever free.
(Frederick Douglas)

Children’s Classics Literature: Berbagai Genre, Berbagai Masa

HUT-BBISebelum berbicara mengenai children’s classics literature, atau sastra klasik anak, ada baiknya kita menilik definisinya terlebih dahulu. Ada berbagai macam definisi klasik, tetapi yang paling lengkap menurut saya sudah dirangkumkan oleh Fanda Classiclit berikut:

Klasik adalah buku-buku yang maknanya mengena di hati pembacanya, dan pengaruhnya tetap bertahan serta terus bergema hingga jauh setelah buku itu terbit atau penulisnya hidup. Klasik adalah buku-buku yang terus dibaca hingga bergenerasi-generasi, karena apa yang ada di dalamnya bersifat universal meski jaman telah berganti. Klasik juga berisi hal-hal yang mengajarkan nilai-nilai yang layak menjadi panutan atau teladan. (source)

Sedangkan definisi children’s literature sendiri juga cukup bervariasi, salah satunya adalah:

Children’s literature is a good-quality trade books for children from birth to adolescence, covering topics of relevance and interest to children of those ages, through prose and poetry, fiction and nonfiction.1

banner 13 days cl-yaPada intinya, saya simpulkan bahwa children’s classic literature (CCL) mencakup buku-buku anak, apapun bentuknya, yang terus dibaca dari generasi ke generasi.

Awal mulanya, CCL adalah tradisi lisan, disampaikan oleh orang tua ke anak-anak dari mulut ke mulut. Bentuk ini umumnya berwujud dongeng, fabel, mitos, dan sejenisnya. Di antara dongeng/fabel yang tertua ada Aesop’s Fable yang ditulis sekitar 600 SM, juga Panchatantra dari India yang lebih tua lagi, pada 800 SM. Penerbitan kumpulan dongeng ini dimulai sejak Charles Perrault dengan Tales of Mother Goose pada 1697, diikuti oleh Grimm, Joseph Jacobs, Andrew Lang, Andersen, dan lain-lain. Oleh karena dimulai dari tradisi lisan, maka tidak sedikit ditemukan kemiripan dalam dongeng-dongeng tersebut.

Di Indonesia sendiri sebenarnya banyak sekali dongeng anak yang masih populer, sehingga dapat dimasukkan dalam kategori klasik. Sebut saja dongeng Kancil, Bawang Merah Bawang Putih, juga cerita rakyat semacam Tangkuban Perahu dan Sangkuriang. Sayangnya, belum ada yang benar-benar mengumpulkan dongeng-dongeng tersebut sehingga, meskipun tidak punah, tidak ada yang mengikat dongeng tersebut untuk bertahan sebagaimana yang diceritakan oleh orang-orang tua kita dulu. Hanya beberapa saja yang masih diperhatikan dan bisa bertahan, salah satunya dari sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, Cerita Calon Arang.

Sebelum abad ke-18, belum ada buku yang diterbitkan yang murni ditujukan untuk anak-anak. Kebanyakan CCL adalah buku yang ditulis untuk orang dewasa, tetapi dinikmati secara luas oleh anak-anak. CCL jenis ini diawali oleh Robinson Crusoe (Daniel Defoe, 1719), dan Gulliver’s Travel (Jonathan Swift, 1726). Hingga pada tahun 1744, John Newbery menerbitkan A Little Pretty Pocket-Book, yang ditandai sebagai buku anak yang pertama, yang memadukan puisi, cerita bergambar, dan permainan. Nama John Newbery pun hingga kini diabadikan menjadi salah satu penghargaan untuk literatur anak di Amerika Serikat (akan dibahas juga di Books to Share).

Sejak Newbery, literatur anak terus mengalami perkembangan, dan mencapai masa keemasannya sekitar pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 (Golden Age). Di tahun-tahun itu, CCL dengan berbagai variasinya diterbitkan. Puisi sebenarnya sudah dikenal sejak lama dalam bentuk nursery rhymes, seperti Perrault dengan Mother Goose nya. Namun pada masa Golden Age, bermunculan jenis-jenis puisi yang berbeda, seperti A Book of Nonsense (Edward Lear, 1846) yang disebut sebagai father of nonsense poetry, juga kumpulan puisi deskriptif oleh Robert Louis Stevenson pada 1885, A Child’s Garden of Verses.

A mother reads to her children, depicted by Jessie Willcox Smith in a cover illustration of a volume of fairy tales written in the mid to late 19th century. (source)

Picture book, atau buku anak bergambar generasi awal dikenalkan melalui edisi ilustrasi Aesop’s Fables oleh William Caxton pada 1484. Namun yang dianggap sebagai picture book pertama untuk anak-anak adalah Orbis Pictus yang ditulis dan diilustrasikan oleh John Ames Comenius. Pada Golden Age, picture book semakin populer, terutama oleh nama-nama seperti Randolph Caldecott, Walter Crane, dan Kate Greenaway. Nama Caldecott hingga kini digunakan juga untuk penghargaan yang ditujukan bagi ilustrator buku bergambar anak. Picture storybook modern ditandai dengan terbitnya The Tale of Peter Rabbit yang ditulis dan diilustrasikan oleh Beatrix Potter (1902). Selanjutnya, buku anak bergambar masih mengalami inovasi di tangan-tangan Dr. Seuss, Maurice Sendak, Ezra Jack Keats, dll di pertengahan abad ke-20. Ada bahasan mengenai Dr. Seuss juga di Ketimbun Buku.

Alice’s Adventures in Wonderland (Lewis Carroll, 1865) disebut-sebut sebagai masterpiece untuk fantasi modern yang muncul pada Golden Age. Di Amerika Serikat, fantasi modern ditandai oleh The Wonderful Wizard of Oz (L. Frank Baum, 1900). Subgenre fantasi yang beragam sudah mulai bermunculan. Personified toy story, atau boneka/mainan yang bertindak seperti manusia, di antaranya diawali The Adventures of Pinocchio di Italia (Carlo Collodi, 1881) dan Winnie the Pooh di Inggris (A. A. Milne, 1926). Animal fantasy mulai dari The Wind in the Willows (Kenneth Grahame, 1908) sampai Charlotte’s Web (E. B. White, 1952). Petualangan ada The Hobbit (J. R. R. Tolkien, 1937) dan The Lion, the Witch and the Wardrobe (C. S. Lewis, 1950). Hingga science fiction yang dipelopori oleh Tom Swift and His Aircraft (Victor Appleton, 1910), setelah sebelumnya karya-karya Jules Verne, yang sebenarnya ditulis untuk dewasa, populer di kalangan pembaca anak.

Genre historical fiction atau fiksi sejarah untuk anak mungkin tidak banyak pada masa-masa awal. Salah satu pelopor untuk genre ini ada Otto of the Silver Hand (Howard Pyle, 1888) yang bersetting di abad Pertengahan. Karyanya yang lebih populer adalah The Merry Adventures of Robin Hood (1883). Fiksi sejarah klasik yang hingga saat ini masih populer adalah seri Little House (Laura Ingalls Wilder, 1932-1943).

Sejak Robinson Crusoe, banyak kisah petualangan survival mengikuti, yang paling populer adalah Swiss Family Robinson (Johann Wyss, 1812). Genre petualangan populer yang lain ada Treasure Island (Robert Louis Stevenson, 1883), juga The Adventures of Tom Sawyer (Mark Twain, 1876). Genre realistic fiction dengan berbagai karakter dan tema diperkaya oleh kisah keluarga seperti Little Women (Louisa May Alcott, 1868), Heidi (Johanna Spyri, 1880), Anne of Green Gables (Lucy Maud Montgomery, 1908), The Secret Garden (Frances Hodgson Burnett, 1910), dll. Dua yang saya sebut terakhir, oleh karena protagonisnya yang yatim piatu, dianggap sebagai pendahulu kisah-kisah anak bermasalah. Tom Brown’s School Days (Thomas Hughes, 1857) dikatakan sebagai penggerak kisah-kisah yang berlatar di sekolah. Realistic animal stories juga muncul pada Golden Age, sebut saja Black Beauty (Anna Sewell, 1877), Beautiful Joe (Margaret M. Saunders, 1894), The Jungle Books (Rudyard Kipling, 1894), dan The Yearling (Marjorie Kinnan Rawlings, 1938). Kebanyakan buku dalam genre realistis ini termasuk, atau bernapaskan, bildungsroman (coming of age).

Kisah-kisah anak memasuki era baru sejak Harriet the Spy (Louise Fitzhugh, 1964) mengangkat nuansa yang lebih tidak menyenangkan. Disusul dengan penggambaran seks yang eksplisit pada Are You There, God? It’s Me, Margaret (Judy Blume, 1970). Sejak saat itu, tema-tema kontroversial seperti kematian, perceraian, obat-obatan terlarang, dan kecacatan mulai jamak pada literatur anak. Kesan ‘ringan’ dan menyenangkan pada buku-buku anak mulai digantikan dengan tema-tema gelap di era tahun 1970-80an hingga sekarang. Buku-buku jenis ini tentu mengalami tantangan pada awalnya, sebut saja Roald Dahl yang dibahas di My Book Corner.

Itulah sekilas sejarah panjang mengenai CCL. Berbicara mengenai klasik, tidak harus selalu tua. Namun ternyata seiring perkembangan zaman, karya-karya klasik bisa mengalami pergeseran pembaca. Jadi jangan heran bila ada beberapa karya penulis klasik semacam Charles Dickens, Alexandre Dumas, dan penulis buku dewasa lain yang dikategorikan sebagai children’s literature. Sebagian besar pergeseran tersebut dikarenakan memang sifat tulisannya yang universal, atau bisa jadi karena banyak karya tersebut yang kemudian direproduksi menjadi karya-karya yang lebih sederhana dan dilengkapi dengan ilustrasi. Meski demikian, beberapa penulis klasik dewasa juga menulis karya yang dikhususkan untuk anak, seperti The Happy Prince oleh Oscar Wilde (1888), dan The Magic Fishbone oleh Charles Dickens (1868).

Nyi Rara Kidul (source)

Selain penyederhanaan konten, beberapa dongeng klasik (yang saya sebutkan sejak awal memiliki berbagai versi), juga direproduksi menjadi kisah yang lebih ceria, terutama sejak Walt Disney. Dan akhirnya, meski terus direproduksi, terus berubah, terus berkembang, karya-karya klasik tidak akan usang dimakan waktu, karena nilai-nilai dan kandungan moral di dalamnya tak pernah berubah. Zaman boleh berganti, tetapi sejarah pasti berulang.

Biblliography:

  1. Tomlinson, Carl M. & Lynch-Brown Carol, Essentials of Children’s Literature. Fourth Edition. Allyn and Bacon. 2002
  2. Children’s Literature. http://en.wikipedia.org/wiki/Children%27s_literature
  3. List of children’s classic books. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_children’s_classic_books
  4. Children’s Literature Classics. http://childliterature.net/childlit/

Jangan lupa mengikuti Giveaway Hop, dan blog tour dengan bahasan yang lain.

time table blog tour