Category Archives: J. K. Rowling

Fantastic Beasts & Where to Find Them – J. K. Rowling

1929243Title : Fantastic Beasts & Where to Find Them (Hewan-Hewan Fantastis dan di Mana Mereka Bisa Ditemukan)
Author : J. K. Rowling (2001)
Translator : Komalawati Suhendra (seorang Muggle)
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan Keenam, April 2002
Format : Paperback, 88 pages

Buku yang saya baca ini merupakan cetakan ke-52 sejak pertama kali ditulis oleh Newt Scamander (Newton Artemis Fido Scamander—kata Harry namanya keren), dalam edisi yang disesuaikan untuk Muggle. Edisi ini diperbanyak dari buku milik Harry Potter sehingga ada beberapa catatan sisi yang mungkin tidak terlalu berguna, tapi menurut Comic Relief memiliki efek penyembuhan melalui tawa. Edisi ini juga diberi kata pengantar langsung oleh Albus Dumbledore.

Buku ini memuat penjelasan singkat mengenai 75 spesies hewan fantastis yang dipelajari Scamander selama bertahun-tahun. Ketertarikan dan kecintaannya pada Magizoologi membuatnya diberi kepercayaan untuk menyusun salah satu bacaan wajib murid tingkat pertama Hogwarts. Sebelumnya, Scamander menjelaskan dengan ringkas dan lengkap mengenai pengklasifikasian Makhluk dan Hewan yang berevolusi sesuai dengan masanya. Penentuan ini tidak mudah, karena ada Goblin yang tak pernah akur dengan Penyihir hingga sering terjadi perbedaan pendapat; Centaurus yang meski memenuhi kriteria sebagai Makhluk karena cukup cerdas dan dapat berkomunikasi tapi berjalan dengan empat kaki; Merpeople yang cerdas tapi sulit berkomunikasi selain dengan bahasa Mermish; Troll yang berjalan dengan dua kaki tapi luar biasa dungu; dan lain sebagainya.

Hewan-hewan fantastis ini, karena menimbulkan kehebohan di antara para Muggle, harus disembunyikan dari penglihatan mereka. Ada hewan yang menyembunyikan diri dengan sendirinya, ada yang harus melalui campur tangan Konfederasi Penyihir Internasional/Kementerian Sihir, atau diupayakan oleh penyihir yang memeliharanya. Caranya bervariasi, bergantung pada jinak-buasnya hewan tersebut, juga pengaruhnya bagi makhluk di sekitarnya. Meski demikian, tetap saja ada hewan fantastis yang lolos dari persembunyiannya seperti Kelpie yang suka tampil di Loch Ness, atau Mooncalf yang sering meninggalkan pola-pola geometris di ladang gandum pada malam purnama, juga Fairy yang seringkali muncul dalam dongeng-dongeng Muggle meski penggambarannya kurang tepat.

Sebagai pelengkap, buku ini juga dilengkapi dengan Klasifikasi Kementerian Sihir (KKM) pada setiap spesies tersebut. Mulai dari X yang membosankan, hingga XXXXX yang mustahil dijinakkan. Hewan dalam klasifikasi XXXXX sebagian pernah ditemui sendiri oleh Harry Potter, seperti Acromantula yang dikatakan hanya terdapat di hutan pedalaman Borneo, Basilisk yang sudah jarang terlihat, juga Naga-Naga, terutama Hungarian Horntail yang dihadapinya dalam turnamen Triwizard, dan Norwegian Ridgeback (Norbert-nya Hagrid).

Buku tipis ini sangat berguna sebagai pengenalan terhadap hewan-hewan tersebut. Paling tidak, kita bisa tahu hewan apa yang kita temui, dan apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari atau menghadapinya. Saya rasa untuk murid tingkat pertama sudah cukup. Dan yang tidak kalah penting, buku ini juga menunjukkan keanekaragaman hewan yang unik, kepentingannya untuk menjaga keberadaan mereka, meski kita tak mengambil manfaat dari mereka.

…mengapa kita, baik sebagai komunitas maupun individu, terus berusaha melindungi dan menyembunyikan hewan-hewan sihir, meskipun mereka buas dan tak dapat dijinakkan? Jawabannya adalah, tentu saja: untuk memastikan generasi penyihir masa depan bisa menikmati kecantikan dan kekuatan mereka yang langka sebagaimana kita sekarang memiliki hak istimewa itu. (p.345)

4/5 bintang untuk pengantar ke kelas Hagrid.

PS: Untuk Muggle, hewan-hewan di atas adalah fiktif belaka. Rowling sangat cakap dan teliti dalam membuat karakteristik makhluk paling kecil sekalipun. Tak perlu diragukan, dunia Harry Potter memang sudah mantap dalam imajinasinya. Ditambah lagi beberapa ilustrasi Rowling sendiri untuk makhluk-makhluk tertentu semakin memantapkan gambaran tersebut.

5/5 bintang untuk rekaan yang sangat rapi.

Review #14 of Children’s Literature Reading Project

Review #7 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Scene on Three (48)

SceneOnThree

Hallo… Sampai juga di penghujung Juli, yang juga merupakan permulaan Syawal ini. Selamat Hari Raya Idul Fitri dan mohon maaf juga atas segala kesalahan saya, baik disengaja maupun tidak, baik itu soal kata-kata dalam post yang kurang berkenan, hati yang dikecewakan karena tidak dimenangkan giveaway, atau komentar-komentar yang tidak terbalas.

Ngomong-ngomong soal giveaway, masih terbuka ya Scene on Three 1st Anniversary Giveaway nya, silakan ditengok kembali. Kali ini, ada satu scene yang ingin saya bagikan, masih dari buku yang sama di edisi sebelumnya (bedanya kali ini sudah ada reviewnya, hehe), The Casual Vacancy by J. K. Rowling.

“Oh, menurutmu mereka harus bertanggung jawab atas kecanduan itu dan mengubah perilaku?” tanya Parminder.
“Singkatnya, ya.”
“Sebelum mereka memakan dana pemerintah terlalu banyak.”
“Persis—”
“Dan kau,” kata Parminder nyaring, kala amukan yang terpendam benar-benar tak tertahankan, “tahukah kau berapa puluh ribu pound yang dikeluarkan jasa medis untuk-mu, Howard Mollison, karena kau terus makan dengan rakus?”
Semburat merah padam menjalari leher Howard sampai pipi.
“Tahukah kau berapa biaya operasi bypass-mu, obat-obatan, dan opnamemu yang lama. Janji temu dokter karena asma, tekanan darah, dan ruam kulit parah, yang semuanya akibat kau ngotot tak mau diet?”
(p.457)

I feel her! Memang tindakan Parminder yang didasarkan atas emosi ini membawanya ke masalah kode etik karena tidak menjaga rahasia pasien (scene ini berlangsung di tengah rapat Dewan Kota Pagford). Namun inilah rasanya menghadapi pasien bandel, apalagi jika dia mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah atau perusahaan. Mereka hanya berpikir bahwa jika mereka sakit, berobat, sembuh, masalah selesai. Kemudian kembali ke pola hidup tak sehat; merokok, minum-minum, makan seadanya, kurang olahraga, dengan harapan jika mereka sakit, tinggal berobat dan sembuh. Mereka tidak memikirkan berapa dana yang habis untuk mereka sebenarnya bisa lebih berguna untuk orang lain.

Dalam kasus Howard Mollison, dia hendak memangkas anggaran kota dengan menutup klinik rehabilitasi untuk para pecandu, padahal kenyataannya masih ada orang-orang tak mampu yang bergantung kelangsungan hidup ‘normal’nya dengan berobat di klinik tersebut. Orang-orang yang terancam kembali mencandu jika klinik itu ditutup.

Itu tak jauh-jauh dari apa yang sedang terjadi di negara kita, tempat rokok mendapat tempat terhormat karena (katanya) berperan besar menyumbang kas negara dan menyerap pekerja, tetapi di sisi lain menghabiskan lebih banyak anggaran negara untuk kesehatan dan nyawa para perokok yang kebanyakan dari golongan menengah ke bawah. Hanya demi ego konglomerat produsen rokok dan orang-orang di atas sana yang tidak mau susah. (Iya, saya curcol).

Silakan berbagi scene dalam bacaan kalian:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

The Casual Vacancy – J. K. Rowling

16173852Title : The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong)
Author : J. K. Rowling (2012)
Translator : Esti A. Budihabsari, Andityas Prabantoro, dan Rini Nurul Badariah
Editor : Tim Editor Qanita
Publisher : Penerbit Qanita
Edition : Cetakan I, November 2012
Format: Hardcover, 596 pages

Di sebuah kota kecil bernama Pagford, Barry Fairbrother meninggal dunia. Barry yang dilahirkan dan besar di Fields–wilayah kumuh yang dibangun Yarvil di atas tanah Pagford dan kini menjadi tanggungan Pagford–perlahan tapi pasti menapaki tangga kesuksesan dengan kerja keras. Dia berhasil menaikkan status sosialnya, keluar dari stigma Fields yang bobrok, membangun rumah di Pagford bersama istri dan anak-anaknya, menjadi anggota dewan yang memperjuangkan status Fields, memperjuangkan orang-orang di dalamnya, kemudian meninggal dunia sebelum perjuangannya selesai.

Kematian Barry merupakan anugerah bagi generasi tua Pagford yang konvensional, yang ingin melepas Fields sepenuhnya dari Pagford. Howard Mollison dan istrinya, Shirley, adalah dua di antaranya, yang juga memegang kursi penting di Dewan Kota. Akan tetapi, dewan masih memiliki dr. Parminder Jawanda yang mendukung dan setia pada pemikiran dan perjuangan Barry Fairbrother. Kedua kubu ini pun berusaha memenangkan orang di pihaknya untuk mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan Barry. Pasangan Mollison mengajukan putranya, Miles, sedangkan pihak yang satunya memiliki Colin Walls, sahabat Barry yang juga adalah wakil kepala sekolah di SMA Winterdown.

Panasnya situasi politik tidak serta-merta membebaskan mereka dari masalah keluarga, pribadi, dan lingkungan. Ketegangan pasangan Mollison akan hubungan mereka berdua, buruknya hubungan Shirley dengan menantunya, Samantha, ketidaknyamanan Samantha akan suaminya; dipenuhi dengan intrik dan kemunafikan.

Pasangan Walls, Colin dan Tessa, mengalami kesulitan mengontrol tingkah laku anak angkat mereka, Stuart ‘Fats’ yang beranjak remaja. Keadaan yang diperparah dengan Colin yang selalu gelisah dengan pikiran dan fantasinya. Kondisi keluarga Jawanda juga tidak lebih baik, dengan putri mereka, Sukhvinder, yang menderita depresi akibat kurangnya perhatian orang tuanya yang sibuk dengan urusan masing-masing, serta ‘bully’ yang diterimanya dari Fats Walls.

Andrew Price, sahabat Fats, harus melakukan berbagai cara untuk menghalangi ayah yang dibencinya, yang kejam dan licik, penyiksa keluarga, mengajukan diri menjadi pengganti Barry.

Krystal Weedon, yang seangkatan dengan Andrew, Fats, dan Sukhvinder di SMA Winterdown memegang satu peran penting dalam perjuangan tarik-ulur Fields oleh kedua kubu. Ibunya yang pecandu dan adik laki-lakinya yang tak terawat menjadi alasan bagi kubu kontra Fields, sedangkan kubu pro Fields melihat usaha Barry untuk menyelamatkan keluarga Weedon yang sebenarnya hampir berhasil sebelum takdir berkata lain.

Penyalahgunaan obat, seks bebas, pertikaian politik, perselingkuhan, yang kemudian memunculkan para pekerja sosial yang gigih, orang tua yang cemas, pasangan yang saling curiga, pencarian jati diri, upaya mendengarkan nurani; ini adalah kisah tentang kota Pagford dan orang-orang di dalamnya. Mungkin bisa saya katakan Pagford adalah miniatur dunia kita, dengan fokus pada orang-orang bermasalah dan cara mereka menghadapi masalah itu, baik dan buruknya. Penulis menjabarkan karakter per karakter dengan rinci, watak mereka, masalah-masalah mereka, latar belakang, cara mereka menghadapinya, serta konsekuensinya.

“Tapi, mengingat masa lalunya,” sergah Miles, “bukankah terlalu sim-salabim jika menyebut dia sudah berubah?”
“Kalau kau terapkan aturan yang sama, mestinya kau tidak dapat SIM, sebab menurut masa lalumu, kau pasti akan menyetir sambil mabuk lagi.”
Miles terperangah sesaat, tetapi Samantha berujar dingin, “Kurasa itu lain soal.”
“Begitu?” balas Kay. “Prinsipnya sama saja.”
“Yah, memang, prinsip kadang jadi masalah, menurutku,” tanggap Miles. “Kadang yang diperlukan hanya sedikit akal sehat.”
“Begitulah orang biasanya menyebut prasangka mereka,” tambah Kay.
“Menurut Nietzsche,” sebuah suara baru yang tajam mengejutkan mereka semua, “filsafat adalah biografi filsufnya.”
(p.272-273)

Memang, hampir tidak ada karakter yang bisa membuat saya bersimpati sepenuhnya pada mereka. Setiap orang digambarkan dengan kekurangannya, dengan keputusan gegabahnya, dan kebodohan mereka. Bahkan janda Barry, Mary Fairbrother, tak banyak menimbulkan belas kasihan, lebih karena jarang dimunculkan dalam kisah ini. Saya lebih bisa bersimpati pada beberapa tindakan dan keputusan mereka, seburuk apa pun mereka pada mulanya, siapa pun mereka. Sangat manusiawi, bukan?

Saya tak pernah meragukan Jo Rowling untuk membuat karya jenis apa pun, dan buku ini membuktikannya. Selain detail karakter, setting, dan kejadian, dia tak menghilangkan sentuhan emosi dalam kata-katanya.

Samantha muak hingga ingin muntah. Dia ingin mencengkeram ruang berantakan yang gerah itu, kemudian meremasnya, sampai porselen indah, perapian gas, dan foto-foto berbingkai mengilap milik Miles pecah berkeping-keping. Kemudian, sewaktu Maureen yang berkerut dan penuh polesan terjebak dan melolong dalam puing-puingnya, Samantha ingin melemparkannya  jauh-jauh sampai ke ufuk matahari terbenam, seperti seorang atlet tolak peluru di luar angkasa. Ruang santai yang remuk dan perempuan tua terkutuk di dalamnya, membubung dalam khayalan Samantha ke langit, tercebur ke samudra tak terbatas, membiarkan Samantha sendiri dalam keheningan jagat raya tak terhingga. (p.328)

Penulis berhasil membuat saya larut dalam hiruk-pikuk kota Pagford, masuk ke setiap rumah dengan rasa penasaran akan masa depan mereka, dalam detail yang membuat saya mengerti perbedaan pola pikir dan membuka mata saya untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Lebih dari itu, secara keseluruhan, saya merasakan keterikatan emosi dengan kota Pagford. Buku ini sangat emosional, konflik dan—terutama—akhirnya. Buku ini diakhiri dengan sangat indah; menyesakkan, menyedihkan, tapi indah. Mengingatkan kita bahwa mungkin butuh suatu kejadian kecil yang tragis untuk mengubah manusia, atau sekadar untuk menyelesaikan konflik besar dengan memutus rantai konflik tersebut, atau mungkin hanya untuk menunjukkan sesuatu yang selama ini tak terlihat.

5/5 bintang untuk segala pahit-manis drama dan tragedi ini.

Review #14 for Lucky No.14 Reading Challenge category (Not So) Fresh From the Oven

Review #7 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

Juli #1 : Masalah remaja/keluarga

Scene on Three (47)

SceneOnThree

Hallo, aroma liburan sudah di depan mata, dan untuk yang Muslim mungkin sudah mulai sedih karena tak terasa akan meninggalkan bulan yang suci ini. Oleh karena satu dan lain hal, yang salah satunya adalah kemungkinan ekspedisi akan macet, maka pengumuman Scene on Three 1st Anniversary Giveaway akan saya undur menjadi tanggal 3 Agustus 2014. Jadi sang pemenang tak perlu harap-harap cemas terlalu lama, juga menambah kesempatan yang lain untuk ikut (kalau ada). Jadi periode giveawaynya masih saya perpanjang.

Untuk edisi hari ini, ada sebuah scene dari buku dewasa J. K. Rowling, The Casual Vacancy berikut

Para pengusung membawa peti anyaman itu menyusuri koridor ke arah pintu keluar, Mary dan anak-anaknya mengikuti.
… Now that it’s raining more than ever
Know that we’ll still have each other
You can stand under my umbuh-rella
You can stand under my umbuh-rella
Para jemaat pelan-pelan keluar bergiliran dari pintu gereja, berusaha keras untuk tidak menyamakan langkah mengikuti irama lagu.

(p.201)

Anda tidak salah baca, itu memang lirik lagu Umbrella by Rihanna. Lagu itu mengiringi pemakaman Barry Fairbrother karena permintaan putri-putrinya yang memiliki kenangan tersendiri dengan lagu itu. Awal saya membaca bagian ini, rasanya lucu membayangkan lagu Rihanna diputar dalam prosesi yang syahdu, dengan para jemaat yang menahan diri untuk tidak ikut ‘bergoyang’. Namun, saat ini, setelah menyelesaikan membaca buku ini, saya tidak bisa memandang lagu Umbrella dengan cara yang sama lagi. Mungkin akan butuh waktu lama bagi saya untuk tidak bersedih setiap mendengarkan lagu ini diputarkan.

Bagaimana cara mengikuti Scene on Three?

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Scene on Three (7)

SceneOnThree

Akhir bulan selalu merupakan hari Scene on Three, yah, kecuali Februari. Karena ini bulan Agustus, maka kita punya dua hari untuk mengumpulkan scene terbaik dari buku yang kalian baca. Untuk kali ini, saya ambil dari buku yang sudah agak lama saya baca, tanpa sengaja beberapa waktu lalu saya membuka draft reviewnya dan menemukan ini:

“You’re not,” he said, his quiet voice full of hatred.
“Not what?” snapped Riddle.
“Not the greatest sorcerer in the world,” said Harry, breathing fast.
(Harry Potter and the Chamber of Secrets)

Saya suka sekali momen ini. Jadi dialog ini terjadi di tengah pertarungan antara Harry dengan Tom Riddle, lama berselang setelah Tom menyatakan dirinya sebagai penyihir terhebat, kemudian setelah beberapa perlawanan Harry, dia mengucapkan kalimat itu. Padahal saat itu posisi Harry belum berada di pihak yang unggul, kata-kata itu semacam keyakinan diri yang mungkin mengejutkan bagi lawannya.

Intinya, saya suka sekali penempatan percakapan ini, seperti membesarkan harapan pembaca. Jika dialog dalam bukunya saya ibaratkan seperti napas, Rowling tahu kapan harus menarik, menahan dan membuangnya. Momennya pas sekali, berbeda dengan di film yang menurut saya jadi kehilangan ‘gigitan’nya karena hanya menjadi bahan perdebatan saja.

Ada waktu dua hari untuk berbagi scene yang mengesankan versi kalian, caranya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).