Category Archives: Neil Gaiman

Memilih Karya Neil Gaiman

source

Sebagai seseorang yang mengaku sebagai penggemar karya-karya Neil Gaiman, rasanya kurang sah bila saya tidak memberikan rekomendasi kepada lebih banyak orang mengenai karya beliau. Sebenarnya, tanpa saya promosikan pun, penulis yang satu ini sudah menunjukkan giginya di mana-mana. Penggemarnya di luar sana juga sudah cukup banyak, sehingga pastilah mereka yang belum pernah membaca karya penulis ini sedikit banyak merasa penasaran dengan tulisannya. Kali ini, saya akan memberi sedikit tips bagaimana memulai membaca karya Gaiman, karya mana yang sekiranya cocok untuk dibaca pertama kali.

Untuk para penggemar fantasi yang tidak pilih-pilih, alias semua karya fantasi dilahap, rasanya tidak akan kesulitan menemukan karya yang disukai dari Gaiman. Buku-buku Gaiman sebagian besar bergenre dark fantasy, jadi bagi yang punya masalah dengan karakter yang bercela, atau tepatnya penuh cela dan kesialan, antagonis yang sadis nan menyeramkan, atau akhir cerita yang tidak jelas bahagia atau tidak, mungkin perlu peringatan sejak awal agar tidak berekspektasi di luar itu. Kecuali, beberapa buku anak-anaknya. Ya, Neil Gaiman selain menulis buku untuk dewasa, juga menulis buku untuk anak-anak. Mari kita bahas satu per satu.

Secara umum, buku dewasa Gaiman memiliki persamaan pada ciri karakter utamanya. Biasanya, karakter di novel-novelnya adalah pria yang bercela. Entah dia gagal dalam pekerjaan, dalam percintaan, tidak populer secara sosial, bahkan bisa menyebalkan. Pokoknya bukan ciri protagonis yang bisa mengundang simpati dengan mudah.

Good Omens (1990)

Hasil kolaborasi dengan Terry Pratchett ini menghadirkan nuansa yang akan berbeda dari karya Gaiman setelahnya. Bisa dibilang ini pertama kalinya penulis ini mengalami masa tenar, berkat kerjasamanya dengan penulis yang sudah senior. Dengan melibatkan ramalan akhir zaman, malaikat, iblis, keduanya menghasilkan kisah yang penuh humor. Buku ini cocok untuk yang jiwanya sedang membutuhkan hiburan.

Neverwhere (1996)

Buku ini memanjakan kita dengan setting kota London, tepatnya London Bawah. Apa itu London Bawah? Bisa dibilang versi ajaib dari London dimana kita bisa menilai seberapa gila imajinasi Gaiman melalui deskripsi dan karakter-karakternya. Tema besarnya cukup sederhana, bukunya tidak terlalu tebal, mungkin sebuah awalan yang ‘aman’.

Stardust (1999)

Kalau Neverwhere mengambil setting yang dekat dengan dunia yang ada di kenyataan, Stardust lebih kepada dunia antah-berantah, Negeri Peri. Dengan pola dongeng yang khas hitam-putih, tetapi suatu saat bisa jadi yang hitam menjadi putih, dan sebaliknya. Buku ini rasanya cocok bagi penikmat dongeng, dengan modifikasi yang lebih dewasa.

American Gods (2001)

Buku yang paling tebal, dan mungkin paling mengintimidasi. Namun, buku ini sangat cocok bagi yang menginginkan pengalaman lengkap dan utuh membaca Gaiman. Buku ini mengandung semua unsur yang bisa membuat kita mengagumi penulis yang satu ini. Jadi, jika masih ada waktu dan kesempatan untuk membaca buku tebal, tak ada salahnya berkenalan dengan Gaiman melalui buku ini.

Anansi Boys (2005)

Buku ini masih berada di dunia yang sama dengan American Gods, bisa dibilang sekuelnya, tetapi dengan karakter ‘sempalan’ yang tidak banyak dibahas di buku sebelumnya. Karakternya relatif lebih tidak menyenangkan, perkembangannya pun tidak drastis, dengan konflik keluarga yang lebih terasa.

Interworld (2007)

Dalam buku ini, Gaiman berkolaborasi dengan Michael Reaves. Buku ini agak berbeda karena genrenya lebih kepada fiksi sains, bahkan sangat kental. Bagi penyuka sains, khususnya yang berhubungan dengan komputer, alam semesta, dan berbagai kemungkinannya, Interworld ini sangat memanjakan otak.

Ocean at the End of the Lane (2013)

Bisa dibilang buku ini adalah karya paling personal, baik bagi penulisnya, maupun bagi saya saat membacanya. Bagi penulisnya, ini memang kurang lebih semacam memori masa kecil—yang tentunya dibumbui dengan berbagai macam hal fantastis. Bagi saya, entahlah, saya merasa seperti berada di dalam mimpi saat membacanya, begitu dekat, begitu familiar, jadi meski tak tahu apa yang bakal terjadi, bahkan tak terduga, tetap merasa semacam ada de javu dari alam bawah sadar saya. Saya tak punya penjelasan yang logis selain bahwa saya ada di bawah sihir Gaiman saat membacanya. Intinya buku ini memang mengenang masa kecil sang karakter yang bagaikan mimpi, hal yang sempat dia lupakan dari pengalaman magis di masa kecilnya perlahan kembali.

Untuk yang merasa tidak siap dengan keabsurdan imajinasi liar Neil Gaiman, mungkin bisa mencoba buku anak-anaknya. Novelnya yang untuk anak memiliki semua unsur fantastis yang menjadi ciri khasnya, tetapi minus karakter menyebalkan, minus kesadisan, minus kejadian tidak menyenangkan, dan seringkali karakternya sangat mudah disukai, meskipun tak menghilangkan unsur gelap dan (sedikit) menyeramkan dalam ceritanya. Satu lagi, jika semua karakter utama dalam karya dewasanya adalah pria, dalam karya anaknya, dia punya protagonis perempuan.
Coraline (2002)

Anak perempuan dengan nama tak lazim ini sempat mengalami petualangan tak lazim di flat barunya. Ada unsur gelap, antagonis yang menyeramkan, tetapi dalam kadar sangat ringan jika dibanding buku dewasanya. Berpusat pada hubungan orang tua dan anak tunggalnya, dengan dibumbui tetangga yang aneh.

The Graveyard Book (2008)

Novel pemenang penghargaan Newbery ini bisa dikatakan sebagai bildungsroman atau coming-of-age, dengan sentuhan dark fantasy atau horor. Sebagaimana judulnya, kisah ini berada di sekitar pemakaman, tepatnya, seorang anak manusia yang dibesarkan di kuburan oleh penghuninya yang (sudah) bukan manusia (lagi). Memang diakuinya sendiri bahwa Gaiman terinspirasi oleh The Jungle Book karya Rudyard Kipling, jadi selain pola pengasuhan anak yang mirip, format kisah ini juga mirip, yaitu terdiri dari bab-bab cerita pendek yang mengisahkan setiap fase pertumbuhan dan perkembangan karakternya dari anak hingga dewasa.

Odd and the Frost Giants (2008)

Buku ini lebih bersahabat untuk anak yang lebih kecil. Bagian tidak menyenangkannya relatif sedikit dan samar, dengan bahasa yang cukup bersahabat untuk anak. Sehingga bagi orang dewasa mungkin ini pengenalan yang lebih lembut. Dengan setting dan karakter yang nantinya akan lebih familiar begitu kejutannya dibuka.

Fortunately, the Milk (2013)

Sasaran usia dan nuansanya sama dengan Odd and the Frost Giants, tidak gelap, tetapi lebih banyak menampilkan adegan dan karakter yang fantastis. Lebih banyak gambar, lebih banyak humor, dan lebih menyenangkan.

Selain itu, beberapa buku anaknya yang lain; The Day I Swapped My Dad for Two Goldfish, The Wolves in the Walls, The Dangerous Alphabet, Blueberry Girl, Crazy Hair, Instructions, Chu’s Day (yang ini berseri), dan Hansel and Gretel bisa dijadikan awalan, dan tetap akan memberikan ciri khas Gaiman, minus keabsurdan dan kegelapan yang semakin pekat pada karya-karyanya untuk usia yang lebih dewasa.

Bagi penyuka komik, mungkin bisa mencoba seri Sandman, saya sendiri belum sempat membaca, tetapi di luar sana komik itu menjadi favorit banyak orang. Sedangkan bagi yang ingin menyelami ide dan pikiran Neil Gaiman, ada kumpulan esainya yang sudah dibukukan, The View from the Cheap Seats. Dan yang sedang hangat adalah Norse Mythology, yang berada di antara fiksi dan nonfikso, yang jelas akan menarik bagi penggemar mitologi Norwegia pada khususnya, dan fantasi pada umumnya. Cerpen Gaiman pun cukup banyak, bagi yang ingin mencecapnya, baik dewasa ataupun anak, antologi bersama penulis lain atau kumpulan cerpennya sendiri, dan beberapa di antaranya bahkan diterbitkan ulang dalam bentuk komik atau buku berilustrasi.

Begitulah kurang lebih gambaran sekilas mengenai karya Gaiman versi saya. Saya tidak bisa memberikan urutan prioritas, karena, pertama akan bias (semuanya bagus tentu saja!), dan yang kedua setiap pembaca memiliki prioritas genrenya masing-masing. Yang pasti, tak berhenti di fantasi, Neil Gaiman memiliki rasa universal pada setiap karyanya, yang memberi sentuhan lapisan dan corak kehidupan nyata yang beragam. Dan, siapa sih, yang pernah memberi karakternya nama ‘Nobody’, ‘Odd’, atau ‘Shadow’, tanpa terkesan aneh?

77471-bbi2bhut2b6-01Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com

MirrorMask – Neil Gaiman & Dave McKean

Title : MirrorMask
Author : Neil Gaiman (2005)
Illustrator : Dave McKean (2005)
Publisher : HarperCollins
Edition : First edition, first printing
Format : Hardcover, 80 pages

“Real life? Helena, you couldn’t handle real life,”

Helena Campbell adalah seorang remaja dari keluarga sirkus. Ayahnya pemilik sirkus itu, bersama keluarga dan stafnya mereka menjalankan sirkus hampir sepanjang hidup Helena. Dipicu gejolak remajanya, suatu ketika Helena berdebat cukup hebat dengan ibunya, mengeluarkan kata-kata cukup menyakitkan, hingga ibunya jatuh sakit. Gadis itu pun gelisah dalam rasa bersalahnya.

And suddenly I stopped being worried. If you’re in a dream, and you know it’s a dream, then nothing in the dream can hurt you. Right? Well, that’s what I thought at the time.

Malam itu dia terbangun dalam mimpi yang cukup aneh. Dia tahu dirinya sedang tidur selagi dia berada di dunia yang misterius dan dipenuhi oleh makhluk aneh. Namun dia terjebak dalam sebuah petualangan yang tidak diduganya, sementara Helena yang dilihatnya di kamarnya seperti bukan dirinya, membuat masalah semakin runyam. Dalam dunia imajinasi ini dia melihat perwujudan dirinya yang bukan dirinya, penggambaran dunianya yang bukan dunianya, serta orang-orang yang berhubungan dengannya tetapi bukan mereka. Bagaimanapun juga, dia harus pulang dan menyelesaikan masalahnya sendiri, yang dibutuhkannya adalah MirrorMask.

Dalam perjalanannya tersebut Helena juga bertemu dengan Valentine yang bertopeng aneh, yang akan menemani petualangannya mencari MirrorMask dan kembali ke dunianya. Orang misterius dan makhluk ajaib tentu tak akan terlewatkan dalam sebuah petualangan fantasi. Mulai dari perpustakaan, taman hiburan hingga ke istana, membawa tantangannya masing-masing.

But you can’t run away from home without destroying somebody’s world.

Buku ini adalah novella grafis yang berasal dari film oleh kreator yang sama. Ilustrasi McKean tidak asing lagi bagi saya karena dia adalah ilustrator dari beberapa karya Gaiman, pun saya sudah pernah menonton film MirrorMask ini. Dengan ilustrasi asli maupun foto dari film bertebaran di sepanjang buku, kita seolah mengikuti satu per satu scene film tersebut. Permainan tipografi pun sangat terasa dalam membangun suasana, penekanan, serta intonasi. Meski demikian, berbeda dari picture book, narasi dan dialog dalam buku ini cukup panjang untuk menjadi sebuah novella yang bisa berkisah sendiri meski tanpa ilustrasi.

img_20160618_120052.jpg

Saya merasa setiap halaman dalam buku ini begitu berharga. Setiap scene menyimpan metafora atau makna berlapis yang semacam tidak akan ada habisnya jika dikaji satu per satu. Berbalut kisah keluarga, persahabatan, percintaan remaja, buku ini memberi penggambaran yang luas tentang kepercayaan, penyesalan, dan memaafkan. Bahkan hal-hal yang paling kecil pun seperti menyentil beberapa aspek kehidupan walau tak berhubungan langsung dengan cerita. Metafora dan personifikasi bertaburan dalam dunia ajaib ini.

MY PAGES TASTE EXCELLENT BUT ARE STICKIER THAN TOFFEE AND VERY DIFFICULT TO CHEW.
Valentine looked disgusted. “What an appaling book. That’s the most useless thing it’s told us so far.”
“No,” I told him. “It’s a very brave thing to say.”

Dulu saat pertama menonton filmnya, saya sudah suka, lalu membaca bukunya kini memberi sebuah pengalaman membaca tersendiri. Mungkin untuk ukuran sebuah buku yang ditulis berdasar film, buku ini relatif terlalu singkat, tetapi dari sesuatu yang singkat ini justru merangsang kita untuk berpikir lebih dalam dan lebih luas. 5/5 bintang untuk kisah singkat yang dalam.

to sum up

to sum up

Scene on Three (115)

SceneOnThree

Sebelumnya, saya mau mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-5 untuk BBI (Blogger Buku Indonesia). Kebetulan, dua hari kemarin saya sempat mengikuti event perayaan ini. Rencananya akan ada tiga event lagi, silakan cek postingan saya berikutnya untuk memastikan saya ikut atau tidak 🙂

Langsung saja, scene hari ini saya ambil dari MirrorMask karya Neil Gaiman dan Dave McKean untuk ilustrasinya. Buku ini dibuat berdasarkan film yang dihasilkan oleh keduanya juga. Dan kebetulan, saya dulu sudah pernah menonton filmnya (walaupun agak lupa detailnya), dan saya sukaaa sekali, padahal waktu itu saya belum kenal kedua orang hebat ini.

“Sometimes,” I told him, as the darkness swirled closer and closer, “you just have to say you’re sorry.”
It’s more than that, and I think by then I knew it. It’s more than saying sorry.
It’s meaning it. It’s letting the apology change things. But an apology is where it has to begin.

Saya belum sempat membuat review buku ini, tapi bisa saya katakan buku ini begitu ‘penuh’. Semacam ada sayap-sayap makna dalam setiap scene-nya yang bisa diasosiasikan dengan banyak hal di luar konteks cerita itu sendiri. Perasaan yang mirip dengan saat saya membaca The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery, yang dalam review saya di goodreads saya istilahkan sebagai sumber scene on three yang tak ada habisnya.

Permintaan maaf itu, sesuatu yang rumit. Semakin dewasa, saya semakin menyadari bahwa maaf bukan sekadar masalah siapa yang benar siapa yang salah. Maaf juga bukan sekadar ucapan, karena maaf juga dinilai dari apa yang diperbuat dan sikap kita selanjutnya. Tapi, seringkali, sekadar mengucapkan maaf di mulut saja sulit. Gengsi, kemarahan, kekeraskepalaan, atau apapun, biasanya hal buruk yang menjadi muaranya. Karena itulah, memulai meminta maaf walaupun tidak salah adalah sesuatu yang mulia. Karena memang sulit.

Bagikan scene-mu hari ini, dan hari-hari berunsur tiga sebulan ke depan dengan :

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Link 13 April 2016

Link 23 April 2016

Link 30 April 2016

Link 3 Mei 2016

Crazy Hair – Neil Gaiman & Dave McKean

crazy hairTitle : Crazy Hair
Author : Neil Gaiman (2005)
Illustrator : Dave McKean (2009)
Publisher : Harper
Edition : First edition, 5th printing
Format : Paperback, 40 pages

This is Bonnie.
This is me.
We were standing
Silently.
She said,
“I don’t mean to stare.
Mister, you’ve got crazy hair.”

img_20160116_220958.jpgCrazy hair
Oh me, oh my.
Crazy hair?
I thought I’d die.

I said, “Miss, how do you dare
Talk about my crazy hair?
…”

(p.6-9)

Saya telah menceritakan tentang cerita ini di sini, sebelum saya memiliki bukunya. Meski telah beberapa kali mendengar cerita ini dibacakan, tidak mengurangi kenikmatan dan kelucuan saat membacanya sendiri. Ilustrasi dan tipografi dari Dave McKean benar-benar memanjakan mata dan menyegarkan otak. Ilustrasi khas yang juga terdapat di The Wolves in the Walls.

img_20160116_221719.jpg

Saya tidak membayangkan bahwa ‘crazy hair’ digambarkan dengan…indah. Ya, bukannya rambut awut-awutan dan keriting tak berbentuk, tetapi justru rambut licin, bergelombang dengan seni, atau mungkin keriting, tapi tetap cantik. Ada pula gambaran mikroskopis dari rambut yang detailnya tak kalah mengagumkan.

img_20160116_221952.jpg

Cerita yang disuguhkan melalui sajak berima ini, meski ganjil, tidak bisa saya katakan gelap sebagaimana karya penulis biasanya. Memang ada saat adegan berubah menjadi agak menyeramkan, tetapi kemudian ada twist yang menjadikannya kembali menyenangkan untuk diikuti.

5/5 bintang untuk Bonnie dan sisirnya.

Happy as a millionaire,
Safe inside my crazy hair.
(p.38)

Review #38 of Children’s Literature Reading Project

img_20160116_221047.jpg

InterWorld – Neil Gaiman & Michael Reaves

8497469

Title : InterWorld
Author : Neil Gaiman & Michael Reaves (2007)
Translator : Tanti Lesmana
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Juni 2010
Format : Paperback, 280 pages

Joey Harker sangat payah dalam menentukan arah, dia sering tersesat, bahkan di rumahnya sendiri. Jadi ketika guru Kajian-Kajian Sosialnya, Mr. Dimas, memberi tugas untuk menemukan jalan pulang dari tempat tertentu di pusat kota, yang terjadi justru awal dari petualangan yang lebih dahsyat. Tanpa sengaja, Joey ‘berjalan’ ke Altiverse lain dan menemukan dunianya bukan lagi dunianya yang biasa. Dengan insiden itu pula, kehidupannya kini berubah dan takdirnya ditentukan untuk menjadi seorang Pelintas.

Kucengkeram kewarasanku dan kupegangi erat-erat dengan kedua tangan. (p.39)

Idenya adalah bahwa semesta ini tidak tunggal, melainkan ada Multiverse. Di dalam Multiverse, ada dunia-dunia yang terpecah menjadi Altiverse, yang terbentuk dari alternatif-alternatif keputusan besar yang dibuat di dunia ini. Multiverse sendiri ada dua kubu besar, di satu kutub ada Binary yang murni menggunakan sains saja, di kutub satunya adalah HEX yang menggunakan sihir murni. Keduanya berambisi untuk menguasai seluruh Altiverse dan mengubahnya menjadi sesuai dengan mereka sepenuhnya. Dunia-dunia yang lain berada di antaranya, termasuk Bumi yang cenderung pada sains, tetapi masih memiliki sedikit unsur sihir. Joey dan versi-versi lain dirinya adalah bagian dari InterWorld, yang akan menjaga kestabilan semesta dari peperangan antara Binary dan HEX. Para Pelintas menjadi incaran Binary dan HEX karena mereka sendiri tidak memiliki kemampuan melintasi Altiverse, sehingga mereka menggunakan ‘ekstrak’ pada Pelintas tersebut demi tujuan mereka, supaya mereka tidak tersesat di Medan-Antara.

Medan-Antara ini penuh dengan hiperboloid, pita-pita Möbius, botol-botol Klein…apa yang mereka sebut bentuk-bentuk non-Euklides. Membuatmu merasa seolah-olah terperangkap di dalam mimpi-mimpi buruk Einstein yang paling seram. Untuk bepergian di dalamnya tidak bisa dengan sekadar melihat kompas dan berkata, “Ke arah ini!”; bukan hanya ada empat arah, atau delapan, atau bahkan enam belas. Arah yang bisa dituju jumlahnya tidak terbatas—dan untuk menjalaninya dibutuhkan fokus dan konsentrasi, seperti kalau hendak menemukan sosok-sosok tersembunyi orang Indian di dalam gambar bentangan hutan. Lebih dari itu, diperlukan imajinasi. (p.139)

Konsep Multiverse dan Altiverse serta Medan-Antara ini ternyata tidak asing bagi saya, semacam versi saintifik dari konsep Dunia yang Terhubung milik Diana Wynne Jones, atau the Wood Between the Worlds dari C. S. Lewis dalam versi yang lebih modern. Terlepas dari itu, petualangan dan konsep tugas dalam buku ini sangat menarik. Unsur emosional yang dalam juga mewarnai beberapa bagian dari buku ini, yang menjadikannya lebih berbekas ketika membacanya. Beberapa di antaranya adalah momen perpisahan Joey dengan keluarganya, saat dia menyadari nilai sebuah keluarga; lalu saat ada yang harus menjadi korban untuk sebuah tindakan yang tampak bodoh; dan hubungan-hubungannya dengan orang (atau makhluk) lain yang memiliki nilai tersendiri. Kalau saya katakan, buku ini (termasuk buku-buku Neil Gaiman yang lain), memiliki unsur literary yang cukup kental meskipun jelas-jelas buku ini bergenre fantasi…tidak, saya rasa buku ini adalah perkawinan yang unik antara genre fantasi dan science fiction, mengingat porsi sains di buku ini cukup membuat otak saya berlompatan gembira. Saya belum pernah membaca karya Michael Reaves sebelumnya, tetapi saya menduga dia yang berperan besar dalam menumpahkan segenap unsur sains dalam buku ini.

Membaca buku ini memang memerlukan kesabaran di awal, karena terlalu banyak teka-teki tanpa jawaban yang ditumpahkan di awal. Namun semakin ke belakang, akan semakin terbiasa dan semakin menyenangkan. Petualangan yang menegangkan, penuh bahaya, perbatasan hidup dan mati, serta tugas-tugas yang sulit ini dilengkapi pula dengan humor. Atau sarkasme.

“Alat penunjuk lokasi sudah diaktifkan,” katanya. “Objek sasaran berada di lantai ketiga dari yang terakhir di kediaman ini.”
“Bisa tidak kau mempersingkat kalimatmu setiap kali kau membuat pengumuman?” Jo bertanya padanya, bulu-bulu sayapnya mengembang menandakan kejengkelannya.
“Yeah,” J/O menimpali. “Aku punya chip Merriam-Webster terbaru—yang sanggup memuat dua puluh tera kamus, thesaurus, silabus, sebut saja pokoknya, diindeks silang untuk enam puluh bidang realitas, dan beberapa kalimat yang kauucapkan masih tetap belum masuk daftar.”
Jai hanya tersenyum. “Apa gunanya memiliki kosa kata kalau tidak digunakan?”
(p.146-147)

Buku ini awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah novel. Sekitar tahun 1995, ide mengenai InterWorld lahir dan diwujudkan menjadi skenario serial televisi. Namun sayang pihak televisi belum menerimanya. Padahal menurut saya ini salah satu ide jenius, yah, tapi orang-orang televisi memang berbeda.

5/5 bintang untuk sains vs. sihir.

Review #41 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever