Category Archives: Diana Wynne Jones

Earwig and the Witch – Diana Wynne Jones

earwigTitle : Earwig and the Witch
Author : Diana Wynne Jones (2012)
Illustrator : Paul O. Zelinsky (2012)
Publisher : Greenwillow
Edition : First Greenwillow paperback edition, 2014, first printing
Format : Paperback, viii+120 pages

Earwig sangat ahli membuat dirinya tidak disukai. Hal itulah yang membuatnya bertahan di Panti Asuhan St. Morwarld tanpa ada yang berminat mengadopsinya. Dia sengaja melakukan itu karena dia sangat betah di St. Morwald. Di sana, semua orang memberikan apa yang diinginkannya, mulai dari Mrs. Briggs—ibu panti, tukang masak, sampai teman-temannya, terutama Custard, sahabat baiknya.

Namun suatu hari, pasangan aneh datang dan memilih mengadopsi Earwig, mereka adalah Bella Yaga dan Mandrake. Sejak pertama kali melihatnya, Earwig sudah merasakan sesuatu yang tidak wajar pada pasangan tersebut. Dan benar juga, hal-hal aneh dan tak terduga menanti Earwig di rumah barunya. Melibatkan tukang sihir dan iblis dan hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya, memulai petualangan Earwig keluar dari tempat nyamannya yang biasa.

Sebenarnya sulit untuk menyukai Earwig karena dia adalah anak yang ‘selalu menang’. Segala tindakannya hanya didasarkan pada kehendaknya saja. Akan tetapi sesekali kita bisa melihat kebenaran dalam sudut pandang Earwig. Dengan karakteristiknya, kita bisa mengiyakan tindakannya, bersimpati padanya, kesal padanya dan menyemangatinya sekaligus.

Earwig liked most of the babies and all the toddlers, but she did not think they were made to be admired. They were people, not dolls. (p.3)

Dalam buku kecil ini, tersimpan sebuah kisah sederhana yang sebenarnya cukup kompleks. Inti ceritanya adalah bagaimana Earwig menciptakan suasana nyaman di rumah barunya. Akan tetapi akan ada pertanyaan-pertanyaan yang tertinggal, yang rasanya bisa menjadi bahan kelanjutan kisah ini, seandainya sang penulis masih hidup. Mengenai asal-muasal Earwig yang cukup misterius sempat disinggung di awal, tetapi tak disebutkan hubungannya kemudian. Menurut saya, bisa saja itu berhubungan, sangat mungkin, dan akan sangat menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Begitu pula karakter Earwig, yang tak banyak mengalami perubahan. Buku ini hanya semacam ‘menemukan’ bakat Earwig.

Sebagaimana karya-karya penulis yang lain, buku ini cukup menyenangkan dengan humor dan ‘gelitikan’nya yang menghibur. Ada pula bagian-bagian menegangkan yang, meski singkat, cukup membuat suasana mencekam saat membacanya. Dilengkapi ilustrasi dari seorang pemenang Caldecott Medal ikut mewarnai suasana kisah. Walaupun bukan jenis ilustrasi yang ‘cantik’, guratan sang ilustrator sangat detail dan ekspresif, melengkapi deskripsi penulis yang juga cukup detail.

earwig in

“Oh, yucky!” Earwig cried out at the feel of the slime under her bare feet.
“Hush. You can lick them clean later.”
(p.54)

3/5 bintang untuk kecerdikan Earwig dan pelajaran sihirnya.

Review #37 of Children’s Literature Reading Project

Witch Week – Diana Wynne Jones

witch weekTitle : Witch Week (The Worlds of Chrestomanci #3)
Author : Diana Wynne Jones (1982)
Translator : Syaribah Brice
Editor : Yohanna Yuni dan Asti Aemilia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Juni 2011
Format : Paperback, 272 pages

SALAH SEORANG DI KELAS INI PENYIHIR. (p.5)

Tulisan bertinta biru di atas kertas yang ditemukan oleh Mr. Crossley di Kelas 2Y di sekolah berasrama Larwood House ini cukup serius. Di dunia itu, sihir adalah kejahatan besar, meskipun bukan hal yang jarang ditemukan. Kelas 2Y memang kelas yang tidak biasa. Larwood House yang merupakan sekolah untuk anak-anak bermasalah dan yatim piatu penyihir ini seolah mengumpulkan semua masalah di 2Y.

Di kelas tersebut, ada pembatas tak kasat mata yang memisahkan murid laki-laki dan murid perempuan. Mereka jarang saling berinteraksi. Di antara murid laki-laki, ada Simon Silverson yang sok berkuasa, Dan Smith yang bandel, Brian Wentworth—putra dari wakil kepala sekolah—yang sering dianiaya oleh Simon dan kawan-kawannya, Charles Morgan si penyendiri yang memiliki tatapan kejam, Nirupam Singh dari India yang disegani. Sedang di antara murid perempuan ada si pengambil hati Theresa Mullett, Estelle Green yang dikatakan sebagai ‘peniru’ Theresa, Nan Pilgrim yang canggung dan merupakan keturunan salah satu penyihir ternama, Dulcinea Wilkes.

Pada usia-usia mereka, bakat sihir mulai nampak. Karena itulah, kejadian-kejadian ajaib yang terjadi di kelas tersebut, atau di antara para penghuni kelas tersebut, mendapatkan perhatian khusus. Namun, tidak semudah itu mengetahui siapa penyihir yang sesungguhnya, karena di usia tersebut, mereka baru saja menemukan bakat sihir dan belum mampu mengendalikan diri mereka. Kekacauan mulai terjadi karena salah seorang murid lepas kendali, diikuti kejadian aneh yang menunjukkan bahwa ternyata tidak hanya ada satu penyihir di kelas tersebut. Masalah pun berlipat ganda saat kaburnya seorang anak memancing datangnya inkuisitor yang akan menangkap anak yang terbukti sebagai penyihir.

Buku ini bersetting di dunia yang tampaknya hampir sama dengan dunia yang kita tinggali, tetapi mungkin di seri yang berbeda, karena sihir sangat umum di sini—meski dilarang keras. Berfokus di sebuah asrama, buku ini menunjukkan dinamika anak-anak menjelang remaja dengan segala permasalahannya; populer dan tidak populer, bullying, kenakalan anak-anak, keingintahuan, mencari perhatian, dan lain sebagainya. Meski hanya beberapa saja karakter yang disoroti, dengan satu karakter yang agak dominan, penggambaran karakter di kelas 2Y cukup kuat dengan keunikannya masing-masing. Salah satu cara penulis mengeksplorasi cara berpikir anak-anak tersebut adalah melalui jurnal yang ditugaskan untuk diisi setiap hari. Begitu pula beberapa guru yang nantinya juga berperan penting dalam cerita, digambarkan dengan caranya sendiri tanpa terkesan sebagai tambahan semata.

Kemunculan Chrestomanci dalam buku ini tidak banyak, tetapi memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas dunia-dunia paralel, sebagaimana memang merupakan tugasnya. Ada satu karakter kunci dalam sejarah yang harus ditemukan untuk mengetahui sumber kekacauan dunia yang ini, dan tanpa saya sadari, penulis sudah menyebarkan petunjuk tentang tokoh bersejarah itu sejak bab awal. Dan kejadian ini juga berhubungan dengan Witch Week, Pekan Penyihir.

Dalam buku ini, karakter Chrestomanci sang enchanter sama dengan yang kita temukan pada Charmed Life. Masih Chrestomanci yang penuh pesona dan bijaksana, tetapi jika kita belum membaca Charmed Life, akan ada kesan berbeda yang tertangkap dari sikap Chrestomanci sebagaimana prasangka anak-anak Larwood House. Di sinilah uniknya seri Chrestomanci, buku-bukunya bisa dibaca terpisah, jika kita membaca dengan urutan berbeda, maka kesan yang ditimbulkan akan sangat berbeda. Tak ada salahnya membaca buku ini dulu, tetapi mungkin Chrestomanci akan terlihat sedikit lebih ‘aneh’, dalam artian negatif.

Laki-laki itu tampak kebingungan. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengangkat kedua tangan, kemudian merapikan rambut—yang sebenarnya tidak perlu karena angin sama sekali tidak mengusik sehelai rambut pun. Rambutnya tetap rapi dan hitam licin mengilat seperti aspal baru. Setelah merapikan rambutnya, laki-laki itu merapikan manset kemeja putihnya dan meluruskan dasi abu-abu terangnya—yang sebenarnya juga sudah lurus. Setelah itu, dengan hati-hati ia menarik rompinya yang berwarna lembayung muda dan, sama hati-hatinya, membersihkan jas cantiknya yang berwarna abu-abu merpati dari debu khayalan. Sambil melakukan semua itu, ia memandang satu per satu kelima anak di depannya dengan raut muka semakin bingung. Alisnya terangkat semakin tinggi melihat apa yang ada di hadapannya. (p.189)

Adapun tentang dunia yang bermasalah ini, akan lebih mudah diterima jika sudah membaca The Lives of Christopher Chant. Namun jika belum pun, tidak masalah, karena tidak ada dunia lain yang disinggung. Konsep dunia yang terpecah sudah cukup jelas digambarkan di buku ini. Pada akhirnya, semuanya berkembang—mulai dari karakter-karakter yang bermasalah, hingga dunia yang mereka tinggali. Saya suka bagaimana di sepanjang perjalanan, penulis memberi petunjuk-petunjuk (yang tampak) menyesatkan, kemudian di ujung kisah, semuanya jadi jelas dan tampak lucu. Sejauh ini, itulah salah satu unsur dominan yang saya suka dari penulis, selera humor yang diwujudkan dalam tulisannya yang bebas berimajinasi.

4/5 bintang untuk Chrestomanci yang ‘tersesat’.

Review #23 of Children’s Literature Reading Project

Review #21 for Lucky No.15 Reading Challenge category Super Series

The Lives of Christopher Chant – Diana Wynne Jones

christopher chantTitle : The Lives of Christopher Chant (The Worlds of Chrestomanci #2)
Author : Diana Wynne Jones (1988)
Translator : Syaribah Noor Brice
Editor : Yohanna Yuni
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, April 2009
Format : Paperback, 344 pages

Buku ini bercerita tentang masa kecil Chrestomanci, sekitar 25 tahun sebelum kisah Charmed Life. Sebenarnya, buku ini bisa saja dibaca tidak berurutan, tetapi jika membaca dengan urutan yang berbeda, maka akan mendapatkan fakta yang berbeda, dan sudut pandang yang berbeda terhadap buku yang dibaca selanjutnya. Menurut saya, jika membaca buku ini terlebih dulu, berpotensi untuk merusak kejutan buku pertama. Sedangkan mengetahui fakta sejak buku pertama tidak akan menghilangkan kejutan dari buku ini, karena masih tersimpan kejutan lain yang menunggu. Lagipula, urutan ini juga yang direkomendasikan oleh penulis sendiri, yang tidak sama dengan urutan penerbitannya juga.

Christopher Chant kecil yang masih polos memiliki rahasianya sendiri. Dia bisa berkelana ke dunia yang disebutnya Dunia Mana Saja, melalui Tempat Antara, yang bisa didatanginya pada malam hari, melalui sudut kamarnya. Mama dan Papa Christopher sering berselisih paham, terutama soal uang dan masa depan putra mereka. Christopher kecil yang tak mengerti apa pun merasa lebih bisa memahami kehidupan di Dunia Mana Saja ketimbang di rumahnya sendiri, tempat semua tindakannya selalu disalahkan. Di Dunia Mana Saja, dia bertemu dengan orang-orang dan makhluk-makhluk unik yang ramah dan baik padanya. Hingga suatu hari guru privat terakhirnya, Miss Bell, menemukan salah satu hadiah yang didapatkan Christopher dari Dunia Mana Saja, dan menunjukkannya pada saudara Mama Christopher, Paman Ralph. Pada saat itu, Mamanya sudah menyerahkan pendidikan Christopher pada Paman Ralph. Pamannya pun mengajak Christopher untuk melakukan berbagai macam percobaan untuk menjelajahi berbagai macam dunia di Dunia Mana Saja.

Berawal dari menemui suruhan Paman Ralph, Tacroy, hingga membawakan barang-barang, semua menjadi rutinitas. Christopher kecil menikmati itu karena dia mengagumi Paman Ralph, dan mengagumi dunia-dunia yang dikunjunginya. Hingga saat Christopher masuk sekolah, menekuni cricket, dikeluarkan Papanya dari sekolah untuk ditemukan bakatnya oleh enchanter ternama (yaitu dengan menemukan kelemahannya), bahkan saat berada di kastil Chrestomanci, Christopher tetap menemui Tacroy pada malam-malam tertentu untuk membantu membawa muatan yang semakin lama semakin rutin.

Pada buku ini tidak disebutkan berapa usia Christopher persisnya, tetapi menurut saya, dia agak lambat mengerti. Seharusnya di usia sekolah dia sudah dapat menangkap ada yang tidak beres dengan suruhan Paman Ralph. Dia bisa memahami bahwa di kastil Chrestomanci ada pembicaraan tentang Dunia yang Terhubung, yaitu Dunia Mana Saja menurut istilahnya, tetapi dia tidak mencoba menghubung-hubungkannya sendiri. Christopher terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, dengan ego dan kebutuhannya sendiri, hingga tak menyadari pentingnya dia dikirim untuk dididik menjadi Chrestomanci berikutnya. Chrestomanci adalah sebuah jabatan penting yang bertugas menjaga perbatasan Dunia-Dunia yang Terhubung sehingga tidak ada penyihir yang memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri. Kedudukan itu ditentukan oleh takdir, artinya, ada kualitas tersendiri yang dibawa seorang calon Chrestomanci sejak dia dilahirkan. Oleh karena itulah, berat bagi seorang anak laki-laki untuk menyerahkan masa depannya pada apa yang ditakdirkan, bukan apa yang diinginkannya.

Selain perkembangan karakter Christopher, hal yang menarik dalam buku ini adalah konsep Dunia yang Terhubung, yang sudah sedikit disinggung dalam buku Charmed Life. Terdapat 12 seri dunia, dan masing-masing seri terdiri dari berbagai dunia yang berjalan paralel, bergantung pada pilihan apa yang dijalankan oleh dunia tersebut di masa lalu. Setiap seri dunia memiliki karakteristiknya masing-masing, yang dijabarkan sedikit demi sedikit seiring perjalanan Christopher.

Sama seperti buku sebelumnya, penulis masih menggambarkan sebagian besar karakternya abu-abu. Saya rasa ini salah satu kelebihan menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas, sehingga pembaca diajak untuk ikut menebak-nebak, siapa yang benar, apa latar belakang tindakan tersebut, dan lain sebagainya. Buku ini juga secara mengejutkan mengungkap masa lalu Millie, istri Chrestomanci dalam buku Charmed Life. Dan inilah yang saya maksud, seandainya membaca buku ini terlebih dahulu, kita akan sudah memperoleh gambaran yang berbeda tentang Chrestomanci dan Millie, gambaran masa kanak-kanak yang membuatnya tidak misterius lagi. 4.5/5 bintang untuk petualangan di Dunia Mana Saja.

Review #18 for Lucky No.15 Reading Challenge category Super Series

Review #22 of Children’s Literature Reading Project

Charmed Life – Diana Wynne Jones

charmed lifeTitle : Charmed Life (The Worlds of Chrestomanci #1)
Author : Diana Wynne Jones (1977)
Translator : Yohanna Yuni
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Maret 2009
Format : Paperback, 256 pages

Kakak beradik Gwendolen dan Eric kehilangan orang tua mereka pada sebuah kecelakaan. Gwendolen bisa selamat karena bakat sihirnya yang luar biasa, sedangkan Eric—yang biasa dipanggil Cat, selalu mengandalkan kakaknya. Sejak saat itu, kehidupan keduanya ditanggung oleh Dewan Kota, dalam pengasuhan Mrs. Sharp, penyihir yang tidak terlalu berbakat. Pendidikan Gwendolen diserahkan pada Mr. Nostrum yang mengajarkannya sihir sampai ke tingkat mahir.

Kemudian situasi berubah saat Chrestomanci menyadari apa yang terjadi pada kedua anak Chant, dan mengundang mereka untuk tinggal di kastilnya. Kastil Chrestomanci sangat aneh bagi keduanya, bahkan Cat yang tak berbakat sihir bisa merasakan adanya tekanan pada kastil tersebut. Keadaan semakin tak menyenangkan bagi Gwendolen karena dia tak diizinkan untuk belajar sihir di sana. Gwendolen pun memberontak dengan caranya sendiri, membuat kekacauan di kastil, dan membuat seisi kastil kewalahan. Hingga sesuatu yang serius terjadi, dan Cat harus terlibat dalam bahaya.

Buku pertama dari seri Chrestomanci ini dimulai dari pengenalan salah satu generasi keluarga Chant yang nantinya akan berperan dalam kisah lebih lanjut. Melalui Gwendolen dan Cat, pembaca diajak masuk ke dalam kastil Chrestomanci dalam suasana yang misterius. Chrestomanci yang tak kalah misteriusnya, dengan tindakannya yang sulit ditebak, adalah pemangku jabatan yang penting dalam pemerintahan yang mengatur sihir di dunia tersebut. Namun, apa sebenarnya yang dilindungi dan diatur oleh Chrestomanci, dan mengapa Mr. Nostrum merasa perlu untuk memanfaatkan keberadaan anak-anak Chant di dalam kastil?

Penulis memunculkan karakter-karakter dalam buku ini dengan cara yang tak kalah misteriusnya. Awalnya, kita akan dibuat bersimpati pada anak-anak Chant, tetapi lambat laun, sikap Gwendolen mulai di luar batas dan tidak benar. Cat yang awalnya sangat bergantung pada Gwendolen terpaksa mengambil keputusan sendiri dan tindakan yang mengejutkan semua orang. Karakter Millie, istri Chrestomanci, yang digambarkan sangat biasa, akan memunculkan kekuatan yang tak tertebak sebelumnya. Bahkan kedua anak Chrestomanci, Julia dan Roger, punya perannya sendiri. Kemudian kenyataan tentang yang benar dan yang jahat mungkin akan mengejutkan kita.

Buku ini menyimpan berbagai twist, mengubah beberapa orang, dan—yang utama—ada pendewasaan yang signifikan pada sang karakter kunci. Pada akhirnya, kita akan menemukan berbagai keajaiban yang ditawarkan oleh dunia Chrestomanci, agak rumit dan membingungkan, tetapi cukup untuk mengajak pembaca meneruskan ke buku selanjutnya—untuk mengenalnya lebih dalam lagi. 4/5 bintang untuk Cat dan rahasianya.

Review #17 for Lucky No.15 Reading Challenge category Super Series

Review #21 of Children’s Literature Reading Project

Enchanted Glass – Diana Wynne Jones

enchanted glassTitle : Enchanted Glass
Author : Diana Wynne Jones (2010)
Publisher : GreenWillow Books (Imprint of HarperCollins Publishers)
Edition : First paperback edition, 2011
Format : Paperback, 292 pages

Andrew Brandon Hope mendapatkan kabar kematian kakeknya dari pihak ibu, Jocelyn Brandon, sesaat setelah ditemui oleh hantu kakeknya yang menunjukkan sebuah berkas dengan segel hitam. Andrew mewarisi harta dan tanah Melstone House, serta tanggung jawab kakeknya, yang adalah seorang penyihir, untuk menjaga seluas wilayah tertentu (field-of-care), tempat Jocelyn ‘membimbing’ orang-orang di dalam lingkaran tersebut. Sayangnya, berkas bersegel hitam itu belum bisa ditemukan di Melstone, sementara Andrew masih buta dengan masalah persihiran.

Aidan Cain, anak laki-laki berumur dua belas tahun, baru saja ditinggalkan oleh neneknya. Kini dia sebatang kara, tetapi neneknya yang seorang penyihir berpesan agar dia pergi kepada Jocelyn Brandon jika mengalami kesulitan. Maka Aidan, yang semasa dirawat di rumah yatim piatu dikejar-kejar oleh makhluk jahat, memutuskan untuk pergi ke Melstone, dan mendapati bahwa yang dicarinya juga telah meninggal dunia. Andrew memutuskan untuk tetap menampung Aidan, karena di field-of-care Brandon dia aman.

Andrew dan Aidan pun mengalami petualangan menegangkan dalam usaha mereka menetapkan field-of-care Brandon dengan cara menelusurinya. Keduanya—terutama Aidan yang lebih peka—bisa merasakan perbedaan ‘rasa’ yang ditimbulkan di daerah yang terlindungi oleh sihir Brandon, dengan daerah luar yang rasanya ‘tidak aman’. Dalam penelusuran tersebut, mereka menemukan bahwa ada yang telah melanggar batas tersebut. Andrew pun berusaha mempertahankan wilayah kakeknya dari pihak-pihak jahat yang ingin mengambil alih, sekaligus melindungi Aidan dari pengejar yang ingin membunuhnya.

Ini adalah kali kedua saya membaca karya penulis ini, dan keduanya sama-sama menggunakan karakter utama dewasa (dalam buku ini Andrew Hope) meski kisahnya ditujukan untuk anak-anak. Andrew yang sejak awal dikatakan hanya peduli pada dunianya sendiri, perlahan dituntut untuk bertanggung jawab pada Aidan, pada field-of-care kakeknya, pada keajaiban-keajaiban di rumahnya sendiri. Melalui Aidan, Andrew bisa mengenal kemampuannya mempengaruhi orang dan eksistensi melalui kacamatanya, kemampuan yang juga dimiliki oleh Aidan. Melalui Aidan pula, Andrew mengetahui rahasia panel kaca warna-warni yang pernah dikatakan oleh kakeknya memiliki kekuatan sihir, tetapi tak pernah dijelaskan lebih lanjut. Hubungan timbal-balik keduanya inilah yang berperan penting dalam perkembangan keduanya.

Fakta menarik mengenai Andrew Hope adalah, bahwa sebenarnya kakeknya telah jauh-jauh hari menanamkan pengetahuan sihir padanya di masa kecilnya. Namun, ibu Andrew yang tak mempercayai sihir, serta lingkungan ‘normal’ Andrew—di luar Melstone yang hanya didatanginya saat liburan—menekan pengetahuan itu hingga terlupakan olehnya semasa dewasa. Kini, saat Andrew memegang Melstone, perlahan ingatan itu timbul kembali, ingatan yang akan menentukan apakah dia bisa menyelamatkan Aidan dan Melstone dari kekuatan jahat yang perlahan masuk dan menguasai. Saya menikmati saat-saat ingatan Andrew muncul perlahan, dipicu oleh hal-hal kecil yang berkaitan dengan masa kecilnya. Tak sepenuhnya sihir, tapi tetap terasa magis.

Satu hal yang agak menjadi tanda tanya bagi saya adalah hubungan asmara yang dialami oleh Andrew. Buku ini dilabeli untuk anak mulai usia 10 tahun, tetapi di dalamnya terkandung kekaguman Andrew kepada wanita secara fisik. Bagian itu tidak disampaikan dengan detail, jadi mungkin saja memang masih bisa diterima, apalagi standar ‘dewasa’ anak-anak di luar negeri berbeda dengan di Indonesia, karena faktor budaya yang berbeda. Juga ada sedikit kejutan di akhir mengenai asal-usul Aidan yang merupakan materi dewasa (atau minimal remaja) tapi bisa disampaikan dengan sangat halus.

Unsur-unsur fantasi dalam buku ini menurut saya ringan, tidak terlalu pekat, tetapi sekaligus kompleks dan kuat. Dunia yang dibangun penulis tidak sepenuhnya fantasi, wilayah sihir dan nonsihir tidak dibatasi dengan jelas, dan memang buku ini tidak berfokus pada setting. Selain wilayah sihir, benda-benda ajaib, sihir tak terlihat yang mekanismenya tak terlalu detail, ada juga makhluk-makhluk ajaib seperti weredogs (iya, bukan werewolves), counterparts—makhluk yang merupakan perwujudan dari manusia lain di wilayah tersebut, juga—salah satu favorit saya untuk alasan personal—bagaimana konflik para karakter kita berhubungan dengan legenda Raja Peri Oberon dan para istrinya, termasuk Ratu Titania, dan tak ketinggalan pelayannya, Puck. Penulis menyatukannya dengan apik, apalagi secara pribadi, saya suka modifikasi legenda dan mitos dalam kisah fantasi yang lebih modern. Hal itu membuat saya merasa lebih familiar dengan kisah tersebut, lebih mudah untuk masuk, dan menjadi bagian dari sebuah semesta fantasi raksasa.

4.5/5 bintang untuk kisah sihir perkotaan.

… he knew that magic was one of the great forces of the universe that had come into being right at the beginning, along with gravity and the force that held atoms together, as strong as or stronger than any force there. (p.255)

Review #12 of Children’s Literature Reading Project

Review #3 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

Januari : Buku SS

Januari : Buku SS

Terima kasih untuk santaku yang baik, saya suka buku ini, dan kini waktunya untuk menebak identitasmu. Petunjuk darimu sudah saya posting di sini. Saya langsung mengartikan ‘yang berjarak tidak kurang 48,4 mil darimu’ itu sebagai ‘orang dekat’, entah kenapa. Padahal justru itu menjauhkan dugaan, karena tidak kurang berarti pas, atau lebih. Petunjuk kedua adalah ‘yang dapat mendengar cicitan yang sering kau ungkapkan dengan jelas. namun sebaliknya tidak’, artinya santaku yang baik sudah follow twitterku, tetapi saya belum follow santaku yang baik. Malam itu juga saya langsung menelusuri daftar follower twitter dan membuat catatan dalam hati. Petunjuk yang tidak bisa saya pecahkan hingga saat ini adalah ‘mungkin saya adalah bunga es di lereng semeru’, saya punya beberapa dugaan, tetapi tidak ada yang pas.

Santaku yang baik, beberapa hari setelah mencoba mengutak-atik riddlemu, aku memutuskan untuk menggunakan cara di luar ‘prosedur yang semestinya’, yang harus kulakukan segera sebelum datanya dihapus. Saya melacak no.resi paket cantik darimu. Memang sih saya tidak mendapatkan resinya, tetapi (untungnya), tulisan di paket dengan spidol masih jelas dan terbaca (tidak seperti paket tahun lalu yang sudah tidak terlacak), dan menemukan bahwa santaku yang baik berada di suatu tempat di Semarang. Menilik paketnya yang cantik dan megah, saya tidak yakin bahwa santaku yang baik menitipkannya, jadi kemungkinan besar paket itu dikirim sendiri. Sebenarnya, ada satu kecurigaan dari teman yang sudah memfollow santaku yang baik itu tentang pembelian paket di salah satu online book store, dan memang, meski saya memberi link ke online book store yang berbeda, saya tahu buku ini tidak dibeli dari sana karena biasanya online store itu membungkus ulang bukunya dengan plastik.

Jadi, santaku yang baik, maaf ya kalau konspirasi alam semesta membuatku menebak dirimu adalah Hanum Puspa, bukan sepenuhnya berdasarkan riddle. Saya menunggu konfirmasi darimu. Sekali lagi, terima kasih banyak.

SecretSanta2014