Category Archives: Kate DiCamillo

Flora & Ulysses – Kate DiCamillo

30164426Title : Flora & Ulysses
Author : Kate DiCamillo (2013)
Illustrator : K.G.Campbell (2013, 2014)
Publisher : Walker Books
Edition : First printing, 2015
Format : Paperback, 256 pages

Holy bagumba!

Buku ini adalah buku DiCamillo paling ceria yang pernah kubaca sejauh ini. Flora Belle Buckman, yang dengan pengalaman membaca ekstra di komik The Illuminated Adventures of the Amazing Incandesto! langganannya, mengenai Hal Buruk yang Bisa Terjadi Padamu, menyelamatkan seekor tupai dan menjalin persahabatan dengannya. Tupai yang karena sebuah kecelakaan dengan penyedot debu super Ulysses 2000x, berubah menjadi superhero–seperti Incandesto–yang kemudian dinamainya Ulysses.

Dalam petualangannya dengan Ulysses, Flora menemukan teman (Mrs. Tickham sebelah rumah yang luar biasa, William Spiver yang kadang menjengkelkan, Dr Meescham dengan kisah Blundermeecen-nya), ayah yang sempat ‘hilang’, serta kenyataan mengenai ibu yang selama ini tidak disadarinya.

Perpisahan kedua orang tua Flora membuat banyak hal berubah dalam hidupnya. Dia tak lagi tinggal bersama ayah yang biasanya menjadi kawan per-Incandesto-an, kalaupun ayahnya datang untuk membawanya keluar sekali waktu, pria itu terlihat murung dan kesepian. Ibunya yang seorang penulis novel romansa sibuk dengan buku yang tak menarik bagi Flora, di depan mesin ketik dengan rokok yang selalu menyala, dan kesayangan tak masuk akal terhadap lampu yang diberi nama Mary Ann.

Hanya teman-teman barunya yang mengerti betapa berharganya Ulysses, dan membantu melindunginya. Juga dengan kisah-kisah spektakuler yang mereka bawa, serta petualangan yang mereka jalani berikutnya. Melalui kejadian-kejadian luar biasa ini, Flora yang (mengaku) sinis mulai mengenal harapan, cinta, dan perasaan-perasaan yang selama ini tak terungkapkan.

Holy unanticipated occurrences!

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang bukan hanya menghiasi, tetapi ikut berkisah dan menghidupkan suasana, menggantikan kata-kata dan kalimat-kalimat. Mungkin–seperti yang disinggung dalam kisah ini, dan sebagaimana Flora berkali-kali menggunakan komik favoritnya sebagai referensi yang sangat berguna–buku ini menunjukkan bahwa ada kalanya komik bisa berkisah lebih baik ketimbang narasi.

Penulis juga gemar berinteraksi dengan pembaca melalui narasinya. Utamanya untuk memberikan pengertian mengenai kata-kata sulit–karena target pembacanya adalah anak, atau kejadian yang sulit dipahami anak-anak. Beberapa kali dia mendorong pembacanya untuk membuka kamus, salah satu cara yang baik untuk belajar.

Di samping lucu dan menyenangkan, buku ini menyimpan emosi mendalam mengenai jiwa manusia. Tentang kesepian, keluarga, dan rumah. Bahwa terkadang manusia tidak bisa menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya yang sesungguhnya, sehingga butuh sesuatu untuk mengungkapkan kebenaran, meski tragedi sekalipun.

“The truth,” said William Spiver, “is a slippery thing.” (p.240)

 

Scene on Three (30)

SceneOnThree

“Why don’t you play with them boys?” Gloria asked me.
“Because they’re ignorant,” I told her. “They still think you’re a witch. It doesn’t matter how many times I tell them you’re not.”
“I think they are just trying to make friends with you in a roundabout way,” Gloria said.
“I don’t want to be their friend,” I said.
“It might be fun having them two boys for friends.”
“I’d rather talk with you,” I said. “They’re stupid. And mean. And they’re boys.”
(p.91)

Adegan ini berasal dari buku Because of Winn-Dixie karya Kate DiCamillo. Percakapan ini–terutama jawaban Opal yang terakhir–mengundang senyum saya. Pada usia-usia menjelang remaja seperti mereka, mungkin memang bakal banyak terjadi pergesekan antara anak laki-laki dan perempuan, apalagi jika mereka baru mengenal pada usia tersebut. Karena memang pola pikir anak laki-laki dan perempuan memang berbeda. Seperti kata Gloria, anak laki-laki itu mungkin hanya mencoba untuk berkawan dengan Opal, tetapi gadis itu tidak suka dengan caranya. Yeah, boys will be boys :p

Ingin berbagi scene menarik kalian?

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Because of Winn-Dixie – Kate DiCamillo

24294Title : Because of Winn-Dixie
Author : Kate DiCamillo (2000)
Publisher : Scholastic
Edition : First Scholastic printing, September 2000
Format : Paperback, 186 pages

India Opal Buloni adalah anak seorang pendeta dengan ibu yang meninggalkan mereka sejak Opal masih kecil. Opal dan ayahnya saat ini tinggal di Naomi. Hubungan ayah-anak ini cenderung berjarak, dan Opal seringkali merasa kesepian. Sampai suatu ketika dia menemukan seekor anjing jelek yang pitak, tetapi memiliki senyum yang langsung mengambil hati Opal. Dia menamakan anjing itu Winn-Dixie, membawanya pulang dan merawatnya.

It’s hard not to immediately fall in love with a dog who has a good sense of humor. (p.12)

Winn-Dixie tidak suka ditinggalkan, kemana pun Opal pergi, di situ Winn-Dixie mengikuti. Sejak memiliki Winn-Dixie, kejadian-kejadian unik terjadi pada Opal yang menyebabkannya bertemu dengan teman-teman baru yang unik pula. Ada Sweetie Pie Thomas yang berusia lima tahun, Miss Franny Block si pustakawan, Otis—penjaga toko hewan peliharaan yang merupakan mantan narapidana, ada juga Gloria Dump tua yang penyendiri. Bersama mereka, Opal belajar banyak hal tentang kehidupan.

Opal mulai bisa menghadapi kehidupan tanpa terus-menerus mengharapkan kehadiran ibu yang telah meninggalkannya. Hubungannya dengan ayahnya pun menjadi dekat berkat tragedi yang melibatkan Winn-Dixie. Opal mulai bisa memandang Dunlap dan Stevie Dewberry, dua bersaudara yang sering mengusilinya, juga Amanda Wilkinson yang pemurung dengan lebih baik.

“… But in the meantime, you got to remember, you can’t always judge people by the things they done. You got to judge them by what they are doing now.” (p.96)

Buku yang merupakan debut penulis ini melukiskan kehidupan pahit seorang anak, yang perlahan tapi pasti mencoba merasakan manisnya kehidupan dengan menerima kepahitan itu. Hal ini digambarkan secara apik melalui permen pastiles yang diciptakan oleh kakek Miss Franny, Littmus W. Block.

Littmus W. Block figured the world was a sorry affair and that it had enough ugly things in it and what he was going to do was concentrate on putting something sweet in it. (p.111)

“There’s a secret ingredient in there,” Miss Franny said.
“I know it,” I told her. “ I can taste it. What is it?”
“Sorrow,” Miss Franny said. “Not everybody can taste it. Children, especially, seem to have a hard time knowing it’s there.”
“I taste it,” I said.
“Me, too,” said Amanda.
“Well, then,” Miss Franny said, “ you’ve probably both had your share of sadness.”
(p.114)

“I believe, sometimes, that the whole world has an aching heart.” (p.134)

Setiap orang, tua atau muda, dewasa maupun anak-anak, memiliki ‘kepahitan’nya masing-masing. Bagi Sweetie Pie, pahitnya hidup adalah tidak memiliki anjing; namun bagi Opal, di usianya yang masih belasan tahun, harus merasakan kehilangan orang yang dikasihinya tentu tidak mudah. Pertemuannya dengan Winn-Dixie adalah jembatan baginya untuk menemukan manisnya persahabatan, dan jalan baginya untuk—bersama-sama dengan ayahnya—menerima kepahitan bahwa ibunya telah pergi.

Buku ini ditulis melalui narasi Opal, bahasanya sederhana, dan di beberapa bagian terdapat kesalahan tata bahasa—khas anak-anak. Di sini kita bisa melihat kesederhanaan pola pikir seorang anak, kesederhanaan harapan dan keinginan mereka.

4/5 bintang untuk kisah sederhana yang bermakna dalam.

“There ain’t no way you can hold on to something that wants to go, you understand? You can only love what you got while you got it.” (p.159)

Review #4 of Children’s Literature Reading Project

Review #5 for Lucky No.14 Reading Challenge  category First Letter’s Rule

The Miraculous Journey of Edward Tulane – Kate DiCamillo

Title : The Miraculous Journey of Edward Tulane (Perjalanan Ajaib Edward Tulane)
Author : Kate DiCamillo (2006)
Illustrator : Bagram Ibatoulline
Translator : Dini Pandia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, November 2006
Format : Paperback, 188 pages

Kelinci porselen itu bernama Edward Tulane. Seluruh tubuhnya terbuat dari porselen, dengan siku dan lutut yang disambung kawat sehingga bisa ditekuk, telinga dan ekor dari bulu kelinci asli, serta mata yang dicat biru. Pemiliknya adalah seorang gadis sembilan tahun bernama Abilene Tulane yang menyayangi Edward sepenuh hati, memperlakukannya seperti makhluk hidup. Setiap hari Edward didandani sedemikian rupa, ditempatkan di dekat jendela saat Abilene ke sekolah, mendudukkannya di meja makan dan melibatkannya dalam pembicaraan seolah Edward ikut mendengarkan. Sesungguhnya, Edward tidak pernah memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekitarnya, dia hanya mengagumi dirinya, dan merasa istimewa karena perlakuan yang didapatkannya.

Suatu hari, Pellegrina—nenek Abilene, menceritakan kisah seorang putri yang sangat cantik:

Zaman dahulu ada putri yang sangat cantik. Ia gemerlapan bagai bintang-bintang di langit tanpa bulan. Tapi apa bedanya bahwa ia cantik? Nihil. Tak ada bedanya.
“Kenapa tidak ada bedanya?” Abilene ingin tahu.
“Karena,” jawab Pellegrina, “ia putri yang tidak menyayangi siapa pun dan tak peduli pada rasa sayang, meskipun banyak yang menyayanginya.”
(p.31)

Di akhir kisahnya, Pellegrina berbicara dengan Edward, seolah dia tahu bahwa Edward mendengarkannya, bahwa kelinci porselen itu mengecewakan dirinya.

Hari berikutnya, suami-istri Tulane bersama Abilene melakukan perjalanan dengan kepal menuju Inggris. Abilene yang tidak bisa berpisah jauh dari Edward ikut membawa kelinci tersebut. Namun, di tengah perjalanan, sesuatu menyebabkan Edward terjatuh ke laut, tenggelam ke dasarnya selama berbulan-bulan, sampai dia tersangkut di jaring seorang nelayan.

Edward pun dirawat oleh istri sang nelayan, diperlakukan sebagaimana anaknya sendiri, diajak bicara sebagaimana Abilene biasa mengajaknya bicara. Akan tetapi, saat itu ada yang berubah dalam diri Edward.

Dan Edward terkejut saat mendapati ia memang mendengarkan. Sebelum ini, kalau Abilene bicara padanya, semua terasa begitu membosankan, begitu tak berguna. Tapi sekarang, kisah-kisah yang diceritakan Nellie bagai sesuatu yang paling penting di dunia dan ia mendengarkan seolah hidupnya tergantung pada apa yang dikatakan wanita tua itu. Ia jadi bertanya-tanya apakah kepala porselennya kemasukan lumpur laut sehingga jadi rusak. (p.67)

Saat Edward mulai merasa nyaman dengan pasangan nelayan itu, dia kembali menemukan dirinya terhempas ke tempat yang tidak seharusnya, sampai dirinya ditemukan oleh seorang gelandangan yang memiliki seekor anjing. Petualangan Edward tidak berhenti, beberapa kali dia terbuang, ditemukan, disayangi, dan dihilangkan. Edward yang mulai mengenal perasaan sayang, perasaan nyaman, kemudian harus mengalami kehilangan, mulai mengerti apa yang dipersalahkan oleh Pellegrina.

Sampai sejauh mana perjalanan Edward, sampai kapan dia mengalami kehancuran, dan akankah dia bisa bertahan terus menyayangi meski berkali-kali menjadi sakit karenanya?

Buku anak-anak dengan ilustrasi cantik yang menghiasi pada beberapa halamannya ini tak sesederhana alurnya. Setiap perjalanan yang ditempuh oleh Edward adalah potret dari kehidupan kita, bagaimana sekiranya hidup akan membawa kita, seiring pertambahan usia, seiring banyaknya orang-orang yang kita temui, seiring peristiwa-peristiwa yang kita lihat dan alami. Edward yang saat bersama Abilene ibarat ‘bayi’ yang tak memikirkan apa pun selain kebutuhannya sendiri, didewasakan oleh bulan-bulan kegelapan yang dialaminya di dasar laut.

Perjalanannya mengenalkan Edward pada perasaan dan emosi. Dia mengenal rasa sayang, marah, kecewa, sedih, bahagia, sampai perasaan hampa. Dia pernah disayangi, pernah disia-siakan, pernah sendirian, pernah dimanfaatkan. Fase-fase yang dialami oleh Edward terasa dekat dengan kita, bukan hanya fase dalam masa kanak-kanak, bahkan fase kehidupan pada masa dewasa. Saya jadi berpikir bahwa hidup memberikan masalah yang pada intinya sama, namun dengan tingkatan yang disesuaikan dengan usia. Saat kanak-kanak, mungkin kehilangan sebuah mainan dapat berarti kesedihan yang sangat besar. Saat dewasa pun, kita akan diuji dengan kehilangan, jika kehilangan benda tak lagi membuat kita sedih, mungkin kehilangan seseorang akan menjadi ujian kita berikutnya. Begitu seterusnya.

“Tapi jangan khawatir, sobatku. Tidak usah cemas. Aku berniat memenuhi janjiku. Aku akan mengembalikan kau ke keadaan yang menurut dugaanku merupakan kondisi terbaikmu. Kau akan punya telinga dan ekor bulu kelinci. Kumismu akan diperbaiki dan diganti, matamu dicat ulang jadi biru terang dan memesona. Kau akan mengenakan setelan paling bagus.
“Lalu, suatu hari nanti, aku akan menuai hasil investasiku padamu. Semua ada waktunya. Semua ada waktunya. Dalam bisnis boneka, ada pepatah: ada saat sungguhan dan ada saat boneka. Kau, temanku yang bagus, telah memasuki saat boneka.”
(p.159-160)

5/5 bintang untuk fabel cantik yang universal.

Januari #1 : Fabel

Review #1 of Children’s Literature Reading Project

Review #1 for Lucky No.14 Reading Challenge  category It’s Been There Forever

Review #1 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge