Category Archives: Agatha Christie

Scene on Three (119) : An Evolution

SceneOnThree

“And anyway,” continued Miss Flora, “all this making a fuss about things because someone wore or used them seems to me all nonsense. They’re not wearing or using them now. That pen that George Eliot wrote The Mill on the Floss with—that sort of things—well, it’s only a pen after all. If you’re really keen on George Eliot, why not get The Mill on the Floss in a cheap edition and read it.” (The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie; p.30)

Saya termasuk orang yang mudah terpengaruh oleh ‘bungkus’, termasuk Scene on Three ini sejak awal sudah saya buatkan ‘bungkus’ yang penuh makna secara personal. Maka dari itu, kalimat Flora Ackroyd di atas cukup menyindir juga. Apalagi terkadang situasi tidak mengizinkan kita untuk mempertahankan ‘bungkus’ itu selamanya. Mungkin saja pena yang dipergunakan George Eliot itu rusak, lalu malah jadi tidak berfungsi sama sekali. Siapa tahu di bab lima Eliot mempergunakan pena yang lain karena penanya yang itu terselip. Pun jika penanya diganti, kemungkinan The Mill on the Floss menjadi karya yang berbeda itu sangat kecil sekali. Satu-satunya yang dilakukan oleh pena itu adalah menghubungkan pemikiran Eliot dengan dunia, mungkin dia dipilih karena nyaman dipergunakan, atau hanya kebetulan saja pena itu yang terpilih.

Jadi karena saya, sekali lagi, masih sayang dengan Scene on Three karena alasan saya membuatnya sejak awal, tetapi kondisi saya pun ternyata sudah sulit untuk post rutin, bahkan sebulan sekali, dengan terpaksa saya mengorbankan ‘bungkus’ yang sudah saya buat. Jika kalian–para pembaca dan pengunjung blog ini, para pengikut SoT baik yang baru atau lama, yang rutin maupun yang temporer–ingin membuat SoT seperti biasa, silakan memasukkan link kalian di kolom komentar SoT manapun yang kalian temukan. Karena mulai hari ini, saya hanya akan berbagi tanpa ketentuan apa-apa, termasuk waktu. Dua hal yang tetap saya pertahankan adalah scene dan three, dua kata yang ada di judulnya. Artinya, saya akan memposting scene yang menarik untuk saya tepat pada tanggal berunsur angka tiga, tetapi tidak terbatas harus setiap tanggal berapa atau setiap berapa lama.

Saya tahu, perubahan SoT sejak lebih dari setahun lalu, dimana saya mulai tidak rutin blogwalking hingga tidak rutin posting membuat meme ini dengan sendirinya jadi mati. Namun, saya menolak untuk menguburnya, saya akan meletakkannya di kotak kaca, menjadikannya masih terlihat, tanpa memaksanya bekerja terlalu keras.

The Murder of Roger Ackroyd – Agatha Christie

roger ackroydTitle : The Murder of Roger Ackroyd
Author : Agatha Christie (1926)
Publisher : Fontana Books
Edition : Fourteenth impression, March 1976
Format : Paperback, 221 pages

The truth, however ugly in itself, is always curious and beautiful to the seeker after it. (p.117)

Mrs. Ferrars meninggal karena overdosis obat tidur hari itu, menyusul suaminya yang sudah meninggal lebih dari setahun lalu karena—rumornya—keracunan, atau diracun. Dr. James Sheppard yang bertugas di desa tersebut, King’s Abbot, tidak sependapat, tetapi kakak yang tinggal bersamanya, Caroline, selalu punya teori sensasional atas segala kejadian di tempat itu. Caroline entah bagaimana caranya selalu bisa mendapatkan informasi tanpa harus keluar dari rumah, tak ada berita yang lolos darinya. Menurut teori Caroline Sheppard, Mrs. Ferrars meracuni suaminya, lalu setelah setahun hidup dengan rasa bersalah, dia memutuskan untuk bunuh diri dengan obat tidur. Masalahnya, tidak ada surat yang ditinggalkan seperti pada umumnya seorang yang akan mengakhiri hidupnya.

Teori Caroline yang lain berhubungan dengan Roger Ackroyd, seorang yang sangat kaya dan berpengaruh di King’s Abbot. Dengan berbagai spekulasi mengenai motif dan affair yang terjadi di keluarga tersebut. Mulai dari hubungan anak tirinya, Ralph Paton, dengan kemenakannya, Flora Ackroyd, sampai dengan orang ketiga, pelayan dan pengurus rumah. Masalah sedikit demi sedikit mulai terbuka dengan pengungkapan adanya pemerasan paska kematian Mr. Ferrars, dan surat terakhir Mrs. Ferrars yang dialamatkan pada Roger Ackroyd. Namun, Roger Ackroyd dibunuh setelah mendapatkan surat tersebut, sebelum sempat mengungkapkannya.

You should employ your little grey cells. (p.177)

Cerita ini disampaikan melalui narasi Dr. Sheppard sebagai orang pertama. Sebagai dokter, Sheppard tentunya mengenal dan bebas berhubungan dengan orang-orang di King’s Abbot. Apalagi dia termasuk orang kepercayaan Roger Ackroyd sendiri, dan dekat dengan keluarganya, sehingga pembaca dapat dengan leluasa melihat berbagai kisah orang-orang melalui pandangan Sheppard.

Dalam buku ini, Hercule Poirot diceritakan hendak menikmati masa pensiunnya dengan tenang tanpa publikasi. Kebetulan dia tinggal di sebelah rumah Sheppard. Kejadian pembunuhan itu memaksanya ‘bekerja’ kembali, atas permohonan Flora Ackroyd yang sudah mengenal Poirot sebelum mereka pindah ke King’s Abbot.

Seperti biasa, Agatha Christie selalu punya kejutan tak terduga dalam buku-bukunya. Pemilihan karakter, penggunaan narasi, dan runtutan kejadian ditulis dengan penuh perhitungan. Awalnya, saya merasa karakter Caroline ini sebagai ‘pemanis’ kisah, membuat ramai dengan berbagai teori dan gosip yang diembuskannya. Akan tetapi, ternyata ada maksud tertentu memunculkan karakter ini, mulai dari memperkaya informasi untuk narator kita, sampai dengan menunjukkan bahwa pembaca seperti saya ternyata tak jauh beda dengan dirinya.

Women observe subconsciously a thousand little details, without knowing that they are doing so. Their subconscious mind adds these little things together—and they call the result intuition. (p.119)

Salah satu hal yang menarik di sini adalah penekanan bahwa setiap orang memiliki rahasia. Sebagaimana umumnya, orang-orang yang berhubungan dengan korban pembunuhan selalu ditanya alibinya. Tetapi Poirot tahu, ada yang ditutup-tutupi oleh masing-masing mereka, dengan alasannya masing-masing. Meski terlihat tak berhubungan dengan kasus, Poirot berkeras ingin mengetahui kebenaran. Hal ini lalu membuka banyak fakta, mulai dari kisah percintaan yang sedih, keluarga yang tak diharapkan, hingga aib dan kesalahan yang boleh tetap menjadi rahasia.

It is the business of Hercule Poirot to know things. (p.180)

4/5 bintang untuk jebakan pembaca dan pembunuh yang (terlalu) merasa pintar tapi terjebak sendiri oleh detektif kita.

And Then There Were None – Agatha Christie

attwnTitle : And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap)
Author : Agatha Christie (1939)
Translator : Mareta
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kesepuluh, Januari 2014
Format : Paperback, 296 pages

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.

Hakim Justice Wargrave mendapat undangan dari seorang kawan lama ke Pulau Negro, di seberang Pantai Devon. Kabarnya, pulau itu telah dibeli miliuner, atau bintang film, atau bangsawan, atau mungkin Angkatan Laut. Vera Claythorne yang kehilangan pekerjaannya sebagai pengasuh anak mendapat tawaran yang murah hati di Pulau Negro. Di tempat lain, Kapten Philip Lombard mendapat tawaran di tempat yang sama, untuk sesuatu yang mungkin berbahaya. Begitu pula Emily Brent, Jenderal Macarthur, Dokter Armstrong, Tony Marston, dan Mr. Blore mendapatkan undangan yang sama dengan tujuan masing-masing.

Kedelapan orang yang tak saling mengenal tersebut menyeberang ke Pulau Negro, dan menemukan mereka dijamu dengan mewah oleh sepasang pelayan. Meski begitu, tuan rumah mereka, U. N. Owen, tidak kunjung muncul, hingga setelah makan malam terjadi kehebohan akibat rekaman misterius yang membeberkan ‘dosa-dosa’ kesepuluh orang yang ada di dalam rumah tersebut—delapan tamu dan dua pelayan. Tidak ada yang merasa melakukan dosa-dosa tersebut.

Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.

Kematian misterius pun menghampiri satu per satu. Anehnya, cara kematian mereka sesuai dengan sajak Sepuluh Anak Negro yang merupakan sajak kanak-kanak lama, yang entah disengaja atau kebetulan, tergantung di setiap kamar. Sulit melacak jejak sang pembunuh, kalau memang ada, tetapi terlalu banyak kebetulan jika hendak dibilang kecelakaan. Sementara itu, tak ada jalan keluar dari pulau misterius itu. Mampukah mereka menyelamatkan diri, sampai baris mana sajak itu akan memakan korban, dan siapa yang membuat jebakan itu untuk mereka, serta apa kepentingannya?

Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.

Buku ini adalah salah satu karya penulis yang paling terkenal. Meski tanpa detektif, unsur misteri dan suspense sangat kental di buku ini. Kita diajak ikut menebak-nebak siapa yang melakukan pembunuhan-pembunuhan tersebut, terlebih setiap tuduhan mengarah ke seseorang, tiba-tiba dia menjadi korban berikutnya. Kesepuluh karakter tersebut juga dieksplorasi dengan porsi yang cukup, terutama mengenai ‘dosa’ yang dituduhkan pada masing-masing mereka. Di sini kita melihat betapa keadilan dapat menjadi sesuatu yang subjektif, serta bagaimana manusia seringkali mencari pembenaran atas sikapnya, hingga pada titik di mana dia tidak lagi menganggap perbuatan itu salah.

Buku ini membuat saya mempertanyakan batas kemanusiaan kita. Apakah kita akan dengan senang hati mengorbankan orang lain demi keselamatan kita, seberapa murah hatinya kita untuk mengorbankan kepentingan kita demi seseorang yang kita rasa tak berhak untuk itu, seberapa jauh kita bisa berbuat untuk melindungi diri kita dari rasa bersalah. 4/5 bintang untuk ‘pengadilan’ yang misterius.

Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

and_then_there_were_none_title_card

Buku ini pertama kali diterbitkan dengan judul Ten Little Niggers (sempat juga dipakai dalam terjemahan lama Gramedia—Sepuluh Anak Negro). Namun, karena kata nigger dianggap sangat kasar di Amerika, maka dibuatlah judul alternatif. Selain And Then There Were None, ada juga versi yang mengganti Niggers dengan Indians atau Soldiers. Walaupun sudah banyak diadaptasi ke dalam film maupun serial, saya baru menonton satu adaptasi dari BBC One yang ditayangkan perdana akhir 2015 lalu. (Sebenarnya buku ini sudah saya baca ulang sejak September 2015, tapi baru saya buat reviewnya sekarang). Dalam versi ini, kata Nigger sepenuhnya diganti menjadi Soldier, baik dalam puisi maupun nama pulaunya. Selain itu, beberapa perbedaan detail yang lazim kita temui dalam adaptasi saya rasa tidak terlalu mengganggu kecuali satu hal, adanya romansa yang terjalin pada salah dua karakter tersebut. Menurut saya, unsur tersebut malah menutupi unsur suspense yang ada di dalam buku, yang menjadi daya tariknya menurut saya. Namun bagi yang suka dengan drama, mungkin ini justru menjadi sebuah kelebihan.

The Murder at the Vicarage – Agatha Christie

15990314Title : The Murder at the Vicarage (Pembunuhan di Wisma Pendeta)
Author : Agatha Christie (1930)
Translator : Drs. Budijanto T. Pramono
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan keenam, Agustus 2012
Format : Paperback, 368 pages

Sering aku heran mengapa seluruh dunia cenderung mengambil kesimpulan secara umum. Kesimpulan-kesimpulan begitu jarang sekali atau tak pernah benar, dan biasanya sangat tidak cermat. (p.268)

Baru saja Pendeta Clement mengatakan bahwa kematian Kolonel Protheroe merupakan berkah bagi umat manusia, baru diketahui bahwa Mrs. Protheroe berselingkuh dengan seniman setempat dan hendak lari, baru saja ada ancaman untuk sang Kolonel, serta tak pernah menjadi rahasia bahwa tidak ada yang menyukai sang Kolonel, kemudian dia ditemukan meninggal dunia di wisma pendeta. Terlalu banyak tersangka tetapi terlalu sedikit bukti, terlalu banyak keterangan, dan terlalu banyak prasangka. Kematian Protheroe sebenarnya tak terlalu menjadi persoalan, tetapi segalanya menjadi serius karena orang-orang yang seharusnya tak bersalah berpotensi menjadi korban fitnah dan praduga. Oleh karenanya, pembunuhan tetaplah pembunuhan, yang bersalah harus ditemukan.

Melalui narasi sang pendeta, kita diajak berkenalan dengan salah satu detektif wanita rekaan penulis, Jane Marple. Wanita tua ini tampaknya mengetahui segala sesuatu, mulai dari apa yang terjadi, kapan waktunya, hingga gosip terhangat di desa. Jika ada suatu kejadian penting, entah mengapa Miss Marple mendapat dorongan untuk berkunjung. Saat ada sesuatu terjadi di dekat rumahnya, entah bagaimana Miss Marple bisa berada di posisi yang tepat, di dekat jendela atau di kebunnya. Sebenarnya itu salah satu misteri juga, tetapi kembali ke pembunuhan Protheroe, dari sekian banyak kesaksian dan keterangan, satu-satunya yang meyakinkan hanyalah informasi dari Miss Marple yang sangat tepat dan deduksinya yang masuk akal.

Itu namanya intuisi—sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan orang. Intuisi itu seperti membaca sebuah kata tanpa perlu mengejanya. Seorang anak tak dapat melakukannya, karena pengalamannya sangat kurang. Tapi orang dewasa tahu kata itu karena dia telah sering melihatnya sebelumnya. (p.122)

Kehidupan di desa sekecil St. Mary Mead memungkinkan setiap orang untuk saling mengenal. Satu dua hal aneh bisa menjadi pergunjingan, satu dua gerakan mencurigakan bisa menjadi prasangka, dan dengan adanya kasus kriminal, semua orang menjadi saling curiga dan khawatir. Dimulailah drama yang membumbui penyelidikan ini, mulai dari beberapa pengakuan yang dramatis, wanita tua yang histeris karena ancaman melalui telepon, hingga rahasia-rahasia kecil yang tak sengaja terbongkar.

Sejujurnya, terlalu banyak detail dalam buku ini yang membuat bosan. Pada beberapa bagian, narasi Clement terasa datar-datar saja. Drama di St. Mary Mead cukup memberi bumbu, meskipun tidak terlalu merata. Namun sentuhan cerdas penulis tetap terasa dalam caranya mengarahkan pembaca—bahkan sang pendeta, ke petunjuk yang salah. Selain itu, saya juga menikmati kekayaan karakter manusia yang ditampilkan dalam buku ini; istri pendeta yang berjiwa muda, keponakannya yang meledak-ledak, dokter yang humanis dengan caranya, inspektur yang sulit bekerja sama, kawan yang penggugup, arkeolog dan sekretarisnya yang menjadi sasaran empuk penggosip, dan lain sebagainya.

Pada kenyataannya, kebanyakan orang itu aneh, jika Anda mengenalnya dengan baik. Dan orang-orang normal kadang-kadang melakukan hal-hal yang mengherankan, dan orang-orang abnormal kadang-kadang malahan bertindak waras dan lumrah. Ternyata, satu-satunya jalan adalah membandingkan orang yang satu dengan orang lain yang kita kenal atau yang kita temui. Anda akan heran jika tahu bahwa sebenarnya manusia itu hanya terbagi menjadi tipe-tipe yang sangat sedikit jumlahnya. (p.315-316)

3/5 untuk pembunuhan, manusia, dan segala dramanya.

Review #11 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Mystery #2)

Review #18 for Lucky No.14 Reading Challenge category Once Upon a Time

The Mysterious Affair at Styles – Agatha Christie

1722890Title : The Mysterious Affair at Styles (Misteri di Styles)
Author : Agatha Christie (1920)
Translator : Mareta
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kedelapan, November 2013
Format : Paperback, 266 pages

“Karena kau terlalu mengekang imajinasimu. Imajinasi adalah pelayan yang baik, tetapi tuan yang buruk. Penjelasan yang paling sederhana merupakan kemungkinan paling besar.” (p.103)

Hastings baru saja kembali dari medan perang dan pulih dari sakitnya ketika seorang kawan lama, John Cavendish, mengundangnya menghabiskan masa cutinya di rumahnya di Styles. Suasana di Styles agak berbeda pasca kematian ayah John, karena hartanya diwariskan kepada ibu tirinya, yang kemudian menikah lagi dengan pria yang lebih muda—Alfred Inglethorp—yang diduga mengincar harta. Kemudian, saat terjadi pembunuhan di Styles Court, hal yang telah diduga seolah terbukti. Akan tetapi, petunjuknya terlalu jelas, dan si tersangka utama memiliki alibi yang kuat.

Ada Evelyn Howard yang sangat menyayangi Emily Inglethorp hingga membenci Mr. Inglethorp setengah mati, Cynthia Murdock sang ahli racun, ada John Cavendish yang tak mendapatkan hak warisan oleh karena wasiat mengecewakan sang ayah, Lawrence Cavendish—adik John yang tak memiliki penghasilan yang bisa diharapkan, juga Mary Cavendish—istri John yang sepertinya memiliki hubungan rahasia dengan orang lain. Alfred Inglethorp bukan satu-satunya orang yang punya motif untuk membunuh istrinya, dan lagipula, alibinya cukup kuat.

“Saya suka cerita detektif,” kata Miss Howard. “Tapi banyak juga yang asal ditulis saja. Pelakunya ditemukan dalam bab terakhir. Pembaca dibuat merasa tolol. Padalah kalau benar-benar terjadi tindak kriminal, kita bisa merasakannya.” (p.14)

Kebetulan, detektif kita, Hercule Poirot, ada di desa itu sewaktu peristiwa penting ini terjadi. Maka sebuah penyelidikan menarik bersama Poirot dan Hastings pun terjadi. Dalam buku pertama Agatha Christie ini, tampaknya sifat penyelidikan Poirot masih terpengaruh oleh Sherlock Holmes—karakter yang disindir habis-habisan oleh Poirot dalam buku-buku berikutnya. Namun di sini, kita bisa melihat hal yang jarang kita lihat pada kisah Poirot yang lain, di mana dia meneliti seluruh ruangan untuk mencari petunjuk, berjalan ke sana kemari, dan terlihat lebih ‘aktif’. Hubungan antara detektif dan naratornya ini sudah terbentuk kuat, yaitu Hastings yang naif (disebutkan usianya 30 tahun saat itu), yang seringkali menjadi korban keusilan Poirot.

Jawaban itu sama sekali tidak relevan menurut logikaku. Karena itu aku diam saja. Aku hanya berkata pada diri-sendiri bahwa seandainya aku menemukan sesuatu-dan aku yakin akan hal itu—aku tak akan memberitahu Poirot apa-apa.
Ada waktunya orang harus bertindak tegas. (p.169)

Ini bukan hal yang kuharapkan. Aku sebetulnya ingin dia merasakan sikapku yang kaku. Tapi aku malah merasakan kehangatan sikap Poirot. Hatiku meleleh. (p.173)

Secara keseluruhan, saya menikmati buku ini. Perkenalan yang cukup mengena bagi detektif yang membanggakan sel-sel kelabunya ini, yang mengajak kita untuk ikut memanfaatkan petunjuk-petunjuk yang diberikannya agar sel-sel kelabu kita juga terlatih. Saya sendiri berusaha untuk jeli melihat petunjuk kecil yang diindikasikan oleh penulis, meski saya yakin bahwa tak semua petunjuk itu merujuk pada ‘dosa’ pembunuhan semata, karena seperti yang saya siratkan di atas, tak ada yang benar-benar bersih di Styles Court.

4/5 bintang untuk sang detektif Belgia dan narator yang cukup ‘menghibur’.

Review #21 of Classics Club Project

Review #10 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Mystery #1)

Review #17 for Lucky No.14 Reading Challenge category Once Upon a Time