Category Archives: F.Scott Fitzgerald

Scene on Three (75)

SceneOnThree

‘You’re a rotten driver,’ I protested. ‘Either you ought to be more careful or you oughtn’t to drive at all.’
‘I am careful.’
‘No, you’re not.’
‘Well, other people are,’ she said lightly.
‘What’s that got to do with it?’
‘They’ll keep out of my way,’ she insisted. ‘It takes two to make an accident.’
‘Suppose you met somebody just as careless as yourself.’
‘I hope I never will,’ she answered. ‘I hate careless people. That’s why I like you.’
(p.65)

Scene ini saya ambil dari The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald. Percakapan antara Nick Carraway dengan Jordan Baker–kawan Daisy sekaligus kekasih Nick–ini berkesan karena dua hal. Pertama, yap, memang benar pengemudi yang ceroboh bisa selamat karena pengemudi yang lainnya awas. Itulah kadang mengapa kita sudah sangat berhati-hati, masih juga terjadi kecelakaan, karena ada masa kita lengah sesaat, ditambah pengemudi lain yang juga lengah sesaat. Suatu hal yang manusiawi, tapi semoga jangan terjadi.

Kedua, karena percakapan ini akan menjadi kenyataan. Yah, tidak akan saya jabarkan detailnya karena akan menjadi spoiler, yang jelas, tragis sekali.

Bagikan scene-mu di SoT terakhir di bulan Februari:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

The Great Gatsby – F. Scott Fitzgerald

Review in English at the last words.

4677Title : The Great Gatsby
Author : F. Scott Fitzgerald (1926)
Publisher : Penguin Books
Edition : Penguin Popular Classics, 15th printing, 1994
Format : Paperback, 192 pages

In my younger and more vulnerable years my father gave me some advice that I’ve been turning over in my mind ever since.
‘Whenever you feel like criticising anyone,’ he told me, ‘just remember that all the people in this world haven’t had the advantages that you’ve had.’
(p.7)

Dua puluh mil dari New York, dipisahkan oleh teluk Long Island, dua buah daratan berbentuk seperti telur berhadapan, West Egg dan East Egg. Nick Carraway tinggal di West Egg, bertetangga dengan seorang kaya raya yang misterius bernama Jay Gatsby. Gatsby sering mengadakan pesta di rumahnya, dihadiri segala jenis orang kaya dan selebritas, dengan berbagai macam hidangan dan hiburan yang seolah tak ada habisnya. Nick yang juga diundang ke pesta-pesta tersebut, sebagai tetangga, melihat bahwa Gatsby sendiri tak ikut membaur dalam pesta-pesta tersebut. Para tamu tersebut juga seakan tak peduli dengan tuan rumah mereka, selama makanan, minuman, dan hiburan masih ada.

Di East Egg, sepupu Nick—Daisy, tinggal bersama suaminya, Tom Buchanan. Di antara kemewahan keluarga Buchanan, ada sebuah ketegangan tak kasat mata. Tom berselingkuh dengan wanita lain, sedangkan Daisy ternyata memiliki kisah masa lalu dengan Gatsby. Kenyataannya, Gatsby memiliki maksud tersendiri dengan membeli rumah di West Egg. Gatsby masih berambisi untuk mendapatkan cinta Daisy kembali, untuk menulis kembali masa lalu, mimpinya yang tertunda, dengan memanfaatkan Nick.

Membaca buku ini, seperti naik wahana luncur; naik perlahan-lahan, sangat perlahan, kemudian dihempaskan turun dengan keras, dan setelah itu, sudah. Namun, ‘sudah’ yang dihasilkannya terlalu menyentak untuk dilupakan begitu saja. Buku ini diawali dengan narasi panjang-lebar Nick tentang lingkungannya yang baru, tentang tetangganya, tentang orang-orang yang ditemuinya, dan penilaiannya akan segala sesuatu. Gatsby yang menjadi judul dalam buku ini baru muncul kemudian, perlahan menunjukkan sendiri jati dirinya di hadapan Nick, yang seringkali tak sama dengan prasangka dan gosip yang beredar.

Apa yang tampak di antara kemewahan dan kesenangan yang mewarnai kehidupan pada Jazz Age tersebut baru menampilkan esensinya pada akhir cerita. Sebuah tragedi yang terjadi menunjukkan pada Nick bagaimana karakter sesungguhnya keluarga Buchanan yang terbiasa hidup nyaman dan mewah, serta siapa sesungguhnya Jay Gatsby yang misterius itu, apa yang tersimpan dalam hati mereka yang terdalam, dan siapa yang paling patut mendapatkan penghormatan.

‘Her voice is full of money,’ he said suddenly.
That was it. I’d never understood before. It was full of money—that was the inexhaustible charm that rose and fell in it, the jingle of it, the cymbals’ song of it … High in a white palace the king’s daughter, the golden girl …
(p.126)

Tampaknya, untuk dapat menilai Gatsby, penggunaan sudut pandang Nick sebagai orang di luar, sekaligus di dalam lingkaran orang-orang kaya sangatlah tepat. Nick tak memiliki keterikatan dengan harta dan kehidupan mewah untuk bisa merasa sepakat dengan kehidupan orang-orang tersebut. Hubungan kekeluargaannya dengan Daisy menjadikan dia sebagai saksi bagi rahasia-rahasia terdalam pasangan Buchanan dan Gatsby sekaligus. Dengan itu, kita diajak untuk meihat dan merasakan sesuatu yang tak akan pernah sama lagi.

I was interested with how Nick began to see Gatsby. His mysterious neighbour had so many secrets that he’d revealed little by little as the story went on. But, Fitzgerald showed more, first impression did show something.

He smiled understandingly—much more than understandingly. It was one of those rare smiles with a quality of eternal reassurance in it, that you may come across four or five times in life. It faced—or seemed to face—the whole eternal world for an instant, and then concentrated on you with an irresistible prejudice in your favour. It understood you just so far as you wanted to be understood, believed in you as you would like to believe in yourself and assured you that it had precisely the impression of you that, at your best, you hoped to convey. (p.54)

What was shown as a sparkling life at the Jazz Age just reavealed its own essence at the end of the story, after the tragedy happened. What was the meaning of ‘life’ for the Buchanans but money and stability in their own way? How was the true character of the mysterious Gatsby? From Nick’s point of view, from within and without his own life, we can see all this in a way that wouldn’t be the same.

Closing the last page of this book, I still can’t judge Gatsby. He is one of extraordinary fictional characters I’ve ever read. I respect his morality but I want to criticize his way, I love his character as much as I want to slap him awake. After all, maybe, we are all alone. All that sourround us today are merely illusion. Just like Gatsby, just like Nick. They came into the true lights after a terrible tragedy. A tragedy that shows them; what is matter, who is sincere, what is real.

5/5 stars for you, old sport.

Review #25 of Classics Club Project

Review #6 for Lucky No.15 Reading Challenge category Opposites Attract

The Curious Case of Benjamin Button – F.Scott Fitzgerald

Judul buku : The Curious Case of Benjamin Button (Kisah Aneh Benjamin Button)
Penulis : F. Scott Fitzgerald
Penerjemah : Fanny Chotimah
Penerbit : BukuKatta, 2010
Tebal buku : 96 halaman

Salah satu fiksi yang mengagumkan. Berkisah tentang sebuah anomali dari pertumbuhan seorang manusia. Lahir sebagai orang tua, dan sebagaimana orang-orang terbiasa mengatakan ‘berkurang jatah umur’ setiap kali ulang tahun, maka bagi Benjamin Button hal ini berarti secara harfiah.

Jauh sebelum membaca buku ini, saya sudah melihat filmnya. Tetapi tanpa peringatan apapun, ternyata versi film dan bukunya terdapat beberapa perbedaan. Sejujurnya saya lebih menyukai versi filmnya, karena perlakuan dari dan terhadap Benjamin terkesan lebih ‘manusiawi’.

Pada buku ini tersebutkan secara jelas penolakan dari orang-orang di sekitar Benjamin, baik ayahnya, istrinya di kemudian hari, sampai pada anaknya sendiri. Sedangkan pada versi film, ada pemisahan yang memberi kesan bahwa Benjamin tetap dicintai, apapun keadaannya.

Terlepas dari kesan itu, yang membuat saya tidak nyaman membaca buku ini adalah terjemahannya. Kalau saya sedikit tega, saya akan menyebutnya ‘berantakan’. Seperti pada halaman 13:

“..meminta Anda membawanya pulang…”
“Rumah?” ulang Tuan Button…

Sekilas saya mengira yang dikatakan Tuan Button adalah kata “home”, yang telah diterjemahkan menjadi “pulang”, mengapa berubah menjadi rumah? Padahal secara konteks sudah jelas lebih tepat tetap diterjemahkan sebagai “pulang”. Belum lagi kesalahan ketik yang bertebaran dimana-mana, membuat membaca buku ini menjadi tidak nyaman.

Didorong oleh rasa penasaran tersebut, saya mencoba mencari versi asli dari buku ini, dan ternyata di gutenberg.org saya menemukan versi ebook-nya yang berjudul Tales of The Jazz Age, yang merupakan kumpulan cerita pendek Fitzgerald, salah satunya adalah The Curious Case of Benjamin Button ini.

Seperti dalam buku ini, selain kisah Benjamin Button, ada tiga kisah lain yang juga diterjemahkan, meski kisah dalam Tales of The Jazz Age bukan hanya itu. Dan setelah saya membaca sepintas, memang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang umum pada kisah klasik yang biasanya saya baca dalam bahasa Inggris. Jadi, seandainya terjemahannya agak lebih berhati-hati, mungkin saya bisa sangat menikmati buku ini.

Kisah-kisah lain tersebut berbentuk semacam drama, yang diperuntukkan untuk dipentaskan. Sebagian besar berwujud sebagaimana naskah, dengan dialog dan gambaran setting-nya. Kisahnya sederhana, dan sepertinya tidak ditujukan untuk menyampaikan makna yang terlalu dalam. Mungkin seperti judulnya “Tales of The Jazz Age”, kisah-kisah tersebut menggambarkan keadaan Eropa pada masa Jazz, yaitu era tahun 1920an dimana merupakan masa perubahan musik Jazz. Tidak hanya musik, hampir semua aspek sosial berubah, yang juga berhubungan dengan berakhirnya masa perang.

Di antara kisah lain tersebut adalah adalah Jemina, yang menceritakan kisah cinta sampai mati. Tuan Icky, berkisah tentang seorang tua yang ditinggalkan oleh anak-anaknya. Serta kisah Porselin dan Merah Muda, humor ringan tentang kakak beradik yang berebut untuk mandi.

Kisah ini menarik, tetapi untuk versi terjemahan yang ini saya hanya bisa memberi nilai 2/5.