Category Archives: Beatrix Potter

(Some) Tales Collection – Beatrix Potter

Contents:

The Tale of Squirrel Nutkin (1903, Frederick Warne & Co)
The Tale of Two Bad Mice (1904)
The Tale of Mrs. Tiggy-Winkle (1905, Frederick Warne & Co)
The Tale of the Pie and the Patty-Pan (1905, Frederick Warne & Co)
The Tale of Mr. Jeremy Fisher (1906, Frederick Warne & Co)
The Story of Miss Moppet (1906, Frederick Warne & Co)
The Tale of Jemima Puddle-Duck (1908, Frederick Warne & Co)
The Tale of Samuel Whiskers, or The Roly-Poly Pudding (1908, Project Gutenberg EBook #15575)
The Tale of Ginger and Pickles (1909, Project Gutenberg Ebook #14877)
The Tale of Johnny Town-Mouse (1918, Project Gutenberg EBook #15284)

Februari : Karakter Tokoh Utama

Februari : Karakter Tokoh Utama

Beatrix Potter adalah salah satu penulis sekaligus ilustrator kisah anak yang paling dikenal. Berbicara tentang karakter tokoh utama, hampir semua karakter yang digunakan oleh Beatrix Potter mencerminkan masalah anak-anak; kenakalan, kebingungan, adaptasi, dan lain sebagainya, dengan menggunakan hewan. Hewan yang digunakan pun bervariasi. Salah satu karakter yang menjadi tanda pengenalnya adalah Peter Rabbit si kelinci, yang muncul dalam beberapa kisahnya, termasuk The Tale of Peter Rabbit dan The Tale of Benjamin Bunny.

Namun, ternyata Potter tidak hanya menggunakan kelinci yang identik dengan lucu untuk karakter-karakter utamanya, ada kucing, tikus, bebek, bahkan katak, yang jauh dari kesan menyenangkan untuk dijadikan dongeng.

Squirrel Nutkin

Squirrel Nutkin

Dalam The Tale of Squirrel Nutkin, ada Nutkin si tupai yang tidak disukai karena tidak menghormati tokoh yang dituakan, serta tidak ikut bekerja sebagaimana penduduk lainnya. Tokoh yang dituakan tersebut adalah Old Brown si burung hantu, yang ‘menguasai’ pulau tempat tupai-tupai mengumpulkan makanan pada musim tertentu, dengan membawa ‘sesaji’. Hubungan keduanya dikisahkan secara menarik dalam kisah ini, melalui teka-teki yang dilontarkan Nutkin dan sikap diam Old Brown yang berwibawa, yang membuat saya bertanya-tanya apa yang dipikirkan Old Brown. Di akhir kisah, ada perubahan pada Nutkin, tetapi saya masih tidak yakin dengan pesan kisah ini. Mungkin kisah ini adalah salah satu yang menarik untuk dibaca berulang-ulang, demi menemukan pesan tersembunyi dalam teka-teki Nutkin.

Sebagaimana judulnya, The Tale of Two Bad Mice mengisahkan dua tikus nakal yang mengacak-acak rumah boneka karena tergiur oleh makanan enak yang disajikan di sana. Kegagalan untuk menikmati makanan tersebut, dilanjutkan kegagalan untuk menemukan kenyamanan di rumah itu menimbulkan kemarahan sesaat yang membuat mereka melakukan hal-hal buruk. Sebenarnya lucu juga dua tikus itu kecewa dengan apa yang mereka temukan di rumah boneka. Namun, kata penulis, sebenarnya mereka tidak terlalu nakal. Pada akhirnya mereka ‘membayar’ kekacauan yang mereka buat. Meski saya pribadi lebih suka kalau mereka meminta maaf secara langsung. Sayangnya, dua boneka penghuni rumah tersebut tidak diceritakan lebih banyak, padahal sepertinya ada sisi menarik yang bisa dieksplorasi.

Tiggy-Winkle

Tiggy-Winkle

The Tale of Tiggy-Winkle masih memiliki karakter hewan, tetapi yang sedikit berbeda di sini adalah bahwa karakter utamanya adalah manusia. Mengisahkan petualangan seorang gadis bernama Lucie, mencari sapu tangannya yang (selalu) hilang. Saya suka gambar dan deskripsi saat Lucie menaiki bukit untuk mencari sapu tangannya, pemandangannya digambarkan dengan indah. Kemudian saat Lucie bertemu Mrs. Tiggy-Winkle, buku ini memperkenalkan beberapa macam jenis pakaian. Cara yang asyik untuk belajar bagi anak-anak yang sudah mulai bosan dengan buku bergambar biasa yang tanpa cerita. Kalimat-kalimat Lucie, dialognya dengan hewan-hewan dan Mrs. Tiggy-Winkle sangat manis. Di sini juga sekali disebut nama Peter Rabbit dan Benjamin Bunny. Akhirnya juga menjadi favorit saya, mengajak pembaca untuk berimajinasi tentang apa yang terjadi pada Lucie dan Mrs. Tiggy-Winkle yang sesungguhnya. Apakah petualangan Lucie—yang manusia,bersama Mrs. Tiggy-Winkle—yang tidak tampak seperti manusia, itu nyata?

Dalam The Tale of the Pie and the Patty-Pan, Potter menyoroti hubungan kucing dengan anjing. Bagaimana jika seekor kucing mengundang anjing ke pestanya. Dengan bangga, kucing mempersembahkan pie tikus terbaiknya untuk sang tamu, sedangkan si anjing mati-matian berusaha agar tak memakan tikus tanpa memberi tahu si tuan rumah. Yang terjadi adalah kesalahpahaman konyol yang seharusnya dapat diselesaikan dengan satu kalimat baik-baik. Kisah ini bagai perjalanan panjang dengan ketegangan-ketegangan kecil yang mungkin ditunggu-tunggu. Hingga pada akhirnya, kucing dan anjing sepertinya memang tidak akan rukun.

Jeremy Fisher

Jeremy Fisher

Karakter katak muncul dalam The Tale of Mr. Jeremy Fisher. Jeremy, sang katak, mengajak kita ke suasana persiapan piknik, yang meski tak berjalan dengan lancar, toh akhirnya tetap piknik juga. Pada setiap piknik pasti melibatkan makanan, dan makanan Jeremy, mungkin bisa ditebak sejenis apa saja. Jadi bagi yang bukan ‘pemakan segala’, bersiap-siap saja, menu Jeremy mungkin sedikit tidak mengundang selera.

Selain petualangan Lucie, di antara kisah yang saya sebutkan di sini, terfavorit saya adalah The Story of Miss Moppet. Kisah ini pendek saja, sangat pendek, lucu dan sederhana. Kisah ini melibatkan Miss Moppet si kucing, dengan tikus kecil. Pesan moral yang digambarkan dalam cerita sederhana ini tidak terlalu muluk tetapi sangat menggambarkan kehidupan. Dari sini saya merasa bahwa Potter menunjukkan betapa dalam hidup ini ada dua sisi yang tidak selalu benar atau salah, ada sesuatu yang hanya bisa dimaklumi saja, sesuatu yang sudah merupakan hukum alam dan bawaan dari karakter masing-masing.

Miss Moppet

Miss Moppet

Jemima Puddle-Duck

Jemima Puddle-Duck

The Tale of Jemima Puddle-Duck menyuguhkan kisah yang relatif agak panjang, dengan kosa kata yang lumayan banyak. Jemima si bebek sebenarnya punya niat yang baik untuk merawat telur-telurnya, dan berusaha mewujudkan dengan usahanya sendiri. Namun, dia jadi kurang waspada dan justru berakhir dengan kurang baik. Karakter Jemima di sini memang digambarkan sebagai bebek yang ceroboh dan kurang cerdik. Niat yang baik sepertinya harus didukung dengan kemampuan yang baik juga.

The Tale of Samuel Whiskers, or The Roly-Poly Pudding ini agak sedikit absurd, setidaknya paling absurd di antara yang sudah saya sebutkan. Tentang seekor anak kucing yang hendak dimangsa tikus besar (rat), sebuah rantai makanan yang tidak wajar. Si anak kucing yang nakal dan tidak menuruti orang tuanya, tiba-tiba menghilang entah ke mana, dan ternyata masuk ke sarang tikus. Roly-poly pudding sudah hampir siap ketika ada aksi heroik dari seekor anjing. Kisah ini agak panjang, tapi tetap dengan bahasa sesederhana cerita-cerita yang lebih pendek. Penyelesaiannya juga cukup mengena.

Roly-Poly Pudding

Roly-Poly Pudding

Dalam The Tale of Ginger and Pickles, ada kucing dan anjing yang mengelola sebuah toko bersama-sama, juga disebutkan karakter jenis lain yang merupakan pesaing mereka. Masalah timbul karena pelanggan mereka yang terkadang terlihat ‘lezat’, karena berasal dari berbagai spesies penghuni daerah itu, juga karena keduanya terlalu baik memberikan kredit.

Now the meaning of “credit” is this—when a costumer buys a bar of soap, instead of the customer pulling out a purse and paying for it—she says she will pay another time.

Kisah ini agak nanggung jika dilihat dari sisi masalah ekonomi di daerah itu. Penyelesaiannya juga kurang mantap. Intinya, memang ketiadaan tanggung jawab bisa merugikan orang lain. Namun, mengapa orang-orang (atau boneka-boneka dan hewan-hewan lain) yang tidak bertanggung jawab itu rasanya tetap tenang-tenang saja?

Judul The Tale of Johnny Town-Mouse agak kurang cocok menurut saya, karena Johnny lebih sebagai pelengkap dalam kisah ini. Karakter utama dalam cerita ini adalah Timmy Willie, seekor tikus desa yang terbawa ke kota. Dia bertemu para tikus kota, salah satunya Johnny, yang menjamunya dengan baik. Sayangnya, tak ada tempat seindah rumah, Timmy tidak betah dan memutuskan pulang ke desa. Lama berselang, Johnny melakukan kunjungan balik, dan sekali lagi, tak ada tempat seindah rumah.

Johnny Town-Mouse

Johnny Town-Mouse

Desa dan kota adalah dua tempat yang sangat berbeda, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun bagi penghuni asli, rumah adalah tempat paling nyaman. Dalam kasus ini, Beatrix Potter menyatakan bahwa rumahnya adalah di pedesaan.

“One place suits one person, another place suits another person. For my part I prefer to live in the country, like Timmy Willie.”

Ceritanya dibawakan dengan cantik, secantik ilustrasi yang menghiasinya.

Sepuluh kisah dari Beatrix Potter ini sedikit banyak menunjukkan bahwa dia tidak membuat sebuah citra yang khas bagi karakter-karakter hewannya. Meski ada tikus yang nakal, bukan berarti semua tikus nakal, ada Timmy Willie dan Johnny Town-Mouse yang baik, ada juga Samuel Whiskers yang kejam. Ada kucing dan anjing yang tidak rukun, tetapi ada juga yang bisa bekerja sama.

Yang pasti, kekayaan karakter Potter sangat terlihat. Mulai dari jenis spesies karakter tersebut, hingga sifat-sifat dan masalah mereka. Sederhana, tetapi sangat rapi dan mengesankan.

Review #15 of Children’s Literature Reading Project

Scene on Three (51)

SceneOnThree

Ginger and Pickles were the people who kept the shop. Ginger was a yellow tom-cat, and Pickles was a terrier.

The rabbits were always a little bit afraid of Pickles.

 

ginger_fig13

grayp14

The shop was also patronized by mice—only the mice were rather afraid of Ginger.

Ginger usually requested Pickles to serve them, because he said it made his mouth water.

“I cannot bear,” said he, “to see them going out at the door carrying their little parcels.”

“I have the same feeling about rats,” replied Pickles, “but it would never do to eat our own customers; they would leave us and go to Tabitha Twitchit’s.”

Tahun ini saya punya kebiasaan baru, saat sedang sibuk-sibuknya hingga tak sempat membaca buku (terutama karena takut keasyikan atau khawatir terlalu penasaran), saya akan membaca picture books sekali duduk di ponsel saya. Karena saya memulai dari Beatrix Potter, maka saya masih meneruskannya sampai saat ini, mungkin sampai semua judul sudah saya baca (lebih karena belum menemukan yang lebih bagus juga sih, ada yang punya rekomendasi?).

Kutipan di atas (beserta gambarnya) diambil dari buku Beatrix Potter yang berjudul The Tale of Ginger and Pickles. Kutipan itu adalah salah satu perkenalan karakter terbaik yang pernah saya baca. Selain memperkenalkan siapakah orang (atau makhluk) yang menjadi judul buku ini, Miss Potter juga menggambarkan dengan sangat baik karakteristik (makanan) mereka. Dialog yang terjadi antara Ginger dan Pickles juga sangat polos, dan karenanya mengundang senyum saat saya membacanya.

Ingin berbagi scene menarik di Scene on Three, silakan:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

The Tale of Benjamin Bunny – Beatrix Potter

Benjamin BunnyTitle : The Tale of Benjamin Bunny
Author & Illustrator : Beatrix Potter (1904)
Publisher : Frederick Warne & Co., Inc
Format : Ebook

Kisah Benjamin Bunny merupakan kelanjutan dari Kisah Peter Rabbit yang telah saya review di sini. Benjamin adalah sepupu dari Peter. Suatu hari, setelah melihat bahwa pasangan McGregor pergi dengan kereta kuda, dia pergi ke rumah bibinya yang berada di hutan di belakang taman Mr. McGregor. Sebelum bertemu dengan bibinya, Benjamin melihat Peter duduk sendirian dengan tubuh terbungkus sapu tangan.

Benjamin Bunny 1Peter pun menceritakan tentang pakaiannya yang kini digunakan di orang-orangan sawah milik Mr. McGregor. Dengan bersemangat, Benjamin mengajak Peter untuk mengambil kembali pakaiannya, mumpung pemilik kebun tersebut sedang bepergian.

Setelah mengambil kembali pakaian Peter, Benjamin agak lupa diri dan mulai mencuri seperti yang dulu Peter lakukan, sementara Peter sendiri ketakutan karena merasa mendengar sesuatu. Dengan membawa bawang curian, mereka berdua harus mencari jalan keluar lain. Namun sebelum keluar, mereka harus bersembunyi dari seekor kucing, dan sayangnya, malah terjebak di bawah keranjang selama berjam-jam.

Benjamin Bunny 2Ayah Benjamin yang khawatir akan keadaan putranya akhirnya berhasil menemukan dan membebaskan mereka berdua. Benjamin mendapatkan hukuman dari ayahnya, sedangkan di rumah, Peter dimaafkan karena telah menemukan kembali pakaiannya, serta membawa sayuran cukup banyak untuk disimpan.

Kesan saya tentang buku ini tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Ilustrasi sederhana nan cantik, menghiasi kisah sederhana namun sarat makna. Hukuman yang diterima oleh Peter sebelumnya tampaknya sudah membuatnya jera. Dengan sikap Benjamin yang kemudian tergoda akan hasil kebun Mr. McGregor, rasanya kita melihat kembali hasrat Peter saat pertama kali mencuri di kebun tersebut.

Memang jika kita dihadapkan pada sesuatu hal yang melimpah ruah, yang dengan leluasa dapat kita ambil, akan ada godaan untuk melakukan apa saja. Namun, mengambil sesuatu yang bukan hak kita tentu bukanlah sikap yang baik, dan Benjamin pun mendapatkan hukuman karena itu. Hukuman pertama saat dia terperangkap di bawah keranjang, dan yang kedua dari ayahnya.

The Tale of Benjamin Bunny cover.jpgDalam buku ini, ada satu bagian lucu yang menjadi favorit saya karena kreatifitas sang penulis untuk mengangkat hal ini:

I cannot draw you a picture of Peter and Benjamin underneath the basket, because it was quite dark, and because the smell of onions was fearful; it made Peter Rabbit and little Benjamin cry.

Review #3 of Children’s Literature Reading Project

The Tale of Peter Rabbit – Beatrix Potter

Peter RabbitTitle : The Tale of Peter Rabbit
Author & Illustrator : Beatrix Potter (1902)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : January 30, 2005 [EBook #14838]

Once upon a time there were four little Rabbits, and their names were—
Flopsy,
Mopsy,
Cotton-tail,
and Peter.
They lived with their Mother in a sand-bank, underneath the root of a very big fir-tree.

Peter Rabbit 1Peter adalah yang paling bandel di antara keempat kelinci tersebut. Saat ibunya hendak pergi, dia berpesan kepada keempat kelinci kecil tersebut bahwa mereka boleh bermain-main keluar, asal jangan mendekati taman Mr. McGregor. Namun begitu ibunya pergi, Peter langsung menuju ke taman Mr. McGregor dan memakan hasil kebun yang ada di sana.

Mr. McGregor pun melihat Peter mencuri hasil kebunnya, dan terjadilah kejar-kejaran di sana. Terperangkap di semak-semak, masuk ke kaleng, bersembunyi di bawah pot, berlari dan menyelinap membuat Peter menjadi berantakan dan kehilangan pakaiannya. Dia pun pulang dalam keadaan tanpa pakaian dan tidak enak badan.

Peter Rabbit 2Buku bergambar yang berisi ilustrasi dari penulis sendiri ini merupakan fabel sederhana yang cocok dibaca untuk semua usia. Bagi anak-anak, kisah Peter Rabbit menunjukkan betapa sifat serakah (mencuri di kebun Mr. McGregor), dan kenakalan Peter yang tidak menuruti pesan ibunya hanya akan membawa akibat yang buruk.

Cover of the 1901 privately published edition

Ilustrasi yang tampak sederhana namun menggambarkan dengan apik setiap kejadian, dengan warna-warni yang lembut dan detail yang tak berlebihan membuat buku ini layak dikoleksi untuk dibaca berulang-ulang. (Saya rasa suatu hari saya perlu membeli versi cetak dari buku ini)

His mother put him to bed, and made some camomile tea; and she gave a dose of it to Peter!
But Flopsy, Mopsy, and Cotton-tail had bread and milk and blackberries for supper.

Peter Rabbit first edition 1902a.jpg

First edition cover

Review #2 of Children’s Literature Reading Project

Review #2 for Lucky No.14 Reading Challenge  category Walking Down The Memory Lane