Category Archives: Albert Camus

Scene on Three (120): 5th Year Blogoversary

SceneOnThree

Sekian lama tidak membuat SoT, dan hari ini, bertepatan dengan 5 tahunnya blog Bacaan B.Zee ini, tampaknya saya wajib menuliskan sesuatu. Beberapa bulan lalu, saya sempat menemukan buku Albert Camus di perpustakaan kota, La Chute (1956), atau diterjemahkan menjadi Jungkir. Buku yang tampaknya sudah hilang dari peredaran, diterjemahkan Penerbit Tinta pada Oktober 2004 oleh Decky Juli Zafilus. Saya tidak mengatakan terjemahannya buruk, karena ini Camus, memang seharusnya dibaca penuh penghayatan. Namun, kesalahan saya, terlena dengan tipisnya buku ini sehingga menunda membacanya sampai mendekati jatuh tempo peminjaman. Saya (saat itu) menangkap ide besarnya, tetapi merasa melewatkan hal yang penting, karenanya saya tidak yakin mau membuat reviewnya.

Sebagai jalan tengah, saya mau berbagi beberapa scene berkesan saja. Ya, beberapa, karena ini edisi spesial blogoversary.

wp-1484317887973.jpg

Umat manusia dijadikan yakin pada alasan-alasan Anda, kesungguhan Anda, dan parahnya kesusahan-kesusahan Anda, hanya oleh kematian Anda. Selama Anda ada dalam kehidupan, kasus Anda diragukan, Anda hanya berhak mendapatkan spektisisme mereka.

wp-1484317894278.jpg

Anda sudah mati, mereka akan memanfaatkan kejadian itu untuk memberi motif-motif yang idiot atau norak pada tindakan Anda itu. Kawan yang terhormat, para martir memang harus memilih dilupakan, dicemooh, atau diperalat. Kalau dipahami, tidak bakalan.

Kematian memang seringkali meninggalkan misteri bagi kita yang masih hidup, bukan hanya masalah kapan kita menyusul mereka yang pergi lebih dulu, melainkan dengan cara apa, meninggalkan apa, dan untuk tujuan apa kematian memeluk kita. Saya pernah membaca kata seseorang bahwa kematian seringkali memunculkan yang terbaik dalam diri kita. Saat kita meninggal, orang akan membicarakan hal-hal baik tentang kita, hal buruk dan tabu dengan segera dilupakan dan dimaafkan, guna menghargai kita yang baru saja meninggalkan mereka, mungkin dengan sedikit perasaan kasihan. Hal ini senada dengan perkataan Camus di gambar pertama, bahwa segala alasan dan kesusahan kita hanya akan dipercaya setelah kita tidak ada lagi, mungkin dengan rasa kasihan juga. Akan tetapi, pemahaman tampaknya tetap merupakan hal yang mustahil. Seperti ditunjukkan pada gambar kedua, manusia akan mengarang-ngarang hal yang tak mereka pahami, alih-alih berusaha mengingat kembali apa yang belum mereka pahami. Namun, yah, semua itu masalah kita yang hidup dan ditinggalkan, bukan?

… sel bawah parit yang pada Abad Pertengahan dinamakan ketidaknyamanan. Pada umumnya, di sana Anda diabaikan demi kehidupan. Sel itu dapat dibedakan dengan yang lain-lainnya lewat dimensi-dimensinya yang penuh kejeniusan. Dia tidak cukup tinggi untuk posisi orang berdiri dan tidak cukup lebar untuk posisi orang berbaring. Orang harus bergaya terhalang, hidup menyerong; masa tidur adalah suatu posisi terjungkir, terjaga pada malam hari suatu posisi berjongkok. (p.126)

Saya harus lebih tinggi ketimbang Anda, pikiran-pikiran saya mengangkat diri saya. Malam-malam itu, tepatnya pagi-pagi itu, karena jungkir terjadi di fajar kala, saya keluar, saya pergi, dengan suatu perjalanan kaki yang geram ke sepanjang kanal-kanal. (p.165)

Karya Camus ini memang tipis, tetapi dikatakan sebagai salah satu karyanya paling menarik, karena bisa ada multitafsir dan multipersepsi di situ. Saya memilih menandai bagian yang mengandung judulnya saja untuk menunjukkan sebagian ide utamanya. Kondisi jungkir (the fall) yang mungkin diceritakannya dengan geram di sepanjang buku, diakhiri dengan sebuah kebangkitan geram yang mengajak saya untuk merenung kembali.

Pada intinya, yang membuat Camus menarik adalah bagaimana gagasannya menggelitik kira untuk berpikir. Di satu sisi kita merasa ingin setuju, tetapi di sisi lain, sepertinya terlalu riskan untuk menyetujuinya.

Untuk yang masih punya scene yang bisa dibagikan, bisa menempelkan tautannya di kolom komentar di bawah. Saya sudah punya resolusi untuk tahun ke-5 Bacaan B.Zee, semoga SoT hari ini menjadi pembuka jalan yang baik.

Character Thursday (23)

Mersault adalah tokoh sentral dalam buku Albert Camus yang berjudul The Stranger, yang sudah saya review di sini. Sebenarnya dalam review itu sudah saya tunjukkan seperti apa Mersault tersebut. Seorang penuh paradoks yang memiliki pemikiran berbeda dari sekitarnya. Mungkin dalam Character Thursday ini, saya akan mencoba menganalisis hal-hal yang belum saya sebutkan. Ada yang menyebutkan bahwa karakter Mersault adalah pencitraan dari diri Camus sendiri, citra absurditas dan paham eksistensialisme. Namun bagi saya, hal tersebut masih merupakan ide yang samar, sampai saya membaca sendiri buku tersebut.

Bagian yang pertama kali membuat saya tertarik pada karakter ini adalah saat dia sedang berbincang dengan atasannya tentang promosi dirinya untuk pindah ke cabang baru di Paris.

“Kau masih muda,” katanya, “dan kupastikan kau tentu menyukai hidup di kota Paris. Dan tentu saja kau mempunyai kesempatan mengelilingi Prancis.”
Kukatakan padanya, aku bersedia pergi, tapi aku tidak akan peduli dengan salah satu cara hidup yang dipaksakan padaku.
Kemudian ia bertanya, apakah suatu “perubahan hidup” tidak akan kulakukan dan kujawab, seseorang tidak pernah mengubah cara hidupnya, satu cara hidup akan sama baiknya dengan yang lain, dan cara hidupku yang sekarang adalah cocok betul dengan diriku.
(p.55-56)

Paragraf di atas sempat saya ulangi untuk memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Mersault. Dan kenyataan bahwa dia telah puas dengan cara hidupnya saat itu membuat saya mencoba memahami apa yang ada dalam pikirannya.

Hal yang saya sukai dari karakter Mersault adalah pendiriannya yang tidak mudah goyah oleh arus di sekitarnya. Menurut saya, orang-orang seperti itu sangat jarang, butuh keberanian dan mentalitas yang kuat untuk bisa seperti itu. Dia sanggup mengendalikan emosi, bukan hanya di luar saja, namun pengendalian emosi itu sudah mengakar dalam dirinya. Karena itulah dia tampak sebagai orang yang ‘keras hati’. Saya rasa Mersault bukannya tidak peduli pada ibunya, karena beberapa kali dia mengingat-ingat pesan ibunya. Menurut saya itu adalah salah satu bukti bahwa karakternya pernah dibentuk oleh ibunya, dan dia tidak melupakannya.

Aku lalu ingat pada salah satu buah pikiran ibu—yang selalu didengung-dengungkan—seseorang haruslah berusaha membiasakan dirinya pada sesuatu. (p.102)

Pemikiran ibunya yang diingat oleh Mersault tersebut membuatnya memandang penjara dengan cara yang berbeda, karena dia berusaha menyesuaikan diri dengan cepat.

Aku pernah membaca, bahwa dalam penjara seseorang akan menjadi tamat sudah oleh ketidakmampuannya memperhitungkan kekejaman berlalunya waktu. Tapi bagiku, waktu tidaklah mempunyai arti khusus lagi. Panjang dan atau pendeknya waktu tidak pernah lagi menjadi perhatianku. Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa waktu yang panjang adalah periode di mana kita hidup, tapi waktu begitu menggelembung dan hanya berakhir dengan saling menghimpit satu sama lain. Tapi aku tidak pernah memikirkan waktu dalam pengertian seperti itu. Hanya “kemarin” dan “besok” yang masih mempunyai arti bagiku. (p.107)

Bahkan di mata teman dekatnya, Celeste, Mersault bukanlah teman yang buruk. Meski jarang berbicara dengannya, sikap Mersault tidak pernah mengganggu atau membuat orang di sekitarnya tidak nyaman, maupun merasa tidak dihargai.

“Apakah ia orang yang penuh diliputi rahasia?”
“Tidak,” jawabnya, “aku tidak memandang dia seperti itu. Tapi ia bukanlah macam orang yang suka menyia-nyiakan hidup, seperti kebanyakan orang lain.” (p.123)

Saat dia dituduh dengan suatu kejahatan, dengan tuntutan yang dirasakannya tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya, reaksinya—bisa dikatakan—cukup tenang. Mersault seperti tidak memiliki rasa takut dan gentar atas ancaman yang diarahkan padanya. Hal yang menjadi masalah baginya hanyalah apa yang menjadi prinsipnya sendiri.

Aku telah menjadi orang yang hanya memikirkan masa sekarang atau masa depan dan bukan masa yang telah lampau. Dan tentulah dalam posisi di mana aku didesak ke dalam cara hidup seperti itu, tak ada persoalan atau pertanyaan tentang apa yang kukatakan pada siapa pun. Aku tidak mempunyai hak untuk menonjolkan perasaan-perasaan bersahabat atau memiliki maksud-maksud yang baik. (p.135)

Terlepas dari pemikiran-pemikirannya yang kontroversial, salah satunya ketidakpercayaannya atas Tuhan, Mersault tetaplah bukanlah sosok yang sangat mapan dan sempurna. Di penjara, dia memikirkan kembali hakikat hidup dan kehidupan. Puncak perubahan dirinya ada di bagian akhir, yang tidak akan saya sebutkan di sini karena akan menjadi spoiler. Pastinya, sosok Mersault adalah wujud dari pemberontakan manusia-manusia yang enggan untuk dikekang dan diatur oleh pihak-pihak lain.

Mersault dalam film adaptasi “La straniero” / “The Stranger” (1967) diperankan oleh Marcello Mastroianni, dan disutradarai oleh Luchino Visconti

Mari, bagikan karakter bacaanmu di Character Thursday.

The Stranger – Albert Camus

Judul buku : Orang Aneh (The Stranger/The Outsider/ L’Étranger)
Penulis : Albert Camus (1942)
Penerjemah : Max Arifin
Penyunting : Dian
Penerbit : Mahatari, Februari 2005 (cetakan pertama)
Tebal buku : 165 halaman

Tapi, walaupun aku tidak begitu yakin tentang sesuatu yang menarik perhatianku, aku dengan mutlak yakin terhadap apa yang tidak menarik perhatianku. (p.156)

Kisah ini dibuka oleh berita kematian ibu Mersault di Wisma Lansia di Marengo, lima puluh mil dari Algeria. Mersault pun langsung meminta cuti dan mengendarai bus ke tempat ibunya menghembuskan napas terakhir kali, dan akan disemayamkan di tempat itu juga. Sudah tiga tahun sejak Mersault mengirim ibunya ke wisma, alasannya karena mereka tak banyak berbicara. Setelah minggu-minggu awal penyesuaian, Mersault melihat bahwa ibunya mulai betah dengan kawan-kawan barunya di wisma.

Selepas penguburan ibunya, Mersault langsung pulang hari itu juga, dan menjalani kehidupannya. Saat pergi ke pelabuhan untuk berenang, dia bertemu Marie, wanita yang disukainya—dan tampaknya membalas perasaannya. Kembali bekerja, makan siang bersama rekan kerjanya—Emmanuel, di restoran Tuan Celeste—langganannya. Di apartemennya ada seorang tua bernama Salamano yang memiliki anjing tua, yang anehnya meski selalu bersama-sama, mereka tidak pernah akur. Juga ada Raymond Sintes yang sedang bermasalah dengan seorang wanita.

Suatu hari, Raymond mengajak Mersault berlibur ke bungalownya di dekat pantai, bersama seorang teman di sana. Di sana, tampaknya Raymond diikuti oleh sekelompok orang, dimana salah satunya adalah kakak dari wanita yang bermasalah dengannya. Awalnya mereka diserang oleh gerombolan itu, meski terluka, namun Raymond, Mersault dan kawan mereka berhasil menanganinya. Siang itu, Mersault kembali ke pantai sendirian, bertemu dengan salah seorang dari gerombolan itu, yang juga sedang sendirian, dan menembaknya, lima kali.

Aku sendiri tidak begitu merasa menyesal atas apa yang telah kuperbuat. Menurut pendapatku, ia terlalu melebih-lebihkan masalahnya dan aku ingin sekali memperoleh kesempatan untuk menjelaskan padanya dengan cara-cara yang bersahabat dan ramah bahwa selama hidupku aku tidak pernah menyesal atas apa saja yang kukerjakan. (p.135)

Di dalam penjara inilah, kita mulai melihat ke dalam pemikiran Mersault. Dia dituduh atas kejahatan pembunuhan berencana, dan jaksa mengajukan pemberat berupa kenyataan bahwa Mersault tidak menangis pada penguburan ibunya, menolak untuk melihat mayat ibunya, bahkan tidak menunjukkan sikap sedih pada saat itu. Jaksa memaparkan tentang kencannya dengan Marie, yang hanya berjarak beberapa hari dari kematian ibunya. Singkatnya, jaksa itu menonjolkan  ‘kekerasan hati’ Mersault. Di lain pihak, Mersault menyusahkan pengacaranya dengan tidak memberikan bantahan atau bukti sebaliknya dari apa yang dituduhkan padanya. Mersault tidak memiliki alasan, dia mungkin tidak seperti yang dituduhkan, tetapi dia tak bisa memberikan bukti sebaliknya.

Ibu selalu bilang padaku dulu, bahwa betapapun miskinnya dan menderitanya seseorang, namun selalu ada sesuatu tempat kita mengucapkan syukur. (p.152)

Buku ini tentu saja tidak menawarkan kisah pembunuhan dan pengadilan. Buku ini menyajikan Mersault, dan sifat serta sikapnya yang tak terpahami oleh orang-orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya hanya bisa melihat ‘kulit luar’nya saja. Mersault yang praktis dan jarang menampakkan emosi, baik dari kata-kata maupun tindakannya. Namun demikian, apa sebenarnya yang ada di dalam benaknya itu? Benarkah dia adalah seseorang yang keras hati?

Menurut saya, Mersault adalah gambaran ‘unik’ yang menarik dari seorang manusia. Dia tidak berpikir seperti kebanyakan orang, segala tindakannya didasari oleh alasan yang sederhana saja—jika tidak boleh dikatakan tidak memiliki alasan yang besar. Di dalam dirinya berkecamuk pertanyaan-pertanyaan mendasar, jiwanya memberontak atas apa yang tampak sebagai hal yang ‘wajar saja’, dan dia pun memegang suatu prinsip hidupnya sendiri. Di tengah kecamuk pikirannya dalam penjara, perlahan kita melihat betapa hakikat sesungguhnya kehidupan dalam pandangan Mersault. Dia bukannya tidak takut akan hukuman mati, tapi dia menghadapinya dengan caranya sendiri. Ada paradoks dalam diri Mersault, tetapi Camus berhasil meramunya dengan indah dan ‘wajar’.

Dalam edisi terjemahan yang saya baca ini sebenarnya cukup dapat diterima, meskipun kesalahan ketik masih tersebar dimana-mana. Akan tetapi, saya merasa agak janggal dengan penerjemahan “Orang Aneh” pada judulnya. Saya lebih menyukai penerjemahannya menjadi “Orang Asing” (yang saya lihat digunakan oleh penerbit lain untuk buku yang sama), atau bahkan “Orang Luar” yang mengacu pada terjemahan bahasa Inggris dari “The Outsider”. Oleh karena yang saya tangkap di sini, Camus ingin menonjolkan seorang pribadi yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya, atau bisa dikatakan di luar lingkaran komunitas manusia yang berpikiran sama. Menurut saya, kata “aneh” kurang dapat merepresentasikan makna tersebut, meskipun secara arti kata tetap bisa diterima.

4/5 bintang untuk absurditas yang mengajak kita berpikir di luar lingkaran.

*Review ini dibuat dalam rangka #PostingBersama @BBI_2011 dengan tema penulis peraih penghargaan Nobel.

Sekilas tentang penulis:

Albert Camus (7 November 1913 – 4 Januari 1960) adalah penulis, jurnalis dan filsuf berkebangsaan Perancis, lahir dan tinggal di Algeria. Dia berkontribusi atas berkembangnya filosofi absurdisme dan eksistensialisme, meskipun dia sendiri menolak untuk dihubung-hubungkan dengan ideologi apa pun. Dia mendapatkan Nobel Prize for Literature pada tahun 1957  “for his important literary production, which with clear-sighted earnestness illuminates the problems of the human conscience in our times”. Camus adalah penerima Nobel termuda kedua setelah Rudyard Kipling. Dia meninggal karena kecelakaan mobil, dua tahun setelah menerima penghargaan Nobel.

Pemikiran filosofisnya dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Camus mewujudkannya dengan menciptakan karakter dan peristiwa fiksi yang dramatis, bukan hanya berupa pemikiran dan analisis. Ide absurditas, atau hal-hal yang bertentangan dengan pandangan umum, serta pemikiran-pemikiran paradoksnya tertuang dalam karya-karyanya, yang salah satunya terlihat dalam karyanya yang ini.

Semasa hidupnya, Camus telah menerbitkan tiga novel (The Stranger, The Plague dan The Fall),  dan dua esai filosofis yang utama (The Myth of Sisyphus dan The Rebel). Di samping itu juga ada novel autobiografi (The First Man), beberapa cerita pendek, esai, artikel, naskah drama, terjemahan dan adaptasi (beberapa karya dariCalderon, Lope de Vega, Dostoyevsky, dan Faulkner).

Lebih lengkap dapat dilihat di:
http://www.iep.utm.edu/camus/
http://en.wikipedia.org/wiki/Albert_Camus
http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1957/camus-bio.html