Category Archives: John Boyne

Scene on Three (98)

SceneOnThree

Selamat akhir bulan kembali. Tampaknya saya harus mengakui satu hal payah yang terjadi minggu lalu: saya melewatkan tanggal 23. Setelah perayaan dua tahun kemarin, justru saya melupakannya untuk pertama kalinya, benar-benar payah. Ternyata kesibukan yang berubah drastis membuat waktu serasa makin cepat berlari. Seandainya minggu lalu ada yang sudah membuat post SoT, silakan dimasukkan di link tool hari ini ya.

Langsung saja, scene saya hari ini saya ambil dari buku The Boy in the Striped Pyjamas by John Boyne.

Herr Liszt mengeluarkan suara berdesis melalui sela-sela giginya dan menggeleng marah. “Kalau begitu, tugasku di sini adalah mengubah itu,” kata pria itu sinis. “Untuk membuatmu melupakan buku-buku cerita itu dan mengajarimu lebih banyak tentang bangsamu. Tentang berbagai ketidakadilan yang telah kaualami.”
Bruno mengangguk dan merasa sedikit puas, karena mengira dia akhirnya akan diberi penjelasan tentang mengapa mereka semua terpaksa meninggalkan rumah mereka yang nyaman dan datang ke tempat mengerikan ini; pastilah itu ketidakadilan terbesar yang pernah dia alami seumur hidupnya yang belum lama ini.
(p.109-110)

Herr Liszt ditugaskan oleh ayah Bruno untuk memberi pelajaran pada kedua anaknya di rumah, di Out-With (Auschwitz). Sebenarnya agak aneh juga dengan wawasan Bruno karena sebelumnya dia juga sudah bersekolah di Berlin. Terlepas dari itu, saya sempat tertawa sedikit di bagian ini. Pada saat Herr Liszt mengungkapkan masalah ketidakadilan, saya langsung mengernyitkan dahi, karena pikiran saya tertuju pada hal yang ‘benar’, yaitu yang dimaksudkan sang guru. Tetapi membaca reaksi Bruno membuat saya bersorak sesaat atas selera humor sang penulis, sebelum akhirnya merasa takjub atas kepolosan dan kenaifan Bruno.

Bagi scene-mu di akhir bulan Agustus ini:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

The Boy in the Striped Pyjamas – John Boyne

The boy in the striped pyjamasTitle : The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis)
Author : John Boyne (2006)
Translator : Rosemary Kesauli
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Juli 2007
Format : Paperback, 240 pages

Suatu hari di usianya yang baru sembilan tahun, Bruno terpaksa harus berpisah dari kenyamanan rumah dan sahabat-sahabatnya di Berlin, untuk pindah ke suatu tempat terpencil yang disebutnya Out-With. Kepindahan itu dikarenakan promosi yang didapatkan ayahnya karena berhasil menyenangkan The Fury, pemimpin bangsa Jerman saat itu. Ibu dan kakak perempuannya, Gretel, sebenarnya juga tidak menyukai kepindahan mereka, tetapi masing-masing mereka harus menyesuaikan diri demi karir sang ayah, yang sekarang dipanggil Komandan.

Rumah yang mereka tempati di Out-With berada di lingkungan yang sangat asing dan sepi. Dari jendela kamarnya, Bruno dapat melihat sebuah dataran berpasir dengan kamp-kamp, yang dipenuhi orang dan anak laki-laki yang berpakaian seragam, piama garis-garis. Bruno tak mengerti apa yang terjadi pada sekumpulan orang tersebut, kecuali bahwa sesekali mereka berbaris dan para serdadu yang sesekali berada di antara mereka. Hingga suatu hari, naluri penjelajah Bruno tergelitik untuk melanggar aturan orang tuanya agar tidak meninggalkan rumah. Dia berjalan menuju pagar kawat yang tinggi dan lebar yang membatasi wilayahnya dengan orang-orang berpiama garis-garis. Bruno bertemu Shmuel, anak yang tanggal lahirnya sama persis dengan dirinya (15 April 1934), tetapi bernasib sangat berbeda. Pertemuan itulah yang akan mengubah hidupnya.

Jauh sebelum membaca buku ini, saya sudah menonton film adaptasinya, sehingga tak banyak kejutan yang saya dapatkan. Meski pada edisi yang saya baca penerbit memutuskan untuk tidak memberikan sinopsis kisah ini, tidak banyak berpengaruh pada saya. Penerbit Indonesia ini juga tampaknya hendak ‘bermain aman’ dengan menegaskan bahwa buku ini bukan anak-anak, padahal edisi aslinya jelas memang ditulis untuk anak-anak. Gaya bahasanya pun cukup menunjukkan bahwa buku ini ditujukan untuk pembaca muda.

Sebenarnya, tidak banyak hal sensitif yang disebutkan secara tersurat dalam buku ini. Fakta sejarah yang melatarbelakangi kisah ini tidak disebutkan secara detail, kata-kata kotor yang ditujukan pada bangsa yang dianggap rendah pun disensor. Hal yang agak mengganggu saya justru karakter Bruno yang terlalu naif, untuk anak sembilan tahun sekalipun. Bukan hanya naif, Bruno juga sangat acuh tak acuh terhadap sekitarnya. Tampaknya, dia adalah produk dari orang tua yang sangat protektif, yang tidak memberikannya akses informasi yang penting diketahuinya, ditambah sifat abainya yang entah tumbuh dari mana. Bahkan dalam interaksinya dengan Shmuel, dia tidak menunjukkan empati sebagaimana mestinya, hanya berpusat pada pikiran dan perasaannya sendiri. Karakter yang menampakkan perubahan justru adalah Gretel, meski tidak dibahas secara mendetail.

Kesalahan pelafalan The Fury dan Out-With oleh Bruno juga agak janggal, karena Bruno berbicara dalam bahasa Jerman, bukan Inggris. Dalam satu adegan juga disebutkan bahwa dia membaca kata Out-With tersebut. Bagian saat Bruno menyebutkan sebuah buku dari Inggris hadiah dari ayahnya juga tidak sesuai dengan latar kebanggaan ayah Bruno terhadap bangsa Jerman, yang menganggap diri paling unggul, ditambah fakta bahwa Letnan Kotler—bawahan ayahnya—justru mencibir buku tersebut.

Di luar kejanggalan-kejanggalan yang sudah saya sebutkan, saya cukup menikmati membaca buku ini. Oleh karena sudah mengetahui latar sejarah yang berhubungan dengan buku ini, yaitu sekitar Perang Dunia II, saya tidak kesulitan membayangkan apa yang terjadi dari sudut pandang Bruno yang naif—karena buku ini menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas. Saya juga berhasil menangkap emosi yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kisahnya, meski karakter utamanya tidak menunjukkan pemahaman yang sama dengan pembaca.

Secara keseluruhan, aura kepolosan dalam buku inilah hal yang paling saya suka. Layaknya buku anak-anak lain, isu-isu sosial yang berat dilebur dalam sebuah kisah mengenai keluarga dan persahabatan yang wajar kita temui sehari-hari. Sebuah keluarga dengan dinamikanya, perpisahan dengan lingkungan yang nyaman, persahabatan yang murni, dan ambisi yang justru menghancurkan kebahagiaan, adalah sebagian hal yang tersirat dalam kisah Bruno. Sebuah nilai plus dalam buku ini adalah penekanan mengenai persahabatan murni tersebut. Kenaifan dan kepolosan Bruno dan Shmuel membuat mereka memandang masing-masing persamaan mereka, alih-alih membesar-besarkan perbedaan seperti yang dilakukan oleh para orang dewasa. Mungkin inilah hal utama yang membuat saya menilai tinggi buku ini. 3.5/5 bintang untuk penjelajahan tak terduga.

Agustus : Perang Dunia

Agustus : Perang Dunia

Review #28 of Children’s Literature Reading Project

Review #29 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever