Category Archives: J. K. Rowling

Fantastic Beasts [The Original Screenplay] – J.K. Rowling

Title : Fantastic Beasts and Where to Find Them: The Original Screenplay
Author : J.K. Rowling (2016)
Illustrator : MinaLima
Publisher : Little, Brown
Format : Hardcover, 294 pages

Pengalaman membaca screenplay saya yang pertama kurang sukses, bukunya masih terbengkalai belum selesai. Saya rasa membaca screenplay lebih menantang daripada play biasa karena settingnya lebih realistis, bisa berada di mana saja dan bisa seperti apa saja, tidak dibatasi lokasi, waktu, properti panggung, serta perpindahannya bisa sangat cepat. Percobaan kedua saya adalah buku ini, yang tentu saja saya tahu akan lebih mudah karena; 1. Saya sudah menonton filmnya, 2. Ini J.K. Rowling, dan 3. Saya jatuh hati dengan Newt filmnya dan tidak keberatan mengulang-ulang pengalamannya. Jadi bisa dibilang, ini pengalaman cukup baru membaca screenplay hingga tuntas.

Memang awal membaca buku ini terasa cukup melelahkan karena cukup sering berpindah-pindah scene, tapi lama-lama, setelah masuk ke konflik dan klimaksnya, perpindahan scene jadi tak begitu terasa. Di samping menikmati naskah film sebagaimana menonton kembali filmnya, saya mendapat pengetahuan mengenai beberapa istilah dalam naskah film, seperti high wide, ext., int., off-screen, sotto voce, voice-over, yang menunjukkan bagaimana penonton akan melihat adegan-adegan tersebut, apakah dari kejauhan, dari dekat, apakah yang berbicara ditampakkan wajahnya di layar atau tidak. Sebelumnya saya kira hal-hal ini adalah tugas dari penyunting gambar, improvisasi aktor, atau arahan sutradara. Entah memang ternyata hal itu bagian dari tugas penulis naskah, atau karena ini J.K. Rowling yang memang ratu detail. Bahkan gambaran settingnya meski cukup singkat, terasa sangat hidup dan mengagumkan. Sehingga rasanya, mungkin, pembuat film jadi lebih mudah mewujudkan dalam visual yang tak jauh beda dari maksud penulis.

Saya memang belum tahu benar tentang hal-hal di balik layar film, jadi mari kita bicarakan isi naskahnya. Mengenai kejutan-kejutan serta misterinya rasanya tidak perlu dipertanyakan ya, saya sudah membahasnya sedikit di sini. Film dibuka dengan scene yang menampakkan Grindelwald dan pencariannya. Kisah dimulai saat Newt Scamander tiba di New York untuk suatu misi yang menyangkut hewan fantastisnya. Dia membawa sebuah koper yang berisi hewan-hewan itu, yang lengkap dengan pengaman untuk menyembunyikannya dari Muggle, sehingga ketika diset, yang tampak di dalamnya hanya koper biasa. Masalah muncul saat salah satu hewan itu kabur dan membuat masalah, ditambah seorang No-Maj (Muggle di Amerika)—Jacob Kowalski, dan petugas kementrian (MACUSA)—Tina Goldstein, menyaksikannya. Insiden demi insiden tak terduga yang terjadi dengan cepat menyebabkan Jacob tidak bisa di-Obliviate saat itu, dan harus mengikuti petualangan penyihir itu di kota New York.

Sementara itu, sebagaimana Muggle tak mengetahui adanya komunitas penyihir di Inggris, No-Maj juga tak mempercayai adanya sihir. Posisi para penyihir di sana semakin berat karena adanya kelompok New Salem yang menuntut adanya pengusutan komunitas penyihir di Amerika—hal yang sesungguhnya tak dipercayai oleh pejabat setempat. Namun, beberapa insiden terjadi, melibatkan adanya unsur sihir yang belakangan diketahui sebagai Obscurus atau Obscurial, yaitu kekuatan sihir yang tak terkendali akibat tekanan di sekitarnya. Malangnya, aktivitas Obscurus ini justru muncul di tengah-tengah kelompok New Salem, yang mungkin masuk akal, mengingat betapa bersalahnya seseorang jika menjadi penyihir.

Konflik yang muncul memang cukup gelap, tetapi sebagaimana Harry Potter yang pertama, penulis tidak membiarkan aura gelap mendominasi kisah yang pertama. Porsi yang lebih besar didapatkan oleh Newt dan kawan-kawannya; Jacob yang terpesona dengan sihir untuk yang pertama kalinya, Tina yang awalnya salah paham terhadap Newt—bahkan membawa mereka dalam bahaya di level MACUSA—tetapi akhirnya saling mendukung, dan Queenie Goldstein, saudari Tina yang jelita, seorang Legilimens, dan menjadi pelengkap yang manis sekaligus perkasa dalam kisah ini. Salah satu bagian favorit saya adalah saat Jacob menyaksikan betapa fantastisnya hewan yang dibawa Newt.

JACOB Newt . . . I don’t think I’m dreaming.
NEWT (vaguely amused) What gave it away?
JACOB I ain’t got the brains to make this up.
(p.109)

Narasi Rowling jelas memiliki pesonanya sendiri, tetapi di sini, dengan narasi yang sangat minimal, dia menuangkan kepiawaiannya menggunakan dialog yang bisa dinikmati dengan berbagai cara. Yang jelas, saya sudah menaruh hati kepada keempat sahabat baru ini, dan tidak sabar menunggu kelanjutan kisahnya. Selain nantinya ada hubungan antara Grindelwald dengan Dumbledore seperti pernah disinggung di Harry Potter, akan ada beberapa karakter yang kemungkinan tidak asing, yang berhubungan dengan orang-orang yang (pernah) ada di Hogwarts. 5/5 bintang untuk (semacam) nostalgia.

Advertisements

Fantastic Beasts & Where to Find Them – J. K. Rowling

1929243Title : Fantastic Beasts & Where to Find Them (Hewan-Hewan Fantastis dan di Mana Mereka Bisa Ditemukan)
Author : J. K. Rowling (2001)
Translator : Komalawati Suhendra (seorang Muggle)
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan Keenam, April 2002
Format : Paperback, 88 pages

Buku yang saya baca ini merupakan cetakan ke-52 sejak pertama kali ditulis oleh Newt Scamander (Newton Artemis Fido Scamander—kata Harry namanya keren), dalam edisi yang disesuaikan untuk Muggle. Edisi ini diperbanyak dari buku milik Harry Potter sehingga ada beberapa catatan sisi yang mungkin tidak terlalu berguna, tapi menurut Comic Relief memiliki efek penyembuhan melalui tawa. Edisi ini juga diberi kata pengantar langsung oleh Albus Dumbledore.

Buku ini memuat penjelasan singkat mengenai 75 spesies hewan fantastis yang dipelajari Scamander selama bertahun-tahun. Ketertarikan dan kecintaannya pada Magizoologi membuatnya diberi kepercayaan untuk menyusun salah satu bacaan wajib murid tingkat pertama Hogwarts. Sebelumnya, Scamander menjelaskan dengan ringkas dan lengkap mengenai pengklasifikasian Makhluk dan Hewan yang berevolusi sesuai dengan masanya. Penentuan ini tidak mudah, karena ada Goblin yang tak pernah akur dengan Penyihir hingga sering terjadi perbedaan pendapat; Centaurus yang meski memenuhi kriteria sebagai Makhluk karena cukup cerdas dan dapat berkomunikasi tapi berjalan dengan empat kaki; Merpeople yang cerdas tapi sulit berkomunikasi selain dengan bahasa Mermish; Troll yang berjalan dengan dua kaki tapi luar biasa dungu; dan lain sebagainya.

Hewan-hewan fantastis ini, karena menimbulkan kehebohan di antara para Muggle, harus disembunyikan dari penglihatan mereka. Ada hewan yang menyembunyikan diri dengan sendirinya, ada yang harus melalui campur tangan Konfederasi Penyihir Internasional/Kementerian Sihir, atau diupayakan oleh penyihir yang memeliharanya. Caranya bervariasi, bergantung pada jinak-buasnya hewan tersebut, juga pengaruhnya bagi makhluk di sekitarnya. Meski demikian, tetap saja ada hewan fantastis yang lolos dari persembunyiannya seperti Kelpie yang suka tampil di Loch Ness, atau Mooncalf yang sering meninggalkan pola-pola geometris di ladang gandum pada malam purnama, juga Fairy yang seringkali muncul dalam dongeng-dongeng Muggle meski penggambarannya kurang tepat.

Sebagai pelengkap, buku ini juga dilengkapi dengan Klasifikasi Kementerian Sihir (KKM) pada setiap spesies tersebut. Mulai dari X yang membosankan, hingga XXXXX yang mustahil dijinakkan. Hewan dalam klasifikasi XXXXX sebagian pernah ditemui sendiri oleh Harry Potter, seperti Acromantula yang dikatakan hanya terdapat di hutan pedalaman Borneo, Basilisk yang sudah jarang terlihat, juga Naga-Naga, terutama Hungarian Horntail yang dihadapinya dalam turnamen Triwizard, dan Norwegian Ridgeback (Norbert-nya Hagrid).

Buku tipis ini sangat berguna sebagai pengenalan terhadap hewan-hewan tersebut. Paling tidak, kita bisa tahu hewan apa yang kita temui, dan apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari atau menghadapinya. Saya rasa untuk murid tingkat pertama sudah cukup. Dan yang tidak kalah penting, buku ini juga menunjukkan keanekaragaman hewan yang unik, kepentingannya untuk menjaga keberadaan mereka, meski kita tak mengambil manfaat dari mereka.

…mengapa kita, baik sebagai komunitas maupun individu, terus berusaha melindungi dan menyembunyikan hewan-hewan sihir, meskipun mereka buas dan tak dapat dijinakkan? Jawabannya adalah, tentu saja: untuk memastikan generasi penyihir masa depan bisa menikmati kecantikan dan kekuatan mereka yang langka sebagaimana kita sekarang memiliki hak istimewa itu. (p.345)

4/5 bintang untuk pengantar ke kelas Hagrid.

PS: Untuk Muggle, hewan-hewan di atas adalah fiktif belaka. Rowling sangat cakap dan teliti dalam membuat karakteristik makhluk paling kecil sekalipun. Tak perlu diragukan, dunia Harry Potter memang sudah mantap dalam imajinasinya. Ditambah lagi beberapa ilustrasi Rowling sendiri untuk makhluk-makhluk tertentu semakin memantapkan gambaran tersebut.

5/5 bintang untuk rekaan yang sangat rapi.

Review #14 of Children’s Literature Reading Project

Review #7 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Scene on Three (48)

SceneOnThree

Hallo… Sampai juga di penghujung Juli, yang juga merupakan permulaan Syawal ini. Selamat Hari Raya Idul Fitri dan mohon maaf juga atas segala kesalahan saya, baik disengaja maupun tidak, baik itu soal kata-kata dalam post yang kurang berkenan, hati yang dikecewakan karena tidak dimenangkan giveaway, atau komentar-komentar yang tidak terbalas.

Ngomong-ngomong soal giveaway, masih terbuka ya Scene on Three 1st Anniversary Giveaway nya, silakan ditengok kembali. Kali ini, ada satu scene yang ingin saya bagikan, masih dari buku yang sama di edisi sebelumnya (bedanya kali ini sudah ada reviewnya, hehe), The Casual Vacancy by J. K. Rowling.

“Oh, menurutmu mereka harus bertanggung jawab atas kecanduan itu dan mengubah perilaku?” tanya Parminder.
“Singkatnya, ya.”
“Sebelum mereka memakan dana pemerintah terlalu banyak.”
“Persis—”
“Dan kau,” kata Parminder nyaring, kala amukan yang terpendam benar-benar tak tertahankan, “tahukah kau berapa puluh ribu pound yang dikeluarkan jasa medis untuk-mu, Howard Mollison, karena kau terus makan dengan rakus?”
Semburat merah padam menjalari leher Howard sampai pipi.
“Tahukah kau berapa biaya operasi bypass-mu, obat-obatan, dan opnamemu yang lama. Janji temu dokter karena asma, tekanan darah, dan ruam kulit parah, yang semuanya akibat kau ngotot tak mau diet?”
(p.457)

I feel her! Memang tindakan Parminder yang didasarkan atas emosi ini membawanya ke masalah kode etik karena tidak menjaga rahasia pasien (scene ini berlangsung di tengah rapat Dewan Kota Pagford). Namun inilah rasanya menghadapi pasien bandel, apalagi jika dia mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah atau perusahaan. Mereka hanya berpikir bahwa jika mereka sakit, berobat, sembuh, masalah selesai. Kemudian kembali ke pola hidup tak sehat; merokok, minum-minum, makan seadanya, kurang olahraga, dengan harapan jika mereka sakit, tinggal berobat dan sembuh. Mereka tidak memikirkan berapa dana yang habis untuk mereka sebenarnya bisa lebih berguna untuk orang lain.

Dalam kasus Howard Mollison, dia hendak memangkas anggaran kota dengan menutup klinik rehabilitasi untuk para pecandu, padahal kenyataannya masih ada orang-orang tak mampu yang bergantung kelangsungan hidup ‘normal’nya dengan berobat di klinik tersebut. Orang-orang yang terancam kembali mencandu jika klinik itu ditutup.

Itu tak jauh-jauh dari apa yang sedang terjadi di negara kita, tempat rokok mendapat tempat terhormat karena (katanya) berperan besar menyumbang kas negara dan menyerap pekerja, tetapi di sisi lain menghabiskan lebih banyak anggaran negara untuk kesehatan dan nyawa para perokok yang kebanyakan dari golongan menengah ke bawah. Hanya demi ego konglomerat produsen rokok dan orang-orang di atas sana yang tidak mau susah. (Iya, saya curcol).

Silakan berbagi scene dalam bacaan kalian:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

The Casual Vacancy – J. K. Rowling

16173852Title : The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong)
Author : J. K. Rowling (2012)
Translator : Esti A. Budihabsari, Andityas Prabantoro, dan Rini Nurul Badariah
Editor : Tim Editor Qanita
Publisher : Penerbit Qanita
Edition : Cetakan I, November 2012
Format: Hardcover, 596 pages

Di sebuah kota kecil bernama Pagford, Barry Fairbrother meninggal dunia. Barry yang dilahirkan dan besar di Fields–wilayah kumuh yang dibangun Yarvil di atas tanah Pagford dan kini menjadi tanggungan Pagford–perlahan tapi pasti menapaki tangga kesuksesan dengan kerja keras. Dia berhasil menaikkan status sosialnya, keluar dari stigma Fields yang bobrok, membangun rumah di Pagford bersama istri dan anak-anaknya, menjadi anggota dewan yang memperjuangkan status Fields, memperjuangkan orang-orang di dalamnya, kemudian meninggal dunia sebelum perjuangannya selesai.

Kematian Barry merupakan anugerah bagi generasi tua Pagford yang konvensional, yang ingin melepas Fields sepenuhnya dari Pagford. Howard Mollison dan istrinya, Shirley, adalah dua di antaranya, yang juga memegang kursi penting di Dewan Kota. Akan tetapi, dewan masih memiliki dr. Parminder Jawanda yang mendukung dan setia pada pemikiran dan perjuangan Barry Fairbrother. Kedua kubu ini pun berusaha memenangkan orang di pihaknya untuk mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan Barry. Pasangan Mollison mengajukan putranya, Miles, sedangkan pihak yang satunya memiliki Colin Walls, sahabat Barry yang juga adalah wakil kepala sekolah di SMA Winterdown.

Panasnya situasi politik tidak serta-merta membebaskan mereka dari masalah keluarga, pribadi, dan lingkungan. Ketegangan pasangan Mollison akan hubungan mereka berdua, buruknya hubungan Shirley dengan menantunya, Samantha, ketidaknyamanan Samantha akan suaminya; dipenuhi dengan intrik dan kemunafikan.

Pasangan Walls, Colin dan Tessa, mengalami kesulitan mengontrol tingkah laku anak angkat mereka, Stuart ‘Fats’ yang beranjak remaja. Keadaan yang diperparah dengan Colin yang selalu gelisah dengan pikiran dan fantasinya. Kondisi keluarga Jawanda juga tidak lebih baik, dengan putri mereka, Sukhvinder, yang menderita depresi akibat kurangnya perhatian orang tuanya yang sibuk dengan urusan masing-masing, serta ‘bully’ yang diterimanya dari Fats Walls.

Andrew Price, sahabat Fats, harus melakukan berbagai cara untuk menghalangi ayah yang dibencinya, yang kejam dan licik, penyiksa keluarga, mengajukan diri menjadi pengganti Barry.

Krystal Weedon, yang seangkatan dengan Andrew, Fats, dan Sukhvinder di SMA Winterdown memegang satu peran penting dalam perjuangan tarik-ulur Fields oleh kedua kubu. Ibunya yang pecandu dan adik laki-lakinya yang tak terawat menjadi alasan bagi kubu kontra Fields, sedangkan kubu pro Fields melihat usaha Barry untuk menyelamatkan keluarga Weedon yang sebenarnya hampir berhasil sebelum takdir berkata lain.

Penyalahgunaan obat, seks bebas, pertikaian politik, perselingkuhan, yang kemudian memunculkan para pekerja sosial yang gigih, orang tua yang cemas, pasangan yang saling curiga, pencarian jati diri, upaya mendengarkan nurani; ini adalah kisah tentang kota Pagford dan orang-orang di dalamnya. Mungkin bisa saya katakan Pagford adalah miniatur dunia kita, dengan fokus pada orang-orang bermasalah dan cara mereka menghadapi masalah itu, baik dan buruknya. Penulis menjabarkan karakter per karakter dengan rinci, watak mereka, masalah-masalah mereka, latar belakang, cara mereka menghadapinya, serta konsekuensinya.

“Tapi, mengingat masa lalunya,” sergah Miles, “bukankah terlalu sim-salabim jika menyebut dia sudah berubah?”
“Kalau kau terapkan aturan yang sama, mestinya kau tidak dapat SIM, sebab menurut masa lalumu, kau pasti akan menyetir sambil mabuk lagi.”
Miles terperangah sesaat, tetapi Samantha berujar dingin, “Kurasa itu lain soal.”
“Begitu?” balas Kay. “Prinsipnya sama saja.”
“Yah, memang, prinsip kadang jadi masalah, menurutku,” tanggap Miles. “Kadang yang diperlukan hanya sedikit akal sehat.”
“Begitulah orang biasanya menyebut prasangka mereka,” tambah Kay.
“Menurut Nietzsche,” sebuah suara baru yang tajam mengejutkan mereka semua, “filsafat adalah biografi filsufnya.”
(p.272-273)

Memang, hampir tidak ada karakter yang bisa membuat saya bersimpati sepenuhnya pada mereka. Setiap orang digambarkan dengan kekurangannya, dengan keputusan gegabahnya, dan kebodohan mereka. Bahkan janda Barry, Mary Fairbrother, tak banyak menimbulkan belas kasihan, lebih karena jarang dimunculkan dalam kisah ini. Saya lebih bisa bersimpati pada beberapa tindakan dan keputusan mereka, seburuk apa pun mereka pada mulanya, siapa pun mereka. Sangat manusiawi, bukan?

Saya tak pernah meragukan Jo Rowling untuk membuat karya jenis apa pun, dan buku ini membuktikannya. Selain detail karakter, setting, dan kejadian, dia tak menghilangkan sentuhan emosi dalam kata-katanya.

Samantha muak hingga ingin muntah. Dia ingin mencengkeram ruang berantakan yang gerah itu, kemudian meremasnya, sampai porselen indah, perapian gas, dan foto-foto berbingkai mengilap milik Miles pecah berkeping-keping. Kemudian, sewaktu Maureen yang berkerut dan penuh polesan terjebak dan melolong dalam puing-puingnya, Samantha ingin melemparkannya  jauh-jauh sampai ke ufuk matahari terbenam, seperti seorang atlet tolak peluru di luar angkasa. Ruang santai yang remuk dan perempuan tua terkutuk di dalamnya, membubung dalam khayalan Samantha ke langit, tercebur ke samudra tak terbatas, membiarkan Samantha sendiri dalam keheningan jagat raya tak terhingga. (p.328)

Penulis berhasil membuat saya larut dalam hiruk-pikuk kota Pagford, masuk ke setiap rumah dengan rasa penasaran akan masa depan mereka, dalam detail yang membuat saya mengerti perbedaan pola pikir dan membuka mata saya untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Lebih dari itu, secara keseluruhan, saya merasakan keterikatan emosi dengan kota Pagford. Buku ini sangat emosional, konflik dan—terutama—akhirnya. Buku ini diakhiri dengan sangat indah; menyesakkan, menyedihkan, tapi indah. Mengingatkan kita bahwa mungkin butuh suatu kejadian kecil yang tragis untuk mengubah manusia, atau sekadar untuk menyelesaikan konflik besar dengan memutus rantai konflik tersebut, atau mungkin hanya untuk menunjukkan sesuatu yang selama ini tak terlihat.

5/5 bintang untuk segala pahit-manis drama dan tragedi ini.

Review #14 for Lucky No.14 Reading Challenge category (Not So) Fresh From the Oven

Review #7 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

Juli #1 : Masalah remaja/keluarga

Scene on Three (47)

SceneOnThree

Hallo, aroma liburan sudah di depan mata, dan untuk yang Muslim mungkin sudah mulai sedih karena tak terasa akan meninggalkan bulan yang suci ini. Oleh karena satu dan lain hal, yang salah satunya adalah kemungkinan ekspedisi akan macet, maka pengumuman Scene on Three 1st Anniversary Giveaway akan saya undur menjadi tanggal 3 Agustus 2014. Jadi sang pemenang tak perlu harap-harap cemas terlalu lama, juga menambah kesempatan yang lain untuk ikut (kalau ada). Jadi periode giveawaynya masih saya perpanjang.

Untuk edisi hari ini, ada sebuah scene dari buku dewasa J. K. Rowling, The Casual Vacancy berikut

Para pengusung membawa peti anyaman itu menyusuri koridor ke arah pintu keluar, Mary dan anak-anaknya mengikuti.
… Now that it’s raining more than ever
Know that we’ll still have each other
You can stand under my umbuh-rella
You can stand under my umbuh-rella
Para jemaat pelan-pelan keluar bergiliran dari pintu gereja, berusaha keras untuk tidak menyamakan langkah mengikuti irama lagu.

(p.201)

Anda tidak salah baca, itu memang lirik lagu Umbrella by Rihanna. Lagu itu mengiringi pemakaman Barry Fairbrother karena permintaan putri-putrinya yang memiliki kenangan tersendiri dengan lagu itu. Awal saya membaca bagian ini, rasanya lucu membayangkan lagu Rihanna diputar dalam prosesi yang syahdu, dengan para jemaat yang menahan diri untuk tidak ikut ‘bergoyang’. Namun, saat ini, setelah menyelesaikan membaca buku ini, saya tidak bisa memandang lagu Umbrella dengan cara yang sama lagi. Mungkin akan butuh waktu lama bagi saya untuk tidak bersedih setiap mendengarkan lagu ini diputarkan.

Bagaimana cara mengikuti Scene on Three?

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).