Category Archives: Djokolelono

Ensikoplakdia – Djokolelono

ensikoplakdiaJudul : Ensikoplakdia: Asal-usul usil asal-asalan
Penulis : Djokolelono (2015)
Penyunting : Yulia Nurul Irawan
Penerbit : Pastel Books
Edisi : Cetakan I, 2015
Format : Paperback, 92 halaman

“Jeff, I am going to stand outside,” sesungguhnya aku mau menemani copywriterku, Belinda, merokok. Jeff bilang, “They’re coming any minute now,” agak gusar. “Well. If anybody asks, tell them I am outstanding,” aku bilang. (hal.10)

Seperti judulnya, buku ini merupakan kumpulan pengetahuan koplak yang tidak penting sebenarnya. Berdasarkan pengantar dari penulisnya, tidak semua sumber tulisan ini dari dirinya sendiri. Kebanyakan berasal dari status Facebook, dan juga berbagai macam sumber lainnya. Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Asal-Usul Usil Asal-Asalan yang sepertinya merupakan karangan penulis sendiri, berisi yaa, seperti judulnya. Di sini kita bisa tahu asal-usul berbagai kata dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah, juga asal-usul nama tempat atau daerah tertentu, yang tentu saja asal-asalan, tetapi cukup lucu, dan seringkali usil juga. Beberapa bahkan mungkin terkesan jayus, atau membuat kita ingin menepuk dahi (penulisnya) *hush, kualat ntar*
  2. Bumi Makin Unyu tampaknya merupakan cerita-cerita humor basi yang ditulis kembali dengan gaya penulis sendiri. Sebagian besar sudah sering saya dengar, sehingga mungkin sudah tidak lucu lagi.
  3. Kata-Kata Mutiara ini adalah bagian yang agak menarik. Berisi kata-kata bijak, rayuan-rayuan gombal, dan kadang pepatah tidak penting. Yang membuatnya jadi menarik karena dibuat dengan tipografi dan/atau ilustrasi sehingga cocok sekali untuk ditempelkan di dinding. Ada beberapa kalimat yang saya rasa tidak original.

img_20160116_220613.jpg

Sebenarnya buku ini asyik juga untuk duduk-duduk santai sambil tertawa sendiri. Namun, saya mempertanyakan kisah-kisah ‘dari berbagai sumber’ yang tidak disebutkan sumbernya. Apa karena kisah dan kalimat-kalimat tersebut sudah terlalu viral sehingga sudah tidak jelas lagi sumbernya, atau bagaimana. Saya jadi menyadari betapa ‘jahat’nya media sosial yang bisa mengeliminasi sumber sebuah kreativitas.

2.5/5 bintang untuk kekoplakan yang usil.

“Sewaktu aku aktif, aku selalu membaktikan waktuku 100% untuk bekerja, yaitu 13% di hari Senin, 22% hari Selasa, 26% hari Rabu, 35% hari Kamis, dan 4% hari Jum’at.” (hal.59)

img_20160116_220442.jpg

Sepatu sang Raja dan Dongeng-Dongeng Indah Lainnya – Djokolelono

sepatu-sang-raja-dan-dongeng-dongeng-indah-lainnyaJudul : Sepatu sang Raja dan Dongeng-Dongeng Indah Lainnya
Penulis : Djokolelono (2015)
Ilustrator : Chandra Purnama, de Elite Team, Riwisoto (2015)
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, 2015
Format : Paperback, 96 halaman

Daftar isi:
1. Sepatu sang Raja
2. Mawar yang Angkuh
3. Kamar Raffi
4. Si Utuk dan si Meri
5. Ibing, si Kecebong
6. Biri-Biri yang Cerdik

“Mendongeng merupakan pengalaman kreatif yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Jangan sekadar membacakan dongeng-dongeng ini, tapi ceritakan dengan kata-kata dan gaya sendiri.” (Djokolelono)

Kalimat di atas tercantum di bagian belakang sampul buku ini. Yang mengherankan adalah, mengapa saya perlu mengubah kata-kata dalam buku yang sudah disusun dengan indah?

Penulis menyusun dongeng-dongeng dalam kalimat-kalimat pendek berima serupa puisi naratif. Kalimatnya cukup sederhana, kosakata yang digunakan tidak terlalu muluk meski tak sedikit pula kata-kata yang agak puitis dan kompleks dicantumkan di sini, demi mendapatkan rimanya. Adanya ilustrasi yang berwarna-warni cerah mendominasi buku ini sehingga mudah dinikmati anak-anak sejak usia dini.

mawar

Jawabannya saya dapatkan saat saya membacakan buku ini untuk keponakan saya yang berumur 3 tahun. Keponakan saya, sebut saja R, tertarik saat melihat buku ini di kamar saya dan ingin melihat gambar-gambarnya. Dia membolak-balik halamannya dan membahas gambar-gambar yang ada di dalamnya, sampai saya menawarkan untuk menceritakannya, yang langsung disetujuinya. Awalnya, saya membaca tulisan di dalamnya apa adanya, tetapi setelah beberapa kalimat, saya menyadari bahwa untuk R, kalimat-kalimat itu masih terlalu rumit dan sulit dipahami untuk kemampuan berbahasanya yang masih sangat sederhana. Jadi, sebelum satu kisah berakhir, saya beralih menjadi pencerita, seperti saran penulis. Hasilnya? R sangat suka, dan bahkan meminta saya mengulangi kembali ceritanya sampai saya kelelahan.

“Tuanku, sering kita menyalahkan dunia,
dan ingin mengubahnya.
Padahal seharusnya,
kitalah yang harus mengubah diri untuk dunia.
….”
(hal.18-19)

Hal menyenangkan dari berimprovisasi adalah, kita akan menemukan hal yang tidak kita temukan pada penceritaan pertama. Setiap kali mengulang cerita yang sama, kalimat dan detail yang terlahir pasti berbeda. Gambar seringkali berbicara lebih banyak, sehingga dengan membacanya berulang kali, kita akan menemukan hal-hal baru yang bisa jadi mengembangkan cerita menjadi lebih menarik. Kalimat yang kita susun juga pasti berbeda, tak heran R tak bosan-bosannya minta didongengi.

Kisah dalam buku ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, misalnya Raffi yang kamarnya berantakan, bisa saya hubungkan dengan R agar membereskan mainannya seusai digunakan, atau Ibing si Kecebong, yang meski pesannya tersirat sekali, menekankan bahwa ada tahap-tahap yang harus dilalui dalam melangkah ke pengalaman yang baru.

kecebong

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, anak-anak sangat mudah tertarik pada gambar, karena itu proporsi gambar dalam buku ini saya katakan sangat pas untuk anak segala usia. Penggunaan karakter selain manusia, seperti hewan dan tumbuhan juga sangat berguna. R sudah mengenal berbagai macam hewan sehingga dalam kisah yang menggunakan karakter hewan, saya dapat memperkenalkan konsep simbiosis dan predator secara sederhana. Kebetulan, R tidak banyak mengenal jenis bunga, dan kisah Mawar yang Angkuh membantunya mengenal bahwa bunga bukan hanya sebatas bunga merah, kuning, biru, ungu, tetapi memiliki namanya masing-masing.

Ada seorang ilustrator di buku ini yang menggunakan sepasang kucing sebagai semacam signature, dan R memperhatikan hal itu, kucing yang tidak pada tempatnya (karena kebetulan dia suka kucing). Sebuah penanda yang unik, dan ternyata melatih kepekaan kita terhadap detail. Tidak hanya itu, perbedaan-perbedaan semacam warna bulu juga terlihat dalam beberapa kisah, dan salah satunya memang memberi pesan toleransi terhadap perbedaan.

“Semua makhluk di dunia ini,
punya keindahan sendiri-sendiri.”
(hal.28)

 

Review #34 of Children’s Literature Reading Project

Review #37 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something New