Category Archives: Edgar Allan Poe

Scene on Three (107)

SceneOnThree

“Tidak ada bangsa di muka bumi ini yang menyembah lebih dari satu dewa. Kumbang scarab, burung ibis, dan binatang-binatang lain yang kami sucikan (sebagaimana bangsa-bangsa lain juga memiliki binatang suci mereka sendiri) hanyalah simbol atau media yang kami gunakan untuk membujuk rakyat agar menyembah Sang Pencipta, karena Dia terlalu agung untuk dihampiri secara langsung.” (p.191)

“…. Inilah proses penulisan ulang dan pembenaran ulang secara personal, hal yang menjadi impian dari sedemikian banyak orang-orang bijak dari masa ke masa. Dengan begitu, kita bisa menyelamatkan sejarah sehingga tidak menjadi sesuatu yang berlandaskan khayalan fabel semata.” (p.193)

Scene awal November ini masih saya ambil dari 7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe, kali ini dari cerpen Obrolan Bersama Sesosok Mumi. Scene ini menunjukkan betapa relatifnya sejarah. Bahkan meski kita membaca berbagai catatan dengan hati-hati, kesalahan penafsiran masih bisa terjadi karena perbedaan budaya dan sudut pandang.

Pemikiran-pemikiran Poe yang tertuang dalam kisah-kisahnya memang sangat menarik bagi saya. Banyak hal mendorong kita berpikir dan mempertanyakan diri maupun sekitar kita.

Apa scene-mu hari ini?

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Scene on Three (106)

SceneOnThree

Aku sendiri masih meragukan apakah jiwaku masih hidup karena aku menyadari bahwa berbuat sesuka hati adalah bagian dari insting primitif dalam diri manusia, salah satu dari kondisi atau sentimen purba yang tak terpisahkan dan turut membentuk karakter seorang manusia. (p.13)

Menutup bulan Oktober ini, rasanya kurang mantap kalau tidak saya beri scene horor (lagi). Scene di atas saya ambil dari terjemahan 7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe.

Sebenarnya scene ini tidak terlalu horor yang heboh bagaimana, tapi lebih pada pendalaman jiwa manusia yang seringkali menyimpan misteri. Selebihnya, rasanya tak perlu saya jelaskan berpanjang-lebar, scene ini sudah cukup berbicara.

Silakan bagi scene kalian sampai akhir bulan ini

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

7 Kisah Klasik – Edgar Allan Poe (+ GIVEAWAY)

7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe [Diva] web2Title : 7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe (taken from The Works of Edgar Allan Poe Vol. 1-5)
Author : Edgar Allan Poe
Translator : Diyan Yulianto dan Slamat P. Sinambela
Editor : Misni
Publisher : DIVA Press
Edition : Cetakan pertama, September 2015
Format : Paperback, 204 pages

Contents:
1. Kucing Hitam / The Black Cat (1843)
2. Jantung yang Berkisah / The Tell-Tale Heart (1843)
3. Kumbang Emas / The Gold Bug (1843)
4. William Wilson (1839)
5. Potret Oval Seorang Gadis / The Oval Portrait (1842)
6. Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher / The Fall of the House of Usher (1839)
7. Obrolan Bersama Sesosok Mumi / Some Words with a Mummy (1845)

Puncaknya, kesadaran benda mati itu ada pada genangan air telaga yang hening tak tersentuh di pinggir rumah. (p.160, Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher)

Ketujuh kisah dalam buku ini masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Teror dan misteri yang ditampilkannya seolah menelusuri satu per satu ketakutan dan rasa penasaran manusia. Sebelumnya, kisah Kucing Hitam sudah dibahas sekilas di blog Baca Itu Beken beserta proses penerjemahan buku ini. Sedangkan kisah Kumbang Emas sudah dibahas secara mendetail di Mari Ngomongin Buku. Lima dari tujuh kisah tersebut memang bergenre horor, sedangkan Kumbang Emas merupakan petualangan, dan Obrolan Bersama Sesosok Mumi lebih ke arah satir, yang masih sangat relevan pada masa sekarang. Benang merahnya adalah pada hal-hal yang menantang akal sehat manusia.

Meski sebagian besar misteri itu tak terjelaskan secara nalar dan sulit dipercaya, saya justru merasa bahwa Poe memiliki naluri psikiatris yang peka. Seperti (apa yang tampaknya sebagai) halusinasi pendengaran dari seseorang yang (merasa) bersalah dalam kisah Jantung yang Berkisah, bukan sekadar horor mistis biasa. Sang narator menggunakan sudut pandang orang pertama, menceritakan bagaimana dirinya yang dihantui oleh kepekaan inderanya sendiri, terobsesi pada mata seorang pria tua yang digambarkan seperti mata burung pemakan bangkai—biru pucat yang dilapisi selaput tipis. Dari caranya berkisah, kita dibawa ke dalam ketakutannya yang ‘tidak sehat’ pada pria tua itu, yang mungkin juga memiliki misterinya sendiri.

Lain halnya dengan Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher yang juga berimbas secara fisik, ‘gangguan’ ditampakkan pada kawan sang narator, yang tentu saja memberikan teror tersendiri bagi sang narator. Apa saja yang bisa dilakukan oleh seseorang yang ‘terganggu’ jiwanya, kita tak pernah tahu. Apakah itu ulah jiwa yang terganggu, atau ada sesuatu yang lain di baliknya, itulah misterinya. Uniknya, di sini penulis mengangkat bagaimana seorang yang terganggu jiwanya ternyata memiliki bakat yang luar biasa di bidang tertentu. Manusia dengan berbagai dinamika jiwanya selalu meninggalkan misteri bagi orang-orang di sekitarnya.

Saya pernah mengatakan bahwa kisah misteri akan tetap menjadi misteri jika kita tak tahu penjelasan logisnya, bahwa penjelasan justru akan menghilangkan kisah mistis dari kisah tersebut. Dan hal inilah mengapa lebih singkat berarti lebih mistis. Selaras dengan itu, Poe beranggapan bahwa kisah yang baik adalah kisah yang pendek, yang dapat dibaca dalam sekali duduk. Menurutnya, adanya jeda dalam membaca suatu cerita akan merusak kesan keseluruhan kisah tersebut. Oleh karena itulah, hampir semua karya yang dihasilkan Poe seumur hidupnya berupa cerita pendek atau puisi. Potret Oval Seorang Gadis membuktikan kelihaiannya membuat cerita yang benar-benar pendek, tapi menampilkan misteri yang tak kalah menegangkan.

“…. Tapi, mungkin juga, alasan yang sesungguhnya adalah karena usia kami yang sudah tidak muda, yang sudah terbiasa melihat berbagai hal tak masuk akal, dan kecenderungan kami untuk meyakini bahwa selalu ada penjelasan untuk setiap hal yang tidak masuk akal dan mustahil sekalipun. ….” (p.184, Obrolan Bersama Sesosok Mumi)

edgar allan

Sekarang, saatnya kuis. Silakan simak ketentuannya:

  1. Peserta kuis berdomisili atau memiliki alamat di Indonesia
  2. (Wajib) Follow Twitter@divapress01. atau like fanpage Facebook Penerbit DIVA Press.
  3. (Wajib) Membagikan post ini minimal satu kali di Twitter atau Facebook.
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar, cukup satu kali saja:

Menurut kalian, apa teror terbesar bagi jiwa manusia, atau, kondisi jiwa semacam apa yang menurut kalian paling menakutkan.

Jelaskan jawaban kalian dalam tidak lebih dari 7 kalimat.

  1. Format jawaban:

Nama:
Twitter/Facebook:
Email:
Link share:
Jawaban:

  1. Giveaway ini berlaku sampai hari Minggu, 25 Oktober 2015. Pengumuman pemenang pada hari Senin, 26 Oktober 2015.
  2. Pemenang akan saya pilih berdasarkan jawaban yang paling menarik, dan akan mendapatkan sebuah buku ini dan sebuah novel terbaru DIVA Press.

Semoga beruntung!

Scene on Three (104)

SceneOnThree

To those who have cherished an affection for a faithful and sagacious dog, I need hardly be at the trouble of explaining the nature of the intensity of the gratification thus derivable. There is something in the unselfish and self-sacrificing love of a brute, which goes directly to the heart of him who has had frequent occasion to test the paltry friendship and gossamer fidelity of mere Man.

Scene di atas saya ambil dari salah satu cerpen Edgar Allan Poe yang berjudul The Black Cat. Sebenarnya saya membaca versi terjemahannya, dan akan ada giveaway buku ini minggu depan di sini, jadi jangan lupa untuk mampir minggu depan ya. Giveaway ini merupakan rangkaian dari blog tour, yang untuk saat ini sedang berlangsung di Orybooks. Silakan coba keberuntungan kalian.

Bicara tentang scene di atas, malu ga sih sebagai manusia, ternyata kita jauh dari kualitas kesetiaan dan kebaikan yang dimiliki oleh hewan yang–katanya–tidak memiliki akal budi.

Apa scene mu hari ini?

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Scene on Three (21)

SceneOnThree

But the Raven, sitting lonely on the placid bust, spoke only
That one word, as if his soul in that one word he did outpour.
Nothing further then he uttered—not a feather then he fluttered—
Till I scarcely more than muttered, “Other friends have flown before—
On the morrow he will leave me, as my hopes have flown before.”
Then the bird said, “Nevermore.”

Bait ini diambil dari puisi narasi The Raven karya Edgar Allan Poe. Bait  ini seolah menyatakan bahwa meski orang-orang telah meninggalkannya, burung ini tak akan pernah meninggalkannya meski saat itu dia diam saja. Dalam suasana suram dan emosi yang mencekam dalam tiap bait puisi Poe ini, satu kata dari sang burung gagak memberikan kehangatan yang berbeda.

Bagi scene-mu, caranya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).