Category Archives: Arifin C Noer

Scene on Three (123)

Tidak mungkin menolong orang dengan mencelakakan orang lain. Tidak mungkin membangun kebudayaan dengan alasan dendam dan kebencian. Logika apa itu? Atas nama kemelaratan kamu melakukan perampokan dan mengumumkannya sebagai perang suci! (Ozone, hal.396)

Bagian yang saya ambil dari buku Orkes Madun karya Arifin C Noer ini ditulis hampir dua dekade lalu, tetapi masih relevan hingga saat ini. Buku yang sudah saya bahas di review ini memang menunjukkan berbagai fenomena sosial yang kebanyakan bisa kita tarik sejarahnya, bahkan masih kita rasakan hingga saat ini.

Kalimat di atas mewakili kegelisahan saya akan sebagian manusia hari ini yang membenarkan kejahatan atas nama kebaikan. Entah standar moral apa yang mereka pergunakan, ada hal-hal yang tidak bisa saya maklumi ataupun sepakati untuk tidak sepakat. Ada prinsip nilai yang dilanggar ketika kejahatan dibenarkan, yang menurut saya menggugurkan segala alasan yang mendasari kebaikan yang mereka tuju.

Ada masanya saya mencoba menelusuri pola pikir orang-orang semacam itu, berusaha memahami tanpa prasangka buruk, tetapi saya selalu gagal. Ada dinding tipis yang riskan untuk dilewati, yang tak ingin kulanggar, dan tak bisa kumaklumi. Mungkin, perlu sebuah pendekatan yang berbeda untuk memahaminya, atau membiarkan semuanya berjalan apa adanya, dan semaksimal mungkin menegakkan apa yang kita yakini masing-masing, lalu biarkan alam semesta yang menyeleksinya.

Bagikan link Scene on Three-mu di kolom komentar Scene on Three yang terakhir.

Mini Reviews: Indonesian Plays

Buku yang dibicarakan:

Orkes Madun karya Arifin C. Noer (1999)
Pustaka Firdaus, Cetakan Pertama, Maret 2000, 436 halaman

Topeng Kayu karya Kuntowijoyo
Yayasan Bentang Budaya, Cetakan Pertama, Maret 2001, 258 halaman

Hakim Sarmin Presiden Kita karya Agus Noor
Basabasi, Cetakan Pertama, Maret 2017, 260 halaman

Laki-Laki Bersayap Patah karya Yudhi Herwibowo
BukuKatta, Cetakan Pertama, September 2017, 140 halaman

Ada masanya saya pertama kali membaca karya-karya Shakespeare, naskah drama Oscar Wilde, dan beberapa penulis Eropa yang lain. Dari situ saya memiliki gambaran mengenai play (naskah drama) dari beberapa masa dan gaya. Namun, sebagai orang Indonesia, tentunya tak lengkap jika saya tidak mencicip juga naskah drama karya penulis lokal. Oleh karenanya sejak beberapa tahun lalu, saya pelan-pelan mencari dan membaca naskah drama lokal yang sekiranya bisa memperkaya pengalaman membaca karya jenis ini.

Pada dasarnya, sebuah naskah drama ditulis untuk dipentaskan. Jadi, ketika membaca tulisan-tulisan tersebut, saya memainkan peran-peran di kepala saya. Persamaan dari jenis karya ini, termasuk karya penulis luar negeri, adalah ketiadaan bangunan latar belakang dan karakter yang utuh. Tentunya tidak semua, seperti Vera (Oscar Wilde) yang saya yang rasa cukup kuat karakternya, atau An Ideal Husband yang memiliki konflik yang utuh dan kompleks, ataupun A Doll’s House (Henrik Ibsen) yang menggambarkan setting tempat yang cukup familiar. Namun, tetap kita tidak bisa membandingkannya dengan novel yang memiliki unsur-unsur jelas.

Keempat judul yang saya sebutkan di atas memiliki gaya penulisan dan titik berat yang berbeda, persamaannya adalah, jangan membacanya secara serius, tidak perlu mencari-cari makna di setiap kalimat yang tertulis (atau terucap). Karena seperti yang disebutkan Kuntowijoyo dalam pengantarnya:

Demikianlah jangan mencoba mencari makna satu per satu dalam drama ini nanti Anda bisa tersesat, tapi cari pesannya. Anggap saja kata-kata itu hanya celoteh yang boleh bermakna boleh tidak. Sebab, seperti kredo puisi Sutardji Calzoum Bachri, kata-kata telah bebas dari makna. Tapi, ada bedanya. Puisi Sutardji Calzoum Bachri memakai mantra sebagai model; jadi yang perlu bukan kata tapi bunyi. Mantra adalah sihir bunyi. Akan tetapi, drama ini lebih dari itu; modelnya ialah dolanan bocah. Dalam dolanan bocah, kata, kalimat, dan bahkan bait semuanya kehilangan makna. Bunyi juga tidak diperlukan. (Topeng Kayu, hal.vi)

Meski begitu, ketiga buku yang lain tidak sekental Kuntowijoyo membangun ‘sihir suasana’ seperti dolanan bocah yang diistilahkannya. Orkes Madun sesekali membangun suasana dengan permainan kata tersebut, tetapi dialog antar karakter yang membangun sebuah konflik jauh lebih banyak. Sedangkan Agus Noor lebih mudah ditangkap karena hampir setiap dialognya memiliki makna. Berbeda lagi dengan Yudhi Herwibowo yang banyak menampilkan monolog karakternya, sehingga rasanya kalimat-kalimat di sini menjadi lebih penting dari sekadar pembangun suasana.

Saya tak hendak mengunggulkan karya yang satu dengan yang lainnya, karena memang bukan ahlinya. Namun, dari kacamata sebagai pembaca, saya lebih mudah menikmati Hakim Sarmin Presiden Kita. Buku ini sebenarnya terdiri dari dua buah drama, yaitu Hakim Sarmin dan Presiden Kita Tercinta. Keduanya bisa berdiri sendiri meski sebagian karakternya sama, dan kisahnya berhubungan. Drama ini mengangkat tema mengenai intrik politik, kekuasaan, dan penegakan hukum. Suasana yang digambarkan adalah situasi terkini, penuh dengan sindiran serta referensi politik dan sejarah, dan tentu saja humor yang jamak menjadi bungkus yang relatif aman bagi kritikan terhadap penguasa, sekaligus menghibur pembaca (atau penonton).

Sebab hakim yang gila hanya mungkin dilahirkan oleh masyarakat yang gila. Hukum itu cermin masyarakat, kalau hakimnya gila, pasti masyarakatnya lebih gila. (Hakim Sarmin, hal.52)

Kita memang hidup di zaman yang telah dipenuhi kegilaan. Keadilan dan kegilaan sulit dibedakan. (Hakim Sarmin, hal.122)

Revolusi selalu dimulai oleh mereka yang gila… (Hakim Sarmin, hal.128)

Hakim Sarmin sendiri menitikberatkan pada pergerakan revolusi hukum dan kekuasaan, dengan plot twist yang bertebaran di mana-mana. Sedangkan Presiden Kita Tercinta menceritakan tirani dan kudeta dari sudut pandang pemilik kekuasaan. Dari bayangan saya, untuk mementaskan lakon ini cukup mudah, karena disertai panduan dari penulisnya sendiri, dan propertinya tidak terlalu rumit. Namun, oleh karena situasinya sangat terkini, dengan bahasa dan istilah kekinian tersebar dalam kalimat-kalimatnya, rasanya jika suatu saat buku ini menjadi klasik, akan memerlukan catatan kaki untuk menjelaskan kata dan istilah tersebut.

Menawi Diparani,
….

Demokrasi hanyalah jalan. Dan kita tahu, banyak jalan menuju Roma.
Paringan,
Jangan lupa pake Wise atau GPS… biar tak tersesat…

Pak Kunjaran,
Setuju!

(Hakim Sarmin, hal.117-118)

Orkes Madun dimaksudkan menjadi sebuah pentalogi, tapi lakon kelima, Magma, belum sempat ditulis. Namun, karena penulis sudah bercerita ke mana-mana mengenai Magma, anak-anak Sekolah Perancis di Jakarta yang juga mendengar kisahnya membuatnya menjadi komik dan dimuat dalam buku ini. Keempat lakon yang telah ditulis dan dipentaskan di Teater Kecil berturut-turut; I. Madekur dan Tarkeni, IIa. Umang-Umang, IIb. Sandek, Pemuda Pekerja, dan IV. Ozone.

Tema yang diusung dalam keempat lakon ini cukup luas, dan ada keterkaitan satu sama lain. Tentang kemiskinan, kekuasaan, gender, nafsu manusia, yang disampaikan seolah tanpa beban. Bahkan ada beberapa detail sains yang sangat relevan meski disebutkan sambil lalu. Banyak di antara kalimat-kalimat karakternya yang spontan dan acuh, terselip sindiran, kebijaksanaan, maupun celetukan yang cukup filosofis.

…kapitalis tetap akan memegang tampuk pemerintahan di mana-mana. Barangkali dan bukan tidak mungkin kapitalis akan meminjam nama lain, bahkan bukan mustahil ia akan tampil sebagai seorang komunis atau seorang sosialis. (Sandek, hal.254)

BOROK                 : Hukuman apa yang paling hebat di dunia selain hukuman mati? Saya rela dipancung. Saya sudi ditembak berkali-kali. Saya mau dicincang-cincang lalu dicampur dengan adonan semen. Saya mau mati.
RANGGONG      : Justru sebaliknya. Hukuman yang paling berat ternyata adalah menanggung kehidupan dan hidup lebih dari kemampuan kita. Hukuman hidup!
(Ozone, hal.321)

Laki-Laki Bersayap Patah juga merupakan kumpulan drama, yaitu Aku, Aku; Laki-Laki Bersayap Patah; Terkutuk; dan Pendekar Sesat, Pendekar Ular. Jika dibandingkan dengan drama lain yang disebutkan di sini, dialog serta konflik dalam buku ini lebih ‘serius’. Hampir setiap kalimatnya bermakna, tidak didominasi dengan kata-kata ‘sihir suasana’. Drama yang diangkat lebih menitikberatkan pada konfliknya, sehingga plot yang disuguhkan menyimpan kejutan penyelesaian di akhirnya yang menanti memberi kejutan. Temanya pun menarik, yang cukup terasa adalah konflik psikologis dan drama keluarga yang cukup gelap.

Ada aroma surealisme yang kental dalam drama-drama di buku ini, yang membuat saya seolah membaca cerpen. Ternyata memang ada lakon yang diubah bentuk dari cerpen penulisnya sendiri. Dengan membaca dalam bentuk drama (atau menontonnya), rasanya mungkin akan lebih mudah dibayangkan. Begitu pula karakternya, masing-masing memiliki pembeda yang menonjol, sehingga akan lebih membutuhkan pendalaman bagi para pemeran untuk menampilkannya. Apalagi di sini banyak sekali monolog, baik itu percakapan batin, maupun penjelasan situasi yang disampaikan secara panjang lebar. Di satu sisi kita mengetahui lebih dalam mengenai konflik dan karakternya, tetapi di sisi lain monolog ini semacam kurang memaksimalkan interaksi antar karakter yang seharusnya membangun sebuah drama.

Dalam Topeng Kayu, Kuntowijoyo hendak mengkritisi kekuasaan, semua kekuasaan selain kekuasaan Tuhan (hal ini disampaikannya dalam pengantar). Rasanya memang pengantar ini menjadi sangat penting bagi pembaca awam seperti saya, yang hanya bisa menangkap sedikit-sedikit dari sihir suasana yang dibangun begitu kokoh.

Tanpa impian kenyataan tak terasa. Tanpa larangan kebolehan tak terasa. Tanpa ikatan kemerdekaan tak terasa. Tanpa kejahatan kebaikan tak terasa. Tanpa hitam putih tak terasa. Ternyata kita tersesat! (Topeng Kayu, hal.120)

Wah, itulah kesalahan umum. Disangka segalanya berhubungan. Tidak selalu harus. Perbuatan tidak selalu harus berhubungan dengan hasilnya. Pohon tidak selalu berhubungan dengan buahnya. Itu mesin. Itu nalar. Itu pikiran. Kekuasaan yang sempurna di luar semua itu. (hal.219)

Dari keempat buku yang saya baca ini, rasanya masih penasaran dengan karya yang lain, dan utamanya, masih ingin melihat karya-karya ini dipentaskan. Apakah bisa semakin menjelaskan maksudnya, atau justru menimbulkan kesan yang baru?

Scene on Three (117)

SceneOnThree

Menurut dongengnya zaman kita yang serba efisien ini dibangun oleh manusia-manusia yang cacat, manusia-manusia yang tidak lengkap dan zaman ini adalah zamannya pemarah-pemarah. Rupanya badut-badut zaman pertengahan dahulu telah menciptakan lakon banyolan yang penuh darah dengan perlengkapan panggung yang tidak tanggung-tanggung. Kalau badut-badut itu mampu bangkit lagi dari kuburnya pasti mereka akan meminta maaf kepada kita semua, tapi mereka tidak akan pernah bangkit lagi dan karenanya mereka tidak perlu minta maaf. Kita yang sekarang diperlukan oleh zaman ini. Kita manusia. Kedudukan kita sedang gawat karena mendapat saingan luar biasa dari bayangan kita sendiri yang bernama komputer dan sejenisnya. Bahkan peperangan antara kita pada suatu hari tanpa kita sadari digerakkan oleh mereka! Dan dibalik mereka adalah badut-badut dan anak cucu mereka yang bernama materialisme yang produknya adalah kemiskinan dan kekafiran. (hal.281)

Scene kali ini masih saya ambil dari Orkes Madun karya Arifin C Noer. Dialog (atau monolog) itu menunjukkan gambaran buku ini secara umum menurut saya; kalimat-kalimat yang tak jelas arahnya, terkesan melantur, tetapi pada hakikatnya penuh dengan sindiran dan filosofi. Kalimat-kalimat semacam ini banyak saya temukan dalam naskah drama ini, bahkan sebagian lebih sulit dipahami ketimbang contoh di atas. Namun semakin lama memang saya semakin bisa mengapresiasi karya penulis yang satu ini.

Bagikan scene-mu hari ini, dan hari-hari berunsur tiga sebulan ke depan, caranya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Link 13 Juni 2016

Link 23 Juni 2016

Link 30 Juni 2016

Link 3 Juli 2016

Scene on Three (116)

SceneOnThree

“Hidup membutuhkan mati. Anak-anakku, setiap mahluk mempunyai batas waktu hidup yang pada dasarnya telah disesuaikan dengan kemampuan mahluk itu dalam rangka kesemestaan. Di luar atau keluar dari kerangka ini akan menyebabkan kegoncangan-kegoncangan, baik pada semesta maupun pada yang bersangkutan sendiri.” (hal.174)

Setelah membaca Shakespeare dan beberapa play Eropa, saya jadi tertarik membaca play dari berbagai negara. Beberapa yang sudah saya koleksi termasuk Indonesia dan Jepang. Bulan lalu adalah bulan Shakespeare, mungkin sedikit banyak menggerakkan saya untuk membaca beberapa koleksi play saya.

Kutipan di atas berasal dari naskah Orkes Madun karya Arifin C Noer yang baru setengah jalan saya baca. Jujur saja, saya belum menangkap ‘tema besar’ yang disampaikan oleh penulis, tetapi tetap saja saya menemukan beberapa kutipan menarik, ide-ide kecil yang mungkin merupakan penyusun dari tema besar yang cukup samar di sini.

Konteks dari kutipan di atas adalah seseorang yang hendak mengingkari kematian, mengharapkan hidup yang lebih panjang dari yang sewajarnya. Walaupun tak mesti sepakat, konsep kehidupan dan kematian yang disebutkan oleh tokoh tersebut cukup berfilosofi. Bahwa kita hidup di dunia ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi orang lain dan makhluk lain, pun perginya kita dari dunia ini juga akan berhubungan dan mempengaruhi orang dan makhluk lain. Hampir mirip dengan konsep perjalanan waktu yang biasanya menjadi kontroversi saat seseorang mengubah takdirnya, yang akan mengubah banyak rantai di kemudian hari. Yah, sebenarnya tidak terlalu berhubungan ya, tetapi entah mengapa saya berpikir ke sana.

Bagikan scene-mu hari ini, dan hari-hari berunsur tiga sebulan ke depan dengan :

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Link 13 Mei 2016

Link 23 Mei 2016

Link 30-31 Mei 2016

Link 3 Juni 2016