Category Archives: Oscar Wilde

Scene on Three (86)

SceneOnThree

Suffering is one very long moment. We cannot divide it by seasons. We can only record its moods, and chronicle their return. With us time itself does not progress. It revolves. It seems to circle round one centre of pain. The paralysing immobility of a life every circumstance of which is regulated after an unchangeable pattern, so that we eat and drink and lie down and pray, or kneel at least for prayer, according to the inflexible laws of an iron formula: this immobile quality, that makes each dreadful day in the very minutest detail like its brother, seems to communicate itself to those external forces, the very essence of whose existence is ceaseless change.

Kutipan De Profundis karya Oscar Wilde ini saya baca dari kumpulan Inspirations: Selections from Classic Literature (p.71-72) oleh Paulo Coelho.

Kutipan ini mengingatkan saya pada beberapa tahun belakangan ini, yang menandai datangnya hari-hari ‘gelap’ pada bulan-bulan tertentu dalam setahun, semacam siklus depresi. Kadang masalah yang ditimbulkannya sama, hanya muncul kembali dalam mood yang berbeda, atau, sama sekali berbeda, tapi dalam kurun waktu yang sama. Dalam titik tertentu, kadang saya bertanya-tanya, apakah manusia masih bisa berbahagia, apakah masih ada kesempatan untuk tertawa lepas?

Bagikan scene-mu hari ini:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Advertisements

Short Stories – Oscar Wilde

Author : Oscar Wilde
Publisher : Signet Classic, New American Library
Edition : 16th printing, ©1983
Fomat : Paperback, p. 235-302

Contents:
1. The Happy Prince, from The Happy Prince, and Other Tales (1888)
2. The Birthday of the Infanta, from The House of Pomegranates (1891)
3. Lord Arthur Savile’s Crime, from Lord Arthur Saville’s Crime and Other Stories (1909)

Edisi The Picture of Dorian Gray yang saya baca memuat tiga cerpen Wilde yang diambil dari tiga kumpulan yang berbeda. Saya pasti berencana membaca kumpulan-kumpulan tersebut, jadi katakanlah ini sekadar pengantar untuk memperoleh sedikit gambaran mengenai beberapa cerpen Wilde, sebelum saya membaca keseluruhannya.

Illustration for the first edition by Walter Crane

The Happy Prince mungkin merupakan salah satu cerpen anak-anak Wilde yang paling terkenal. Mengisahkan tentang sebuah patung ‘Pangeran Bahagia’, yang melihat kenyataan bahwa dunianya tak seindah yang dulu dilihatnya saat dia masih hidup dan bahagia. Di suatu saat menjelang musim dingin, seekor burung walet yang sedang beristirahat di bawah sang patung menemukan bahwa Pangeran Bahagia sedang bersedih, kini saat dia bisa melihat orang-orang kelaparan, kesakitan, menderita dan kekurangan. Pangeran Bahagia meminta sang walet menunda migrasinya dan membantunya membagikan emas dan permata yang melekat di tubuhnya kepada mereka yang membutuhkan.

Then the swallow flew back to the Happy Prince and told him what he had done. “It is curious,” he remarked, “but I feel quite warm now, although it is so cold.”
“That is because you have done a good action,” said the Prince. And the little swallow began to think, and then he fell asleep. Thinking always made him sleepy.
(p.239)

Kisah ini sederhana, tapi dalam. Kisah ini menggelitik nurani kita tentang apa makna bahagia yang sejati, apa yang menjadi tolok ukurnya, serta sudut pandang yang berbeda mengenai kebahagiaan. Salah satu pernyataan filosofis dalam kisah ini adalah perbedaan reaksi orang-orang saat melihat perubahan sang Pangeran, dari patung yang cantik dan (terlihat) bahagia menjadi sesosok patung kusam karena tak utuh lagi. Dari komentar beberapa orang tersebut, terlihat bagaimana terkadang kita hanya melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya, berdasar materi belaka. Namun jauh di dalam, ada sesuatu yang tak bisa dikalahkan, sebuah ketulusan yang disimbolkan dengan jantung sang Pangeran yang tak bisa dileburkan.

The Birthday of the Infanta menceritakan kemeriahan perayaan ulang tahun ke-12 sang Putri Raja Spanyol tersebut. Sang Raja sendiri tak ikut dalam pesta tersebut. Sejak kematian istrinya, dia tak mengenal kebahagiaan, selalu murung dan meratapi sang Ratu yang masih diawetkan, saking besarnya cinta sang Raja. Di antara hiburan di ulang tahun sang Infanta, dia paling terhibur dengan seorang cebol yang dengan sikap konyol dan kekurangan tubuhnya menjadi bahan tertawaan semua orang. Namun sesungguhnya, si cebol tersebut tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Dia merasa sang Infanta menyukainya, hingga tanpa sengaja dia menemukan cermin dan menyadari apa sesungguhnya yang membuat orang-orang tampak senang jika melihatnya.

But somehow the birds liked him. They had seen him often in the forest, dancing about like an elf after the eddying leaves, or crouched up in the hollow of some old oak-tree, sharing his nuts with the squirrels. They did not mind his being ugly, a bit. (p.255)

Sayangnya, kebanyakan hanya melihat penampilan luar saja. Mereka tak merasa penting untuk mengetahui bagaimana perasaan dan sikap si cebol, di balik segala kekurangan fisiknya. Dalam cerita ini, penulis sempat menceritakan panjang lebar mengenai latar belakang sang Raja, saya rasa mungkin itu berhubungan dengan sikap sang Infanta. Kurangnya kasih sayang orang tua, terutama kelemahlembutan seorang ibu, membuat sang Infanta kurang peka dan kurang empati terhadap sekitarnya. Penutup dari kisah ini cukup mengena, terutama kalimat terakhir Infanta : “For the future let those who come to play with me have no hearts,” (p.263). Kalimat yang merangkum kesimpulan dengan menggetarkan.

Lord Arthur Savile’s Crime adalah sebuah kekonyolan menurut saya. Saat Lady Windermere mengundang orang-orang ke rumahnya, dia mendemonstrasikan kemampuan Mr. Podgers, seorang pembaca garis tangan, meramal para tamunya. Lord Arthur Savile, seorang pemuda yang penuh semangat tak ketinggalan ingin diramal olehnya. Namun saat melihat garis tangan Lord Arthur, wajah Mr. Podgers berubah tegang. Dia membaca kejahatan, tetapi menyimpannya dan hanya menyampaikannya saat berdua saja dengan Lord Arthur. Lord Arthur pun menghabiskan bulan demi bulan untuk merealisasikan kejahatan yang diramalkan tersebut, agar dia bisa menjalani kehidupan dengan normal setelahnya, tanpa dibayang-bayangi hal yang belum dilakukannya.

Sooner or later we are all called upon to decide on the same issue—of us all, the same question is asked. To Lord Arthur it came early in life—before his nature had been spoiled by the calculating cynicism of middle age, or his heart corroded by the shallow fashionable egotism of our day, and he felt no hesitation about doing his duty. (p.280)

Saya tidak bisa melihat karakter Lord Arthur selain konyol dan sulit dimengerti jalan pikirannya. Mungkin karena saya tak pernah percaya pada ramalan, sementara Lord Arthur sangat menganggap serius ramalan tersebut, hingga nekat melakukan apa saja. Meski kisahnya lumayan panjang, cerpen ini memiliki akhir yang terbuka. Pembaca dapat mengambil kesimpulan apa saja, karena segala yang terjadi telah terjadi. Pembaca bisa saja menganggap bahwa akhir kisah itu adalah akibat dari perbuatan Lord Arthur yang mengejar ramalan tersebut, atau bisa juga menganggap bahwa yang telah dilakukannya sia-sia belaka.

Scene on Three (59)

SceneOnThree

“Yes, that is his name. I didn’t intend to tell it to you.”
“But why not?”
“Oh, I can’t explain. When I like people immensely, I never tell their names to any one. It is like surrendering a part of them. I have grown to love secrecy. It seems to be the one thing that can make modern life mysterious or marvellous to us. The commonest thing is delightful if one only hides it. When I leave town now I never tell my people where I am going. If I did, I would lose all my pleasure. It is a silly habit, I dare say, but somehow it seems to bring a great deal of romance into one’s life. I suppose you think me awfully foolish about it?”
(p.22)

Satu lagi scene dari The Picture of Dorian Gray by Oscar Wilde. Percakapan antara Lord Henry dengan Basil ini, terutama pernyataan Basil, sering sekali saya rasakan.

Dalam situasi yang berbeda, saya cenderung merahasiakan rencana-rencana saya karena, entah bagaimana, semakin banyak orang yang tahu, semakin banyak dibicarakan dan dibahas, saya justru merasa rencana-rencana saya cenderung menjauh dari keberhasilan. Mungkin kebetulan saja, tapi pasti rasanya jadi jauh tidak enak kalau orang-orang tahu bahwa rencana kita tidak/belum berhasil.

Selebihnya, kurang lebih saya mengerti yang dirasakan Basil 🙂

Mari ikut berbagi di Scene on Three:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde

dorian gray(The conclusion in English at the last words)

Title : The Picture of Dorian Gray
Author : Oscar Wilde (1891)
Publisher : Signet Classic, New American Library
Edition : 16th printing, ©1983
Fomat : Paperback, 234 pages (of 304 pages total)

“I hate them for it,” cried Hallward. “An artist should create beautiful things, but should put nothing of his own life into them. We live in an age when men treat art as if it were meant to be a form of autobiography. We have lost the abstract sense of beauty. Some day I will show the world what it is; and for that reason the world shall never see my portrait of Dorian Gray.” (p.29)

“It was not intended as a compliment. It was a confession. Now that I have made it, something seems to have gone out of me. Perhaps one should never put one’s worship into words.” (Basil Hallward, p.129)

Basil Hallward mungkin melakukan kesalahan ketika membagi perasaannya pada Lord Henry Wotton tentang Dorian Gray. Ketika menjadikan Dorian sebagai objek lukisannya, Basil mengerahkan seluruh ‘diri’nya dalam lukisan tersebut. Lord Henry yang merasa tertarik dengan deskripsi penuh pujaan Basil terhadap Dorian pun semakin penasaran. Sejak pertama kali bertemu Dorian, Basil sudah merasakan bahwa kawan barunya tersebut memiliki kepribadian yang menarik dan akan mempengaruhi dirinya. Akan tetapi, Dorian yang muda dan polos pun berubah setelah diperkenalkan pada Lord Henry.

Kekaguman Dorian terhadap Lord Henry sama seperti Basil pada dirinya, inilah yang mengawali perubahan tersebut. Lord Henry menanamkan kecintaan pada kemudaan dan penampilan, sehingga kecintaan Dorian pada dirinya sendiri tumbuh secara tidak sehat. Tepat saat lukisan dirinya selesai, Dorian berharap agar lukisannya saja yang menua, sementara dirinya tetap dalam keadaan terbaiknya saat itu. Sesuatu yang aneh terjadi kemudian. Harapannya menjadi nyata, tetapi dalam wujud yang lebih mengerikan.

But the picture? What was he to say of that? It held the secret of his life, and told his story. It had taught him to love his own beauty. Would it teach him to loathe his own soul? Would he ever look at it again? (p.105)

Kepolosan yang terenggut darinya tampak dalam lukisan dirinya. Kekejian, kelicikan, kejahatan, semuanya mewujud dalam lukisan yang kemudian disembunyikan di sebuah ruangan di rumahnya. Penampilan Dorian yang tetap muda dan polos bisa menipu sebagian orang, tetapi tidak dari orang-orang yang pernah menjadi ‘korban’nya. Sementara hubungannya dengan Lord Henry semakin erat karena ide-ide yang merasukinya, pertemanannya dengan Basil semakin renggang. Belasan tahun berlalu, darah dan kutukan orang-orang mengotori lukisan Dorian Gray, dendam dan permusuhan menghantuinya. Mungkin hanya Basil yang masih benar-benar peduli dan percaya padanya, di samping Lord Henry yang mendukung segala kehidupan penuh kesenangan yang kini dijalaninya.

He played with the idea and grew wilful; tossed it into the air and transformed it; let it escape and recaptured it; made it iridescent with fancy and winged it with paradox. (p.57)

Membaca buku ini memberikan emosi yang campur aduk. Pada mulanya, kita disuguhi deskripsi-deskripsi yang indah, kalimat-kalimat penuh filosofi, kemudian lambat laun kita dijerumuskan pada area abu-abu, pada paradoks berpikir, dan kemudian dihempaskan kepada kenyataan. Kenyataan yang mungkin menyakitkan, mengecewakan, tetapi mungkin juga itulah yang terbaik, atau bisa jadi indah jika kita memandang dari sudut pandang yang lain.

Mere words! Was there anything so real as words? (p.36)

Sesuai judulnya, buku ini menunjukkan potret Dorian Gray, perkembangan karakternya sejak bertemu dengan Lord Henry, sejak lukisan Basil selesai. Dorian muda yang naif begitu mudah terpengaruh oleh kalimat-kalimat Lord Henry. Di saat keputusannya membawa malapetaka mengerikan, Lord Henry yang menghilangkan perasaan bersalahnya. Selain melalui kata-kata, Lord Henry juga mempengaruhi Dorian melalui sebuah buku yang dipinjamkannya. Dorian pun tumbuh dewasa sebagai orang yang memuja penampilan, gemar berhura-hura dan—secara tak sadar—mematikan hati dan perasaannya.

Dorian Gray had been poisoned by a book. There were moments when he looked on evil simply as a mode through which he could realize his conception of the beautiful. (p.158)

Uniknya, penulis bisa membuat kita (atau saya) memandang Dorian sebagaimana orang-orang memandang Dorian Gray. Dorian yang tampan dan berwajah polos, meski banyak perkataan negatif tentangnya di luar sana, kita hanya bisa melihat Dorian Gray yang menawan. Buku ini mendeskripsikan Dorian sedemikian rupa sehingga sangat sulit untuk kehilangan simpati padanya.

Selain karakterisasi yang kuat, narasi yang diutarakan oleh penulis sangat cantik. Mulai dari detail kejadian, deskripsi setting, hingga isi pikiran para karakternya. Akhir kisah ini tidak sulit ditebak, kejutan justru bertebaran di tengah-tengah cerita—mungkin lebih kepada rasa tak percaya bahwa kejadiannya akan seperti itu. Namun tetap saja, akhir kisah ini menyisakan sebuah perasaan manis-pahit yang sulit dihilangkan.

“To be good is to be in harmony with one’s self.” (Lord Henry, p.92)

The Picture of Dorian Gray is the only novel that Wilde wrote. The novel captured self-lovingness in a dark way. Dorian Gray, who was influenced by Lord Henry Wotton, worshipped his own youth and beauty. Therefore, he was trapped in his own sufferings, while he acted hedonistic. He had to hold a secret about his shames in his own picture—drawn by Basil Hallward, his former admirer—that magically bore his age and faults.

Wilde’s writing style was beautiful. He captured human nature, described landscape into details, and delivered philosophical ideas. This book is so contain, in spite of the not-so-many number of pages. I said, it’s more than enough of Wilde writing this one novel in his lifetime (let alone his plays, short stories and essays).

4.5/5 stars for the beauty of dangerous self-admiration.

“I worshipped you too much. I am punished for it. You worshipped yourself too much. We are both punished.” (p. 170)

Oscar Fingal O'Flahertie Wills Wilde (16 October 1854 – 30 November 1900)

Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde (16 October 1854 – 30 November 1900)

Today (16 October 2014) is the 160th birthday of Oscar Wilde. He has become my favourite author since I read three of his plays last year. I dedicated this review of his wonderful only novel on this special day. Although, I don’t feel complete with this version, because it was censored. The original draft of this book was banned due to homosexuality issue, therefore his editor asked him to change many things. And because I’m a curious reader, I’m looking forward to reading the original idea of my favourite author—without intending to judge the idea. Perhaps I could catch something different and more from that version.

“I never approve, or disapprove, of anything now. It is an absurd attitude to take towards life. We are not sent into the world to air our moral prejudices. I never take any notice of what common people say, and I never interfere with what charming people do.” (Lord Henry, p.88)

Review #23 of Classics Club Project

Review #16 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Book Into Movie #2)

Review #24 for Lucky No.14 Reading Challenge category Favorite Author

Scene on Three (55)

SceneOnThree

Waktu cepat sekali berlalu, tak terasa sudah waktunya Scene on Three lagi. Saat saya sadari, ternyata sepuluh hari ke belakang saya tidak memposting sebuah review pun, padahal banyak yang harus dicicil.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengalami ‘mogok baca’, jadi buku apa pun yang coba saya baca tidak ada yang ‘pas’ hingga berakhir dengan saya mencoba dan mencoba beberapa bacaan tanpa saya selesaikan. Pada akhirnya, takdir mempertemukan saya kembali dengan Oscar Wilde. Saat ini saya sedang di halaman-halaman akhir The Picture of Dorian Gray, satu-satunya novel salah satu penulis favorit saya ini, yang bacanya sempat tertunda beberapa bulan lalu. Tanpa berpanjang-panjang lagi, saya akan membagi sebuah scene panjang dari buku ini:

There are few of us who have not sometimes wakened before dawn, either after one of those dreamless nights that make us almost enamoured of death, or one of those nights of horror and misshapen joy, when through the chambers of the brain sweep phantoms more terrible than reality itself, and instinct with that vivid life that lurks in all grotesques, and that lends to Gothic art its enduring vitality, this art being, one might fancy, especially the art of those whose minds have been troubled with the malady of reverie. Gradually white fingers creep through the curtains, and they appear to tremble. In black fantastic shapes, dumb shadows crawl into the corners of the room and crouch there. Outside, there is the stirring of birds among the leaves, or the sound of men going forth to their work, or the sigh and sob of the wind coming down from the hills and wandering round the silent house, as though it feared to wake the sleepers and yet must needs call forth sleep from her purple cave. Veil after veil of thin dusky gauze is lifted, and by degrees the forms and colours of things are restored to them, and we watch the dawn remaking the world in its antique pattern. The wan mirrors get back their mimic life. The flameless tapers stand where we had left them, and beside them lies the half-cut book that we had been studying, or the wired flower that we had worn at the ball, or the letter that we had been afraid to read, or that we had read too often. Nothing seems to us changed. Out of the unreal shadows of the night comes back the real life that we had known. We have to resume it where we had left off, and there steals over us a terrible sense of the necessity for the continuance of energy in the same wearisome round of stereotyped habits, or a wild longing, it may be, that our eyelids might open some morning upon a world that had been refashioned anew in the darkness for our pleasure, a world in which things would have fresh shapes and colours, and be changed, or have other secrets, a world in which the past would have little or no place, or survive, at any rate, in no conscious form of obligation or regret, the remembrance even of joy having its bitterness and the memories of pleasure their pain. (p.144-145)

Gambaran tentang fajar ini sangat indah menurut saya; mulai dari visualisasi, suara-suara, hingga suasananya tertangkap begitu nyata dalam deskripsi ini. Bahkan bagaimana masalah-masalah kita nampak saat fajar pun digambarkan. Begitu besarnya efek matahari–atau kemunculannya–pada alam dan manusia, hingga fajar (dan juga senja) selalu punya nuansa mistis yang sulit untuk dijelaskan oleh kata-kata yang biasa.

Mari berbagi keindahan dalam bacaan kalian, caranya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).