Category Archives: Jonathan Stroud

The Last Siege – Jonathan Stroud

Title : The Last Siege / Pengepungan Terakhir
Author : Jonathan Stroud (2006)
Translator : Ribkah Sukito
Editor : Primadonna Angela
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2011
Format : Paperback, 288 pages

Tiga remaja dengan masalahnya masing-masing dipertemukan oleh sebuah insiden di depan bekas kastil yang lama tak berpenghuni. Emily dan Simon tak pernah berteman sebelumnya, tetapi saat terjepit oleh musuh yang sama, bersama dengan Marcus yang berasal dari bagian kota yang lain, tiba-tiba mereka masuk ke dalam petualangan yang digagas oleh anak asing itu.

“Kastil itu hidup karena kau dapat menafsirkannya sesukamu. Kastil itu bisa menjadi apa pun yang kaupikirkan. Kau bisa membayangkan bagaimana kastil itu dulunya, ketika belum hancur, ketika orang-orang tinggal di dalamnya. Dan setiap orang bebas untuk membayangkan hal yang berbeda.” (p.80)

Petualangan mereka semakin liar dan semakin bebas, masing-masing mereka kini punya peran dalam mewujudkan imajinasi mereka. Mulai dari permainan menaklukkan kastil,  penjelajahan dan menapak tilas sejarah, hingga pertahanan yang mulai tak tampak sebagai permainan lagi. Masalah menjadi serius ketika Marcus menceritakan masalah keluarganya kepada kedua kawannya. Masalah yang membutuhkan campur tangan pihak berwajib, tetapi, akankah orang dewasa mengerti ketakutan mereka?

Kisah persahabatan, keluarga, kehilangan, dinamika remaja, dan pengkhianatan. Sama seperti kisah Baron Hugh—penghuni kastil pada masa Raja John—yang diceritakan Marcus, mereka menghadapi ujian kesetiaan yang serupa.

Pada akhirnya, meski dibalut kisah petualangan yang menyenangkan, buku ini menyimpan kenyataan yang pahit tentang jurang antara anak-anak dan orang dewasa, serta secercah mengenai kesehatan mental. Mungkin karena ditujukan untuk pembaca muda, pesannya cukup samar untuk menyembunyikan kebrutalannya.

“Aku sedang berpikir—tentang apa yang dikatakan ibumu.”
“Iya.”
“Hanya… Apakah semuanya sudah baik-baik saja?”
“Tidak, tentu saja belum. ….”
(p.143)

Advertisements

The Leap – Jonathan Stroud

Judul buku : The Leap (Lompatan)
Penulis : Jonathan Stroud (2001)
Penerjemah : Jonathan Aditya Lesmana
Editor : Primadonna Angela
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Oktober 2011
Tebal buku : 240 halaman

“Di dalam air yang kehijauan, di antara gelembung-gelembung yang bergerak ke atas, ia masih saja menatapku. Wajahnya putih di antara lumut dan dedaunan.” (p.7)

Charlie, yang merupakan nama panggilan Charlotte (ya, seorang anak perempuan, saya juga terkecoh awalnya) berusaha untuk menata ingatannya atas kecelakaan yang dialaminya bersama sahabatnya, Max. Saat orang-orang di sekitarnya telah melepaskan kepergian Max selamanya, hanya dia yang yakin bahwa Max masih hidup. Charlie melihat makhluk-makhluk itu membawanya, dan hanya dia sendiri yang berhasil lolos.

Karena merasa semua orang hendak menghapuskan Max dari ingatan Charlie, maka dia tak pernah mengungkitnya lagi. Akan tetapi bukan berarti dia menyerah, dia mencari jalannya sendiri untuk mengembalikan Max, mengambilnya kembali dari makhluk-makhluk itu. Dia pun menemukan jalannya melalui mimpi-mimpi dan menelusuri kembali kenangannya bersama Max.

“Aku ingat bahwa mimpi sering sekali berada di kepalamu ketika kau bangun, tapi mimpi itu pecah dan pudar hampir seketika. Jawabannya adalah dengan merekam mereka secepat mungkin, dan itu artinya aku memerlukan pena dan kertas.” (p.58)

James, abang Charlie, adalah satu-satunya orang yang melihat bahwa ada yang tidak beres dengan Charlie. Di luar dia bersikap normal dan seolah berhasil mengatasi trauma kecelakaan itu, tetapi di dalam dia sama sekali tidak baik-baik saja. Bahkan ibunya, yang memang tidak berhubungan baik dengan Charlie, tidak menyadari kesalahan itu.

Di sini kita diajak untuk memasuki alam yang berbeda dalam petualangan Charlie dalam mimpinya. Akan tetapi, sepanjang buku ini, saya tidak bisa menebak ke mana arah yang dituju oleh sang penulis. Bahkan sampai terakhir pun, saya hanya membiarkan imajinasi saya yang mengambil keputusan. Karena memang ada dua pendapat yang berbeda, yang diceritakan dalam sudut pandang Charlie dan sudut pandang James, dimana pada akhir cerita mereka mengakhiri dengan pendapat mereka masing-masing.

Mungkin sang penulis mengarahkan kisah ini pada permainan kejiwaan. Sayangnya, latar belakang Charlie sendiri tidak dijelaskan secara mendetail untuk memahami tingkah lakunya. Tidak dijelaskan bagaimana orang tua mereka berpisah dan kapan serta alasannya. Hubungan Charlie dengan James pun hanya digambarkan secara samar-samar. Jika fantasi yang dititikberatkan, maka lebih baik berfokus pada jalan pikiran Charlie. Seperti saya katakan tadi, keputusan akhir di tangan pembaca.

Untuk penerjemahan buku ini tidak ada kejanggalan yang berarti. Akan tetapi masih ada satu dua kesalahan ketik yang meski tidak mengganggu, tetapi bagi saya pribadi tetap tidak bisa dimaafkan. Meski begitu, penilaian yang saya berikan 3/5 murni dari kisah datar penuh imajinasi yang hanya-Tuhan-dan-penulis-yang-tahu-makna-sebenarnya yang dipenuhi tanda tanya hingga akhir.